Dan ... saat itu pun akan tiba.
Siang itu, saat sedang menemani Alif minum susu menjelang tidur siangnya. Suami mendatangi saya dan mengabarkan bahwa Ibu sedang kritis. Suami meminta izin untuk berangkat ke Tangerang bersama kakak perempuan dan suaminya. Dan tentu saya menyetujuinya, bahkan menyarankannya untuk segera berangkat. Karena Alif sedang flu dan terfikir juga bahwa Afra masih menyusu ASI, maka tentu akan repot meninggalkan Alif atau membawa Afra berangkat. Hingga saya pun menyarankan suami untuk segera berangkat tanpa saya. Suami menyetujuinya.
Entah mengapa, saat kabar bahwa ibu kritis, walau sudah beberapa kali problem jantung ibu kambuh dan sudah sering pula kabar bahwa ibu kembali jatuh sakit, namun kabar di tengah siang hari itu terasa berbeda. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya bahwa ibu akan meninggal kali ini (maaf beribu maaf, bahasanya jadi terkesan kasar). Namun saya segera beristighfar, dan memohon pada Allah untuk menjauhkan diri ini dari lintasan pikiran semacam itu.
Usai Alif tertidur, saya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Semenit kemudian, suami mengahmpiri saya, dan membawa kabar itu. Ibu Telah Tiada. Ibu telah meninggal dunia. Saya linglung sekian detik itu. Namun tiba-tiba kesadaran saya kembali, untuk bersiap menguatkan suami. Betapapun, suami adalah anak kandung. Dan saya tau, kedekatannya mungkin melebihi kedekatan saya dengan ibu (mertua).
Namun ternyata tidak. Sedetik usai kesadaran saya kembali, maka saat itu pulalah, saya menangis. Justru suami lah yang membimbing saya, menguatkan saya, dan membesarkan hati saya yang tiba-tiba menciut bagai plastik tersengat api.
Tangis saya benar-benar deras. Dada saya sesak. Mengingat ibu, mengenang ibu, mencinta ibu. Dan ketika waktu yang diberikan hanya 3 tahun, saya bersama ibu kedua, bersama beliau, Allah 'memisahkan' kami. Dan sungguh, rasanya saya belum sempat memberikan bhakti apapun pada beliau. (Ya Rabb.. semoga Engkau ampuni hamba).
Ibu, walau perjalanan hidupmu aku tak banyak tau, namun tergores kasih yang begitu dalam. Terasa dan melekat, walau tak sepatah kata wujudnya. Walau aku tak lahir dari rahimmu, namun bagian darah dan dagingmu, mewujudkan keindahan hidupku yang tak setara sebelumnya. Yang kini menjelma lewat wujud dua kekasih Allah yang suci dosa.
Ibu, jika pun tak ada bhakti yang cukup kuukir, semoga aku bisa memahatkannya, pada ketiga kekasih hatiku, juga pada bapak, dan segenap cinta yang kau 'tinggalkan'. Semoga Allah berkenan menambatkan cintaku pada surga di telapakmu, ibu.
Dan kuingin engkau tahu, aku sungguh mencintaimu Ibu..
Selamat jalan Ibu, Semoga allah melapangkan jalan-mu. Amin.
tertanda cinta,
ananda-
Friday, December 21, 2007
Friday, December 7, 2007
2nd Besde

5 Desember 2007
Selamat Ulang Tahun Alif..
"Raja" nya ayah dan ummi, sudah 2 tahun. Tinggi badannya 87 cm dan BB-nya....mmm (kok masih) 12 Kg (?).
Kakaknya adek Afra, yang lebih suka serius ketimbang ketawa ketiwi. Yang lebih suka merhatiin semut dan cicak (yang saling pandang-pandangan di tembok) ketimbang merhatiin televisi. Yang lebih heboh lihat bulan dan bintang di langit atau di menara masjid, ketimbang lihat badut. Dan yang lebih suka naik bus daripada naik taxi.
Alif, dari bayi sampai seusia sekarang, memang lebih suka dengan 'atribut' orang dewasa ketimbang atributnya anak-anak. Lebih favorit sama motornya ummi daripada motor mainannya yang bisa jalan sendiri sambil muter2, sambil ada musiknya, plus ada suara klaksonnya. Alif juga lebih senang main gitarnya ayah daripada mainin mobil2annya. Alif juga lebih favorit sama obeng dan palu ketimbang robot atau pesawat-pesawatannya.
Si sulung ini juga lebih suka bongkar pasang semua mainannya, daripada memainkannya. Pesawat yang sayapnya entah kemana. Motor mainan yang entah kemana stang dan spionnya. Dan banyak lagi.
Alif juga lebih betah mendengar orang bicara dan menyanyi ketimbang main komedi putar. Tapi Alif gemar menyanyi. (tunggu nak, ummi ketawa dulu). Jadi ingat dengan gaya nyanyi Alif. Apa-apa dijadikan mike buat nyanyi. Dari mulai pensil, handphone ayah, remote AC, stik drum, sendok, sampai sapu (mungkin maksudnya standing mike kali).
Si 'penyanyi' ini juga sangat gemar beres2 rumah (semua benar-benar heran soal yang satu ini). Tidak pernah terlewat sehari pun, tanpa Alif menyapu, membuang sampah, mengelap meja, mengelap lemari es, mengelap tepi tempat tidur, membenahi sprei kasur (kasur Alif ataupun kasur ayah&ummi), dll. Soal suka mengelap ini tidak hanya dikerjakan Alif di rumah. Tapi juga di rumah engkong, di rumah eyang, di rumah eyang tante, juga di dalam taxi. Alif juga sangat suka membuang sampah. Begitu ada tisu sehelai saja di atas meja, pasti langsung masuk keranjang sampah. Ada sehelai rambut di atas bantal, pasti bakal dibuang ke tempat sampah juga sama Alif. Alif juga ga betah, kalau pas lagi mandi, pintunya kebuka; "tutup! Malu", katanya. Sejak umur satu tahun, Alif sangat tidak terbiasa beraktivitas di kamar mandi dengan pintu terbuka.
Alif, favorit sekali dengan coklat. Semua jenis coklat Alif pasti suka (kecuali coklat murni yang pait). Alif juga doyan banget es krim (yang Alif sebut dengan : Ejim) dan keju, doyan semur ayam, kacang, susu, jus buah, juga makanan2 pedas (padahal waktu bayi Alif nggak doyan makan). Untungnya Alif juga rajin gosok gigi 2x sehari.
Kakak yang sudah bisa jagain adik cantiknya, anak yang bisa ikut sedih kalo ayah atau ummi lagi sakit, dan cucu yang selalu nangis sedih kalau eyang atau engkongnya pulang (habis nengok Alif). Hehe.. Alif memang favorit sama Eyang kakung dan Engkongnya saja. sama Eyang Putri malu-malu, sama Nyainya, malah sungkan.
Si kakak yang memanggil adiknya dengan "Adek Awa (malaikat yang cantik)" juga senang nolongin orang. Ndorongin kereta belanja di supermarket, ngangkatin keranjang belanjaannya ummi, dorong2 strollernya Afra, narikin koper beroda nya eyang, dan masih byk lagi yang di'tolong'in Alif. Yang seringkali, yang terjadi adalah, ditolong malah jadi repot sendiri (hehe).
Alif ... Selamat berulang tahun yang kedua ya... Selalulah menjadi insan yang sadar akan keberadaannya di dunia. Seorang hamba yang ikhlas dengan amanahnya. Dan seorang 'musafir' yang selalu ingat 'tempat kembali'nya.
Terima kasih, sudah menjadi bagian kebahagiaan dan keluarbiasaan sepanjang jalan hidup ayah-ummi-adek Afra-dan semua yang mencintai, mengasihi dan menjadi bagian hidupmu. Terima kasih atas pelajaran, hikmah, dan rasa yang terbagi indah diantara kita.
Semoga ayah dan ummi bisa menunaikan amanah-Nya atas dirimu dengan sebaik-baiknya. Menjadilah jalan pelapang ayah dan ummi menuju surga ya Nak... Doakan kami, sayang...
Ya Rabb.. jadikan Alif anak sholeh, berbakti, dan berguna bagi kehidupan-nya. Dan jadikan kami, orang tua yang mampu menjaga amanah indah-Mu ini dengan sebaik-baiknya. Amin.
Monday, December 3, 2007
Bukuku Belum Jadi-jadi
sEDih ...
Begitu, yang tergores di hati, kala membaca tulisan-tulisan karya penulis muda yang penuh bakat dan semangat. Begitu banyak nama. Begitu banyak kreasi, dan begitu banyak kisah dan makna.
Kalau soal menulis, saya termasuk rajin menulis. Mulai dari Diary-nya anak-anak, resep masakan, daftar belanjaan, sampai nomer telepon. Tapi saya heran, kok saya nggak bisa bikin buku seperti mereka-mereka ya...?
Waktu. Apa iya saya tak punya cukup waktu? Memang, mengurus anak dan segala keperluan rumah tangga adalah 'pengurasan' energi dan waktu. Tapi masa iya, saya hanya punya waktu luang untuk 'bernafas' saja? Wihhh... sesibuk apa?!
Usia. Sejujurnya saya ada di usia yang cukup produktif kan? 26 tahun, belum terlalu tua, belum terlalu tua (tua-muda relatif yak!). Harusnya saya masih cukup trampil mengetik, menulis, berpikir, mengingat, menganalisa, dan mungkin : membuat buku.
Gender. Halah, kayaknya penulis wanita sangat tidak kalah heboh dengan penulis pria kok.
Tema. Aduhhh... masa sih, tema seluruh dunia, sepanjang hidup, seluas asa, seramai mimpi, setinggi langit, nggak ada satu pun tema yang bisa digarap? Pasti ada lah... (ga kreatif nih..)
Fasilitas. Ah, kayaknya banyak yang hanya modal kertas dan pulpen bisa menciptakan karya-karya besar? Masa ada komputer, internet, telepon dan buku, masih nggak bisa mencipta juga?
Kemauan. Nah, ini dia, kemauan sih ada. Tapi cuma sebatas 'ada' namun 'tiada' alias pengen, tapi nggak mau ngapa-ngapain. Hihihi.. Masa' buku datang dari langit? Pembelaan : kenapa semua berjalan mulus di awal. Namun sampai tengah jalan, selalu bingung mau belok ke mana. Atau jadi heran sendiri, ini tadi sebenarnya mau ke mana ya? nah kan.. Kemauan nggak didukung keyakinan dan usaha yang optimal, jadinya bingung dan... linglung. hhihhiii .....
Usaha. Nah, usaha sih selalu ada. Usaha buat ngintip tps-tips sukses para penulis sukses. Juga... usaha untuk ... ngeles, cari alesan kenapa buku-nya nggak jadi-jadi. Usaha separo-separo, kurang fokus, tergantung mood dan duit (?).
Konsistensi. Wahh, konsisten habis buat nulis lho... Nulis diary Alif dan Afra, nulis catatan daftar belanja, nulis posting email, nulis blog, nulis resep masakan, sampai nulis2 jadwal acara bagus di tipi dan Kid's event yang keren2 di Jakarat. Kurang apalagi coba? Cuman kalo suruh konsisten mantengin satu tema tulisan... ga kuat!!! Hehe..
Mental. Apalagi yang satu ini. Nggak punya gue!! (ngakak sambil ngacir)
Yahhh........... jadi kapan dong, bukunya terbit? Kapan-kapan ya... Hehehe...
Begitu, yang tergores di hati, kala membaca tulisan-tulisan karya penulis muda yang penuh bakat dan semangat. Begitu banyak nama. Begitu banyak kreasi, dan begitu banyak kisah dan makna.
Kalau soal menulis, saya termasuk rajin menulis. Mulai dari Diary-nya anak-anak, resep masakan, daftar belanjaan, sampai nomer telepon. Tapi saya heran, kok saya nggak bisa bikin buku seperti mereka-mereka ya...?
Waktu. Apa iya saya tak punya cukup waktu? Memang, mengurus anak dan segala keperluan rumah tangga adalah 'pengurasan' energi dan waktu. Tapi masa iya, saya hanya punya waktu luang untuk 'bernafas' saja? Wihhh... sesibuk apa?!
Usia. Sejujurnya saya ada di usia yang cukup produktif kan? 26 tahun, belum terlalu tua, belum terlalu tua (tua-muda relatif yak!). Harusnya saya masih cukup trampil mengetik, menulis, berpikir, mengingat, menganalisa, dan mungkin : membuat buku.
Gender. Halah, kayaknya penulis wanita sangat tidak kalah heboh dengan penulis pria kok.
Tema. Aduhhh... masa sih, tema seluruh dunia, sepanjang hidup, seluas asa, seramai mimpi, setinggi langit, nggak ada satu pun tema yang bisa digarap? Pasti ada lah... (ga kreatif nih..)
Fasilitas. Ah, kayaknya banyak yang hanya modal kertas dan pulpen bisa menciptakan karya-karya besar? Masa ada komputer, internet, telepon dan buku, masih nggak bisa mencipta juga?
Kemauan. Nah, ini dia, kemauan sih ada. Tapi cuma sebatas 'ada' namun 'tiada' alias pengen, tapi nggak mau ngapa-ngapain. Hihihi.. Masa' buku datang dari langit? Pembelaan : kenapa semua berjalan mulus di awal. Namun sampai tengah jalan, selalu bingung mau belok ke mana. Atau jadi heran sendiri, ini tadi sebenarnya mau ke mana ya? nah kan.. Kemauan nggak didukung keyakinan dan usaha yang optimal, jadinya bingung dan... linglung. hhihhiii .....
Usaha. Nah, usaha sih selalu ada. Usaha buat ngintip tps-tips sukses para penulis sukses. Juga... usaha untuk ... ngeles, cari alesan kenapa buku-nya nggak jadi-jadi. Usaha separo-separo, kurang fokus, tergantung mood dan duit (?).
Konsistensi. Wahh, konsisten habis buat nulis lho... Nulis diary Alif dan Afra, nulis catatan daftar belanja, nulis posting email, nulis blog, nulis resep masakan, sampai nulis2 jadwal acara bagus di tipi dan Kid's event yang keren2 di Jakarat. Kurang apalagi coba? Cuman kalo suruh konsisten mantengin satu tema tulisan... ga kuat!!! Hehe..
Mental. Apalagi yang satu ini. Nggak punya gue!! (ngakak sambil ngacir)
Yahhh........... jadi kapan dong, bukunya terbit? Kapan-kapan ya... Hehehe...
Tuesday, November 27, 2007
Serunya Jurassic's World!
Awalnya curhat sama Fithrie, soal lapangan bermain anak yang makin sempit. Apalagi daerah tempat tinggal Alif yang perkantoran, susah banget bisa nemuin tempat main dengan teman seusianya yang aman dari godaan dan gangguan syetan yang terkutuk :D
Ternyata, di Kalibata Mall (Mall terdekat dari rumah), ada Jurassic's World. Maka, tancap gas lah ke sana, yang hanya memakan waktu 15 menit! (mungkin juga karna hari minggu yak...?).
Usai lunch di Mc.D yang kurang memuaskan (minyaknya buanyak amat sih Mac... emang lemet?) tapi alhamdulillah kenyang, maka Alif segera 'digiring' ke lokasi si Dino. Dan Alif bengong. ?!?!?!
Apaan nih ... mungkin itu pikirannya. Namun begitu melihat ada beraneka mobil-mobil mini berseliweran, Alif langsung semangat! "Ummi, mau ana..." (translate: ummi, mau ke sana) sambil menunjuk 'kandangnya' Dino. Oh, jadi ini ya, si Dino's World?
Begitu bayar 20.000 rupiah (murahnyaaaaaaaaaaaa............) Alif langsung dikasih 'gelang' tanda masuk ke JW. Jangan salah ya, 20.000 itu termasuk ayah-umminya boleh masuk lho.........!!! Asyik, bisa ikut mandi bola!! Waa... Belum lagi niy, 20 ribu-nya bisa buat main sampe puas, sampe ngantuk, sampe capekk (walaupun tertulis di pintu masuk : 20.000/jam)!! Murah kan? Apalagi kalo dibandingin sama Gymboree-nya Cilandak Town Square (30 ribu per jam, dengan mainan yang sangat terbatas).
Masuklah Alif (yang dah ga sabar), ayah dan ummi. Apa aja item permainannya ya..... lets see....
- Kuda-kudaan (buat dienjot-enjot)
- Kolam Bola (lengkap dengan tangga kayu dan prosotan mini)
- Jumping Area (Balon dengan ikon si Belalai Panjang)
- Trampolin
- Sepeda, motor, mobil (yang semuanya mini-mini)
- Ayunan
- Aneka Puzzle dan Lego
- Mobil dan area prosotan (anak bisa naik mobil beroda, di atas jalur khusus bergelombang dan mirip prosotan. Ati2 nih... buat 3 tahun aja)
Secara umum, area ini asyik banget buat anak2 main bareng (apalagi murah meriah). Apalagi secara lokasi, berada di sekitar tempat2 makan-nya KaMall (ada Hokben, ada Rice Bowls, ada KFC). Jadiii... kalo yang jagain laper, bisa sambil makan, sambil ngawasin anak2. Asyik kan...?
Di JW, anak2 bisa nyoba aneka mainan untuk merangsang kepekaan dan daya motoriknya. Di sana mereka juga bisa bersosialisasi, tergantung bagaimana si anak dan teman bermainnya masing-masing. Alif pun asyik bereksplorasi dari setengah 3 sampai jam 5 sore! (jelas-jelas) 1 jam lebih! Udah gitu, masih nggak mau pulang pula! Intinya, secara umum tempat ini asyik banget. Seru! Rame! Dan cukup bisa direkomendasikan.
Sayangnya ...
- Makanan boleh dibawa masuk (asyik sih sebenernya). Maka kebersihan bisa jadi taruhan. Ada beberapa makanan yang tercecer, atau resiko minuman tumpah dll.
- Tidak adanya peraturan atau tata tertib sama sekali di tempat ini (selain bayar bea masuk 20 ribu per anak dan melepas alas kaki saat masuk ke arena). Gaduh, riuh rendah. Benar-benar 'hanya' untuk bermain. Tidak ada guru apalagi modul (beda banget dengan class-nya Gymboree).
- Memang menyenangkan jika pendamping anak boleh ikut masuk area, tapi apa nggak sebaiknya dibatasi ya? Masa ada seorang anak diantar oleh 4 orang dewasa? Kan menuh-menuhin tempat. Udah gitu, mereka duduk-duduk di item yang harusnya hanya layak dipakai oleh anak-anak (misal : kursi kecil untuk menggambar. Trus ada juga bapak-bapak yang duduk di jumping area sambil telpon-telponan, sampai-sampai di wilayah yang diduduki tsb cekong dalem bgt. Namanya juga berat orang dewasa. Anak-anak yang ada di area ini jadi gampang melorot ke wilayah tsb.) Dll.
(kok catatan ga enaknya banyak bgt ya? hehehe...)
But so far, ini bisa jadi alternatif buat mom semua, yang punya anak dengan kisaran usia 1-5 tahun. Apalagi dengan kondisi di Jakarta saat ini. Untuk yang bertempat tinggal di Kalibata, Buncit, Pasar Minggu, Rawajati dan sekitarnya, kemacetan bukan lagi hal yang perlu dirisaukan (karena mall-nya di daerah Kalibata).
Oya, di area ini juga disediakan terapi pijat (pakai alat elektrik, yang diletakkan di telapak kaki), dengan biaya hanya 10.000 per 20 menit. Ini untuk orang dewasa ya.... Lumayan sambil nungguin anak main.
Kalau ada yang berniat ke sana, call me ya, kita janjian! Hehehe...
Note : tempatnya hampir nggak nyambung sama namanya 'Jurassic's World'
Ternyata, di Kalibata Mall (Mall terdekat dari rumah), ada Jurassic's World. Maka, tancap gas lah ke sana, yang hanya memakan waktu 15 menit! (mungkin juga karna hari minggu yak...?).
Usai lunch di Mc.D yang kurang memuaskan (minyaknya buanyak amat sih Mac... emang lemet?) tapi alhamdulillah kenyang, maka Alif segera 'digiring' ke lokasi si Dino. Dan Alif bengong. ?!?!?!
Apaan nih ... mungkin itu pikirannya. Namun begitu melihat ada beraneka mobil-mobil mini berseliweran, Alif langsung semangat! "Ummi, mau ana..." (translate: ummi, mau ke sana) sambil menunjuk 'kandangnya' Dino. Oh, jadi ini ya, si Dino's World?
Begitu bayar 20.000 rupiah (murahnyaaaaaaaaaaaa............) Alif langsung dikasih 'gelang' tanda masuk ke JW. Jangan salah ya, 20.000 itu termasuk ayah-umminya boleh masuk lho.........!!! Asyik, bisa ikut mandi bola!! Waa... Belum lagi niy, 20 ribu-nya bisa buat main sampe puas, sampe ngantuk, sampe capekk (walaupun tertulis di pintu masuk : 20.000/jam)!! Murah kan? Apalagi kalo dibandingin sama Gymboree-nya Cilandak Town Square (30 ribu per jam, dengan mainan yang sangat terbatas).
Masuklah Alif (yang dah ga sabar), ayah dan ummi. Apa aja item permainannya ya..... lets see....
- Kuda-kudaan (buat dienjot-enjot)
- Kolam Bola (lengkap dengan tangga kayu dan prosotan mini)
- Jumping Area (Balon dengan ikon si Belalai Panjang)
- Trampolin
- Sepeda, motor, mobil (yang semuanya mini-mini)
- Ayunan
- Aneka Puzzle dan Lego
- Mobil dan area prosotan (anak bisa naik mobil beroda, di atas jalur khusus bergelombang dan mirip prosotan. Ati2 nih... buat 3 tahun aja)
Secara umum, area ini asyik banget buat anak2 main bareng (apalagi murah meriah). Apalagi secara lokasi, berada di sekitar tempat2 makan-nya KaMall (ada Hokben, ada Rice Bowls, ada KFC). Jadiii... kalo yang jagain laper, bisa sambil makan, sambil ngawasin anak2. Asyik kan...?
Di JW, anak2 bisa nyoba aneka mainan untuk merangsang kepekaan dan daya motoriknya. Di sana mereka juga bisa bersosialisasi, tergantung bagaimana si anak dan teman bermainnya masing-masing. Alif pun asyik bereksplorasi dari setengah 3 sampai jam 5 sore! (jelas-jelas) 1 jam lebih! Udah gitu, masih nggak mau pulang pula! Intinya, secara umum tempat ini asyik banget. Seru! Rame! Dan cukup bisa direkomendasikan.
Sayangnya ...
- Makanan boleh dibawa masuk (asyik sih sebenernya). Maka kebersihan bisa jadi taruhan. Ada beberapa makanan yang tercecer, atau resiko minuman tumpah dll.
- Tidak adanya peraturan atau tata tertib sama sekali di tempat ini (selain bayar bea masuk 20 ribu per anak dan melepas alas kaki saat masuk ke arena). Gaduh, riuh rendah. Benar-benar 'hanya' untuk bermain. Tidak ada guru apalagi modul (beda banget dengan class-nya Gymboree).
- Memang menyenangkan jika pendamping anak boleh ikut masuk area, tapi apa nggak sebaiknya dibatasi ya? Masa ada seorang anak diantar oleh 4 orang dewasa? Kan menuh-menuhin tempat. Udah gitu, mereka duduk-duduk di item yang harusnya hanya layak dipakai oleh anak-anak (misal : kursi kecil untuk menggambar. Trus ada juga bapak-bapak yang duduk di jumping area sambil telpon-telponan, sampai-sampai di wilayah yang diduduki tsb cekong dalem bgt. Namanya juga berat orang dewasa. Anak-anak yang ada di area ini jadi gampang melorot ke wilayah tsb.) Dll.
(kok catatan ga enaknya banyak bgt ya? hehehe...)
But so far, ini bisa jadi alternatif buat mom semua, yang punya anak dengan kisaran usia 1-5 tahun. Apalagi dengan kondisi di Jakarta saat ini. Untuk yang bertempat tinggal di Kalibata, Buncit, Pasar Minggu, Rawajati dan sekitarnya, kemacetan bukan lagi hal yang perlu dirisaukan (karena mall-nya di daerah Kalibata).
Oya, di area ini juga disediakan terapi pijat (pakai alat elektrik, yang diletakkan di telapak kaki), dengan biaya hanya 10.000 per 20 menit. Ini untuk orang dewasa ya.... Lumayan sambil nungguin anak main.
