Showing posts with label Semak Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Semak Hikmah. Show all posts

Wednesday, June 23, 2010

Sakit?? Ga papa :)

Hayyaaahhh...
baru juga terima Raport KBB-nya, Alif dah KO duluan. Rapotnya sih baguss... tapi kondisi kesehatannya lagi gak fit. Meler.. srat srott... haduhh...

Ummi gak kurang akal lah.. Langsung berburu buku dan alat-alat ketrampilan yang bisa digarap Alif dan Afra di rumah, biar ga pada garing liburannya.
Prinsipnya sih, liburan kudu bermanfaat, se-happy mungkin, se-seru mungkin, se-enggak capek mungkin (nggak tau kenapa ya, kami berempat rasanya anti banget sama yang namanya kecapean. Nggak banget lah... kaya apa aja hidup sampe kecapekan gitu. hehehe), dan tentu saja dengan budget se-optimal mungkin.

Liburan di Jakarta pastilah nguras kantong. Kalo di Semarang, murah-murahnya bisa aja ke pinggiran Gombel (apakah namanya masih Bukit Asri??) kemudian memandang indahnya pemandangan kota Semarang dari bukit, main ke Ksatrian liat kuda, atau maen ke sepupu yang punya ayunan? Tapi kalo Jakarta... semurah-murahnya pasti kena cost tambahan. Bensin karena macet kah? Ongkos makan minum yang premium kah? Atau bayar parkirnya dengan sistem jam-jaman? (nanti kita buat review tentang liburan murah di Jakarta deh yaa... next time).

Dan di hari liburan kelima, Afra tertular batuk, dan makin ramailah lomba serak-senggrokan-dan serot-serotan. Haduhh...

Tapi eniwe, Ummi pastilah bahagia, melihat anak-anak yang walo sakit, masih bisa sebegitu cerianya. Ummi stress pastinya, karena badan Afra panas, Alif yang batuk terus-menerus, lalu ayah yang lembur tiada henti...
Namun, keceriaan anak-anak seolah menampar menyadarkan diri, bahwa kehidupan itu, dengan cinta dan ketulusan, pastilah tetap indah. No pretensi, no tendensi. Cukuplah bersikap TULUS dan menebar CINTA.

Cepat sembuh ya anak-anak, mari jajan es krim, mari pesta coklat, dan main hujan lagi!!!
Love u more and more ...

*Ummi
(ntar diposting foto-foto hasil karya Alif dan Afra selama liburan. lengkap dengan berantakannya rumah. hehehe)





Sunday, January 20, 2008

Air Mata di Senin Siang (2)

empat puluh hari..

berjalan, berlalu, berbilang..

Rasanya masih hangat dirasa, sehangat tangan ibu kalau kucium takzim. Tak terasa, sudah empat puluh hari kami tak bersama lagi.
Bapak, yang masih sering menangis tertahan di kala subuh tiba, seringkali membuat hati teriris kembali, bagai empat puluh hari silam itu.
Tangis yang menderu, deras bagai tumpah dari segenap rindu.

Ibu telah pergi. Sejak empat puluh hari itu. Tangis dan sedih yang tiada usai.
Namun ingatkan satu hal; bahwa semua kelak menuju Tambatan yang sama. Hanya.. entah kapan, namun pasti.

Ibu berangkat lebih dulu. Dan nantinya, kami, kita semua pasti akan menyusul. Tinggal menanti saatnya.

Selamat Jalan Ibu. Semoga Allah melapangkan perjalanmu.

-mengenang Ibu di empat puluh hari-

Thursday, November 22, 2007

Eksistensi Sebuah Pilihan-2


"Aku pengen kaya kamu, jadi full mom. Ga usah kerja dan ninggalin anak"
sebuah 'IM' masuk di Yahoo Massanger saya.

saya jawab dengan " :D " (nyengir)
Tapi dalam hati tersenyum. Lha wong semalam saya baru curhat sama suami, "Bang...aku lagi jenuh nih..." Dan sempat ngebatin, mungkin asyik kali ya, kalau balik kerja lagi. Ga bosen, tiap hari ketemu sesuatu yang beda.

