(Tentang Kesabaran)
anakku Alif........
ummi sedang sedih nak......
sayangnya ummi nggak tau kenapa tiba-tiba ummi sedih
seperti ummi tidak tau kenapa pagi tadi,
tiba-tiba kamu tidak mau menyusu,
padahal ummi tau harusnya kamu sudah lapar
karena kamu terakhir menyusu 6 jam yang lalu,
di tengah tidur malammu sejak pukul delapan
ummi juga nggak tau,
kenapa kamu juga jadi nangis dan merengek-rengek
tapi nggak mau minum
ada apa nak?
kamu baru sedikit tenang ketika ayah menggendongmu
mengajakmu jalan-jalan di kamar
hingga akhirnya kamu tertidur.....
ah Alif...
sudah 3 bulan menjadi ummimu
tapi banyak hal
yang ummi masih belum mengerti dari kamu
inilah salah satu tanda kebesaran-Nya ya..
Tangisan bayi,
dengan banyak arti meski dengan bahasa yang sama;
MENANGIS
yang menjadi bahan belajar bagi ibu di manapun
untuk selalu sabar
dan bijak mengerti keinginan anaknya
meski selalu hanya;
melalui tangisan.
Alif,
untung ada ayah ya......
yang selalu bisa memberi contoh
pada ummi,
untuk menjadi ibu yang sabar
Doakan ummi menjadi ibu yang sabar ya....
hingga bisa mendidikmu dengan sabar pula
mendampingimu dengan sabar,
menyayangimu dengan sabar,
dan membesarkanmu dengan sabar
Bahkan ketika ummi nggak tau,
apa yang mesti ummi lakukan
ketika kamu menangis,
ummi tetap harus sabar kan?
seperti Nabi Khidir yang sabar
ketika mendampingi Nabi Musa
Thursday, March 9, 2006
Wednesday, March 8, 2006
KETIKA MUSUH DATANG
Ada nggak sih, yang takut pada rasa BOSAN? Kalo saya, takut sekali dengan yang namanya BOSAN. Bosan membuat hidup tidak bergairah. Mau ngapa-ngapain juga malas. Visi hidup mengabur, misi hidup melabur. Pekerjaan numpuk, tidak fokus, dan akhirnya berabe, jadi tidak produktif.. Bayangkan, betapa menakutkannya penyakit bosan, karena dia menyerang hati juga. Yang membuat semangat menurun drastis seperti orang mati rasa. Ah sedihnya...
Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...
Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.
Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.
Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........
Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.
Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?
Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.
Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......
Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...
Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.
Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.
Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........
Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.
Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?
Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.
Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......
Tuesday, March 7, 2006
1 Tahun, 3 Bulan, dan 25 Tahun
-19 November 2006 (ditulis dg sangat terlambat)-
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Friday, March 3, 2006
KETIKA TAK MAMPU BERDOA
Pernahkah mengalami hal di atas? Ya, saat dimana kita “tak mampu” berdoa?
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
KEBANGGAAN


Apa yang tergambar dalam benak kita, akan sebuah perasaan bangga? Bahagia, merasa lebih, bersyukur, sombong, takut, atau apa? Dan, kira-kira, apa yang dapat membuat seseorang merasa bangga? Lebih dari orang lain; berbeda dengan orang kebanyakan; tak tertandingi oleh siapapun; atau apa?
Setiap manusia, pastilah pernah merasa bangga pada dirinya. Walau hanya sebersit sekalipun. Dengan aneka format bangga. Bangga yang membuat hati meledak-ledak, bangga yang membuat mata menangis, bangga yang membuat angkuh, dan lain sebagainya. Seumur hidup -hingga detik ini- sebagai manusia -biasa- saya beberapa kali merasa bangga pada diri sendiri. Banyak hal, yang sempat membuat saya bangga dalam hidup ini. Kebanggaan yang membuat saya menangis bersyukur, kebanggaan yang membuat saya sempat terlena, kebanggaan yang membuat saya takut, juga kebanggaan yang sempat membuat diri ini merasa lebih dari yang lain.
Yang pada hari kemudian, setelah pelajaran hidup selanjutnya, saya baru mengerti bagaimana harusnya menyikapi perasaan bangga.
Kalau boleh membuka hati, saat ini, secara jujur, saya merasa seluruh kebanggaan yang pernah saya rasakan itu, perlahan sirna. Atau bahkan ada yang lenyap begitu saja tanpa bekas. Sepertinya tidak satupun kebanggan yang pernah saya rasakan dulu itu, berwujud nyata saat ini. Dan kalaupun ada kebanggaan yang nyata saya rasakan sekarang ini, itu adalah kebanggaan yang telah berlangsung dalam hitungan bulan. Ya, saya sedang bangga MENJADI IBU.
Hanya dengan MENJADI IBU, saya bisa memberikan ASI, yang notabene merupakan makanan dan nutrisi terbaik bagi anak saya. Memang, ada alternatif susu formula sebagai pengganti ASI. Namun, siapapun tahu, hanya ASI-lah yang terbaik, yang dapat memenuhi kebutuhan manusia baru lahir ini. Hanya ASI-lah yang dapat dicerna dengan baik oleh pencernaan bayi, hingga seluruh nutrisinya dapat terserap baik oleh tubuh bayi.Hanya ASI-lah yang mampu memberikan imunitas terbaik bagi kelangsungan hidup seseorang.
Bayangkan! Seolah hanya ibu dengan ASI-nya lah, yang dibutuhkan oleh seorang bayi. Sang Pencipta telah mempercayakan seorang hamba, makhluknya yang baru, kepada seorang IBU untuk menjadikannya tumbuh dan berkembang dengan ASI. Dengan amanah itu, seorang ibu haruslah senantiasa sehat, agar tak terganggu masa menyusuinya, juga merawat dan mengasuh si kecil. Seorang ibu harus memiliki stamina yang kuat, karena harus siap sedia setiap waktu, di saat bayi-nya membutuhkan susu. Seorang ibu, hendaknya selalu menampakkan wajah manis dan ramah, agar itulah yang ditiru sang anak. Seorang ibu baiknya selalu tenang, agar anaknya tak mudah rewel. Seorang ibu, baiknya sabar, pintar, dan inovatif, agar anaknya berkembang dan tumbuh lebih baik. Ah, sempurna memang “tuntutan” itu...
Maaf, tapi tulisan ini bukanlah untuk menafikan peran ayah dalam tumbuh kembang sang bayi. Atau peran orang lain, seperti dokter, orang tua, rekan-rekan berbagi, dan berbagai orang penuh jasa dan kebaikan lainnya. Hanya saja, saya ingin berbicara sebagai seorang ibu, yang dibutuhkan anaknya (sehingga saya memilih tak menggunakan pengasuh bayi). Terlalu klise, normatif, atau ideal mungkin. Tapi, ah.. sekali lagi saya “hanya” seorang manusia yang tengah bangga menjalankan peran dan amanah SEBAGAI IBU.
Menjadi Ibu, kebanggaan yang sama sekali tak mampu membuat saya menyombongkan diri. Karena ASI yang keluar dari tubuh saya berproses melalui mekanisme yang luar biasa. Daya tahan tubuh saya sebagai seorang ibu, terbentuk dari sebuah mekanisme yang luar biasa pula. Dan keterikatan batin yang terbentuk antara saya dengan bayi saya, adalah proses yang sangat luar biasa, yang dimulai sejak terbentuknya bakal janin dalam rahim.
Dan segala yang luar biasa ini, saya tak banyak bercampur tangan. Membuat ASI keluar dan tidak keluar, membuat seluruh rangkaian tubuh menjadi sehat, dan menjadikan terbentuknya janin, saya sama sekali tak mampu mengaturnya. Segala yang luar biasa itu, hanya datang dari Sang Maha Luar Biasa. Campur tangan yang bisa saya lakukan pun, tak lepas dari Keluar Biasa-an-Nya. Ya, SANGAT LUAR BIASA.
Dan saya bangga, dianugerahi keluarbiasaan ini, yakni MENJADI seorang IBU. KEBANGGAAN yang sama sekali TAK MAMPU MEMBUAT sebuah KESOMBONGAN.
(27/02 & 03/03, 2006)
Saturday, February 4, 2006
TENTANG ALIF ...
Saat tulisan ini dibuat, usianya belum genap 3 minggu. Beberapa hari yang lalu, berat badannya sudah mencapai 3,7 kg dan panjang (bukan tinggi ;-) badannya 52 cm. Jadi, kalau dihitung dari kelahirannya, beratnya sudah nambah 400 gram, dan panjangnya bertambah 2 cm. Kata dokter “Bagus nih!”. Alhamdulillah...
Alif, ketika masih di Rumah Sakit, saya tak banyak tahu perkembangannya (karena sibuk dengan pemulihan pasca operasi). Pada hari keempat sejak masuk RS, kami membawa Alif pulang. Lega rasanya, bisa pulih lebih cepat. Karena biasanya pasien operasi cesar berada di RS 4-5 hari. Bahkan tak jarang sampai 1 minggu. Dan syukur, Alif pun cukup sehat dan siap dipindahkan ke tempat perawatan yang sesungguhnya, di antara ayah dan umminya.
Lelah yang sangat menjemput saya setibanya di rumah. Rasanya ingin langsung tidur dalam lelap yang panjang. Pada hari ini, kelelahan usia kehamilan akhir dan kelelahan masa persalinan mencapai klimaksnya. Untunglah ada ibu, eyang putri Alif, yang segera mengambil alih perawatan Alif -kecuali menyusui tentunya- yang membuat saya dapat istirahat sejenak. Ternyata saya benar-benar butuh istirahat yang panjang. Maka ketika Alif mulai sedikit rewel menjelang malam, saya mulai terganggu. Kebetulan Alif tidur sekamar dengan saya dan ayahnya. Saya pikir dia pasti lapar. Saya mencoba menyusuinya. Lelah dan belum mahirnya menyusui, membuat saya dan juga Alif tentunya, menjadi panik. Suami ikut bangun, dan bergantian menenangkan Alif (untung suami saya mau ikut berjaga malam itu. Karena saya sangat-sangat lelah!). Alif hanya tenang sesaat-sesaat. Kemudian merengek lagi. Tidak lagi saya susui, tapi saya gendong untuk menenangkannya. Ketika saya membetulkan kain bedongnya, terasalah badannya yang -tak cuma hangat- tapi panas! Ya Rabbi............ saya pikir biasa saja, untuk ukuran bayi. Saya mencoba tenang dan mencoba menidurkannya kembali. Alif memang tak menangis keras atau berteriak-teriak. Dia hanya menangis perlahan dan merengek. Dan hal itu membuat saya berpikir, dia tidak apa-apa, mungkin hanya kaget dengan keadaan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Malam itu berlalu dengan kelelahan yang amat sangat.
Esok paginya, badan Alif masih panas. Setelah diukur dengan termometer, panasnya mencapai 39 derajat celsius. Masya Allah. Wajarkah? Kami menelepon kakak, yang kebetulan dokter. Pagi itu juga beliau datang. Obat penurun panas sementara diberikan. Plus susu untuk bayi usia 0-6 bulan. Maklum saya, ibunya, belum juga bisa menyusui dengan baik. Sementara Alif dalam kondisi panas tubuh demikian, butuh banyak air (asi). Alif pun meminum susu botolnya dengan lahap. Ah, ternyata dia sangat lapar! Rabbi......... saya menatapnya dengan nanar. Ibu macam apa saya ini?! Anak lapar, sementara saya tak bisa menyusuinya dengan baik. Bahkan susu botol pun tidak saya berikan, hanya karena takut akan kenyataan, bahwa saya memang tidak becus menyusui bayi saya. Hh, kasihan Alif. Mungkin panasnya diperparah dengan kurangnya cairan dalam tubuhnya. Saya kecewa sekali pada diri sendiri. Namun juga termotivasi sekaligus, bahwa seorang ibu, pasti mampu menyusui bayinya. Karena Allah, tentu tak akan membiarkan hamba-Nya yang baru lahir itu kelaparan. Bukankah rizki seorang bayi juga dijamin oleh-Nya?
Keesokan harinya Alif kami bawa ke RS. Selain kontrol rutin, kami juga sangat kepikiran dengan panas badannya. Karena panasnya yang cukup tinggi, diagnosa dokter sementara, ada kemungkinan Alif juga terkena infeksi, sebagaimana kemungkinan terjadinya infeksi pada kandungan saya, dengan pecahnya ketuban tanpa adanya kontraksi. Ah, lagi-lagi saya merasa bersalah padanya.
Obat pun diberikan pada Alif. Antibiotik untuk 2 minggu. Syukurlah, Alif meminum obatnya dengan baik, hingga habis (tertulis “Habiskan” dalam kemasan obat. Maklum, antibiotik). 'Sakit' itupun pergi meninggalkan Alif.
Selama 2 minggu, Alif tumbuh dengan baik. Perkembangan motoriknya terlihat cepat -setidaknya menurut saya, yang selalu bersamanya hampir sepanjang waktu-. Minggu pertama, Alif hanya minum asi, buang air (tanpa menangis atau rewel jika popoknya basah), dan tidur. Minumnya masih sedikit, juga buang airnya. Tidurnya saja yang banyak. Meski malam hari tetap saja membangunkan saya berkali-kali untuk minum, yang hanya seteguk dua teguk.
Memasuki minggu kedua, banyak terjadi perubahan pada Alif. Dia sudah mulai merasakan kenyamanan jika digendong dan dipeluk. Maka tak jarang dia rewel jika mengantuk, namun tidak ada yang menidurkannya dengan menggendong atau memeluknya. Bahkan terkadang rewelnya baru mereda, ketika disenandungkan sebuah lagu, atau diajak bicara.
Baru selisih satu hari berikutnya, Alif punya kebiasaan baru lagi. Terbangun di siang atau sore hari, dan 'mengajak bermain' selama 1-2 jam, baru menyusu lagi, untuk kemudian tidur kembali. Seringkali saya kehabisan bahan untuk menemaninya bermain. Hingga tak jarang saya tertidur, sementara Alif sibuk sendiri dengan tangan dan kakinya. Ketika akan buang air, baik pipis maupun BAB, dia selalu terbangun dan nampak 'konsentrasi'. Baru merengek, karena popoknya terasa basah atau tak nyaman. Buang airnya pun sudah banyak.
Selisih satu hari berikutnya, lain lagi. Alif suka menyusu sebentar-sebentar, tapi berkali-kali. Sampai-sampai harus ditunggui hingga dia benar-benar kenyang, dan saya baru bisa beranjak meninggalkannya.
Hari berikutnya, dia suka menyusu diselingi istirahat -dengan melepaskannya begitu saja, yang tak jarang mengakibatkan asi memancar dan mengenai wajahnya. Kalau sudah begini, banjirlah asi, membasahi bajunya. Kemudian dia tampak kaget, dan kadangkala menangis pelan.
Malam berikutnya (semalam, sebelum paginya tulisan ini dibuat), beda lagi. Setelah malam sebelumnya Alif mulai tak banyak mengganggu tidur malam saya, hanya bangun-minum-tidur lagi, malam itu dia membuat saya kelimpungan. Karena saya sedang mengkonsumsi obat batuk, pukul 9 malam saya sudah mengantuk dan bersiap hendak tidur. Alif sudah saya susui setengah sembilan tadi. Dan mungkin baru akan bangun lagi pukul 12 malam. Cukuplah untuk tidur dulu. Alif pun ditemani ayahnya, karena setelah kenyang tampaknya Alif antusias untuk bermain. Selama beberapa menit, Alif mulai merengek. Ayahnya menggendong, karena mengira dia mulai mengantuk. Namun ternyata, mata Alif justru melebar dan kembali aktif bergerak. Mencari-cari susu. Saya pun bangun dan menyusuinya kembali. Setelah Alif berhenti mengisap, saya pikir dia kenyang dan akan segera tidur. Saya letakkan di kasur lipatnya. Ternyata dia kembali aktif bergerak. Saya biarkan. Mungkin memang masih ingin bermain. Tidak saya atau ayahnya temani, dengan maksud membuat Alif terbiasa mengerti waktu, bahwa saat itu malam hari, dan waktunya untuk tidur. Namun, bagaimana saya bisa tidur, tak lama dia merengek lagi. Saya susui kembali. Sampai dia menghentikan hisapannya dan tampak memejamkan mata. Saya letekkan di kasurnya. Tak lama, dia bangun dan aktif kembali. Tak sampai lima belas menit, merengek lagi, minta menyusu. Saya susui kembali di tengah kantuk dan lelah yang sudah teramat sangat tak tertahankan. Begitu terus sampai berulang-ulang kali. Sampai saya susui dari arah kanan-kiri, dengan posisi duduk dan tidur, tapi Alif tampak tak jua kenyang apalagi terlelap. Usai mengganti popok sekali pakainya (karena dia sempat terdengar BAB), saya mengajaknya bicara. Seperti biasa, Alif hanya tampak memperhatikan, namun kemudian mengulang perbuatannya kembali. Dari pukul sepuluh malam, hingga pukul satu dini hari, Alif terus terjaga, dan saya berkali-kali membujuknya. Tiap menyusu, pada malam itu, Alif melakukannya dengan cukup lama. Hingga saya sempat tertidur berkali-kali. Namun Alif tak jua kenyang atau tertidur, setelahnya. Tak henti-henti saya panjatkan doa, semoga dimudahkan untuk menidurkannya kembali, karena saya pun begitu butuh dan ingin istirahat.
Di puncak kelelahan, saya selimuti Alif, saya peluk dia erat, saya cium wajahnya, kemudian saya tidurkan sejajar dengan saya, dengan meletakkan kepalanya di atas bantal saya pula. Tentu saja dengan kepalanya tetap di atas telapak tangan saya. Hanya sekian detik, Alif tampak tenang. Matanya terpejam, dan entahlah bagaimana selanjutnya, karena saya pun langsung terlelap. Kurang lebih pukul 3 dini hari, saya terbangun, dan mendapati Alif masih lelap di samping saya. Tangan saya terasa kram, karena menahan kepalanya tetap di atas bantal selama kurang lebih dua jam. Perlahan saya pindahkan Alif ke atas kasurnya. Dia tetap terlelap. Sambil memandang wajah polosnya yang imut, saya sisipkan ungkapan sesal dan permintaan maaf, karena sebelumnya sempat kesal padanya. Ya, harusnya tak ada kesal atau lelah dalam menjaga karunia agung ini. Alif sayang.... maafkan ummi ya nak. Moga tak berulang lagi.