Kalau ada yang berniat ke sana, call me ya, kita janjian! Hehehe...
Note : tempatnya hampir nggak nyambung sama namanya 'Jurassic's World'
Monday, November 26, 2007
Kreasi Perselingkuhan (Saya)
Saya tidak menyangka, bahwa saya akan mampu berselingkuh.
Suatu malam, di malam itu... sudah larut ... hening ... lelap dalam dekapan malam ...
Saya merasa bahagia, ketika seseorang itu, lelaki berwajah sangat tampan, berbincang dengan saya. Mesra. Dan saya merasa nyaman. Ada perasaan luar biasa.
Senyum. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata yang menggetarkan hati "Sayang..." (sepertinya saya pernah mendengar kata dengan nada seperti itu...?). Lelaki itu tersenyum lagi dan mengucapkan kata demi kata lagi (dan sungguh, saya lupa dia ngomong apa ya..? Tampan. Dan dia masih sangat tampan. Dia bukan orang pribumi, walau berbahasa Indonesia juga. Dia lelaki bule. Ya, saya yakin itu. Rambut pirangnya, mata coklat terang ... dan kulit khas bule ... Tampan sekali. Teduh, dan menyamankan. Juga membahagiakan.
Di awal Subuh, saya terjaga. Dan segera menyadari, bahwa baru saja saya bermimpi. Saya pun segera menyadari pula, 'lelaki indah' dalam mimpi tadi, bukanlah sang pangeran (My Prince, My Beloved Husband ---satu-satunya pangeran saya---).
"Abang...saya berselingkuh". Disambutnya dengan senyum. Saya resah.
Di ujung sore, pangeran saya datang menghampiri dan dengan tatapan teduhnya, mengajak saya bicara. Nada yang menenangkan, menyenangkan, juga menyamankan. Persis seperti dalam mimpi saya semalam. Mesra. Dan dia membawa kabar.
--- Saya mendapat 'hadiah' dari seorang lelaki berkebangsaan Perancis!! Pemberian yang akan sangat berarti untuk hidup saya (semoga Allah melapangkan urusan-nya). Sangat-sangat berarti ---
Kabar gembira, untuk saya, suami, dan tentu, anak-anak akan merasakannya pula. Sesuatu yang sangat berarti. Hadiah yang 'besar' dan sangat berarti. Sekali lagi : sangat berarti.
Ada tangis haru dalam biru hati saya. Ada kecerahan di wajah pangeran saya. Secerah senyum Alif dan Afra para buah hati penghias surga.
'Perselingkuhan' saya, senyatanya, adalah ukiran kreasi dari ungkapan suami, dan datangnya 'hadiah yang berarti' dari seseorang nun jauh di sana, di negeri kiblat mode dunia.
Thanks Lot Mr. Delomenie.. (hanya Allah yang bisa Membalasnya). Alhamdulillah, atas segala karunia ini.
--- Saat itu akan tiba. Dan perjuangan baru akan dimulai kembali ---
(kejadian di awal november)
Suatu malam, di malam itu... sudah larut ... hening ... lelap dalam dekapan malam ...
Saya merasa bahagia, ketika seseorang itu, lelaki berwajah sangat tampan, berbincang dengan saya. Mesra. Dan saya merasa nyaman. Ada perasaan luar biasa.
Senyum. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata yang menggetarkan hati "Sayang..." (sepertinya saya pernah mendengar kata dengan nada seperti itu...?). Lelaki itu tersenyum lagi dan mengucapkan kata demi kata lagi (dan sungguh, saya lupa dia ngomong apa ya..? Tampan. Dan dia masih sangat tampan. Dia bukan orang pribumi, walau berbahasa Indonesia juga. Dia lelaki bule. Ya, saya yakin itu. Rambut pirangnya, mata coklat terang ... dan kulit khas bule ... Tampan sekali. Teduh, dan menyamankan. Juga membahagiakan.
Di awal Subuh, saya terjaga. Dan segera menyadari, bahwa baru saja saya bermimpi. Saya pun segera menyadari pula, 'lelaki indah' dalam mimpi tadi, bukanlah sang pangeran (My Prince, My Beloved Husband ---satu-satunya pangeran saya---).
"Abang...saya berselingkuh". Disambutnya dengan senyum. Saya resah.
Di ujung sore, pangeran saya datang menghampiri dan dengan tatapan teduhnya, mengajak saya bicara. Nada yang menenangkan, menyenangkan, juga menyamankan. Persis seperti dalam mimpi saya semalam. Mesra. Dan dia membawa kabar.
--- Saya mendapat 'hadiah' dari seorang lelaki berkebangsaan Perancis!! Pemberian yang akan sangat berarti untuk hidup saya (semoga Allah melapangkan urusan-nya). Sangat-sangat berarti ---
Kabar gembira, untuk saya, suami, dan tentu, anak-anak akan merasakannya pula. Sesuatu yang sangat berarti. Hadiah yang 'besar' dan sangat berarti. Sekali lagi : sangat berarti.
Ada tangis haru dalam biru hati saya. Ada kecerahan di wajah pangeran saya. Secerah senyum Alif dan Afra para buah hati penghias surga.
'Perselingkuhan' saya, senyatanya, adalah ukiran kreasi dari ungkapan suami, dan datangnya 'hadiah yang berarti' dari seseorang nun jauh di sana, di negeri kiblat mode dunia.
Thanks Lot Mr. Delomenie.. (hanya Allah yang bisa Membalasnya). Alhamdulillah, atas segala karunia ini.
--- Saat itu akan tiba. Dan perjuangan baru akan dimulai kembali ---
(kejadian di awal november)
Insiden

Rada deg-degan saat menuliskan catatan kali ini. Pilu. Rasanya luka di hati saya belum mengering.
Kemarin Sabtu (24/11) Afra, si putri cantik, terjatuh dari baby tafel-nya. Shock. Jantung rasanya berhenti berdetak, nadi tak berdenyut, pikiran hampa kosong sejenak oleh adrenalin yang tiba-tiba meluap.
Afra terjatuh, kala si Baby Sitter yang diberi tugas menjaganya, meletakan Afra dari gendongan ke atas meja bayi, dan nyambi melakukan sesuatu. Sekali saja hentakan kaki Afra, maka melorotlah Afra bersama kasur mandinya. Namun Afra menyentuh lantai lebih dulu tanpa kasurnya.
Rabbi... Saya tak bisa berkata sambil segera mengambil alih Afra dari tangan si Baby Sitter. Saya tidak tahu harus berbuat apa, selain menegur sang BS. Menegur. Ya, menegur dengan lebih tegas. Saya tidak bisa lebih keras daripada teguran yang saat itu sanggup saya lakukan. Apapun, ya apapaun yang terjadi pada Afra, tentu kesalahan saya. Kelenaan saya. Keteledoran ibunya.
Maka ketika seorang teman bertanya, apakah si BS tidak dipecat? Tidak, jawab saya. Hanya akan menambah masalah baru. Apakah saya memarahinya? Tidak, jawab saya. Karena marah sama sekali tidak akan membuat Afra tidak jadi jatuh. Ya, inilah konsekuensi jika mempekerjakan orang lain untuk menjadi asisten kita dalam melakukan tanggung jawab. Tidak ada jaminan, keteledoran semacam ini tidak bakal terjadi, pun oleh orang tuanya sendiri. Saya rasa cukup kejadian yang pertama tersebut menjadi shock theraphy bagi semua orang dewasa di rumah cinta.
Afra, maafkan ummi ya...
Dan Afra pun mengalami trauma. Jangankan bermain air saat masuk dalam ember mandinya. Saat persiapan mandi saja, sudah menerbitkan traumanya. Afra menangis! Afra ketakutan saat mandi. Dan Afra pun langsung mengejang takut, saat diletakkan sendirian di atas box bayinya, di strollernya, apalagi di atas baby tafelnya. Segala gunjangan walau ringan, segala kesendirian di atas bidang datar (terutama baby tafelnya), segala rupa aktivitas mandi, segala rupa di ruangan insiden itu ... semua membuat Afra gugup. Si cantik yang murah senyum itu dalam sekejab menjadi bayi paranoid. Afra trauma! Saya menangis dalam hati.
Afra harus kembali! Dan semua anggota keluarga Rumah Cinta pun bersama, untuk menyembuhkan luka trauma Afra. Ayah, Alif... tentu saja ummi, (si BS tak mau kalah juga), (tante pas ke semarang) semua rela meninggalkan aktivitasnya sementara, untuk menemani si cantik mandi. Pagi tadi, Afra tak lagi menangis saat mandi. Walau badannya masih menegang saat masuk ke ember mandi, namun senyumnya sempat disunggingkan walau segaris. Ah, Afra...
Afra pun sudah mulai mau duduk kembali di stroller nya untuk makan. Sudah mau lagi, untuk sejenak ditinggal berwudhu, makan, dan lainnya oleh orang yang menjaganya. Perlahan Afra kembali. Semoga kian sembuh dari traumanya. Kembalilah Afra... Kami sudah cukup 'ingat' atas keteledoran kami. Harusnya tak perlu sampai kamu jatuh untuk mengingatkan kami Nak..
Afra ... kembalilah sayang ...
Thursday, November 22, 2007
Eksistensi Sebuah Pilihan-2

"Aku pengen kaya kamu, jadi full mom. Ga usah kerja dan ninggalin anak"
sebuah 'IM' masuk di Yahoo Massanger saya.
saya jawab dengan " :D " (nyengir)
Tapi dalam hati tersenyum. Lha wong semalam saya baru curhat sama suami, "Bang...aku lagi jenuh nih..." Dan sempat ngebatin, mungkin asyik kali ya, kalau balik kerja lagi. Ga bosen, tiap hari ketemu sesuatu yang beda.
Sorenya, 'IM' yang lain masuk. "Lagi jenuh nih.. Di rumah aja, bosen" (sori mbakyu, chating kita kucatut). dari seorang ibu muda cantik, yang kebetulan full mom full home.
Jawaban saya pun sama dengan yang tadi : nyengir. Soalnya, saya sempat ngebatin juga sebelumnya, si ibu yang satu ini enak juga. Kocek suaminya lumayan (sok tau ya), putrinya cantik, lucu, rumahnya dekat sama mertua (bisa buat mampir2), ada pembantu, punya mobil dan bisa jalan2 kemana aja, punya kesibukan bisnis jual-jual (jual apa aja tho mbak?), di rumahnya ada kolam ikan (ikannya kan bisa diajakin curhat), di rumahnya banyak taneman (ada yang bisa disiram-siram), dll.
Ya gitu deh.. dah ada kesimpulannya.
1st. Bahwa rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Enak ya si dia (padahal dia-nya lagi ngiri sama kita). Beruntung ya si dia (padahal si dia-nya ngerasa dapat ujian berat dari Allah). Dll.
2nd. Bosan bisa menjangkiti siapa saja. Orang yang kelihatan paling enak sekalipun. Artis, presiden, anggota DPR, supir bis, pemulung, dosen, dan banyak lagi. Mau yang kerja, nganggur, iseng, atau apalah, semua pasti bisa kena bosan, jenuh.
3th. Bosan adalah musuh bersama. Bosan harus diperangi bersama-sama. Tapi bosan juga sahabat lama, yang sesekali datang berkunjung. Sekadar menyentil dan mengingatkan kita, bahwa banyak hal yang perlu kita cermati. Membantu kita jadi lebih kreatif dan inovatif.
4th. Bosan bisa muncul karena kita terlalu banyak maunya. Sudah punya ini itu, tapi negarasa kurang, bakalan lebih enak kalau ada ina-ini ita-itu juga. Kita jadi banyak maunya, karena kita (maksudnya : saya) kurang bersyukur. So, mari perbanyak bersyukur ... (terlalu banyak yang bisa disyukuri tapi kita (maksudnya : saya) lebih banyak alpa).
5th. Nggak usah terlalu senewen dengan bosan. Dia makin ge-er jika makin diperhatikan. Selama kita tetap fokus pada apa yang sebaiknya dilakukan (tidak usah dulu berpikir soal : seharusnya), konsisten, on the right way.. keep on cool... secara tidak sadar, si bosan pasti juga pergi tanpa pamit (datang tak dijemput pulang nggak pamitan). Inilah saatnya eksistensi sebuah pilihan diuji! (mau tetap kerja, mau tetap di rumah, mau nganggur, mau iseng atau apa aja).