Sorenya, 'IM' yang lain masuk. "Lagi jenuh nih.. Di rumah aja, bosen" (sori mbakyu, chating kita kucatut). dari seorang ibu muda cantik, yang kebetulan full mom full home.
Jawaban saya pun sama dengan yang tadi : nyengir. Soalnya, saya sempat ngebatin juga sebelumnya, si ibu yang satu ini enak juga. Kocek suaminya lumayan (sok tau ya), putrinya cantik, lucu, rumahnya dekat sama mertua (bisa buat mampir2), ada pembantu, punya mobil dan bisa jalan2 kemana aja, punya kesibukan bisnis jual-jual (jual apa aja tho mbak?), di rumahnya ada kolam ikan (ikannya kan bisa diajakin curhat), di rumahnya banyak taneman (ada yang bisa disiram-siram), dll.

Ya gitu deh.. dah ada kesimpulannya.
1st. Bahwa rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Enak ya si dia (padahal dia-nya lagi ngiri sama kita). Beruntung ya si dia (padahal si dia-nya ngerasa dapat ujian berat dari Allah). Dll.

2nd. Bosan bisa menjangkiti siapa saja. Orang yang kelihatan paling enak sekalipun. Artis, presiden, anggota DPR, supir bis, pemulung, dosen, dan banyak lagi. Mau yang kerja, nganggur, iseng, atau apalah, semua pasti bisa kena bosan, jenuh.

3th. Bosan adalah musuh bersama. Bosan harus diperangi bersama-sama. Tapi bosan juga sahabat lama, yang sesekali datang berkunjung. Sekadar menyentil dan mengingatkan kita, bahwa banyak hal yang perlu kita cermati. Membantu kita jadi lebih kreatif dan inovatif.

4th. Bosan bisa muncul karena kita terlalu banyak maunya. Sudah punya ini itu, tapi negarasa kurang, bakalan lebih enak kalau ada ina-ini ita-itu juga. Kita jadi banyak maunya, karena kita (maksudnya : saya) kurang bersyukur. So, mari perbanyak bersyukur ... (terlalu banyak yang bisa disyukuri tapi kita (maksudnya : saya) lebih banyak alpa).

5th. Nggak usah terlalu senewen dengan bosan. Dia makin ge-er jika makin diperhatikan. Selama kita tetap fokus pada apa yang sebaiknya dilakukan (tidak usah dulu berpikir soal : seharusnya), konsisten, on the right way.. keep on cool... secara tidak sadar, si bosan pasti juga pergi tanpa pamit (datang tak dijemput pulang nggak pamitan). Inilah saatnya eksistensi sebuah pilihan diuji! (mau tetap kerja, mau tetap di rumah, mau nganggur, mau iseng atau apa aja).

Saya juga heran, kenapa saya bisa bosan? Padahal ada kerjaan baru yang bisa mendatangkan uang (pesanan bikin buku) -soal 'uang' kan pasti menyenangkan. hehe .. Afra sudah makin besar, makin lucu. Apalagi Alif yang sudah makin pintar. Banyak film2 download baru yang belum ditonton. Wow! Ramai hati saya! Ramai rumah tinggal ini! Seramai House of Love!

So, mari kita bersama melawan kebosanan!!

Alif, Afra, Abang juga, maaf ya kalo sempat rada senewen ... abis jenuh sih ... hihihi...

Friday, October 26, 2007

Eksistensi sebuah Pilihan-1


Sebuah hari.. saat seseorang yang cukup 'beken' di sebuah komunitas, menelepon saya dengan suara beratnya.

"Assalamu'alaikum .. Saya F**** H***** .." dst. Singkatnya, beliau menawarkan sebuah 'agenda', 'mimpi' dan 'imbalan'. Jujur, saya tersanjung. Kala saya sedang 'sendirian', 'hanya' memberikan peran pada sekecil-kecilnya keluarga kecil saya, datanglah sebuah penawaran untuk membangun sebuah eksistensi publik kembali.