Alif masih terlelap, dan membangunkan saya kembali pukul empat dini hari, seperti hari-hari biasanya. Usai menyusu, dia kembali terlelap. Terbangun pukul 7, kemudian mandi, menyusu, dan tidur kembali. Pagi hingga siang ini, dia hanya terbangun untuk menyusu, dan kemudian terlelap kembali. Sehingga tulisan ini dapat disusun hingga tuntas.
Alif, darinya saya belajar banyak, meski belum memahami makna dari pelajaran itu sendiri. Namun selama 2 jelang 3 minggu usianya, Alif mampu mengubah diri saya, umminya. Entah mengubahnya menjadi seperti apa, tapi saya benar-benar merasakan perubahan.
Diri, yang dulu berawal dari segumpal darah, seonggok daging, dirangkai tulang, kemudian lahir sebagai makhluk merah yang teramat lemah, kini tumbuh dan terus tumbuh. Mendzikirkan waktu ilahiyah, menuai kasih dan sayang dari orang tua, dan mengeja makna demi makna kehidupan. Untuk kemudian membentuk diri yang baru, dengan hakiki yang baru, dan terus baru seiring usia yang merajutnya.
Sampai detik ini, setidaknya, belajar kesabaran yang sesungguhnya, adalah menjalani sesuatu yang tak ringan dan tak mudah, namun untuk yang teramat sangat dicintai dan dikasihi.
Alif, ketika masih di Rumah Sakit, saya tak banyak tahu perkembangannya (karena sibuk dengan pemulihan pasca operasi). Pada hari keempat sejak masuk RS, kami membawa Alif pulang. Lega rasanya, bisa pulih lebih cepat. Karena biasanya pasien operasi cesar berada di RS 4-5 hari. Bahkan tak jarang sampai 1 minggu. Dan syukur, Alif pun cukup sehat dan siap dipindahkan ke tempat perawatan yang sesungguhnya, di antara ayah dan umminya.
Lelah yang sangat menjemput saya setibanya di rumah. Rasanya ingin langsung tidur dalam lelap yang panjang. Pada hari ini, kelelahan usia kehamilan akhir dan kelelahan masa persalinan mencapai klimaksnya. Untunglah ada ibu, eyang putri Alif, yang segera mengambil alih perawatan Alif -kecuali menyusui tentunya- yang membuat saya dapat istirahat sejenak. Ternyata saya benar-benar butuh istirahat yang panjang. Maka ketika Alif mulai sedikit rewel menjelang malam, saya mulai terganggu. Kebetulan Alif tidur sekamar dengan saya dan ayahnya. Saya pikir dia pasti lapar. Saya mencoba menyusuinya. Lelah dan belum mahirnya menyusui, membuat saya dan juga Alif tentunya, menjadi panik. Suami ikut bangun, dan bergantian menenangkan Alif (untung suami saya mau ikut berjaga malam itu. Karena saya sangat-sangat lelah!). Alif hanya tenang sesaat-sesaat. Kemudian merengek lagi. Tidak lagi saya susui, tapi saya gendong untuk menenangkannya. Ketika saya membetulkan kain bedongnya, terasalah badannya yang -tak cuma hangat- tapi panas! Ya Rabbi............ saya pikir biasa saja, untuk ukuran bayi. Saya mencoba tenang dan mencoba menidurkannya kembali. Alif memang tak menangis keras atau berteriak-teriak. Dia hanya menangis perlahan dan merengek. Dan hal itu membuat saya berpikir, dia tidak apa-apa, mungkin hanya kaget dengan keadaan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Malam itu berlalu dengan kelelahan yang amat sangat.
Esok paginya, badan Alif masih panas. Setelah diukur dengan termometer, panasnya mencapai 39 derajat celsius. Masya Allah. Wajarkah? Kami menelepon kakak, yang kebetulan dokter. Pagi itu juga beliau datang. Obat penurun panas sementara diberikan. Plus susu untuk bayi usia 0-6 bulan. Maklum saya, ibunya, belum juga bisa menyusui dengan baik. Sementara Alif dalam kondisi panas tubuh demikian, butuh banyak air (asi). Alif pun meminum susu botolnya dengan lahap. Ah, ternyata dia sangat lapar! Rabbi......... saya menatapnya dengan nanar. Ibu macam apa saya ini?! Anak lapar, sementara saya tak bisa menyusuinya dengan baik. Bahkan susu botol pun tidak saya berikan, hanya karena takut akan kenyataan, bahwa saya memang tidak becus menyusui bayi saya. Hh, kasihan Alif. Mungkin panasnya diperparah dengan kurangnya cairan dalam tubuhnya. Saya kecewa sekali pada diri sendiri. Namun juga termotivasi sekaligus, bahwa seorang ibu, pasti mampu menyusui bayinya. Karena Allah, tentu tak akan membiarkan hamba-Nya yang baru lahir itu kelaparan. Bukankah rizki seorang bayi juga dijamin oleh-Nya?
Keesokan harinya Alif kami bawa ke RS. Selain kontrol rutin, kami juga sangat kepikiran dengan panas badannya. Karena panasnya yang cukup tinggi, diagnosa dokter sementara, ada kemungkinan Alif juga terkena infeksi, sebagaimana kemungkinan terjadinya infeksi pada kandungan saya, dengan pecahnya ketuban tanpa adanya kontraksi. Ah, lagi-lagi saya merasa bersalah padanya.
Obat pun diberikan pada Alif. Antibiotik untuk 2 minggu. Syukurlah, Alif meminum obatnya dengan baik, hingga habis (tertulis “Habiskan” dalam kemasan obat. Maklum, antibiotik). 'Sakit' itupun pergi meninggalkan Alif.
Selama 2 minggu, Alif tumbuh dengan baik. Perkembangan motoriknya terlihat cepat -setidaknya menurut saya, yang selalu bersamanya hampir sepanjang waktu-. Minggu pertama, Alif hanya minum asi, buang air (tanpa menangis atau rewel jika popoknya basah), dan tidur. Minumnya masih sedikit, juga buang airnya. Tidurnya saja yang banyak. Meski malam hari tetap saja membangunkan saya berkali-kali untuk minum, yang hanya seteguk dua teguk.
Memasuki minggu kedua, banyak terjadi perubahan pada Alif. Dia sudah mulai merasakan kenyamanan jika digendong dan dipeluk. Maka tak jarang dia rewel jika mengantuk, namun tidak ada yang menidurkannya dengan menggendong atau memeluknya. Bahkan terkadang rewelnya baru mereda, ketika disenandungkan sebuah lagu, atau diajak bicara.
Baru selisih satu hari berikutnya, Alif punya kebiasaan baru lagi. Terbangun di siang atau sore hari, dan 'mengajak bermain' selama 1-2 jam, baru menyusu lagi, untuk kemudian tidur kembali. Seringkali saya kehabisan bahan untuk menemaninya bermain. Hingga tak jarang saya tertidur, sementara Alif sibuk sendiri dengan tangan dan kakinya. Ketika akan buang air, baik pipis maupun BAB, dia selalu terbangun dan nampak 'konsentrasi'. Baru merengek, karena popoknya terasa basah atau tak nyaman. Buang airnya pun sudah banyak.
Selisih satu hari berikutnya, lain lagi. Alif suka menyusu sebentar-sebentar, tapi berkali-kali. Sampai-sampai harus ditunggui hingga dia benar-benar kenyang, dan saya baru bisa beranjak meninggalkannya.
Hari berikutnya, dia suka menyusu diselingi istirahat -dengan melepaskannya begitu saja, yang tak jarang mengakibatkan asi memancar dan mengenai wajahnya. Kalau sudah begini, banjirlah asi, membasahi bajunya. Kemudian dia tampak kaget, dan kadangkala menangis pelan.
Malam berikutnya (semalam, sebelum paginya tulisan ini dibuat), beda lagi. Setelah malam sebelumnya Alif mulai tak banyak mengganggu tidur malam saya, hanya bangun-minum-tidur lagi, malam itu dia membuat saya kelimpungan. Karena saya sedang mengkonsumsi obat batuk, pukul 9 malam saya sudah mengantuk dan bersiap hendak tidur. Alif sudah saya susui setengah sembilan tadi. Dan mungkin baru akan bangun lagi pukul 12 malam. Cukuplah untuk tidur dulu. Alif pun ditemani ayahnya, karena setelah kenyang tampaknya Alif antusias untuk bermain. Selama beberapa menit, Alif mulai merengek. Ayahnya menggendong, karena mengira dia mulai mengantuk. Namun ternyata, mata Alif justru melebar dan kembali aktif bergerak. Mencari-cari susu. Saya pun bangun dan menyusuinya kembali. Setelah Alif berhenti mengisap, saya pikir dia kenyang dan akan segera tidur. Saya letakkan di kasur lipatnya. Ternyata dia kembali aktif bergerak. Saya biarkan. Mungkin memang masih ingin bermain. Tidak saya atau ayahnya temani, dengan maksud membuat Alif terbiasa mengerti waktu, bahwa saat itu malam hari, dan waktunya untuk tidur. Namun, bagaimana saya bisa tidur, tak lama dia merengek lagi. Saya susui kembali. Sampai dia menghentikan hisapannya dan tampak memejamkan mata. Saya letekkan di kasurnya. Tak lama, dia bangun dan aktif kembali. Tak sampai lima belas menit, merengek lagi, minta menyusu. Saya susui kembali di tengah kantuk dan lelah yang sudah teramat sangat tak tertahankan. Begitu terus sampai berulang-ulang kali. Sampai saya susui dari arah kanan-kiri, dengan posisi duduk dan tidur, tapi Alif tampak tak jua kenyang apalagi terlelap. Usai mengganti popok sekali pakainya (karena dia sempat terdengar BAB), saya mengajaknya bicara. Seperti biasa, Alif hanya tampak memperhatikan, namun kemudian mengulang perbuatannya kembali. Dari pukul sepuluh malam, hingga pukul satu dini hari, Alif terus terjaga, dan saya berkali-kali membujuknya. Tiap menyusu, pada malam itu, Alif melakukannya dengan cukup lama. Hingga saya sempat tertidur berkali-kali. Namun Alif tak jua kenyang atau tertidur, setelahnya. Tak henti-henti saya panjatkan doa, semoga dimudahkan untuk menidurkannya kembali, karena saya pun begitu butuh dan ingin istirahat.
Di puncak kelelahan, saya selimuti Alif, saya peluk dia erat, saya cium wajahnya, kemudian saya tidurkan sejajar dengan saya, dengan meletakkan kepalanya di atas bantal saya pula. Tentu saja dengan kepalanya tetap di atas telapak tangan saya. Hanya sekian detik, Alif tampak tenang. Matanya terpejam, dan entahlah bagaimana selanjutnya, karena saya pun langsung terlelap. Kurang lebih pukul 3 dini hari, saya terbangun, dan mendapati Alif masih lelap di samping saya. Tangan saya terasa kram, karena menahan kepalanya tetap di atas bantal selama kurang lebih dua jam. Perlahan saya pindahkan Alif ke atas kasurnya. Dia tetap terlelap. Sambil memandang wajah polosnya yang imut, saya sisipkan ungkapan sesal dan permintaan maaf, karena sebelumnya sempat kesal padanya. Ya, harusnya tak ada kesal atau lelah dalam menjaga karunia agung ini. Alif sayang.... maafkan ummi ya nak. Moga tak berulang lagi.
Alif masih terlelap, dan membangunkan saya kembali pukul empat dini hari, seperti hari-hari biasanya. Usai menyusu, dia kembali terlelap. Terbangun pukul 7, kemudian mandi, menyusu, dan tidur kembali. Pagi hingga siang ini, dia hanya terbangun untuk menyusu, dan kemudian terlelap kembali. Sehingga tulisan ini dapat disusun hingga tuntas.
Alif, darinya saya belajar banyak, meski belum memahami makna dari pelajaran itu sendiri. Namun selama 2 jelang 3 minggu usianya, Alif mampu mengubah diri saya, umminya. Entah mengubahnya menjadi seperti apa, tapi saya benar-benar merasakan perubahan.