Saya juga heran, kenapa saya bisa bosan? Padahal ada kerjaan baru yang bisa mendatangkan uang (pesanan bikin buku) -soal 'uang' kan pasti menyenangkan. hehe .. Afra sudah makin besar, makin lucu. Apalagi Alif yang sudah makin pintar. Banyak film2 download baru yang belum ditonton. Wow! Ramai hati saya! Ramai rumah tinggal ini! Seramai House of Love!
So, mari kita bersama melawan kebosanan!!
Alif, Afra, Abang juga, maaf ya kalo sempat rada senewen ... abis jenuh sih ... hihihi...
Wednesday, November 21, 2007
ANNIVERSARY ... (selalu dan makin cinta)
19 dan 20 November ...
Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).
Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)
Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..
Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.
HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..
note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)
Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)
Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).
Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)
Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..
Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.
HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..
note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)
Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)
Friday, October 26, 2007
Eksistensi sebuah Pilihan-1

Sebuah hari.. saat seseorang yang cukup 'beken' di sebuah komunitas, menelepon saya dengan suara beratnya.
"Assalamu'alaikum .. Saya F**** H***** .." dst. Singkatnya, beliau menawarkan sebuah 'agenda', 'mimpi' dan 'imbalan'. Jujur, saya tersanjung. Kala saya sedang 'sendirian', 'hanya' memberikan peran pada sekecil-kecilnya keluarga kecil saya, datanglah sebuah penawaran untuk membangun sebuah eksistensi publik kembali.
'Imbalan'nya, bagi saya tak kecil, walau tak sebesar yang diterima suami tiap bulannya. Tapi.. rasanya lumayan. Gamang, tentu saja. Ada suatu perseteruan diri yang luar biasa gemerlap dan gaduh. Bukan saya, kalau tak segera meminta pendapat sang kekasih.
"Bagaimana Bang ..?", tanya saya mengadu.
Segaris senyum yang meneduhkan itu mengawali jawabannya.
"Kamu selalau tahu mana yang terbaik kan? Aku akan mendukung"
Masalahnya tidak sesimpel saya menerima, saya menindaklanjuti,lalu saya 'akan menerima imbalan'. Tapi lebih, karna komunitas tersebut sedang 'galau', sedang 'perih' juga 'ramai'. Saya akan dihadirkan sebagai penengah, yang tidak ada pretensi dan tendesi yang memihak, juga saya dianggap profesional untuk menanganinya. (In fact : begitulah yang disampaikan oleh si 'beliau' tadi)
Di satu sisi saya tertantang untuk kembali fight di profesionalitas bidang yang enam tahun mendarah daging. Saya juga terpanggil untuk bersumbangsih mengurai kusutnya benang kisah yang ada di suatu tempat itu. Tapi ...
Kalau mau ber-rendervou masa lalu. Saya selalu ingin kelak menjadi ibu yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga. Walau, sama sekali tak tergambar dalam benak saya, orang seperti saya yang kursinya saja adalah jok motor (hi Kenji sayang ...), yang kasurnya adalah handphone yang bisa berdering di atas pukul 11 malam dan sebelum subuh tiba, dan yang piring makannya adalah permen karet (alias si permen karet ini sudah menjadi pengganjal perut sehari-hari), akan bisa berdiam di satu tempat, bergerak dari satu ke tempat lain dalam radius yang pendek, dengan jangkauan yang itu-itu saja, dengan 'pemandangan' yang itu-itu saja, sehari-hari, lebih dari 24 jam sehari! Namun kenyatannya, ketika saya memiliki kekayaan tak ternyana (keluarga) itu, saya benar-benar bisa melakukannya!!
Kerinduan selalu hadir, untuk bercinta lagi dengan si-Kenji. Tapi cinta saya pada 'kekayaan' sejati membuat saya benar-benar nyaris mangkir dari kenangan-kenangan indah bersama Kenji. Dan jika kemudian tawaran yang datang itu faktanya menggiurkan, namun saya tidak jadi menyantapnya. Jika saya harus meninggalkan si kecil Alif dan Afra untuk berjibaku dengan riuhnya tempat yang ditawarkan, ber-harakiri dengan bus kota atau taxi (yang tarifnya kian mahal), atau saya harus memencet bel rumah pada pukul sembilan malam sebagaimana saat kerja di tempat yang sama sebelumnya, hingga ketika suami siap berbaring maka saya baru selesai makan malam (dan belum mandi)? Dan ketika saya harus bertaruh membangun citra sesuatu di luar sana hingga saya tidak sempat mendengar susunan cerita pertama yang terlontar dari Alif. Atau saya harus melihat afra hanya saat dia hendak mandi pagi dan setelah terlelap tidur malam? Atau ketika suami mengajak menikmati film-film terbaru dan saya tertidur pulas di kursi tv? Tuhan.. betapa mahal yang harus saya gadaikan??
Membangun karir. Saya rasa tidak ada satupun yang sangat alergi dengan hal yang satu ini. Saya pun gencar dengan karir saya. Mati-matian. Dengan air mata, tawa, riang dan terpaku untuk membangun dan mempertahankannya. Tapi saya bahagia. Tidak ada pengorbanan. Tak ada luka. Tak ada kerugian. Segalanya karena kenikmatan. Segalanya karena tujuan. Sebuah karir : menjadi dan selalu menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.
Saat ini, cukuplah bagi saya membangun karir dari rumah, menjadi pembicara sesekali, menyusun buku (walau buku pesanan), menghasilkan rupiah demi rupiah (walau tak banyak) melalui koneksi IT, dan tentu saja, mendedikasikan diri sepenuhnya pada anak-anak dan suami (sebagai salah satu kendaraan surga).
Saya bersyukur, bahwa saya memiliki pilihan. Untuk berkarir di luar atau tetap menjadi full mom di rumah. Bersyukur sekali, saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua (dengan konsekuensinya masing-masing). Tak terbayang bagaimana jika saya tak punya pilihan. Seperti seorang teman, yang bahkan 'mau bekerja apa saja' karena gaji suaminya sangat tidak menunjang untuk memenuhi gizi sehari-hari anaknya. Atau seorang ibu yang lain, yang banting tulang sendiri karena suaminya tak jua mendapat pekerjaan yang layak. Atau seorang bunda yang lain, yang ketika pulang dari perjalanan dinasnya, mendapati anaknya sakit parah. Atau seorang kawan (yang sejak belum lulus kuliah sudah menikah) yang hanya boleh di rumah tanpa boleh mencicipi 'nikmatnya' dunia kerja oleh suaminya dll. Semoga Allah menguatkan mereka. Mungkin saya tak kan sanggup demikian.
Saya masih bisa memilih.
Dua tahun, tiga tahun atau mungkin lima-enam tahun mendatang, bisa saja saya kembali merintis karir lain selain menjadi ibu. Tapi semua, setelah anak-anak mandiri dengan lingkungannya, bersekolah, dan mampu memahami kesibukan ibunya.
Segalanya adalah pilihan. Respek saya terhadap moms yang tetap bertahan dengan karir sekaligus menjadi ibu yang baik, juga pada moms yang bertahan mencurahkan pikiran dan waktunya hanya untuk keluarga -tentu dengan mengorbankan sementara kesempatannya berkarir di dunia kerja-
Sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati dan pikiran, untuk membuat diri mampu memilih yang terbaik, dan benar menurut-Nya.
Thursday, October 25, 2007
Sebait Nama
tentang NAMA ...
dulunya ga kebayang, kalau yang namanya mencipta sebuah nama itu susah minta ampun. Saya sering nulis puisi, dan menjadikannya kamus untuk menjiplak penciptaan nama-nama. Apa saja. Saat jadi ketua himpunan mahasiswa, saat kasih ide nama toko/bisnis buat temen, sampai nama-nama anak-nya temen, saudara, dll. Tapi bener2 ga kebayang, kalau pas berusaha ciptain nama buat anak2 sendiri, susahnya bukan main.
Alif.
Walaupun saya sudah ber-feeling bakal melahirkan anak pertama laki-laki, tapi soal nama, masih blank. Bahkan kata suami, nanti aja kalau dah lahir, kita cari nama yang pas dengan face-nya. Walau saya kurang setuju, karena kalau menurut saya, face yang bakalan ngikutin namanya (-aneh juga-), tapi tak urung membuat saya menyepakati untuk menunda mencipta sebuah nama pada si jabang bayi. Saat itu saya malah sibuk merangkai nama buat kakak ipar yang juga melahirkan seorang bayi perempuan. Maka ketika si sulung saya lahir, kami memanggilnya dengan "adek". Hari kedua kelahirannya, saat suami nungguin saya di kamar perawatan sambil tilawah, dan membaca sebuah surat dengan awalan "Alif Lam Miiim.." maka terbetik di otak saya sebuah nama. Nama yang sejak saya belajar huruf hijaiyah, sudah mentekadkan (sori, bahasanya ngasal) akan memberikan nama tersebut untuk anak saya kelak (kelak sekali, karena saat itu usia saya masih dua belasan tahun). Ya, nama itu adalah "Alif". Sontak saat itu saya sampaikan pada suami, dan langsung mengamini sembari melanjutkan tilawahnya yang tiba2 saya potong. Maka, di hari kedua, sulung saya punya nama "Alif".
Saya ingin memberikan nama minimal-maksimal 3 kata untuk anak2 saya. Rasanya asyik aja, nggak terlalu panjang, nggak terlalu pendek. Maka, saya dan suami punya pe-er dua kata lagi untuk Alif. Tak lama setelah muncul nama "Alif", dering handphone saya berbunyi, yang menyenandungkan surat Al Fatihah. Maka usia saya menjawab panggilan tersebut, saya pun mengusulkan untuk menambahkan nama Al Fatih usai nama Alif. Dan sekali lagi, suami saya pun berbinar sembari meng-iya-kannya. Maka, resmilah nama si sulung : Alif Al Fatih.
Pulang ke rumah, saya dan suami berarti masih punya pe-er utk kasih alif satu kata lagi dalam deretan namanya.
Di sebuah siang, Ibu menggendong Alif yang siang itu agak merengek ingin tidur. Dalam senandung jawa yang sedikit tidak saya mengerti, ada satu kata yang menarik : Marsudia (baca : marsudio). Lantas saya tanyakan pada ibu, apa artinya. Menurut ibu, marsudio berasal dari kata : marsudi. Yang artinya jalan yang lurus. Wah, kalau dipikir-pikir, kok cocok ya, dengan rangkaian nama Alif Al Fatih. Saya dan suami memang menginginkan anak2 memiliki deretan nama, yang kalau bisa, dari beberapa bahasa sekaligus dengan syarat mutlak : Bahasa Indonesia harus ada sebagai bahasa ibu. Berhubung Alif AlFatih adalah bahasa Arab, maka deretan namanya bakal diimbuhkan satu kata berbahasa jawa atau indonesia. Setelah dirundingkan dengan suami, bahkan sampai meminta 'restu' eyang kakung (eyang buyutnya Alif) di Jember, maka resmilah. Nama Marsudia (improvisasi dari 'marsudio' agar ta terlalu mencolok ke-jawa-annya) disisipkan di tengah 'Alif' dan 'AlFatih'.
Alif Marsudia Alfatih, sebuah nama dengan bumbungan doa : anak pertama, perintis, yang konsisten, teguh, dalam merintis jalan yang lurus, sebagai pembuka kebenaran dan kemenangan. Amin. (thanks to my husband's friend -yang namanya belum dimintakan izin untuk diposting- atas imbuhan pemaknaan kata 'alif').
Afra.
Kalau anak perempuan kami yang satu ini, susah sekali berdamai mencipta sebuah nama. Di-search engine, di double klik (halah), di bongkar-bongkar kamus inggris-arab-jawa, nggak paten2 juga. puyeng banget. Awalnya tercetus Alfi (biar dekat dengan ejaan 'alif'), yang artinya 'tak berbatas'-saking banyaknya. Cocok, untuk dipadukan dengan alif, yang artinya satu, pertama, ataupun awalan. Kami ingin si-kedua ini jadi 'tak berbatas' setelah di'awali oleh perintis (-kakak)-nya. Tapi si Ibu, kurang setuju. Terlalu pasaran, alasannya. Saya sempat terfikir juga : pasaran (walaupun : masa seh?). Dan Alfi memang tidak memutlakkan keperempuanan si kedua ini (kebetulan yang tahu calon bayi kedua saya adalah perempuan, hanya saya, suami, dan Ibu Smg). Masalahnya teman saya yang cewek ada yang bernama Alfi. Dan saya pun punya teman laki-laki bernama Alfi juga.