'Imbalan'nya, bagi saya tak kecil, walau tak sebesar yang diterima suami tiap bulannya. Tapi.. rasanya lumayan. Gamang, tentu saja. Ada suatu perseteruan diri yang luar biasa gemerlap dan gaduh. Bukan saya, kalau tak segera meminta pendapat sang kekasih.

"Bagaimana Bang ..?", tanya saya mengadu.

Segaris senyum yang meneduhkan itu mengawali jawabannya.
"Kamu selalau tahu mana yang terbaik kan? Aku akan mendukung"

Masalahnya tidak sesimpel saya menerima, saya menindaklanjuti,lalu saya 'akan menerima imbalan'. Tapi lebih, karna komunitas tersebut sedang 'galau', sedang 'perih' juga 'ramai'. Saya akan dihadirkan sebagai penengah, yang tidak ada pretensi dan tendesi yang memihak, juga saya dianggap profesional untuk menanganinya. (In fact : begitulah yang disampaikan oleh si 'beliau' tadi)

Di satu sisi saya tertantang untuk kembali fight di profesionalitas bidang yang enam tahun mendarah daging. Saya juga terpanggil untuk bersumbangsih mengurai kusutnya benang kisah yang ada di suatu tempat itu. Tapi ...

Kalau mau ber-rendervou masa lalu. Saya selalu ingin kelak menjadi ibu yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga. Walau, sama sekali tak tergambar dalam benak saya, orang seperti saya yang kursinya saja adalah jok motor (hi Kenji sayang ...), yang kasurnya adalah handphone yang bisa berdering di atas pukul 11 malam dan sebelum subuh tiba, dan yang piring makannya adalah permen karet (alias si permen karet ini sudah menjadi pengganjal perut sehari-hari), akan bisa berdiam di satu tempat, bergerak dari satu ke tempat lain dalam radius yang pendek, dengan jangkauan yang itu-itu saja, dengan 'pemandangan' yang itu-itu saja, sehari-hari, lebih dari 24 jam sehari! Namun kenyatannya, ketika saya memiliki kekayaan tak ternyana (keluarga) itu, saya benar-benar bisa melakukannya!!

Kerinduan selalu hadir, untuk bercinta lagi dengan si-Kenji. Tapi cinta saya pada 'kekayaan' sejati membuat saya benar-benar nyaris mangkir dari kenangan-kenangan indah bersama Kenji. Dan jika kemudian tawaran yang datang itu faktanya menggiurkan, namun saya tidak jadi menyantapnya. Jika saya harus meninggalkan si kecil Alif dan Afra untuk berjibaku dengan riuhnya tempat yang ditawarkan, ber-harakiri dengan bus kota atau taxi (yang tarifnya kian mahal), atau saya harus memencet bel rumah pada pukul sembilan malam sebagaimana saat kerja di tempat yang sama sebelumnya, hingga ketika suami siap berbaring maka saya baru selesai makan malam (dan belum mandi)? Dan ketika saya harus bertaruh membangun citra sesuatu di luar sana hingga saya tidak sempat mendengar susunan cerita pertama yang terlontar dari Alif. Atau saya harus melihat afra hanya saat dia hendak mandi pagi dan setelah terlelap tidur malam? Atau ketika suami mengajak menikmati film-film terbaru dan saya tertidur pulas di kursi tv? Tuhan.. betapa mahal yang harus saya gadaikan??

Membangun karir. Saya rasa tidak ada satupun yang sangat alergi dengan hal yang satu ini. Saya pun gencar dengan karir saya. Mati-matian. Dengan air mata, tawa, riang dan terpaku untuk membangun dan mempertahankannya. Tapi saya bahagia. Tidak ada pengorbanan. Tak ada luka. Tak ada kerugian. Segalanya karena kenikmatan. Segalanya karena tujuan. Sebuah karir : menjadi dan selalu menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.