Diri, yang dulu berawal dari segumpal darah, seonggok daging, dirangkai tulang, kemudian lahir sebagai makhluk merah yang teramat lemah, kini tumbuh dan terus tumbuh. Mendzikirkan waktu ilahiyah, menuai kasih dan sayang dari orang tua, dan mengeja makna demi makna kehidupan. Untuk kemudian membentuk diri yang baru, dengan hakiki yang baru, dan terus baru seiring usia yang merajutnya.
Sampai detik ini, setidaknya, belajar kesabaran yang sesungguhnya, adalah menjalani sesuatu yang tak ringan dan tak mudah, namun untuk yang teramat sangat dicintai dan dikasihi.
Friday, February 3, 2006
KISAH BARU MENJADI SEORANG IBU
Hal yang cukup mengkhawatirkan saya ketika mendekati masa-masa persalinan, bukanlah proses melahirkan atau kerepotan pasca melahirkan. Melainkan timbulnya Baby Blues Syndrom (BBS). Secara sederhana BBS digambarkan sebagai sebuah keadaan mental dan fisik yang tidak menentu (seperti perasaan bingung, khawatir, cemas, merasa bersalah, merasa tak mampu, takut, sedih, dan lain sebagainya) yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Secara kasat mata, BBS ini dapat terlihat dari kondisi ibu, seperti lemah-letih-lesu, badmood, senewen, sedih, malas mengurus bayinya, asi-nya terhambat, marah-marah, menangis, dan ungkapan emosional lainnya. Yang kata dokter akibat pengaruh hormon. Yang kata orang, wajar. Meski demikian, kalau belum merasakannya sendiri, memang sulit untuk bisa memahami apa itu BBS.
Pada sebuah artikel yang pernah saya baca (tentu saja sebelum melahirkan), BBS biasanya timbul pada hari ketiga atau keempat pasca melahirkan. Maka ketika usai melahirkan, saya mulai menghitung waktu. Hari ketiga terlewati, keempat terlampaui, bahkan hari kelima sampai menjelang 2 minggu saya masih mereka-reka si BBS. Saya sempat berpikir, sudah hampir dua minggu, dan syukurlah, mungkin masa BBS telah lewat. Dan selamatlah saya dari monster yang sempat menghantui itu.
Ah, ternyata saya salah besar. Hari keduabelas, perasaan-perasaan tidak karuan mencapai klimaksnya. Rasa khawatir, rasa takut, rasa menyesal, kecewa pada diri sendiri, lelah yang amat sangat, menjadi komplikasi dan berakibat pada suatu 'penyakit'. Saya tidak mau menamainya BBS -karena saya tidak yakin juga- (karena BBS memang sulit digambarkan secara pasti). Tapi yang jelas, seusai menyusui Alif dan menidurkannya, saya gelisah bukan main. Ingin tidur karena kelelahan yang amat sangat (maklum, ibu baru selalu terbangun di tengah malam berkali-kali untuk urusan si kecil), namun kegundahan, ketidakyakinan, dan entah perasaan apalagi namanya, menghambat saya untuk terlelap.
Yang muncul dalam benak saya adalah masa-masa kehamilan yang ternyata jauh lebih ringan menjaganya, ketimbang repotnya mengasuh bayi. Namun tiba-tiba teringat pula tugas untuk membesarkan bayi merah yang terlelap di samping saya, bahwa saya harus selalu siap sedia ketika si kecil butuh susu (muncul perasaan bersalah, karena pada hari keduabelas saya belum cukup mahir menyusui Alif), dan apakah saya sanggup? Bagaimana jika saya lelah dan ngantuk yang teramat sangat, sementara si kecil Alif merengek karena lapar atau popoknya basah? Akan sangat kasihan sekali si Alif. Belum lagi ketika di tengah terpejamnya kembali mata saya, yang terbayang adalah bahwa Alif harus segera menjalani imunisasi. Bagaimana ketika membawanya ke dokter? Bagaimana ketika di perjalanan dia menangis, sementara saya masih kesulitan menyusui (apalagi di tempat umum)? Bagaimana pula reaksi si kecil ketika dia menjalani imunisasi pertamanya? Menangis? Demam? Rewel? Ah, kasihan! Sementara Alif benar-benar harus menjalani imunisasi! Saya khawatir, lelah, cucian menumpuk, sementara saya bingung harus melakukan apa.
(Saat itu adalah masa terberat saya pasca melahirkan. Jauh lebih berat dan menyakitkan dibanding sakitnya proses operasi cesar :-).
Akhirnya?! Saya menangis............................................................................ dan tentu saja di depan suami terkasih. Apa yang kira-kira saya katakan padanya? Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Perasaan sudah campur aduk tak menentu. “Perasaanku nggak enak”, ungkapan singkat yang kemudian dilanjutkan tangis yang sulit untuk dihentikan. Genggaman erat suami justru membuat air mata saya makin meleleh................leh!
Di tengah tangisan yang mengharu biru tak jelas :-) saya pun mulai curhat pada kekasih saya. Tentang perasaan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kebosanan, dan lain-lain, diiringi senggukan tangis. Sinetron lah, pokoknya ;-)
Tangis saya yang terus mengalir beriringan dengan masukan dan dukungan suami yang terdengar hangat tapi menyejukkan. Tak lebih dari lima menit, hati saya sudah mulai cair, terasa lebih nyaman, meski masih resah dan lelah. Suami mengijinkan saya melakukan apapun yang dapat membuat saya lebih baik. Kami pun berdiskusi kecil soal pembagian tugas kerumahtanggaan (dan pada kenyataannya, kita -suami istri- memang harus saling berbagi) serta perawatan-perawatan si kecil ke depannya. Sejenak suami meninggalkan saya, dan saya mulai introspeksi diri. Dalam renungan singkat, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa seharusnya SAYA MERASA BAHAGIA! Teringat bagaimana awal2 menikah dulu saya selalu menagis tiap datang bulan, karena itu tandanya SAYA BELUM HAMIL. Tiga bulan menanti akhirnya Allah menjawab doa-doa kami, dengan mengijinkan saya hamil di bulan Maret 2005. Teringat pula tulisan yang saya buat saat usia kandungan 38 minggu. Terngiang pula ungkapan suami di jelang tidur kami saat malam tiba, “Dek, betah amat di dalam? Main di luar yuk!”, di dekat perut saya, ketika si dedek belum lahir juga.
Ya, betapa kami telah sangat merindukan kehadiran anak kami! Belum lagi masih hangat dalam ingatan, bagaimana beratnya menjalani kehamilan selama 9 bulan. 9 bulan menggendong si dedek dengan perut, kemana-mana dalam keadaan apapun!
Kesimpulan sederhana itu membuat saya merasa lebih baik. Lantas saya tatap wajah polos Alif yang tengah terlelap dalam bedongnya. Duh Allah..........betapa Pemurahnya Engkau............. adakah kenikmatan lain yang sangat kami nanti selama ini selain kehadiran kekasih baru nan mungil ini? Bukankah bayi ini lahir juga dengan keadaan yang baik, wajahnya lucu, cakep, nggak rewel, dengan anggota tubuh yang sempurna dan indah, sangat dinanti oleh orang tua saya sebagai cucu pertama, sekaligus cicit pertama dalam keluarga besar eyang saya? Lalu, kenikmatan dari-Nya yang manakah yang dapat kami ingkari? Saya cuma dapat beristighfar menyadari hal ini.
Dalam hitungan waktu, saya sudah merasa jauh lebih baik. Kedatangan kakak ipar yang juga baru saja punya bayi, semakin menambah motivasi saya. “Jangan dijadikan beban”, “lakukan apapun yang membuat kita lebih nyaman”, “betapapun, punya anak adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya”, beberapa ungkapan dari sang kakak yang membuat 'nyess' di hati. Kami pun sharing soal perawatan bayi baru lahir. Bagaimana mengatur jadwal menyusui, memandikan, berbagi tugas dengan suami, dan lain-lain.
Ah, alhamdulillah, hari itu BBS datang mencapai klimaksnya, dan hari itu pula ia beranjak pergi perlahan-lahan. Hari-hari berikutnya makin baik. Saya lakukan apa-apa yang memang sebaiknya (bukan seharusnya) saya lakukan. Melakukannya tanpa beban, dengan kasih sayang, ikhlas, serta yakin 'pasti bisa', mampu membunuh rasa khawatir, takut, perasaan bersalah, serta kecemasan. Bagi saya pribadi, menjalani segalanya bersama suami adalah obat paling mujarab (tentu butuh suami yang pengertian, sabar, penuh kasih sayang, full smile and motivation, serta bertanggung jawab tentu ;-) “Thanks ya honey... u r my best!”
Syukurlah, orang tua dan mertua saya bukanlah tipe yang suka ngatur-ngatur. Jadi saya boleh berlega hati untuk hal yang satu ini, karena tak menambah masalah kian runyam. Kalaupun punya ortu or mertua yang menerapkan banyak aturan, atau ikut menetapkan ini dan itu, kata kakak ipar saya “lakukan saja kalau tidak merugikan”. Satu hal lagi, jangan pernah berhenti (apalagi lupa) untuk berdoa, saat apapun! Dan rasakan kedahsyatannya! Yang terus menerus saya ingat pula adalah; anak akan menjadi apa kelak, sangat tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan sejak dini.
Maka, bagi para calon ibu, atau para ibu baru, obat dari BBS sebenarnya cukup 'sederhana'. 'Cukup' bersyukur pada Allah, bersabar pada amanah-Nya (klise kan ? ;-), dan yang tak kalah penting : dukungan suami! (para suami wajib paham akan BBS ini !)
Pada sebuah artikel yang pernah saya baca (tentu saja sebelum melahirkan), BBS biasanya timbul pada hari ketiga atau keempat pasca melahirkan. Maka ketika usai melahirkan, saya mulai menghitung waktu. Hari ketiga terlewati, keempat terlampaui, bahkan hari kelima sampai menjelang 2 minggu saya masih mereka-reka si BBS. Saya sempat berpikir, sudah hampir dua minggu, dan syukurlah, mungkin masa BBS telah lewat. Dan selamatlah saya dari monster yang sempat menghantui itu.
Ah, ternyata saya salah besar. Hari keduabelas, perasaan-perasaan tidak karuan mencapai klimaksnya. Rasa khawatir, rasa takut, rasa menyesal, kecewa pada diri sendiri, lelah yang amat sangat, menjadi komplikasi dan berakibat pada suatu 'penyakit'. Saya tidak mau menamainya BBS -karena saya tidak yakin juga- (karena BBS memang sulit digambarkan secara pasti). Tapi yang jelas, seusai menyusui Alif dan menidurkannya, saya gelisah bukan main. Ingin tidur karena kelelahan yang amat sangat (maklum, ibu baru selalu terbangun di tengah malam berkali-kali untuk urusan si kecil), namun kegundahan, ketidakyakinan, dan entah perasaan apalagi namanya, menghambat saya untuk terlelap.
Yang muncul dalam benak saya adalah masa-masa kehamilan yang ternyata jauh lebih ringan menjaganya, ketimbang repotnya mengasuh bayi. Namun tiba-tiba teringat pula tugas untuk membesarkan bayi merah yang terlelap di samping saya, bahwa saya harus selalu siap sedia ketika si kecil butuh susu (muncul perasaan bersalah, karena pada hari keduabelas saya belum cukup mahir menyusui Alif), dan apakah saya sanggup? Bagaimana jika saya lelah dan ngantuk yang teramat sangat, sementara si kecil Alif merengek karena lapar atau popoknya basah? Akan sangat kasihan sekali si Alif. Belum lagi ketika di tengah terpejamnya kembali mata saya, yang terbayang adalah bahwa Alif harus segera menjalani imunisasi. Bagaimana ketika membawanya ke dokter? Bagaimana ketika di perjalanan dia menangis, sementara saya masih kesulitan menyusui (apalagi di tempat umum)? Bagaimana pula reaksi si kecil ketika dia menjalani imunisasi pertamanya? Menangis? Demam? Rewel? Ah, kasihan! Sementara Alif benar-benar harus menjalani imunisasi! Saya khawatir, lelah, cucian menumpuk, sementara saya bingung harus melakukan apa.
(Saat itu adalah masa terberat saya pasca melahirkan. Jauh lebih berat dan menyakitkan dibanding sakitnya proses operasi cesar :-).
Akhirnya?! Saya menangis............................................................................ dan tentu saja di depan suami terkasih. Apa yang kira-kira saya katakan padanya? Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Perasaan sudah campur aduk tak menentu. “Perasaanku nggak enak”, ungkapan singkat yang kemudian dilanjutkan tangis yang sulit untuk dihentikan. Genggaman erat suami justru membuat air mata saya makin meleleh................leh!
Di tengah tangisan yang mengharu biru tak jelas :-) saya pun mulai curhat pada kekasih saya. Tentang perasaan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kebosanan, dan lain-lain, diiringi senggukan tangis. Sinetron lah, pokoknya ;-)
Tangis saya yang terus mengalir beriringan dengan masukan dan dukungan suami yang terdengar hangat tapi menyejukkan. Tak lebih dari lima menit, hati saya sudah mulai cair, terasa lebih nyaman, meski masih resah dan lelah. Suami mengijinkan saya melakukan apapun yang dapat membuat saya lebih baik. Kami pun berdiskusi kecil soal pembagian tugas kerumahtanggaan (dan pada kenyataannya, kita -suami istri- memang harus saling berbagi) serta perawatan-perawatan si kecil ke depannya. Sejenak suami meninggalkan saya, dan saya mulai introspeksi diri. Dalam renungan singkat, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa seharusnya SAYA MERASA BAHAGIA! Teringat bagaimana awal2 menikah dulu saya selalu menagis tiap datang bulan, karena itu tandanya SAYA BELUM HAMIL. Tiga bulan menanti akhirnya Allah menjawab doa-doa kami, dengan mengijinkan saya hamil di bulan Maret 2005. Teringat pula tulisan yang saya buat saat usia kandungan 38 minggu. Terngiang pula ungkapan suami di jelang tidur kami saat malam tiba, “Dek, betah amat di dalam? Main di luar yuk!”, di dekat perut saya, ketika si dedek belum lahir juga.
Ya, betapa kami telah sangat merindukan kehadiran anak kami! Belum lagi masih hangat dalam ingatan, bagaimana beratnya menjalani kehamilan selama 9 bulan. 9 bulan menggendong si dedek dengan perut, kemana-mana dalam keadaan apapun!
Kesimpulan sederhana itu membuat saya merasa lebih baik. Lantas saya tatap wajah polos Alif yang tengah terlelap dalam bedongnya. Duh Allah..........betapa Pemurahnya Engkau............. adakah kenikmatan lain yang sangat kami nanti selama ini selain kehadiran kekasih baru nan mungil ini? Bukankah bayi ini lahir juga dengan keadaan yang baik, wajahnya lucu, cakep, nggak rewel, dengan anggota tubuh yang sempurna dan indah, sangat dinanti oleh orang tua saya sebagai cucu pertama, sekaligus cicit pertama dalam keluarga besar eyang saya? Lalu, kenikmatan dari-Nya yang manakah yang dapat kami ingkari? Saya cuma dapat beristighfar menyadari hal ini.
Dalam hitungan waktu, saya sudah merasa jauh lebih baik. Kedatangan kakak ipar yang juga baru saja punya bayi, semakin menambah motivasi saya. “Jangan dijadikan beban”, “lakukan apapun yang membuat kita lebih nyaman”, “betapapun, punya anak adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya”, beberapa ungkapan dari sang kakak yang membuat 'nyess' di hati. Kami pun sharing soal perawatan bayi baru lahir. Bagaimana mengatur jadwal menyusui, memandikan, berbagi tugas dengan suami, dan lain-lain.
Ah, alhamdulillah, hari itu BBS datang mencapai klimaksnya, dan hari itu pula ia beranjak pergi perlahan-lahan. Hari-hari berikutnya makin baik. Saya lakukan apa-apa yang memang sebaiknya (bukan seharusnya) saya lakukan. Melakukannya tanpa beban, dengan kasih sayang, ikhlas, serta yakin 'pasti bisa', mampu membunuh rasa khawatir, takut, perasaan bersalah, serta kecemasan. Bagi saya pribadi, menjalani segalanya bersama suami adalah obat paling mujarab (tentu butuh suami yang pengertian, sabar, penuh kasih sayang, full smile and motivation, serta bertanggung jawab tentu ;-) “Thanks ya honey... u r my best!”
Syukurlah, orang tua dan mertua saya bukanlah tipe yang suka ngatur-ngatur. Jadi saya boleh berlega hati untuk hal yang satu ini, karena tak menambah masalah kian runyam. Kalaupun punya ortu or mertua yang menerapkan banyak aturan, atau ikut menetapkan ini dan itu, kata kakak ipar saya “lakukan saja kalau tidak merugikan”. Satu hal lagi, jangan pernah berhenti (apalagi lupa) untuk berdoa, saat apapun! Dan rasakan kedahsyatannya! Yang terus menerus saya ingat pula adalah; anak akan menjadi apa kelak, sangat tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan sejak dini.
Maka, bagi para calon ibu, atau para ibu baru, obat dari BBS sebenarnya cukup 'sederhana'. 'Cukup' bersyukur pada Allah, bersabar pada amanah-Nya (klise kan ? ;-), dan yang tak kalah penting : dukungan suami! (para suami wajib paham akan BBS ini !)
Thursday, February 2, 2006
Cesar, Normal, 'sama saja'........
Kekasih Baru Yang Telah Tiba
Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.
Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.
Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-
Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.
Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)
Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.
Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.
Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-
Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.
Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)
Monday, January 23, 2006
CINTA DAN RASA TAKUT
Ada satu hal, yang selalu membuat saya takut ketika bicara soal CINTA. Ya, cinta yang menjadi energi dalam hidup saya, tiba-tiba menjadi 'momok' untuk terus saya resapi sebagai sebuah karunia dari-Nya. Satu hal tersebut adalah, KEHILANGAN.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
Friday, January 20, 2006
KETIKA JATUH CINTA LAGI
Ada banyak kata yang tak terungkapkan, manakala perasaan tak mampu diterjemahkan lewat kata ataupun laku. Sebenarnya tak melulu kata-kata cinta, yang tak banyak bisa terungkap lewat kata dan laku. ada banyak emosi yang -sungguh- kata, bahkan perilaku tak cukup bisa mengartikan.
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Subscribe to:
Posts (Atom)
