Thursday, February 2, 2006

Cesar, Normal, 'sama saja'........

Kekasih Baru Yang Telah Tiba

Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.

Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.

Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-

Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.

Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)

No comments: