Saturday, February 4, 2006

TENTANG ALIF ...

Saat tulisan ini dibuat, usianya belum genap 3 minggu. Beberapa hari yang lalu, berat badannya sudah mencapai 3,7 kg dan panjang (bukan tinggi ;-) badannya 52 cm. Jadi, kalau dihitung dari kelahirannya, beratnya sudah nambah 400 gram, dan panjangnya bertambah 2 cm. Kata dokter “Bagus nih!”. Alhamdulillah...

Alif, ketika masih di Rumah Sakit, saya tak banyak tahu perkembangannya (karena sibuk dengan pemulihan pasca operasi). Pada hari keempat sejak masuk RS, kami membawa Alif pulang. Lega rasanya, bisa pulih lebih cepat. Karena biasanya pasien operasi cesar berada di RS 4-5 hari. Bahkan tak jarang sampai 1 minggu. Dan syukur, Alif pun cukup sehat dan siap dipindahkan ke tempat perawatan yang sesungguhnya, di antara ayah dan umminya.

Lelah yang sangat menjemput saya setibanya di rumah. Rasanya ingin langsung tidur dalam lelap yang panjang. Pada hari ini, kelelahan usia kehamilan akhir dan kelelahan masa persalinan mencapai klimaksnya. Untunglah ada ibu, eyang putri Alif, yang segera mengambil alih perawatan Alif -kecuali menyusui tentunya- yang membuat saya dapat istirahat sejenak. Ternyata saya benar-benar butuh istirahat yang panjang. Maka ketika Alif mulai sedikit rewel menjelang malam, saya mulai terganggu. Kebetulan Alif tidur sekamar dengan saya dan ayahnya. Saya pikir dia pasti lapar. Saya mencoba menyusuinya. Lelah dan belum mahirnya menyusui, membuat saya dan juga Alif tentunya, menjadi panik. Suami ikut bangun, dan bergantian menenangkan Alif (untung suami saya mau ikut berjaga malam itu. Karena saya sangat-sangat lelah!). Alif hanya tenang sesaat-sesaat. Kemudian merengek lagi. Tidak lagi saya susui, tapi saya gendong untuk menenangkannya. Ketika saya membetulkan kain bedongnya, terasalah badannya yang -tak cuma hangat- tapi panas! Ya Rabbi............ saya pikir biasa saja, untuk ukuran bayi. Saya mencoba tenang dan mencoba menidurkannya kembali. Alif memang tak menangis keras atau berteriak-teriak. Dia hanya menangis perlahan dan merengek. Dan hal itu membuat saya berpikir, dia tidak apa-apa, mungkin hanya kaget dengan keadaan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Malam itu berlalu dengan kelelahan yang amat sangat.

Esok paginya, badan Alif masih panas. Setelah diukur dengan termometer, panasnya mencapai 39 derajat celsius. Masya Allah. Wajarkah? Kami menelepon kakak, yang kebetulan dokter. Pagi itu juga beliau datang. Obat penurun panas sementara diberikan. Plus susu untuk bayi usia 0-6 bulan. Maklum saya, ibunya, belum juga bisa menyusui dengan baik. Sementara Alif dalam kondisi panas tubuh demikian, butuh banyak air (asi). Alif pun meminum susu botolnya dengan lahap. Ah, ternyata dia sangat lapar! Rabbi......... saya menatapnya dengan nanar. Ibu macam apa saya ini?! Anak lapar, sementara saya tak bisa menyusuinya dengan baik. Bahkan susu botol pun tidak saya berikan, hanya karena takut akan kenyataan, bahwa saya memang tidak becus menyusui bayi saya. Hh, kasihan Alif. Mungkin panasnya diperparah dengan kurangnya cairan dalam tubuhnya. Saya kecewa sekali pada diri sendiri. Namun juga termotivasi sekaligus, bahwa seorang ibu, pasti mampu menyusui bayinya. Karena Allah, tentu tak akan membiarkan hamba-Nya yang baru lahir itu kelaparan. Bukankah rizki seorang bayi juga dijamin oleh-Nya?

Keesokan harinya Alif kami bawa ke RS. Selain kontrol rutin, kami juga sangat kepikiran dengan panas badannya. Karena panasnya yang cukup tinggi, diagnosa dokter sementara, ada kemungkinan Alif juga terkena infeksi, sebagaimana kemungkinan terjadinya infeksi pada kandungan saya, dengan pecahnya ketuban tanpa adanya kontraksi. Ah, lagi-lagi saya merasa bersalah padanya.
Obat pun diberikan pada Alif. Antibiotik untuk 2 minggu. Syukurlah, Alif meminum obatnya dengan baik, hingga habis (tertulis “Habiskan” dalam kemasan obat. Maklum, antibiotik). 'Sakit' itupun pergi meninggalkan Alif.

Selama 2 minggu, Alif tumbuh dengan baik. Perkembangan motoriknya terlihat cepat -setidaknya menurut saya, yang selalu bersamanya hampir sepanjang waktu-. Minggu pertama, Alif hanya minum asi, buang air (tanpa menangis atau rewel jika popoknya basah), dan tidur. Minumnya masih sedikit, juga buang airnya. Tidurnya saja yang banyak. Meski malam hari tetap saja membangunkan saya berkali-kali untuk minum, yang hanya seteguk dua teguk.

Memasuki minggu kedua, banyak terjadi perubahan pada Alif. Dia sudah mulai merasakan kenyamanan jika digendong dan dipeluk. Maka tak jarang dia rewel jika mengantuk, namun tidak ada yang menidurkannya dengan menggendong atau memeluknya. Bahkan terkadang rewelnya baru mereda, ketika disenandungkan sebuah lagu, atau diajak bicara.

Baru selisih satu hari berikutnya, Alif punya kebiasaan baru lagi. Terbangun di siang atau sore hari, dan 'mengajak bermain' selama 1-2 jam, baru menyusu lagi, untuk kemudian tidur kembali. Seringkali saya kehabisan bahan untuk menemaninya bermain. Hingga tak jarang saya tertidur, sementara Alif sibuk sendiri dengan tangan dan kakinya. Ketika akan buang air, baik pipis maupun BAB, dia selalu terbangun dan nampak 'konsentrasi'. Baru merengek, karena popoknya terasa basah atau tak nyaman. Buang airnya pun sudah banyak.

Selisih satu hari berikutnya, lain lagi. Alif suka menyusu sebentar-sebentar, tapi berkali-kali. Sampai-sampai harus ditunggui hingga dia benar-benar kenyang, dan saya baru bisa beranjak meninggalkannya.

Hari berikutnya, dia suka menyusu diselingi istirahat -dengan melepaskannya begitu saja, yang tak jarang mengakibatkan asi memancar dan mengenai wajahnya. Kalau sudah begini, banjirlah asi, membasahi bajunya. Kemudian dia tampak kaget, dan kadangkala menangis pelan.

Malam berikutnya (semalam, sebelum paginya tulisan ini dibuat), beda lagi. Setelah malam sebelumnya Alif mulai tak banyak mengganggu tidur malam saya, hanya bangun-minum-tidur lagi, malam itu dia membuat saya kelimpungan. Karena saya sedang mengkonsumsi obat batuk, pukul 9 malam saya sudah mengantuk dan bersiap hendak tidur. Alif sudah saya susui setengah sembilan tadi. Dan mungkin baru akan bangun lagi pukul 12 malam. Cukuplah untuk tidur dulu. Alif pun ditemani ayahnya, karena setelah kenyang tampaknya Alif antusias untuk bermain. Selama beberapa menit, Alif mulai merengek. Ayahnya menggendong, karena mengira dia mulai mengantuk. Namun ternyata, mata Alif justru melebar dan kembali aktif bergerak. Mencari-cari susu. Saya pun bangun dan menyusuinya kembali. Setelah Alif berhenti mengisap, saya pikir dia kenyang dan akan segera tidur. Saya letakkan di kasur lipatnya. Ternyata dia kembali aktif bergerak. Saya biarkan. Mungkin memang masih ingin bermain. Tidak saya atau ayahnya temani, dengan maksud membuat Alif terbiasa mengerti waktu, bahwa saat itu malam hari, dan waktunya untuk tidur. Namun, bagaimana saya bisa tidur, tak lama dia merengek lagi. Saya susui kembali. Sampai dia menghentikan hisapannya dan tampak memejamkan mata. Saya letekkan di kasurnya. Tak lama, dia bangun dan aktif kembali. Tak sampai lima belas menit, merengek lagi, minta menyusu. Saya susui kembali di tengah kantuk dan lelah yang sudah teramat sangat tak tertahankan. Begitu terus sampai berulang-ulang kali. Sampai saya susui dari arah kanan-kiri, dengan posisi duduk dan tidur, tapi Alif tampak tak jua kenyang apalagi terlelap. Usai mengganti popok sekali pakainya (karena dia sempat terdengar BAB), saya mengajaknya bicara. Seperti biasa, Alif hanya tampak memperhatikan, namun kemudian mengulang perbuatannya kembali. Dari pukul sepuluh malam, hingga pukul satu dini hari, Alif terus terjaga, dan saya berkali-kali membujuknya. Tiap menyusu, pada malam itu, Alif melakukannya dengan cukup lama. Hingga saya sempat tertidur berkali-kali. Namun Alif tak jua kenyang atau tertidur, setelahnya. Tak henti-henti saya panjatkan doa, semoga dimudahkan untuk menidurkannya kembali, karena saya pun begitu butuh dan ingin istirahat.

Di puncak kelelahan, saya selimuti Alif, saya peluk dia erat, saya cium wajahnya, kemudian saya tidurkan sejajar dengan saya, dengan meletakkan kepalanya di atas bantal saya pula. Tentu saja dengan kepalanya tetap di atas telapak tangan saya. Hanya sekian detik, Alif tampak tenang. Matanya terpejam, dan entahlah bagaimana selanjutnya, karena saya pun langsung terlelap. Kurang lebih pukul 3 dini hari, saya terbangun, dan mendapati Alif masih lelap di samping saya. Tangan saya terasa kram, karena menahan kepalanya tetap di atas bantal selama kurang lebih dua jam. Perlahan saya pindahkan Alif ke atas kasurnya. Dia tetap terlelap. Sambil memandang wajah polosnya yang imut, saya sisipkan ungkapan sesal dan permintaan maaf, karena sebelumnya sempat kesal padanya. Ya, harusnya tak ada kesal atau lelah dalam menjaga karunia agung ini. Alif sayang.... maafkan ummi ya nak. Moga tak berulang lagi.
Alif masih terlelap, dan membangunkan saya kembali pukul empat dini hari, seperti hari-hari biasanya. Usai menyusu, dia kembali terlelap. Terbangun pukul 7, kemudian mandi, menyusu, dan tidur kembali. Pagi hingga siang ini, dia hanya terbangun untuk menyusu, dan kemudian terlelap kembali. Sehingga tulisan ini dapat disusun hingga tuntas.

Alif, darinya saya belajar banyak, meski belum memahami makna dari pelajaran itu sendiri. Namun selama 2 jelang 3 minggu usianya, Alif mampu mengubah diri saya, umminya. Entah mengubahnya menjadi seperti apa, tapi saya benar-benar merasakan perubahan.
Diri, yang dulu berawal dari segumpal darah, seonggok daging, dirangkai tulang, kemudian lahir sebagai makhluk merah yang teramat lemah, kini tumbuh dan terus tumbuh. Mendzikirkan waktu ilahiyah, menuai kasih dan sayang dari orang tua, dan mengeja makna demi makna kehidupan. Untuk kemudian membentuk diri yang baru, dengan hakiki yang baru, dan terus baru seiring usia yang merajutnya.
Sampai detik ini, setidaknya, belajar kesabaran yang sesungguhnya, adalah menjalani sesuatu yang tak ringan dan tak mudah, namun untuk yang teramat sangat dicintai dan dikasihi.

Friday, February 3, 2006

KISAH BARU MENJADI SEORANG IBU

Hal yang cukup mengkhawatirkan saya ketika mendekati masa-masa persalinan, bukanlah proses melahirkan atau kerepotan pasca melahirkan. Melainkan timbulnya Baby Blues Syndrom (BBS). Secara sederhana BBS digambarkan sebagai sebuah keadaan mental dan fisik yang tidak menentu (seperti perasaan bingung, khawatir, cemas, merasa bersalah, merasa tak mampu, takut, sedih, dan lain sebagainya) yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Secara kasat mata, BBS ini dapat terlihat dari kondisi ibu, seperti lemah-letih-lesu, badmood, senewen, sedih, malas mengurus bayinya, asi-nya terhambat, marah-marah, menangis, dan ungkapan emosional lainnya. Yang kata dokter akibat pengaruh hormon. Yang kata orang, wajar. Meski demikian, kalau belum merasakannya sendiri, memang sulit untuk bisa memahami apa itu BBS.

Pada sebuah artikel yang pernah saya baca (tentu saja sebelum melahirkan), BBS biasanya timbul pada hari ketiga atau keempat pasca melahirkan. Maka ketika usai melahirkan, saya mulai menghitung waktu. Hari ketiga terlewati, keempat terlampaui, bahkan hari kelima sampai menjelang 2 minggu saya masih mereka-reka si BBS. Saya sempat berpikir, sudah hampir dua minggu, dan syukurlah, mungkin masa BBS telah lewat. Dan selamatlah saya dari monster yang sempat menghantui itu.

Ah, ternyata saya salah besar. Hari keduabelas, perasaan-perasaan tidak karuan mencapai klimaksnya. Rasa khawatir, rasa takut, rasa menyesal, kecewa pada diri sendiri, lelah yang amat sangat, menjadi komplikasi dan berakibat pada suatu 'penyakit'. Saya tidak mau menamainya BBS -karena saya tidak yakin juga- (karena BBS memang sulit digambarkan secara pasti). Tapi yang jelas, seusai menyusui Alif dan menidurkannya, saya gelisah bukan main. Ingin tidur karena kelelahan yang amat sangat (maklum, ibu baru selalu terbangun di tengah malam berkali-kali untuk urusan si kecil), namun kegundahan, ketidakyakinan, dan entah perasaan apalagi namanya, menghambat saya untuk terlelap.

Yang muncul dalam benak saya adalah masa-masa kehamilan yang ternyata jauh lebih ringan menjaganya, ketimbang repotnya mengasuh bayi. Namun tiba-tiba teringat pula tugas untuk membesarkan bayi merah yang terlelap di samping saya, bahwa saya harus selalu siap sedia ketika si kecil butuh susu (muncul perasaan bersalah, karena pada hari keduabelas saya belum cukup mahir menyusui Alif), dan apakah saya sanggup? Bagaimana jika saya lelah dan ngantuk yang teramat sangat, sementara si kecil Alif merengek karena lapar atau popoknya basah? Akan sangat kasihan sekali si Alif. Belum lagi ketika di tengah terpejamnya kembali mata saya, yang terbayang adalah bahwa Alif harus segera menjalani imunisasi. Bagaimana ketika membawanya ke dokter? Bagaimana ketika di perjalanan dia menangis, sementara saya masih kesulitan menyusui (apalagi di tempat umum)? Bagaimana pula reaksi si kecil ketika dia menjalani imunisasi pertamanya? Menangis? Demam? Rewel? Ah, kasihan! Sementara Alif benar-benar harus menjalani imunisasi! Saya khawatir, lelah, cucian menumpuk, sementara saya bingung harus melakukan apa.
(Saat itu adalah masa terberat saya pasca melahirkan. Jauh lebih berat dan menyakitkan dibanding sakitnya proses operasi cesar :-).

Akhirnya?! Saya menangis............................................................................ dan tentu saja di depan suami terkasih. Apa yang kira-kira saya katakan padanya? Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Perasaan sudah campur aduk tak menentu. “Perasaanku nggak enak”, ungkapan singkat yang kemudian dilanjutkan tangis yang sulit untuk dihentikan. Genggaman erat suami justru membuat air mata saya makin meleleh................leh!
Di tengah tangisan yang mengharu biru tak jelas :-) saya pun mulai curhat pada kekasih saya. Tentang perasaan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kebosanan, dan lain-lain, diiringi senggukan tangis. Sinetron lah, pokoknya ;-)
Tangis saya yang terus mengalir beriringan dengan masukan dan dukungan suami yang terdengar hangat tapi menyejukkan. Tak lebih dari lima menit, hati saya sudah mulai cair, terasa lebih nyaman, meski masih resah dan lelah. Suami mengijinkan saya melakukan apapun yang dapat membuat saya lebih baik. Kami pun berdiskusi kecil soal pembagian tugas kerumahtanggaan (dan pada kenyataannya, kita -suami istri- memang harus saling berbagi) serta perawatan-perawatan si kecil ke depannya. Sejenak suami meninggalkan saya, dan saya mulai introspeksi diri. Dalam renungan singkat, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa seharusnya SAYA MERASA BAHAGIA! Teringat bagaimana awal2 menikah dulu saya selalu menagis tiap datang bulan, karena itu tandanya SAYA BELUM HAMIL. Tiga bulan menanti akhirnya Allah menjawab doa-doa kami, dengan mengijinkan saya hamil di bulan Maret 2005. Teringat pula tulisan yang saya buat saat usia kandungan 38 minggu. Terngiang pula ungkapan suami di jelang tidur kami saat malam tiba, “Dek, betah amat di dalam? Main di luar yuk!”, di dekat perut saya, ketika si dedek belum lahir juga.
Ya, betapa kami telah sangat merindukan kehadiran anak kami! Belum lagi masih hangat dalam ingatan, bagaimana beratnya menjalani kehamilan selama 9 bulan. 9 bulan menggendong si dedek dengan perut, kemana-mana dalam keadaan apapun!