Saat ini, cukuplah bagi saya membangun karir dari rumah, menjadi pembicara sesekali, menyusun buku (walau buku pesanan), menghasilkan rupiah demi rupiah (walau tak banyak) melalui koneksi IT, dan tentu saja, mendedikasikan diri sepenuhnya pada anak-anak dan suami (sebagai salah satu kendaraan surga).

Saya bersyukur, bahwa saya memiliki pilihan. Untuk berkarir di luar atau tetap menjadi full mom di rumah. Bersyukur sekali, saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua (dengan konsekuensinya masing-masing). Tak terbayang bagaimana jika saya tak punya pilihan. Seperti seorang teman, yang bahkan 'mau bekerja apa saja' karena gaji suaminya sangat tidak menunjang untuk memenuhi gizi sehari-hari anaknya. Atau seorang ibu yang lain, yang banting tulang sendiri karena suaminya tak jua mendapat pekerjaan yang layak. Atau seorang bunda yang lain, yang ketika pulang dari perjalanan dinasnya, mendapati anaknya sakit parah. Atau seorang kawan (yang sejak belum lulus kuliah sudah menikah) yang hanya boleh di rumah tanpa boleh mencicipi 'nikmatnya' dunia kerja oleh suaminya dll. Semoga Allah menguatkan mereka. Mungkin saya tak kan sanggup demikian.

Saya masih bisa memilih.

Dua tahun, tiga tahun atau mungkin lima-enam tahun mendatang, bisa saja saya kembali merintis karir lain selain menjadi ibu. Tapi semua, setelah anak-anak mandiri dengan lingkungannya, bersekolah, dan mampu memahami kesibukan ibunya.

Segalanya adalah pilihan. Respek saya terhadap moms yang tetap bertahan dengan karir sekaligus menjadi ibu yang baik, juga pada moms yang bertahan mencurahkan pikiran dan waktunya hanya untuk keluarga -tentu dengan mengorbankan sementara kesempatannya berkarir di dunia kerja-

Sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati dan pikiran, untuk membuat diri mampu memilih yang terbaik, dan benar menurut-Nya.

Wednesday, March 8, 2006

KETIKA MUSUH DATANG

Ada nggak sih, yang takut pada rasa BOSAN? Kalo saya, takut sekali dengan yang namanya BOSAN. Bosan membuat hidup tidak bergairah. Mau ngapa-ngapain juga malas. Visi hidup mengabur, misi hidup melabur. Pekerjaan numpuk, tidak fokus, dan akhirnya berabe, jadi tidak produktif.. Bayangkan, betapa menakutkannya penyakit bosan, karena dia menyerang hati juga. Yang membuat semangat menurun drastis seperti orang mati rasa. Ah sedihnya...

Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...

Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.

Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.

Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........

Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.

Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?

Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.

Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......

Friday, March 3, 2006

KEBANGGAAN



Apa yang tergambar dalam benak kita, akan sebuah perasaan bangga? Bahagia, merasa lebih, bersyukur, sombong, takut, atau apa? Dan, kira-kira, apa yang dapat membuat seseorang merasa bangga? Lebih dari orang lain; berbeda dengan orang kebanyakan; tak tertandingi oleh siapapun; atau apa?

Setiap manusia, pastilah pernah merasa bangga pada dirinya. Walau hanya sebersit sekalipun. Dengan aneka format bangga. Bangga yang membuat hati meledak-ledak, bangga yang membuat mata menangis, bangga yang membuat angkuh, dan lain sebagainya. Seumur hidup -hingga detik ini- sebagai manusia -biasa- saya beberapa kali merasa bangga pada diri sendiri. Banyak hal, yang sempat membuat saya bangga dalam hidup ini. Kebanggaan yang membuat saya menangis bersyukur, kebanggaan yang membuat saya sempat terlena, kebanggaan yang membuat saya takut, juga kebanggaan yang sempat membuat diri ini merasa lebih dari yang lain.
Yang pada hari kemudian, setelah pelajaran hidup selanjutnya, saya baru mengerti bagaimana harusnya menyikapi perasaan bangga.