Singkat cerita (saya rada lupa dengan kebingunan luar biasa masa tsb). Hingga si kedua lahir, kami belum juga dapat nama. Semua rangkaian nama gugur, alias enggak jadi dipatenkan. Di malam kelima, saat saya sudah pulang ke rumah usai cesar, dijalanilah sebuah perenungan. Terbersit sebuah nama yang sedari dulu saya favoritkan, sebagaimana nama 'alif'. Yaitu 'afra'. Kalau tidak salah ingat, maknanya kedamaian (CMIIW). Juga sebuah nama sahabat perempuan Rasulullah, yang ditinggal syahid oleh kedua anakknya -mungkin bisa dimaknai kemuliaan dan kesabaran?-
Tapi Afra adalah kata yang sulit untuk diucapkan sehari2 -setidaknya dibandingkan dengan 'alif'. Apalagi untuk keluarga betawi suami di Tangerang, yang 'selalu merubah' nama untuk lebih enak di'lontar'kan. Pastilah si Afra bakalan jadi 'Apra'. Maka, nama Afra yang saya favoritkan harus tetap ada, namun harus disambung dengan kata yang bakal lebih mudah diucapkan. Terpilihlah : Lifia (tercetus dari suami), biar nanti panggilannya jadi : Fia. (walaupun ujung2nya panggilannya tetap Afra juga -hasil dikompori tante dan eyangnya Afra). Lifia adalah paduan nama saya dan suami, plus nama Alif. Afra Lifia. Lifia juga memaknai/ mengindonesiakan kata 'life' (kehidupan). Bagi saya, artinya kurang 'dalam'. dan tetap, harus ada tiga kata. Maka tidak cukup hanya Afra dan Lifia.
Sebelum kelahiran Afra, kami bersepakat untuk memberikan makna 'cahaya' atau 'penerang' pada-nya. Maka kami mencari padanan kata bermakna tersebut, yang ternyata susah sekali. Kalau 'Nur', terlalu umum (apalagi tantenya bernama Nuri). kalau Shine? Citra (baca : citro)? Atau apa? Terinspirasi dari nama artis 'Cahya Kamila', maka saya pun mencetuskan untuk memaknai 'cahaya' atau 'penerang' dengan CAHYA. Nah, kalau Afra Lifia Cahya? Aneh. Ngambang. Nggak mandeg mantep (halah). Setelah buka-buka buku nama anak-nya Mbak Siti Nur Badriah, saya pun menemukan Nadira (yang sudah diberi tanda suami sebagai salah satu nama pilihan). Maka jadilah Nadira yang berarti "berharga" diimbuhkan sebagai kata terakhir dalam deretan rangkaian nama Afra. Afra Lifia Cahya Nadira. Lho, kok empat kata?! Kebanyakan!
Akhirnya, jadilah kombinasi : Afralifia Cahya Nadira. Terasa panjang, tapi tetap tiga kata doang kan?
Afralifia Cahya Nadira ; doa yang dilantunkan : perempuan, buah hati kami bertiga, yang senantiasa damai, tenang dan sabar dalam memberikan cahaya kehidupan yang berharga. Amin.
Pada perjalanan selanjutnya, nama-nama kedua anak kami mengundang decak pujian. Namun yang namanya keisengan yang benar-benar iseng sampai nyebelin, sampai keisengan yang tulus muncul silih berganti. Jadi, selain banyak yang mengamini doa kami melalui nama-nama kedua anak ini, muncul juga ledekan2 seperti : habis Alif, 'Ba' dong...hehehe (yang ketawa yang ngledekin lho, bukan saya. Saya pantang ikut tertawa kalau ada yang melontarkan ledekan semacam ini. garing dan nggak lucu. apalagi saat Afra-nya sudah 'ada'), yang kasihan yang giliran wawu, anak keberapa itu ya? Hahaha (saya makin ga ikutan perbincangan alias ngacir). Ada juga : Afra? kok susah amat sih kasih nama. yang biasa aja lah (padahal sumpah, saya nggak berniat kasih nama yang nggak 'biasa'. so, kalaupun tercetus Afra tentu dengan pertimbangan kan?). Yang lain : Kalau Afra, nanti ada yang iseng manggil 'japra' lho... panggilannya 'Dira' aja ya.. (padahal saya ga tau, japra itu artinya siapa, dan siapa pula yang bakal iseng manggil dengan nama itu). Bahkan, Bapak Tng aja manggilnya 'Nur'. nah lho.. alasannya, yang beliau ingat hanya nama 'Cahya'nya saja.
Buat semua yang pernah berkomentar atas nama-nama anak2 kami, terima kasih ya... Yang tulus maupun asal comment. Yang perlu saya ingatkan : cari nama buat anak itu susah (kaya ga pernah aja sih?!), dan semuanya adalah doa. Kalau yang dijadikan panggilan hanya sepotong, misalnya, atau diganti dengan yang lain, doanya jadi beda kan? Apalagi biasanya kan sebuah nama merangkum banyak makna. Bahkan kalau saya dan suami, antara nama Alif dan Afra maknanya sinergis.
Namun hikmahnya, saya jadi makin menyadari, bahwa menyakitkan jika kita mengkomen buruk atau mengkritisi nama yang diciptakan (kecuali memang perlu dikritisi apalagi perlu diubah) orang. Karena bikinnya aja butuh energi, pikiran, tenaga, juga doa! (halah, kok jadi sensitif gini sih...?) Walaupun ada yang punya panggilan khusus buat anak-anak, saya tetap akan mengkoreksinya. Apalagi biasanya, panggilan khusus ga jauh dari julukan, n ga jauh juga dari 'konotasi' yang biasanya nggak asyik, nggak hi-tech, kurang sip, dll (nyengir). Lagipula, bayangkan saja kalau tiap orang punya panggilan khusus buat kita. Yang ada kita malah bingung, nama kita sebenarnya siapa sih? Trus, sebenarnya orang tersebut manggil kita ga sih? Kalau tiba-tiba ada panggilan khusus buat saya : "Cantik..." kira-kira kalau saya menoleh atau menjawab panggilan tersebut, disangka ge-er ga ya...?
dulunya ga kebayang, kalau yang namanya mencipta sebuah nama itu susah minta ampun. Saya sering nulis puisi, dan menjadikannya kamus untuk menjiplak penciptaan nama-nama. Apa saja. Saat jadi ketua himpunan mahasiswa, saat kasih ide nama toko/bisnis buat temen, sampai nama-nama anak-nya temen, saudara, dll. Tapi bener2 ga kebayang, kalau pas berusaha ciptain nama buat anak2 sendiri, susahnya bukan main.
Alif.
Walaupun saya sudah ber-feeling bakal melahirkan anak pertama laki-laki, tapi soal nama, masih blank. Bahkan kata suami, nanti aja kalau dah lahir, kita cari nama yang pas dengan face-nya. Walau saya kurang setuju, karena kalau menurut saya, face yang bakalan ngikutin namanya (-aneh juga-), tapi tak urung membuat saya menyepakati untuk menunda mencipta sebuah nama pada si jabang bayi. Saat itu saya malah sibuk merangkai nama buat kakak ipar yang juga melahirkan seorang bayi perempuan. Maka ketika si sulung saya lahir, kami memanggilnya dengan "adek". Hari kedua kelahirannya, saat suami nungguin saya di kamar perawatan sambil tilawah, dan membaca sebuah surat dengan awalan "Alif Lam Miiim.." maka terbetik di otak saya sebuah nama. Nama yang sejak saya belajar huruf hijaiyah, sudah mentekadkan (sori, bahasanya ngasal) akan memberikan nama tersebut untuk anak saya kelak (kelak sekali, karena saat itu usia saya masih dua belasan tahun). Ya, nama itu adalah "Alif". Sontak saat itu saya sampaikan pada suami, dan langsung mengamini sembari melanjutkan tilawahnya yang tiba2 saya potong. Maka, di hari kedua, sulung saya punya nama "Alif".
Saya ingin memberikan nama minimal-maksimal 3 kata untuk anak2 saya. Rasanya asyik aja, nggak terlalu panjang, nggak terlalu pendek. Maka, saya dan suami punya pe-er dua kata lagi untuk Alif. Tak lama setelah muncul nama "Alif", dering handphone saya berbunyi, yang menyenandungkan surat Al Fatihah. Maka usia saya menjawab panggilan tersebut, saya pun mengusulkan untuk menambahkan nama Al Fatih usai nama Alif. Dan sekali lagi, suami saya pun berbinar sembari meng-iya-kannya. Maka, resmilah nama si sulung : Alif Al Fatih.
Pulang ke rumah, saya dan suami berarti masih punya pe-er utk kasih alif satu kata lagi dalam deretan namanya.
Di sebuah siang, Ibu menggendong Alif yang siang itu agak merengek ingin tidur. Dalam senandung jawa yang sedikit tidak saya mengerti, ada satu kata yang menarik : Marsudia (baca : marsudio). Lantas saya tanyakan pada ibu, apa artinya. Menurut ibu, marsudio berasal dari kata : marsudi. Yang artinya jalan yang lurus. Wah, kalau dipikir-pikir, kok cocok ya, dengan rangkaian nama Alif Al Fatih. Saya dan suami memang menginginkan anak2 memiliki deretan nama, yang kalau bisa, dari beberapa bahasa sekaligus dengan syarat mutlak : Bahasa Indonesia harus ada sebagai bahasa ibu. Berhubung Alif AlFatih adalah bahasa Arab, maka deretan namanya bakal diimbuhkan satu kata berbahasa jawa atau indonesia. Setelah dirundingkan dengan suami, bahkan sampai meminta 'restu' eyang kakung (eyang buyutnya Alif) di Jember, maka resmilah. Nama Marsudia (improvisasi dari 'marsudio' agar ta terlalu mencolok ke-jawa-annya) disisipkan di tengah 'Alif' dan 'AlFatih'.
Alif Marsudia Alfatih, sebuah nama dengan bumbungan doa : anak pertama, perintis, yang konsisten, teguh, dalam merintis jalan yang lurus, sebagai pembuka kebenaran dan kemenangan. Amin. (thanks to my husband's friend -yang namanya belum dimintakan izin untuk diposting- atas imbuhan pemaknaan kata 'alif').
Afra.
Kalau anak perempuan kami yang satu ini, susah sekali berdamai mencipta sebuah nama. Di-search engine, di double klik (halah), di bongkar-bongkar kamus inggris-arab-jawa, nggak paten2 juga. puyeng banget. Awalnya tercetus Alfi (biar dekat dengan ejaan 'alif'), yang artinya 'tak berbatas'-saking banyaknya. Cocok, untuk dipadukan dengan alif, yang artinya satu, pertama, ataupun awalan. Kami ingin si-kedua ini jadi 'tak berbatas' setelah di'awali oleh perintis (-kakak)-nya. Tapi si Ibu, kurang setuju. Terlalu pasaran, alasannya. Saya sempat terfikir juga : pasaran (walaupun : masa seh?). Dan Alfi memang tidak memutlakkan keperempuanan si kedua ini (kebetulan yang tahu calon bayi kedua saya adalah perempuan, hanya saya, suami, dan Ibu Smg). Masalahnya teman saya yang cewek ada yang bernama Alfi. Dan saya pun punya teman laki-laki bernama Alfi juga.
Singkat cerita (saya rada lupa dengan kebingunan luar biasa masa tsb). Hingga si kedua lahir, kami belum juga dapat nama. Semua rangkaian nama gugur, alias enggak jadi dipatenkan. Di malam kelima, saat saya sudah pulang ke rumah usai cesar, dijalanilah sebuah perenungan. Terbersit sebuah nama yang sedari dulu saya favoritkan, sebagaimana nama 'alif'. Yaitu 'afra'. Kalau tidak salah ingat, maknanya kedamaian (CMIIW). Juga sebuah nama sahabat perempuan Rasulullah, yang ditinggal syahid oleh kedua anakknya -mungkin bisa dimaknai kemuliaan dan kesabaran?-
Tapi Afra adalah kata yang sulit untuk diucapkan sehari2 -setidaknya dibandingkan dengan 'alif'. Apalagi untuk keluarga betawi suami di Tangerang, yang 'selalu merubah' nama untuk lebih enak di'lontar'kan. Pastilah si Afra bakalan jadi 'Apra'. Maka, nama Afra yang saya favoritkan harus tetap ada, namun harus disambung dengan kata yang bakal lebih mudah diucapkan. Terpilihlah : Lifia (tercetus dari suami), biar nanti panggilannya jadi : Fia. (walaupun ujung2nya panggilannya tetap Afra juga -hasil dikompori tante dan eyangnya Afra). Lifia adalah paduan nama saya dan suami, plus nama Alif. Afra Lifia. Lifia juga memaknai/ mengindonesiakan kata 'life' (kehidupan). Bagi saya, artinya kurang 'dalam'. dan tetap, harus ada tiga kata. Maka tidak cukup hanya Afra dan Lifia.
Sebelum kelahiran Afra, kami bersepakat untuk memberikan makna 'cahaya' atau 'penerang' pada-nya. Maka kami mencari padanan kata bermakna tersebut, yang ternyata susah sekali. Kalau 'Nur', terlalu umum (apalagi tantenya bernama Nuri). kalau Shine? Citra (baca : citro)? Atau apa? Terinspirasi dari nama artis 'Cahya Kamila', maka saya pun mencetuskan untuk memaknai 'cahaya' atau 'penerang' dengan CAHYA. Nah, kalau Afra Lifia Cahya? Aneh. Ngambang. Nggak mandeg mantep (halah). Setelah buka-buka buku nama anak-nya Mbak Siti Nur Badriah, saya pun menemukan Nadira (yang sudah diberi tanda suami sebagai salah satu nama pilihan). Maka jadilah Nadira yang berarti "berharga" diimbuhkan sebagai kata terakhir dalam deretan rangkaian nama Afra. Afra Lifia Cahya Nadira. Lho, kok empat kata?! Kebanyakan!
Akhirnya, jadilah kombinasi : Afralifia Cahya Nadira. Terasa panjang, tapi tetap tiga kata doang kan?
Afralifia Cahya Nadira ; doa yang dilantunkan : perempuan, buah hati kami bertiga, yang senantiasa damai, tenang dan sabar dalam memberikan cahaya kehidupan yang berharga. Amin.
Pada perjalanan selanjutnya, nama-nama kedua anak kami mengundang decak pujian. Namun yang namanya keisengan yang benar-benar iseng sampai nyebelin, sampai keisengan yang tulus muncul silih berganti. Jadi, selain banyak yang mengamini doa kami melalui nama-nama kedua anak ini, muncul juga ledekan2 seperti : habis Alif, 'Ba' dong...hehehe (yang ketawa yang ngledekin lho, bukan saya. Saya pantang ikut tertawa kalau ada yang melontarkan ledekan semacam ini. garing dan nggak lucu. apalagi saat Afra-nya sudah 'ada'), yang kasihan yang giliran wawu, anak keberapa itu ya? Hahaha (saya makin ga ikutan perbincangan alias ngacir). Ada juga : Afra? kok susah amat sih kasih nama. yang biasa aja lah (padahal sumpah, saya nggak berniat kasih nama yang nggak 'biasa'. so, kalaupun tercetus Afra tentu dengan pertimbangan kan?). Yang lain : Kalau Afra, nanti ada yang iseng manggil 'japra' lho... panggilannya 'Dira' aja ya.. (padahal saya ga tau, japra itu artinya siapa, dan siapa pula yang bakal iseng manggil dengan nama itu). Bahkan, Bapak Tng aja manggilnya 'Nur'. nah lho.. alasannya, yang beliau ingat hanya nama 'Cahya'nya saja.
Buat semua yang pernah berkomentar atas nama-nama anak2 kami, terima kasih ya... Yang tulus maupun asal comment. Yang perlu saya ingatkan : cari nama buat anak itu susah (kaya ga pernah aja sih?!), dan semuanya adalah doa. Kalau yang dijadikan panggilan hanya sepotong, misalnya, atau diganti dengan yang lain, doanya jadi beda kan? Apalagi biasanya kan sebuah nama merangkum banyak makna. Bahkan kalau saya dan suami, antara nama Alif dan Afra maknanya sinergis.
Namun hikmahnya, saya jadi makin menyadari, bahwa menyakitkan jika kita mengkomen buruk atau mengkritisi nama yang diciptakan (kecuali memang perlu dikritisi apalagi perlu diubah) orang. Karena bikinnya aja butuh energi, pikiran, tenaga, juga doa! (halah, kok jadi sensitif gini sih...?) Walaupun ada yang punya panggilan khusus buat anak-anak, saya tetap akan mengkoreksinya. Apalagi biasanya, panggilan khusus ga jauh dari julukan, n ga jauh juga dari 'konotasi' yang biasanya nggak asyik, nggak hi-tech, kurang sip, dll (nyengir). Lagipula, bayangkan saja kalau tiap orang punya panggilan khusus buat kita. Yang ada kita malah bingung, nama kita sebenarnya siapa sih? Trus, sebenarnya orang tersebut manggil kita ga sih? Kalau tiba-tiba ada panggilan khusus buat saya : "Cantik..." kira-kira kalau saya menoleh atau menjawab panggilan tersebut, disangka ge-er ga ya...?
Afra dan Ummi lulus!
Happy Ulang Bulan dek Afra..
Akhirnya afra kecil menikmati sajian selain ASI. Alhamdulillah Afralifia ini lolos ASI Ekslusif 6 bulan dengan sukses. Semua tentu karena limpahan karunia Allah yang begitu besar pada Afra dan ummi, atas kesabaran, kegigihan dan kekompakan bersama, hingga perjuangan asi ekslusif tercapai hingga 6 bulan.
Kalau Kakak Alif ASI Eks-nya sempat gagal di usia 4 bulan karena asi-nya ummi habis, tapi kakak Alif masih minta susu, (walaupun mulai 5 bulan back to asi on demand lagi), kalau adek afra beda lagi. Ummi dah punya pengalaman, jadi pantang menyerah sebelum 6 bulan. Support makanan yang full gizi, susu kedelai (kebetulan adek afra ini alergi susu sapi/ gluten), kemesraan dari ayah, dan cheers dari kakak alif, alhamdulillah akhirnya Afra dan ummi lulus asi eks 6 bulan. Alhamdulillah wa syukrulillah.. Semuanya demi kebaikan afra di masa selanjutnya. Asi ekslusif memang butuh perjuangan ekstra; kesabaran, kegigihan, juga ketulusan! Makanya butuh kekompakan antara ummi dan afra, juga ayah dan kakak alif. Oya, kali ini didukung tante Nuri, tante yang selalu support Afra utk... tersenyum!! hehehe..
Kalaupun secara materi tersisih banyak utk support asi-nya ummi, maka itu sangat tidak seberapa dibandingkan dengan daya tahan tubuh, perkembangan, stimulasi otak, dll-nya Afra yang masanya tak terhitung hingga sepanjang hidup Afra. Oya, satu lagi, asi eks juga memudahkan ummi utk balik langsing lagi seperti saat mula hamil afra 15 bulan lalu. Wow! Padahal masih lebih gemuk dibanding saat bersanding sama ayah di pelaminan 3 tahun lalu (hiks..jadi malu). Belum lagi, jadi ga perlu keluar uang untuk beli susu formula bayi 0-6 bulan, yang harganya muahal minta ampun, apalagi, bayi di bawah 6 bulan kerjaannya nyusu melulu. Bayangin aja, berapa botol berapa kaleng tuh ya...? hehehehe...
Pokoknya, selamat ya dek Afra, atas kesuksesan asi ekslusif-nya.. Bersyukur pada Allah ya, karena hanya Dia-lah yang menjamin hidup kita, bahkan dengan segala kenikmatan limpahan asi ummi buat adek. Semoga perjuangan kita berlanjut dengan kesuksesan-kesuksesan di masa mendatang. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Oya, today jadwalnya Afra imunisasi DPaT-HiB yang ketiga. Semoga everything gonna be ok aja ya..
Sun sayang buat Adek Afra, tetaplah sehat, ceria, juga cerdas seperti kakakmu.
Akhirnya afra kecil menikmati sajian selain ASI. Alhamdulillah Afralifia ini lolos ASI Ekslusif 6 bulan dengan sukses. Semua tentu karena limpahan karunia Allah yang begitu besar pada Afra dan ummi, atas kesabaran, kegigihan dan kekompakan bersama, hingga perjuangan asi ekslusif tercapai hingga 6 bulan.
Kalau Kakak Alif ASI Eks-nya sempat gagal di usia 4 bulan karena asi-nya ummi habis, tapi kakak Alif masih minta susu, (walaupun mulai 5 bulan back to asi on demand lagi), kalau adek afra beda lagi. Ummi dah punya pengalaman, jadi pantang menyerah sebelum 6 bulan. Support makanan yang full gizi, susu kedelai (kebetulan adek afra ini alergi susu sapi/ gluten), kemesraan dari ayah, dan cheers dari kakak alif, alhamdulillah akhirnya Afra dan ummi lulus asi eks 6 bulan. Alhamdulillah wa syukrulillah.. Semuanya demi kebaikan afra di masa selanjutnya. Asi ekslusif memang butuh perjuangan ekstra; kesabaran, kegigihan, juga ketulusan! Makanya butuh kekompakan antara ummi dan afra, juga ayah dan kakak alif. Oya, kali ini didukung tante Nuri, tante yang selalu support Afra utk... tersenyum!! hehehe..
Kalaupun secara materi tersisih banyak utk support asi-nya ummi, maka itu sangat tidak seberapa dibandingkan dengan daya tahan tubuh, perkembangan, stimulasi otak, dll-nya Afra yang masanya tak terhitung hingga sepanjang hidup Afra. Oya, satu lagi, asi eks juga memudahkan ummi utk balik langsing lagi seperti saat mula hamil afra 15 bulan lalu. Wow! Padahal masih lebih gemuk dibanding saat bersanding sama ayah di pelaminan 3 tahun lalu (hiks..jadi malu). Belum lagi, jadi ga perlu keluar uang untuk beli susu formula bayi 0-6 bulan, yang harganya muahal minta ampun, apalagi, bayi di bawah 6 bulan kerjaannya nyusu melulu. Bayangin aja, berapa botol berapa kaleng tuh ya...? hehehehe...
Pokoknya, selamat ya dek Afra, atas kesuksesan asi ekslusif-nya.. Bersyukur pada Allah ya, karena hanya Dia-lah yang menjamin hidup kita, bahkan dengan segala kenikmatan limpahan asi ummi buat adek. Semoga perjuangan kita berlanjut dengan kesuksesan-kesuksesan di masa mendatang. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Oya, today jadwalnya Afra imunisasi DPaT-HiB yang ketiga. Semoga everything gonna be ok aja ya..
Sun sayang buat Adek Afra, tetaplah sehat, ceria, juga cerdas seperti kakakmu.
Wednesday, October 24, 2007
soal blog saya
Kali ini saya pengen cuap-cuap (sendiri) soal nge-blog. Saya ga bakalan cuap-cuap panjang lebar, apalagi dengan analisa dan informasi. Saya memang punya blog, tapi saya bukan 'bloger' (istilah yang saya sendiri mengartikannya sebagai orang yang mahir soal blog *jam terbang tinggi, paham IT, ngerti istilah html, popup window, kompresi, nge-link, dll*).
Belum lama saya membaca postingan di blog milik "Priyadi" (maaf mas, belum saya link-kan. hehe.. saya kan ga ngerti :D). Inti bahasannya adalah soal 'Blog Seleb'. Saya nyegir waktu baca postingan yang cukup singkat tersebut. Sumpah deh, dalam hati : ga bakalan yang dimaksud itu adalah blog saya. kekekek... Ada sedikit hal yang membuat hati saya pun berujar tak sepakat, bahwa 'blog dibuat untuk dikunjugi-dikomentari-dst. Dan bahkan kemudian hal tersebut bisa membuat blog seseorang menjadi blog seleb, yang mana pemiliknya bisa menjadi seleb di kalangan para penge-blog.
