
Sebuah hari.. saat seseorang yang cukup 'beken' di sebuah komunitas, menelepon saya dengan suara beratnya.
"Assalamu'alaikum .. Saya F**** H***** .." dst. Singkatnya, beliau menawarkan sebuah 'agenda', 'mimpi' dan 'imbalan'. Jujur, saya tersanjung. Kala saya sedang 'sendirian', 'hanya' memberikan peran pada sekecil-kecilnya keluarga kecil saya, datanglah sebuah penawaran untuk membangun sebuah eksistensi publik kembali.
'Imbalan'nya, bagi saya tak kecil, walau tak sebesar yang diterima suami tiap bulannya. Tapi.. rasanya lumayan. Gamang, tentu saja. Ada suatu perseteruan diri yang luar biasa gemerlap dan gaduh. Bukan saya, kalau tak segera meminta pendapat sang kekasih.
"Bagaimana Bang ..?", tanya saya mengadu.
Segaris senyum yang meneduhkan itu mengawali jawabannya.
"Kamu selalau tahu mana yang terbaik kan? Aku akan mendukung"
Masalahnya tidak sesimpel saya menerima, saya menindaklanjuti,lalu saya 'akan menerima imbalan'. Tapi lebih, karna komunitas tersebut sedang 'galau', sedang 'perih' juga 'ramai'. Saya akan dihadirkan sebagai penengah, yang tidak ada pretensi dan tendesi yang memihak, juga saya dianggap profesional untuk menanganinya. (In fact : begitulah yang disampaikan oleh si 'beliau' tadi)
Di satu sisi saya tertantang untuk kembali fight di profesionalitas bidang yang enam tahun mendarah daging. Saya juga terpanggil untuk bersumbangsih mengurai kusutnya benang kisah yang ada di suatu tempat itu. Tapi ...
Kalau mau ber-rendervou masa lalu. Saya selalu ingin kelak menjadi ibu yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga. Walau, sama sekali tak tergambar dalam benak saya, orang seperti saya yang kursinya saja adalah jok motor (hi Kenji sayang ...), yang kasurnya adalah handphone yang bisa berdering di atas pukul 11 malam dan sebelum subuh tiba, dan yang piring makannya adalah permen karet (alias si permen karet ini sudah menjadi pengganjal perut sehari-hari), akan bisa berdiam di satu tempat, bergerak dari satu ke tempat lain dalam radius yang pendek, dengan jangkauan yang itu-itu saja, dengan 'pemandangan' yang itu-itu saja, sehari-hari, lebih dari 24 jam sehari! Namun kenyatannya, ketika saya memiliki kekayaan tak ternyana (keluarga) itu, saya benar-benar bisa melakukannya!!
Kerinduan selalu hadir, untuk bercinta lagi dengan si-Kenji. Tapi cinta saya pada 'kekayaan' sejati membuat saya benar-benar nyaris mangkir dari kenangan-kenangan indah bersama Kenji. Dan jika kemudian tawaran yang datang itu faktanya menggiurkan, namun saya tidak jadi menyantapnya. Jika saya harus meninggalkan si kecil Alif dan Afra untuk berjibaku dengan riuhnya tempat yang ditawarkan, ber-harakiri dengan bus kota atau taxi (yang tarifnya kian mahal), atau saya harus memencet bel rumah pada pukul sembilan malam sebagaimana saat kerja di tempat yang sama sebelumnya, hingga ketika suami siap berbaring maka saya baru selesai makan malam (dan belum mandi)? Dan ketika saya harus bertaruh membangun citra sesuatu di luar sana hingga saya tidak sempat mendengar susunan cerita pertama yang terlontar dari Alif. Atau saya harus melihat afra hanya saat dia hendak mandi pagi dan setelah terlelap tidur malam? Atau ketika suami mengajak menikmati film-film terbaru dan saya tertidur pulas di kursi tv? Tuhan.. betapa mahal yang harus saya gadaikan??
Membangun karir. Saya rasa tidak ada satupun yang sangat alergi dengan hal yang satu ini. Saya pun gencar dengan karir saya. Mati-matian. Dengan air mata, tawa, riang dan terpaku untuk membangun dan mempertahankannya. Tapi saya bahagia. Tidak ada pengorbanan. Tak ada luka. Tak ada kerugian. Segalanya karena kenikmatan. Segalanya karena tujuan. Sebuah karir : menjadi dan selalu menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.
Saat ini, cukuplah bagi saya membangun karir dari rumah, menjadi pembicara sesekali, menyusun buku (walau buku pesanan), menghasilkan rupiah demi rupiah (walau tak banyak) melalui koneksi IT, dan tentu saja, mendedikasikan diri sepenuhnya pada anak-anak dan suami (sebagai salah satu kendaraan surga).
Saya bersyukur, bahwa saya memiliki pilihan. Untuk berkarir di luar atau tetap menjadi full mom di rumah. Bersyukur sekali, saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua (dengan konsekuensinya masing-masing). Tak terbayang bagaimana jika saya tak punya pilihan. Seperti seorang teman, yang bahkan 'mau bekerja apa saja' karena gaji suaminya sangat tidak menunjang untuk memenuhi gizi sehari-hari anaknya. Atau seorang ibu yang lain, yang banting tulang sendiri karena suaminya tak jua mendapat pekerjaan yang layak. Atau seorang bunda yang lain, yang ketika pulang dari perjalanan dinasnya, mendapati anaknya sakit parah. Atau seorang kawan (yang sejak belum lulus kuliah sudah menikah) yang hanya boleh di rumah tanpa boleh mencicipi 'nikmatnya' dunia kerja oleh suaminya dll. Semoga Allah menguatkan mereka. Mungkin saya tak kan sanggup demikian.
Saya masih bisa memilih.
Dua tahun, tiga tahun atau mungkin lima-enam tahun mendatang, bisa saja saya kembali merintis karir lain selain menjadi ibu. Tapi semua, setelah anak-anak mandiri dengan lingkungannya, bersekolah, dan mampu memahami kesibukan ibunya.
Segalanya adalah pilihan. Respek saya terhadap moms yang tetap bertahan dengan karir sekaligus menjadi ibu yang baik, juga pada moms yang bertahan mencurahkan pikiran dan waktunya hanya untuk keluarga -tentu dengan mengorbankan sementara kesempatannya berkarir di dunia kerja-
Sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati dan pikiran, untuk membuat diri mampu memilih yang terbaik, dan benar menurut-Nya.

No comments:
Post a Comment