Friday, February 3, 2006

KISAH BARU MENJADI SEORANG IBU

Hal yang cukup mengkhawatirkan saya ketika mendekati masa-masa persalinan, bukanlah proses melahirkan atau kerepotan pasca melahirkan. Melainkan timbulnya Baby Blues Syndrom (BBS). Secara sederhana BBS digambarkan sebagai sebuah keadaan mental dan fisik yang tidak menentu (seperti perasaan bingung, khawatir, cemas, merasa bersalah, merasa tak mampu, takut, sedih, dan lain sebagainya) yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Secara kasat mata, BBS ini dapat terlihat dari kondisi ibu, seperti lemah-letih-lesu, badmood, senewen, sedih, malas mengurus bayinya, asi-nya terhambat, marah-marah, menangis, dan ungkapan emosional lainnya. Yang kata dokter akibat pengaruh hormon. Yang kata orang, wajar. Meski demikian, kalau belum merasakannya sendiri, memang sulit untuk bisa memahami apa itu BBS.

Pada sebuah artikel yang pernah saya baca (tentu saja sebelum melahirkan), BBS biasanya timbul pada hari ketiga atau keempat pasca melahirkan. Maka ketika usai melahirkan, saya mulai menghitung waktu. Hari ketiga terlewati, keempat terlampaui, bahkan hari kelima sampai menjelang 2 minggu saya masih mereka-reka si BBS. Saya sempat berpikir, sudah hampir dua minggu, dan syukurlah, mungkin masa BBS telah lewat. Dan selamatlah saya dari monster yang sempat menghantui itu.

Ah, ternyata saya salah besar. Hari keduabelas, perasaan-perasaan tidak karuan mencapai klimaksnya. Rasa khawatir, rasa takut, rasa menyesal, kecewa pada diri sendiri, lelah yang amat sangat, menjadi komplikasi dan berakibat pada suatu 'penyakit'. Saya tidak mau menamainya BBS -karena saya tidak yakin juga- (karena BBS memang sulit digambarkan secara pasti). Tapi yang jelas, seusai menyusui Alif dan menidurkannya, saya gelisah bukan main. Ingin tidur karena kelelahan yang amat sangat (maklum, ibu baru selalu terbangun di tengah malam berkali-kali untuk urusan si kecil), namun kegundahan, ketidakyakinan, dan entah perasaan apalagi namanya, menghambat saya untuk terlelap.

Yang muncul dalam benak saya adalah masa-masa kehamilan yang ternyata jauh lebih ringan menjaganya, ketimbang repotnya mengasuh bayi. Namun tiba-tiba teringat pula tugas untuk membesarkan bayi merah yang terlelap di samping saya, bahwa saya harus selalu siap sedia ketika si kecil butuh susu (muncul perasaan bersalah, karena pada hari keduabelas saya belum cukup mahir menyusui Alif), dan apakah saya sanggup? Bagaimana jika saya lelah dan ngantuk yang teramat sangat, sementara si kecil Alif merengek karena lapar atau popoknya basah? Akan sangat kasihan sekali si Alif. Belum lagi ketika di tengah terpejamnya kembali mata saya, yang terbayang adalah bahwa Alif harus segera menjalani imunisasi. Bagaimana ketika membawanya ke dokter? Bagaimana ketika di perjalanan dia menangis, sementara saya masih kesulitan menyusui (apalagi di tempat umum)? Bagaimana pula reaksi si kecil ketika dia menjalani imunisasi pertamanya? Menangis? Demam? Rewel? Ah, kasihan! Sementara Alif benar-benar harus menjalani imunisasi! Saya khawatir, lelah, cucian menumpuk, sementara saya bingung harus melakukan apa.
(Saat itu adalah masa terberat saya pasca melahirkan. Jauh lebih berat dan menyakitkan dibanding sakitnya proses operasi cesar :-).