Kalau boleh membuka hati, saat ini, secara jujur, saya merasa seluruh kebanggaan yang pernah saya rasakan itu, perlahan sirna. Atau bahkan ada yang lenyap begitu saja tanpa bekas. Sepertinya tidak satupun kebanggan yang pernah saya rasakan dulu itu, berwujud nyata saat ini. Dan kalaupun ada kebanggaan yang nyata saya rasakan sekarang ini, itu adalah kebanggaan yang telah berlangsung dalam hitungan bulan. Ya, saya sedang bangga MENJADI IBU.

Hanya dengan MENJADI IBU, saya bisa memberikan ASI, yang notabene merupakan makanan dan nutrisi terbaik bagi anak saya. Memang, ada alternatif susu formula sebagai pengganti ASI. Namun, siapapun tahu, hanya ASI-lah yang terbaik, yang dapat memenuhi kebutuhan manusia baru lahir ini. Hanya ASI-lah yang dapat dicerna dengan baik oleh pencernaan bayi, hingga seluruh nutrisinya dapat terserap baik oleh tubuh bayi.Hanya ASI-lah yang mampu memberikan imunitas terbaik bagi kelangsungan hidup seseorang.

Bayangkan! Seolah hanya ibu dengan ASI-nya lah, yang dibutuhkan oleh seorang bayi. Sang Pencipta telah mempercayakan seorang hamba, makhluknya yang baru, kepada seorang IBU untuk menjadikannya tumbuh dan berkembang dengan ASI. Dengan amanah itu, seorang ibu haruslah senantiasa sehat, agar tak terganggu masa menyusuinya, juga merawat dan mengasuh si kecil. Seorang ibu harus memiliki stamina yang kuat, karena harus siap sedia setiap waktu, di saat bayi-nya membutuhkan susu. Seorang ibu, hendaknya selalu menampakkan wajah manis dan ramah, agar itulah yang ditiru sang anak. Seorang ibu baiknya selalu tenang, agar anaknya tak mudah rewel. Seorang ibu, baiknya sabar, pintar, dan inovatif, agar anaknya berkembang dan tumbuh lebih baik. Ah, sempurna memang “tuntutan” itu...

Maaf, tapi tulisan ini bukanlah untuk menafikan peran ayah dalam tumbuh kembang sang bayi. Atau peran orang lain, seperti dokter, orang tua, rekan-rekan berbagi, dan berbagai orang penuh jasa dan kebaikan lainnya. Hanya saja, saya ingin berbicara sebagai seorang ibu, yang dibutuhkan anaknya (sehingga saya memilih tak menggunakan pengasuh bayi). Terlalu klise, normatif, atau ideal mungkin. Tapi, ah.. sekali lagi saya “hanya” seorang manusia yang tengah bangga menjalankan peran dan amanah SEBAGAI IBU.

Menjadi Ibu, kebanggaan yang sama sekali tak mampu membuat saya menyombongkan diri. Karena ASI yang keluar dari tubuh saya berproses melalui mekanisme yang luar biasa. Daya tahan tubuh saya sebagai seorang ibu, terbentuk dari sebuah mekanisme yang luar biasa pula. Dan keterikatan batin yang terbentuk antara saya dengan bayi saya, adalah proses yang sangat luar biasa, yang dimulai sejak terbentuknya bakal janin dalam rahim.
Dan segala yang luar biasa ini, saya tak banyak bercampur tangan. Membuat ASI keluar dan tidak keluar, membuat seluruh rangkaian tubuh menjadi sehat, dan menjadikan terbentuknya janin, saya sama sekali tak mampu mengaturnya. Segala yang luar biasa itu, hanya datang dari Sang Maha Luar Biasa. Campur tangan yang bisa saya lakukan pun, tak lepas dari Keluar Biasa-an-Nya. Ya, SANGAT LUAR BIASA.

Dan saya bangga, dianugerahi keluarbiasaan ini, yakni MENJADI seorang IBU. KEBANGGAAN yang sama sekali TAK MAMPU MEMBUAT sebuah KESOMBONGAN.

(27/02 & 03/03, 2006)