Senin lalu (14 Juni 2010), pukul 7 pagi, saya begitu bersemangat (
as ussual) membangunkan anak-anak dan mempersiapkan mereka utk berangkat sekolah.
Usai libur dua hari, tampaknya pompa semangat di Hari Senin harus lebih ditekan. Pameo Hate Monday memang racun, yang sadar atau tidak, menghipnotis orang untuk menjadikannya 'Hari Istimewa' bekerja (super repot dan ribet), layaknya Love Sunday sebagai Hari Istimewa berlibur.
Bisa ditebak, dua kurcaci saya itu begitu sulit dibangunkan. Merem-melek-menggeliat-merem lagi. Biar tidak senewen, saya nyanyikan lagu kencang-kencang supaya mereka terbangun dan tersadar dari mimpi akhir pekannya. Dan tentu saja dengan nada fals supaya mereka lebih terusik (pada dasarnya suara saya memang fals).
Ada sahutan mezo-sopran. Artinya Afra sudah bangun. Bersamaan dengan itu, saya tengah bersiap mengeluarkan tas mereka dari dalam lemari besar di ruang tengah sebagai tempat penyimpan segala rupa tas.
Namun tak dinyana...
"Dugh...buk... kreekkk...blek"Sang pintu lemari kayu yang
big dan keras itu menghantam kepala saya. Sisinya tepat mengenai pelipis, entah dimana persisnya, yang jelas suakitnya bukan main.
Rasanya kesal dengan si pintu lemari. Andai dia bukan barang berat, mungkin sudah saya lemparkan ke lantai sebagai upaya pelepasan rasa sakit yang tak terkira. Namun demi mengingat berat dan kerasnya, dengan perlahan saya sandarkan kembali pintu itu.
Ya, pintu lemari itu memang tidak sempat jatuh ke lantai. Pintu lemari setinggi 2,5 meter itu terhenti di kepala saya.
Saya sempat terdiam sambil memegang si pintu. Sempat terputar satu memori dengan rasa yang pernah akrab. Namun apa dan kapan ya?
Tak lama saya berbaring di kasur menahan nyeri yang luar biasa. Mata merah dan berair, pelipis yang senut-senut, serta badan yang rasanya remuk redam.
Sesaat saya teringat peristiwa delapan tahun silam. Kala itu juga pagi hari, pukul 6.30. Bedanya adalah pagi bagian semarang (bukan jakarta) dan TKP-nya di luar, di jalan raya, bukan di dalam rumah. Bukan pintu lemari, tapi kecelakaan (motor) tunggal. Di tengah basahnya gerimis. Demi menghindari sebuah motor yang berbalik arah dari sisi kiri ke sisi kanan arah sebaliknya, rem mendadak saya membuat kami berdua (saya dan si tornado) terjungkal ke sisi kanan. Syukurnya tidak ada kendaraan dalam jarak dekat dari sisi kanan. Si motor 'tersangka' segera melarikan motornya, sementara saya yang sempat mati rasa ditolong oleh seorang yang lain yang juga mengendarai motor.
Saya ingat, kala itu di tengah nyeri, saya berusaha pulang menempuh jarak sepuluh kilometer, dengan kondisi stang motor yang bengkok. Tanpa kacamata minus yang pecah terbelah (tak bisa lagi dipakai), dan kaca helm
full protect yang hancur berantakan. Dahsyatnya
accident pagi itu. *Pesan : jangan sayang membeli helm full protect kualitas baik (SNI). Saya tidak bisa membayangkan jika sedang pakai helm abal-abal.
Tiba di rumah, di tengah kepanikan ibu dan bapak, singkatnya saya segera diistirahatkan.
Pertolongan pertama : minyak tawon! Oleh ibu, si minyak dibalurkan ke sekujur tubuh sisi kanan, mulai kepala (yang berlumur darah), pipi, lengan, dan kaki (alhamdulillah....pakaian panjang saya cukup 'bermanfaat' sebagai perisai).
Tak lama setelahnya, saya tiba-tiba terbang ke alam lain. Saya tidak sadarkan diri. .... untungnya sudah di rumah.
Kala terbangun, yang saya rasakan adalah perasaan damai... sangat damai.... padahal darah segar masih menetes di pelipis, dan badan senut-senut tidak keruan. Saat itu juga saya bersyukur... entah darimana rasa nyaman itu.
Padahal latar belakangnya aroma minyak tawon :D
Saya teringat di masa itu adalah saat sibuk2nya saya menjalani aktivitas kemahasiswaan. Begitu overnya. Dan mungkin kecelakaan itu-lah rem-nya. Masih terngiang bagaimana ketika tiba di rumah, dengan sisa tenaga saya menceritakan kronologis kecelakaan, kakak sulung saya dengan begitu hebohnya bilang "Mending kamu tabrak aja tuh motor, jadi kamunya gak jatuh separah ini!". Benar memang. Tapi mungkin saya tidak bisa tidur nyenyak (pingsan dengan sukses) setelahnya. sebagaimana yang baru saja saya lalui. Saya bersyukur tidak melakukan opsi tersebut, dan bersyukur atas jalanan yang tengah sepi (mungkin karena tengah hujan).
Seminggu penuh saya total istirahat, sampai bengkak itu surut, luka parut itu mengering, dan senut-senut itu berkurang. Saya nikmati seminggu itu sebagai waktu istirahat. Waktu berpikir tentang pilihan aktivitas, dan waktu untuk lebih merasai 'masa jeda'. Kita boleh berusaha, namun Tuhan penentu segalanya. Entah mengapa rasa sakit itu begitu nikmat.
Dan kecelakaan pintu lemari tadi mengingatkan saya pada hari kecelakaan di pagi gerimis silam itu. Segera tersadar, lalu secara mantap saya memilih untuk menikmatinya. Saya bersyukur karena pintu lemari itu tidak menimpa anak atau suami saya, dan bersykur bahwa pintu yang jatuh adalah pintu lemari, bukan pintu rumah yang lebih tinggi dan lebih berat. Saya juga teringat, sebulan yang baru lalu adalah hari-hari yang luar biasa sibuk dan berat, dengan segala macam urusan dan kegiatan.
Mungkin 'saatnya utk beristirahat' telah tiba. Badan saya mulai demam, energi mulai surut, dan mata terasa berat.
Setelah anak-anak diambil alih suami, segala persiapan dan urusan sekolahnya, saya pun tak sadarkan diri. Tak sadar, namun dalam kedamaian dan mimpi yang indah :)
Seharian itu saya 'bebas tugas', ditemani aroma minyak tawon. Nikmat :D
*pesan : jangan lupa sediakan minyak tawon sebagai pertolongan pertama pada luka baru! Mantap!
*terkadang kita perlu ditegur dengan keras, hanya untuk membuat kita 'sekedar beristirahat'*
- jangan lupa istirahat yaa.... sebelum kita 'dipaksa' beristirahat :)