Kesimpulan sederhana itu membuat saya merasa lebih baik. Lantas saya tatap wajah polos Alif yang tengah terlelap dalam bedongnya. Duh Allah..........betapa Pemurahnya Engkau............. adakah kenikmatan lain yang sangat kami nanti selama ini selain kehadiran kekasih baru nan mungil ini? Bukankah bayi ini lahir juga dengan keadaan yang baik, wajahnya lucu, cakep, nggak rewel, dengan anggota tubuh yang sempurna dan indah, sangat dinanti oleh orang tua saya sebagai cucu pertama, sekaligus cicit pertama dalam keluarga besar eyang saya? Lalu, kenikmatan dari-Nya yang manakah yang dapat kami ingkari? Saya cuma dapat beristighfar menyadari hal ini.

Dalam hitungan waktu, saya sudah merasa jauh lebih baik. Kedatangan kakak ipar yang juga baru saja punya bayi, semakin menambah motivasi saya. “Jangan dijadikan beban”, “lakukan apapun yang membuat kita lebih nyaman”, “betapapun, punya anak adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya”, beberapa ungkapan dari sang kakak yang membuat 'nyess' di hati. Kami pun sharing soal perawatan bayi baru lahir. Bagaimana mengatur jadwal menyusui, memandikan, berbagi tugas dengan suami, dan lain-lain.

Ah, alhamdulillah, hari itu BBS datang mencapai klimaksnya, dan hari itu pula ia beranjak pergi perlahan-lahan. Hari-hari berikutnya makin baik. Saya lakukan apa-apa yang memang sebaiknya (bukan seharusnya) saya lakukan. Melakukannya tanpa beban, dengan kasih sayang, ikhlas, serta yakin 'pasti bisa', mampu membunuh rasa khawatir, takut, perasaan bersalah, serta kecemasan. Bagi saya pribadi, menjalani segalanya bersama suami adalah obat paling mujarab (tentu butuh suami yang pengertian, sabar, penuh kasih sayang, full smile and motivation, serta bertanggung jawab tentu ;-) “Thanks ya honey... u r my best!”
Syukurlah, orang tua dan mertua saya bukanlah tipe yang suka ngatur-ngatur. Jadi saya boleh berlega hati untuk hal yang satu ini, karena tak menambah masalah kian runyam. Kalaupun punya ortu or mertua yang menerapkan banyak aturan, atau ikut menetapkan ini dan itu, kata kakak ipar saya “lakukan saja kalau tidak merugikan”. Satu hal lagi, jangan pernah berhenti (apalagi lupa) untuk berdoa, saat apapun! Dan rasakan kedahsyatannya! Yang terus menerus saya ingat pula adalah; anak akan menjadi apa kelak, sangat tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan sejak dini.

Maka, bagi para calon ibu, atau para ibu baru, obat dari BBS sebenarnya cukup 'sederhana'. 'Cukup' bersyukur pada Allah, bersabar pada amanah-Nya (klise kan ? ;-), dan yang tak kalah penting : dukungan suami! (para suami wajib paham akan BBS ini !)

Thursday, February 2, 2006

Cesar, Normal, 'sama saja'........

Kekasih Baru Yang Telah Tiba

Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.

Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.

Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-

Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.

Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)