Sedikit cerita. Dulu saya nggak paham sama sekali dengan dunia internet -Walau sertifikat pelatihan komputer dan internet saya tak kurang dari 3 buah-. Garis besarnya sih, saya tak akrab dengan dunia internet -walau nilai komputer saya di kampus selalu AB atau B (ternyata bisa komputer tak selalu mengerti internet ya..)-. Seorang teman memperkenalkan internet secara khusus pada saya saat menjadi partner kerja. Namun ternyata saya cuman merem melek nggak paham juga (balik lagi ; karena memang nggak akrab, jadi saya tidak bisa berhubungan lebih jauh dengannya -si internet-). Pokoknya, saya mati kutu kalau ketemu 'google', 'yahoo', apalagi sekarang ada 'kubuntu', ada 'linux' ada 'open source' dan lain-lain istilah yang bikin saya kekenyangan.
Itulah, kalau kemudian cerita berlanjut dengan sebuah 'perjodohan' (hehe...). Siapa nyana kalau saya berjodoh dengan seseorang yang paham dengan itu semua. Dan ketika status 'istri' pertama kali saya sandang, maka yang namanya internet, hampir jadi santapan sehari-hari (note : nada suaranya rada bangga gitu). Betapa tidak, akses internet kebetulan bisa 24 jam sehari. Sehingga, silahkan mengenyangkan diri dengannya.
Singkat kata : saya kemudian diajari 'seseorang tersebut' untuk membuat blog. Apa motivasinya sebagai guru pribadi saya? "Blog tidak harus untuk dipublikasikan. Blog bisa saja dipakai sebagai 'kotak penyimpan', tanpa kita takut suatu saat 'missing' dengannya (paling2 kalau internetnya mati). Sama seperti buku diary. Hanya bedanya, kita tinggal klik 'save' untuk menyimpan, dan akan tersimpan secara 'abadi'. Kita nggak lagi harus bingung "dimana gue mesti simpen diary gue? Gimana kalo ilang", dll".
Thats it, simpel. Saya pun memindahkan isi folder-folder ajaib saya di hard disk, ke blog baru saya (yang template nya sudah berganti 3 kali, karena ga bisa bikin template sendiri, jadi ga puas-puas juga). Apa isi folder-folder Diary saya itu? Ya inilah, yang ada di Box-nya Blog "House of Love". Saya belum kebayang jauh, ada yang mau menyambangi secara spesial blog saya, apalagi berkomentar, apalagi kasih nomer rekening. Saya pun yakin, kalau si guru pribadi saya pun belum membaca seluruh postingan yang ada (guru juga manusia kan, ga harus tahu semuanya.. hehe..).
So, saya ga terlalu mentingin tuh, apakah blog saya dikunjungi atau dikomentari. Karena semua catatan yang ada tendensi nya ke saya pribadi, dan syukur2 ke anak2 saya yang pintar2 itu. Makanya, sampai sekarang saya sama sekali belum pernah launching blog ke siapapun, kecuali adik perempuan saya. Itupun karena dia memohon2 saya untuk mengajarinya bikin blog (saya senang, akhirnya saya -seorang murid ini- bisa jadi calon 'guru blog'). So, kalau mau jadi seleb lewat blog, rasanya jauh deh. Apalagi kalau, blog-nya jadi nominator blog seleb. hihi... ga berani deh, nyaingin Mas Pri, Mbak Lita, Nita&Enda, dll (mas, mbak, maaf lho, nggak nge-link juga. Insya Allah kapan2 saya edit deh).
Nah, lain ceritanya, kalau tiba-tiba ada seorang teman yang meminta web-blog saya, yang katanya mau melihat 'pencerahan-pencerahan'. Ada juga yang tiba-tiba 'memungut' kutipan catatan saya di blog untuk di'selipkan' di hak milik pribadinya tanpa mencantumkan 'by' siapa nya. Atau kalau tiba-tiba ada yang bilang tersanjung setelah baca blog saya. halah... yang ini paling ngawur. Tapi sumpah deh, saya belum lanching blog saya ini ke siapa-siapa. Atau jangan-jangan.................................................................................
Mungkin saya perlu pertimbangkan saran seorang teman saya yang perspektif, untuk mengabarkan si "house of love" ini. Ya, ga papa lah, itung2 belum bisa nerbitin buku sendiri. Ok dee... konsultasi dulu nih sama guru pribadi. Apakah beliau bersedia, kisah2 cinta kami 'terpublikasikan'? hehe... (ah, sok banget sih..)
Intinya dek (spesial buat adikku yang pengen punya blog), kalau pengen punya blog, ga harus dengan paradigma 'bakalan di santap' oleh orang2 di dunia maya. Jadi, ga usah tuh, bingung2 ngelihat-lihat blog orang biar bisa meniru, lalu mewarisi, lalu menjadikan dirinya sebagai seleb blog. Kembali lagi, menulislah, bertuturlah, berkisahlah, bertindaklah, bersikaplah, terlepas apakah orang menghargai, membalas, memberikan apresiasi, mengomentari, atau mendiamkan. Tapi tetaplah pada pijakan, untuk menjadikan segala 'hasil karya' sebagai apresiasi diri, penghargaan pada diri sendiri (yang nantinya bakalan sendirian lagi), layar dan cermin instrospeksi. Dan muaranya tentu saja : kembali pada fitrah, untuk sebuah perbaikan yang tak henti.
Oke dek, kutunggu blog-mu ya..
Buat "para seleb blog", makasih ya, inspirasi-inspirasinya. Akhirnya tulisan tiada pernah berakhir berkisah (walau tak dibaca orang sekalipun). Anda adalah para guru bagi para pemula seperti saya (jasamu tiada..........tara.........).
Belum lama saya membaca postingan di blog milik "Priyadi" (maaf mas, belum saya link-kan. hehe.. saya kan ga ngerti :D). Inti bahasannya adalah soal 'Blog Seleb'. Saya nyegir waktu baca postingan yang cukup singkat tersebut. Sumpah deh, dalam hati : ga bakalan yang dimaksud itu adalah blog saya. kekekek... Ada sedikit hal yang membuat hati saya pun berujar tak sepakat, bahwa 'blog dibuat untuk dikunjugi-dikomentari-dst. Dan bahkan kemudian hal tersebut bisa membuat blog seseorang menjadi blog seleb, yang mana pemiliknya bisa menjadi seleb di kalangan para penge-blog.
Sedikit cerita. Dulu saya nggak paham sama sekali dengan dunia internet -Walau sertifikat pelatihan komputer dan internet saya tak kurang dari 3 buah-. Garis besarnya sih, saya tak akrab dengan dunia internet -walau nilai komputer saya di kampus selalu AB atau B (ternyata bisa komputer tak selalu mengerti internet ya..)-. Seorang teman memperkenalkan internet secara khusus pada saya saat menjadi partner kerja. Namun ternyata saya cuman merem melek nggak paham juga (balik lagi ; karena memang nggak akrab, jadi saya tidak bisa berhubungan lebih jauh dengannya -si internet-). Pokoknya, saya mati kutu kalau ketemu 'google', 'yahoo', apalagi sekarang ada 'kubuntu', ada 'linux' ada 'open source' dan lain-lain istilah yang bikin saya kekenyangan.
Itulah, kalau kemudian cerita berlanjut dengan sebuah 'perjodohan' (hehe...). Siapa nyana kalau saya berjodoh dengan seseorang yang paham dengan itu semua. Dan ketika status 'istri' pertama kali saya sandang, maka yang namanya internet, hampir jadi santapan sehari-hari (note : nada suaranya rada bangga gitu). Betapa tidak, akses internet kebetulan bisa 24 jam sehari. Sehingga, silahkan mengenyangkan diri dengannya.
Singkat kata : saya kemudian diajari 'seseorang tersebut' untuk membuat blog. Apa motivasinya sebagai guru pribadi saya? "Blog tidak harus untuk dipublikasikan. Blog bisa saja dipakai sebagai 'kotak penyimpan', tanpa kita takut suatu saat 'missing' dengannya (paling2 kalau internetnya mati). Sama seperti buku diary. Hanya bedanya, kita tinggal klik 'save' untuk menyimpan, dan akan tersimpan secara 'abadi'. Kita nggak lagi harus bingung "dimana gue mesti simpen diary gue? Gimana kalo ilang", dll".
Thats it, simpel. Saya pun memindahkan isi folder-folder ajaib saya di hard disk, ke blog baru saya (yang template nya sudah berganti 3 kali, karena ga bisa bikin template sendiri, jadi ga puas-puas juga). Apa isi folder-folder Diary saya itu? Ya inilah, yang ada di Box-nya Blog "House of Love". Saya belum kebayang jauh, ada yang mau menyambangi secara spesial blog saya, apalagi berkomentar, apalagi kasih nomer rekening. Saya pun yakin, kalau si guru pribadi saya pun belum membaca seluruh postingan yang ada (guru juga manusia kan, ga harus tahu semuanya.. hehe..).
So, saya ga terlalu mentingin tuh, apakah blog saya dikunjungi atau dikomentari. Karena semua catatan yang ada tendensi nya ke saya pribadi, dan syukur2 ke anak2 saya yang pintar2 itu. Makanya, sampai sekarang saya sama sekali belum pernah launching blog ke siapapun, kecuali adik perempuan saya. Itupun karena dia memohon2 saya untuk mengajarinya bikin blog (saya senang, akhirnya saya -seorang murid ini- bisa jadi calon 'guru blog'). So, kalau mau jadi seleb lewat blog, rasanya jauh deh. Apalagi kalau, blog-nya jadi nominator blog seleb. hihi... ga berani deh, nyaingin Mas Pri, Mbak Lita, Nita&Enda, dll (mas, mbak, maaf lho, nggak nge-link juga. Insya Allah kapan2 saya edit deh).
Nah, lain ceritanya, kalau tiba-tiba ada seorang teman yang meminta web-blog saya, yang katanya mau melihat 'pencerahan-pencerahan'. Ada juga yang tiba-tiba 'memungut' kutipan catatan saya di blog untuk di'selipkan' di hak milik pribadinya tanpa mencantumkan 'by' siapa nya. Atau kalau tiba-tiba ada yang bilang tersanjung setelah baca blog saya. halah... yang ini paling ngawur. Tapi sumpah deh, saya belum lanching blog saya ini ke siapa-siapa. Atau jangan-jangan.................................................................................
Mungkin saya perlu pertimbangkan saran seorang teman saya yang perspektif, untuk mengabarkan si "house of love" ini. Ya, ga papa lah, itung2 belum bisa nerbitin buku sendiri. Ok dee... konsultasi dulu nih sama guru pribadi. Apakah beliau bersedia, kisah2 cinta kami 'terpublikasikan'? hehe... (ah, sok banget sih..)
Intinya dek (spesial buat adikku yang pengen punya blog), kalau pengen punya blog, ga harus dengan paradigma 'bakalan di santap' oleh orang2 di dunia maya. Jadi, ga usah tuh, bingung2 ngelihat-lihat blog orang biar bisa meniru, lalu mewarisi, lalu menjadikan dirinya sebagai seleb blog. Kembali lagi, menulislah, bertuturlah, berkisahlah, bertindaklah, bersikaplah, terlepas apakah orang menghargai, membalas, memberikan apresiasi, mengomentari, atau mendiamkan. Tapi tetaplah pada pijakan, untuk menjadikan segala 'hasil karya' sebagai apresiasi diri, penghargaan pada diri sendiri (yang nantinya bakalan sendirian lagi), layar dan cermin instrospeksi. Dan muaranya tentu saja : kembali pada fitrah, untuk sebuah perbaikan yang tak henti.
Oke dek, kutunggu blog-mu ya..
Buat "para seleb blog", makasih ya, inspirasi-inspirasinya. Akhirnya tulisan tiada pernah berakhir berkisah (walau tak dibaca orang sekalipun). Anda adalah para guru bagi para pemula seperti saya (jasamu tiada..........tara.........).
Thursday, September 13, 2007
Afra, adeknya Kakak Alif

Kalau ada Diary Alif, pastilah kudu ada Diary Afra. Kenapa? Biar nggak iri-irian? Oh nggak, biar mereka bisa saling belajar satu sama lain di saat kelak, melalui catatan umminya ini. Kalau Afra bisa 'ngetawain' Kakak Alif, karena kakak Alif susah belajar menyusu, maka Alif mungkin bisa menyentil adiknya sambil tersenyum, tatkala adegan menyusunya Afra yang pertama, ga brenti2 sampe ummi pegel. Hehehe..
Memang, rekaman video Alif bayi buanyak bgt, sampe 3 seri (tiap 3 bulan, ganti kaset). Tapi Alif bayi nyaris ga punya foto. Setidaknya foto yang bagus. Kalau mau yang jelek, banyak, karena motonya pake HP ummi. Hihi.. (yg jelek kualitas fotonya lho Nak..).
Sementara Afra, rekaman videonya dikit. Malahan pas Afra lahir, kan Kakak Alif lagi lucu2nya bertingkah, jadinya, teteup, rekaman Alif lebih menuh2in tempat. Tapi, pas Afra umur sebulanan, Ayah akhirnya ACC juga buat beli kamera digital! (Lah Ayah, mau beli kamera digital ini, urusannya (baca: mikirnya) ribet bgt! Dari setahun lalu, ga jadi2.hehe..) Horreee!!! Walo si kamera ga canggih2 amat, tapi alhamdulillah, yang penting acara poto2an, bisa lbh gampang.
Akhirnya, Afra pun punya koleksi foto bayinya, buanyak! Kakak Alif? Banyak juga! Hahaha... Iya, kalo Alif, foto2 gedenya (ya umur segitu tuh) banyak, sebagai ganti foto bayinya.
Ohya, adek Afra sekarang umur 4 bulan 19 hari. Masih aja jadi bayi cuek padahal bentol-bentol digigit nyamuk, buanyak banget ngocehnya sambil teriak-teriak kenceng, paling seneng kalo denger suara kakaknya, udah incip-incip rasa jeruk, dan...... masih lanjut asi ekslusif 6 bulan. Bentar lagi ya Nak.. sabar..
Afra ini beda banget sama kakaknya. Selain langsung pinter saat awal menyusu, Afra juga belum bisa tengkurep sendiri sampe sekarang. Haha! Adek, padahal tingkahnya dah nglebihin kakaknya pas dulu seumuran dia. Kalau mandi, selalu nyari-nyari barang yang bisa dia jatuhkan dari atas meja. Sudah pintar meraih benda di hadapannya, dan sudah bisa tengkurap umur 2 minggu!! Maksudnya, ditengkurepin. Posisinya sudah sangat sempurna, bahkan berguling/berbalik sendiri pas sudah kelelahan tengkurap. Cuman, yang bikin heran, kok sampe umur segini, belum juga mau tengkurep sendiri. Padahal kakaknya, sudah bisa tengkurap saat lebih muda dari umur adeknya sekarang.
Afra juga cuek sama suara-suara yang bikin kaget. Malahan, habis kaget, dia langsung ketawa. Afra juga suka nungguin ummi atau ayah-nya bobok. Maksudnya ngawasin, gitu. Ngliatin, sambil pegang-pegang. Mungkin maksudnya ngebangunin. Adek Afra juga jarang banget nangis! Bahkan saat dia lapar, ya cuma teriak-teriak gitu. Tapi, pas sekalinya nangis............ Masya Allah, kenceng banget suaranya. Sampe kakak Alif ikutan sedih dan.......... menangis pula! (Duhh.. Alif ini memang peka sekali).
Afra paling suka senyum-senyum. Mau senyum-senyum sendiri, sama orang, atau sama chicken little, poster pertama kakak Alif (yang umurnya sudah seumuran Alif, tapi belum dicopot-copot juga). Afra bahkan bisa tertawa ngakak, seperti kakaknya, saat umurnya baru 2 bulan. walah..
Sepertinya Afra ini ngebet banget 'ngejar' kakaknya, biar bisa segera main bareng.
Afra yang anak cewek, imut, dan cantik, paling ga bisa kalo pakai rok atau baju yang ada lampinnya. Apa pasal, karena pastilah akan kuyup! Mungkin afra pikir, lampin dan rok yang dipakainya itu sengaja disediakan buat di-enyot-enyot (bahasa Alif). Ummi juga jadi males kalau mau makein Afra baju pakai rok. Jadi kalau Afra terlihat pakai rok, sepanjang ini sih yang makein tante atau baby sitternya. Hehehe.. Tapi ada untungnya buat ummi dengan tingkah laku Afra yang satu ini. Ummi jadi selalu mengurungkan niat untuk membelikannya baju rok. Padahal kan lucu-lucu ya... apalagi selama ini belinya celana (buat Alif) melulu! Maka penampilan Afra (di tangan ummi), ga jauh beda sama kakak Alif! Hehe.. Kaus plus celana pendek.
Afra ga mau dot. Ya, jadinya Afra juga susah kalau mau dikasih asi perah. Bagusnya memang disendokin, tapi kan jadi lama. Ntar kakak Alif suka ikut-ikutan nyuapin pakai sendok pula. Kalau Alif, dulu, oke-oke aja waktu minum asi perah pakai dot. Dan sama sekali ga bingung puting kok (tiap anak beda kali ya..?).
Afra bobok n bangunnya masih belum tertib (dibandingkan Alif dulu, yang mulai umur 1 bulan bangun dan tidurnya sudah disiplin banget). Tapi ga papa lah, toh selama tidak ada yang perlu dikuatirkan. Apalagi, setiap waktu tidur malam, Afra selalu pulas kok. Sepanjang malam sampai menjelang subuh. Ini kan yang penting? Tidur malam yang cukup? (iya. dijawab sendiri).
Apalagi yang soal Afra ya.. Kayaknya ga ada habisnya deh, cerita soal 'anak gadis' yang satu ini. Sekarang lagi bobok. Jangan berisik ya... Ntar Afra ketawa-tawa!! (dikira ada yang ngajakin dia becanda).
Love u dear ..
Friday, July 20, 2007
LATIHAN JADI IBU
“Ini anak siapa, Mbak?”, tanya seorang teman tiba-tiba dari arah bangku belakang saya, di suatu seminar yang tengah berlangsung.
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.
“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.
Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.
Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.
Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...
di Jum'at siang
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.
“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.
Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.
Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.
Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...
di Jum'at siang
Tuesday, June 5, 2007
EUFORIA PERNIKAHAN
Pak-Bu, Mbak-Mas, saudara-saudari, apa sih yang akan kita tulis dalam 'diary' tentang pernikahan? Bagi pernikahan yang sudah berjalan sekian tahun, mungkin semua sudah berjalan 'alami'. Tidak lagi mesti melirik cetak biru pernikahan. Sekali lagi mungkin. Tapi bagi yang hendak menikah dan di awal pernikahan? Tentu berbeda ceritanya.
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Monday, March 5, 2007
(siapa yang tidak) EMPATI (ya... ?)

Kalau dengar kata “Empati”, kira-kira apa yang tergambar dalam benak ya......? Turut bersedih? Turut berduka? Ikut merasakan penderitaan? Atau sebaliknya?
Empati memang selalu relatif. Tergantung dari bagaimana orang tersebut biasa bersikap, bertindak, berlatar belakang, berharap, dan sebagainya. Karena perasaan yang muncul dari sikap empati, pastilah tidak akan sama persis dengan perasaan orang lain yang sedang dijadikan objek empati. Kadangkala yang berempati memiliki perasaan yang tidak sekuat perasaan sang objek, atau justru sebaliknya, perasaan yang berempati berlebihan, melebihi objek empati. (-bingung :-))
Terbersit kata empati, adalah ketika suatu ketika, saat Jakarta tengah banjir besar lima tahunan. Tahun ini banjir besar jatuh di bulan Januari-Februari 2007.
Saat itu, pada suatu hari, sepulang mengantarkan beberapa barang dan makanan ke posko Peduli Banjir di Rawajati, saya mengirim sms pada seorang teman, yang tiga hari lalu melangsungkan pernikahannya. Bukan di Jakarta memang. Ada sesisip sesal, saya tidak bisa menghadiri pernikahannya yang berjarak ratusan kilo dari Jakarta, dan terlambat pula untuk 'sekedar' mengucapkan 'selamat' atas pernikahannya. Ya, tentu saja, karena Jakarta sedang banjir besar, nyaris semua orang di Jakarta sibuk. Sibuk dengan air yang meluap, sibuk membantu korban, sibuk dengan genteng yang bocor, dll. Saya sendiri sibuk dengan rembesan air yang jatuh ke lantai, menyiapkan makanan sehat karena bahan pangan mulai surut, sampai membersihkan rumah sendiri akibat para asisten yang absen. Satu opname di RS karena tifus, yang satu terjebak banjir.
Pesan singkat itu : “Barakallah ya, semoga jadi keluarga samara. Maaf tidak bisa datang”, tak lupa saya tambahkan kalimat “Jakarta lagi banjir bandhang nih...”
Lama, saya menanti balasannya. Ah, mungkin dia sibuk dengan aktivitas barunya sebagai istri, -pikir saya. Esoknya, balasan itu tiba. Begini kurang lebih jawabannya “Wah, rasanya campur-campur, tapi asyik juga bulan madunya” soal banjir dia komentar “wah asyik, selamat ya, ente berenang2 dong..”. Masya Allah..........
Di tengah deru hujan dan petir, saya merasa sedih dengan jawabannya. Mengapa tak ada EMPATI? Bahkan dia mengucapkan “selamat” atas musibah ini. Keterlaluan -pikir saya-. Apa dia tidak lihat berita, bagaimana banyak korban yang kehilangan rumah bahkan nyawa? Bagaimana kota Jakarta hampir lumpuh total? Bagaimana mereka yang jadi korban sekaligus jadi tim penolong di posko peduli banjir? Bagaimana halte busway jadi tempat tidur yang 'nyaman'? Bagaimana was-was dan rasa khawatir yang selalu muncul tiap kali terdengar hujan turun? Dan dia -sekali lagi- mengucapkan selamat? Saya tak habis pikir.
Ternyata empati sulit muncul jika tidak mengalaminya. Saya benar-benar bisa berempati dengan korban bencana ini, walau saya -Alhamdulillah- tidak termasuk dalam bagian 'korban'. Namun karena saya melihat langsung kejadiannya, bertemu korban, dan memberikan bantuan. Walau tempat tinggal saya tak kena banjir, namun hati was-was juga. Tidur pun tidak tenang, sementara banyak orang beratap langit di luar sana, berselimut dingin. Dengan begitu, ada juga yang mengucapkan “selamat”?
Kesal memang, saya membaca pesan tersebut. Gundah gulana (ta'elaa...). Tak berapa lama sms itu saya terima -dan ditengah gulana- suami saya masuk ke kamar (saat itu saya sedang bersama Alif).
Sontak saja saya teringat banyak kenangan manis saat kami memasuki episode awal hidup bersama (mungkin teringat teman tadi yang belum lama menikah). Ah, saya lalu beristighfar. Entah siapa yang tak punya empati. Bahkan ketika saya menghakimi teman saya tak punya empati, mungkin saya sendiri sedang tak berempati padanya. Mengapa? Saya teringat awal pernikahan dulu (belum terlalu lama). Banyak keindahan, seru, asyik, heboh, dll. Nah, mungkin teman saya ini sedang sangat mengharu-biru dan mengahayati kehidupan awalnya sebagai seorang istri. Sehingga perasaannya diliputi kebahagiaan, kecintaan, hingga 'kalimat empati' nya pun menjadi 'kalimat bahagia'. Oh, kira-kira begitu, mungkin. Bukankah berarti kehidupan pernikahannya, setidaknya awal episode itu tampak membahagiakan? (maafkan aku saudari..)
Akhirnya saya balas kembali sms tersebut. Saya katakan, 'selamat' atas kebahagiaannya, namun, tetaplah berempati dengan musibah yang terjadi, bukannya malah memberi 'selamat' juga. Dia pun membalas dengan maaf; “maaf maksudku tidak begitu” (kalimat ini belum menenangkan dan menerangkan 'empati' apapun). Kelanjutannya : “eh, tapi bener ya, asyik juga pacaran sesudah menikah :-)”
See........... masih seputar 'kebahagiaannya' yang itu-itu juga. Padahal yang saya harap, setidaknya dia bertanya tentang kabar dan situasi terakhir, atau 'kalimat empati' lainnya. Saya kecewa.
Eh, saya salah lagi. Harusnya berempati itu tidak 'memaksakan' orang lain untuk berempati sama sebagaimana empati yang kita rasakan. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu, saudariku ...
Subscribe to:
Posts (Atom)