Akhirnya?! Saya menangis............................................................................ dan tentu saja di depan suami terkasih. Apa yang kira-kira saya katakan padanya? Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Perasaan sudah campur aduk tak menentu. “Perasaanku nggak enak”, ungkapan singkat yang kemudian dilanjutkan tangis yang sulit untuk dihentikan. Genggaman erat suami justru membuat air mata saya makin meleleh................leh!
Di tengah tangisan yang mengharu biru tak jelas :-) saya pun mulai curhat pada kekasih saya. Tentang perasaan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kebosanan, dan lain-lain, diiringi senggukan tangis. Sinetron lah, pokoknya ;-)
Tangis saya yang terus mengalir beriringan dengan masukan dan dukungan suami yang terdengar hangat tapi menyejukkan. Tak lebih dari lima menit, hati saya sudah mulai cair, terasa lebih nyaman, meski masih resah dan lelah. Suami mengijinkan saya melakukan apapun yang dapat membuat saya lebih baik. Kami pun berdiskusi kecil soal pembagian tugas kerumahtanggaan (dan pada kenyataannya, kita -suami istri- memang harus saling berbagi) serta perawatan-perawatan si kecil ke depannya. Sejenak suami meninggalkan saya, dan saya mulai introspeksi diri. Dalam renungan singkat, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa seharusnya SAYA MERASA BAHAGIA! Teringat bagaimana awal2 menikah dulu saya selalu menagis tiap datang bulan, karena itu tandanya SAYA BELUM HAMIL. Tiga bulan menanti akhirnya Allah menjawab doa-doa kami, dengan mengijinkan saya hamil di bulan Maret 2005. Teringat pula tulisan yang saya buat saat usia kandungan 38 minggu. Terngiang pula ungkapan suami di jelang tidur kami saat malam tiba, “Dek, betah amat di dalam? Main di luar yuk!”, di dekat perut saya, ketika si dedek belum lahir juga.
Ya, betapa kami telah sangat merindukan kehadiran anak kami! Belum lagi masih hangat dalam ingatan, bagaimana beratnya menjalani kehamilan selama 9 bulan. 9 bulan menggendong si dedek dengan perut, kemana-mana dalam keadaan apapun!

Kesimpulan sederhana itu membuat saya merasa lebih baik. Lantas saya tatap wajah polos Alif yang tengah terlelap dalam bedongnya. Duh Allah..........betapa Pemurahnya Engkau............. adakah kenikmatan lain yang sangat kami nanti selama ini selain kehadiran kekasih baru nan mungil ini? Bukankah bayi ini lahir juga dengan keadaan yang baik, wajahnya lucu, cakep, nggak rewel, dengan anggota tubuh yang sempurna dan indah, sangat dinanti oleh orang tua saya sebagai cucu pertama, sekaligus cicit pertama dalam keluarga besar eyang saya? Lalu, kenikmatan dari-Nya yang manakah yang dapat kami ingkari? Saya cuma dapat beristighfar menyadari hal ini.

Dalam hitungan waktu, saya sudah merasa jauh lebih baik. Kedatangan kakak ipar yang juga baru saja punya bayi, semakin menambah motivasi saya. “Jangan dijadikan beban”, “lakukan apapun yang membuat kita lebih nyaman”, “betapapun, punya anak adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya”, beberapa ungkapan dari sang kakak yang membuat 'nyess' di hati. Kami pun sharing soal perawatan bayi baru lahir. Bagaimana mengatur jadwal menyusui, memandikan, berbagi tugas dengan suami, dan lain-lain.

Ah, alhamdulillah, hari itu BBS datang mencapai klimaksnya, dan hari itu pula ia beranjak pergi perlahan-lahan. Hari-hari berikutnya makin baik. Saya lakukan apa-apa yang memang sebaiknya (bukan seharusnya) saya lakukan. Melakukannya tanpa beban, dengan kasih sayang, ikhlas, serta yakin 'pasti bisa', mampu membunuh rasa khawatir, takut, perasaan bersalah, serta kecemasan. Bagi saya pribadi, menjalani segalanya bersama suami adalah obat paling mujarab (tentu butuh suami yang pengertian, sabar, penuh kasih sayang, full smile and motivation, serta bertanggung jawab tentu ;-) “Thanks ya honey... u r my best!”
Syukurlah, orang tua dan mertua saya bukanlah tipe yang suka ngatur-ngatur. Jadi saya boleh berlega hati untuk hal yang satu ini, karena tak menambah masalah kian runyam. Kalaupun punya ortu or mertua yang menerapkan banyak aturan, atau ikut menetapkan ini dan itu, kata kakak ipar saya “lakukan saja kalau tidak merugikan”. Satu hal lagi, jangan pernah berhenti (apalagi lupa) untuk berdoa, saat apapun! Dan rasakan kedahsyatannya! Yang terus menerus saya ingat pula adalah; anak akan menjadi apa kelak, sangat tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan sejak dini.

Maka, bagi para calon ibu, atau para ibu baru, obat dari BBS sebenarnya cukup 'sederhana'. 'Cukup' bersyukur pada Allah, bersabar pada amanah-Nya (klise kan ? ;-), dan yang tak kalah penting : dukungan suami! (para suami wajib paham akan BBS ini !)

No comments: