Friday, October 26, 2007

Eksistensi sebuah Pilihan-1


Sebuah hari.. saat seseorang yang cukup 'beken' di sebuah komunitas, menelepon saya dengan suara beratnya.

"Assalamu'alaikum .. Saya F**** H***** .." dst. Singkatnya, beliau menawarkan sebuah 'agenda', 'mimpi' dan 'imbalan'. Jujur, saya tersanjung. Kala saya sedang 'sendirian', 'hanya' memberikan peran pada sekecil-kecilnya keluarga kecil saya, datanglah sebuah penawaran untuk membangun sebuah eksistensi publik kembali.

'Imbalan'nya, bagi saya tak kecil, walau tak sebesar yang diterima suami tiap bulannya. Tapi.. rasanya lumayan. Gamang, tentu saja. Ada suatu perseteruan diri yang luar biasa gemerlap dan gaduh. Bukan saya, kalau tak segera meminta pendapat sang kekasih.

"Bagaimana Bang ..?", tanya saya mengadu.

Segaris senyum yang meneduhkan itu mengawali jawabannya.
"Kamu selalau tahu mana yang terbaik kan? Aku akan mendukung"

Masalahnya tidak sesimpel saya menerima, saya menindaklanjuti,lalu saya 'akan menerima imbalan'. Tapi lebih, karna komunitas tersebut sedang 'galau', sedang 'perih' juga 'ramai'. Saya akan dihadirkan sebagai penengah, yang tidak ada pretensi dan tendesi yang memihak, juga saya dianggap profesional untuk menanganinya. (In fact : begitulah yang disampaikan oleh si 'beliau' tadi)

Di satu sisi saya tertantang untuk kembali fight di profesionalitas bidang yang enam tahun mendarah daging. Saya juga terpanggil untuk bersumbangsih mengurai kusutnya benang kisah yang ada di suatu tempat itu. Tapi ...

Kalau mau ber-rendervou masa lalu. Saya selalu ingin kelak menjadi ibu yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga. Walau, sama sekali tak tergambar dalam benak saya, orang seperti saya yang kursinya saja adalah jok motor (hi Kenji sayang ...), yang kasurnya adalah handphone yang bisa berdering di atas pukul 11 malam dan sebelum subuh tiba, dan yang piring makannya adalah permen karet (alias si permen karet ini sudah menjadi pengganjal perut sehari-hari), akan bisa berdiam di satu tempat, bergerak dari satu ke tempat lain dalam radius yang pendek, dengan jangkauan yang itu-itu saja, dengan 'pemandangan' yang itu-itu saja, sehari-hari, lebih dari 24 jam sehari! Namun kenyatannya, ketika saya memiliki kekayaan tak ternyana (keluarga) itu, saya benar-benar bisa melakukannya!!

Kerinduan selalu hadir, untuk bercinta lagi dengan si-Kenji. Tapi cinta saya pada 'kekayaan' sejati membuat saya benar-benar nyaris mangkir dari kenangan-kenangan indah bersama Kenji. Dan jika kemudian tawaran yang datang itu faktanya menggiurkan, namun saya tidak jadi menyantapnya. Jika saya harus meninggalkan si kecil Alif dan Afra untuk berjibaku dengan riuhnya tempat yang ditawarkan, ber-harakiri dengan bus kota atau taxi (yang tarifnya kian mahal), atau saya harus memencet bel rumah pada pukul sembilan malam sebagaimana saat kerja di tempat yang sama sebelumnya, hingga ketika suami siap berbaring maka saya baru selesai makan malam (dan belum mandi)? Dan ketika saya harus bertaruh membangun citra sesuatu di luar sana hingga saya tidak sempat mendengar susunan cerita pertama yang terlontar dari Alif. Atau saya harus melihat afra hanya saat dia hendak mandi pagi dan setelah terlelap tidur malam? Atau ketika suami mengajak menikmati film-film terbaru dan saya tertidur pulas di kursi tv? Tuhan.. betapa mahal yang harus saya gadaikan??

Membangun karir. Saya rasa tidak ada satupun yang sangat alergi dengan hal yang satu ini. Saya pun gencar dengan karir saya. Mati-matian. Dengan air mata, tawa, riang dan terpaku untuk membangun dan mempertahankannya. Tapi saya bahagia. Tidak ada pengorbanan. Tak ada luka. Tak ada kerugian. Segalanya karena kenikmatan. Segalanya karena tujuan. Sebuah karir : menjadi dan selalu menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.

Saat ini, cukuplah bagi saya membangun karir dari rumah, menjadi pembicara sesekali, menyusun buku (walau buku pesanan), menghasilkan rupiah demi rupiah (walau tak banyak) melalui koneksi IT, dan tentu saja, mendedikasikan diri sepenuhnya pada anak-anak dan suami (sebagai salah satu kendaraan surga).

Saya bersyukur, bahwa saya memiliki pilihan. Untuk berkarir di luar atau tetap menjadi full mom di rumah. Bersyukur sekali, saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua (dengan konsekuensinya masing-masing). Tak terbayang bagaimana jika saya tak punya pilihan. Seperti seorang teman, yang bahkan 'mau bekerja apa saja' karena gaji suaminya sangat tidak menunjang untuk memenuhi gizi sehari-hari anaknya. Atau seorang ibu yang lain, yang banting tulang sendiri karena suaminya tak jua mendapat pekerjaan yang layak. Atau seorang bunda yang lain, yang ketika pulang dari perjalanan dinasnya, mendapati anaknya sakit parah. Atau seorang kawan (yang sejak belum lulus kuliah sudah menikah) yang hanya boleh di rumah tanpa boleh mencicipi 'nikmatnya' dunia kerja oleh suaminya dll. Semoga Allah menguatkan mereka. Mungkin saya tak kan sanggup demikian.

Saya masih bisa memilih.

Dua tahun, tiga tahun atau mungkin lima-enam tahun mendatang, bisa saja saya kembali merintis karir lain selain menjadi ibu. Tapi semua, setelah anak-anak mandiri dengan lingkungannya, bersekolah, dan mampu memahami kesibukan ibunya.

Segalanya adalah pilihan. Respek saya terhadap moms yang tetap bertahan dengan karir sekaligus menjadi ibu yang baik, juga pada moms yang bertahan mencurahkan pikiran dan waktunya hanya untuk keluarga -tentu dengan mengorbankan sementara kesempatannya berkarir di dunia kerja-

Sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati dan pikiran, untuk membuat diri mampu memilih yang terbaik, dan benar menurut-Nya.

Thursday, October 25, 2007

Sebait Nama

tentang NAMA ...

dulunya ga kebayang, kalau yang namanya mencipta sebuah nama itu susah minta ampun. Saya sering nulis puisi, dan menjadikannya kamus untuk menjiplak penciptaan nama-nama. Apa saja. Saat jadi ketua himpunan mahasiswa, saat kasih ide nama toko/bisnis buat temen, sampai nama-nama anak-nya temen, saudara, dll. Tapi bener2 ga kebayang, kalau pas berusaha ciptain nama buat anak2 sendiri, susahnya bukan main.

Alif
.
Walaupun saya sudah ber-feeling bakal melahirkan anak pertama laki-laki, tapi soal nama, masih blank. Bahkan kata suami, nanti aja kalau dah lahir, kita cari nama yang pas dengan face-nya. Walau saya kurang setuju, karena kalau menurut saya, face yang bakalan ngikutin namanya (-aneh juga-), tapi tak urung membuat saya menyepakati untuk menunda mencipta sebuah nama pada si jabang bayi. Saat itu saya malah sibuk merangkai nama buat kakak ipar yang juga melahirkan seorang bayi perempuan. Maka ketika si sulung saya lahir, kami memanggilnya dengan "adek". Hari kedua kelahirannya, saat suami nungguin saya di kamar perawatan sambil tilawah, dan membaca sebuah surat dengan awalan "Alif Lam Miiim.." maka terbetik di otak saya sebuah nama. Nama yang sejak saya belajar huruf hijaiyah, sudah mentekadkan (sori, bahasanya ngasal) akan memberikan nama tersebut untuk anak saya kelak (kelak sekali, karena saat itu usia saya masih dua belasan tahun). Ya, nama itu adalah "Alif". Sontak saat itu saya sampaikan pada suami, dan langsung mengamini sembari melanjutkan tilawahnya yang tiba2 saya potong. Maka, di hari kedua, sulung saya punya nama "Alif".

Saya ingin memberikan nama minimal-maksimal 3 kata untuk anak2 saya. Rasanya asyik aja, nggak terlalu panjang, nggak terlalu pendek. Maka, saya dan suami punya pe-er dua kata lagi untuk Alif. Tak lama setelah muncul nama "Alif", dering handphone saya berbunyi, yang menyenandungkan surat Al Fatihah. Maka usia saya menjawab panggilan tersebut, saya pun mengusulkan untuk menambahkan nama Al Fatih usai nama Alif. Dan sekali lagi, suami saya pun berbinar sembari meng-iya-kannya. Maka, resmilah nama si sulung : Alif Al Fatih.

Pulang ke rumah, saya dan suami berarti masih punya pe-er utk kasih alif satu kata lagi dalam deretan namanya.

Di sebuah siang, Ibu menggendong Alif yang siang itu agak merengek ingin tidur. Dalam senandung jawa yang sedikit tidak saya mengerti, ada satu kata yang menarik : Marsudia (baca : marsudio). Lantas saya tanyakan pada ibu, apa artinya. Menurut ibu, marsudio berasal dari kata : marsudi. Yang artinya jalan yang lurus. Wah, kalau dipikir-pikir, kok cocok ya, dengan rangkaian nama Alif Al Fatih. Saya dan suami memang menginginkan anak2 memiliki deretan nama, yang kalau bisa, dari beberapa bahasa sekaligus dengan syarat mutlak : Bahasa Indonesia harus ada sebagai bahasa ibu. Berhubung Alif AlFatih adalah bahasa Arab, maka deretan namanya bakal diimbuhkan satu kata berbahasa jawa atau indonesia. Setelah dirundingkan dengan suami, bahkan sampai meminta 'restu' eyang kakung (eyang buyutnya Alif) di Jember, maka resmilah. Nama Marsudia (improvisasi dari 'marsudio' agar ta terlalu mencolok ke-jawa-annya) disisipkan di tengah 'Alif' dan 'AlFatih'.

Alif Marsudia Alfatih, sebuah nama dengan bumbungan doa : anak pertama, perintis, yang konsisten, teguh, dalam merintis jalan yang lurus, sebagai pembuka kebenaran dan kemenangan. Amin. (thanks to my husband's friend -yang namanya belum dimintakan izin untuk diposting- atas imbuhan pemaknaan kata 'alif').

Afra.
Kalau anak perempuan kami yang satu ini, susah sekali berdamai mencipta sebuah nama. Di-search engine, di double klik (halah), di bongkar-bongkar kamus inggris-arab-jawa, nggak paten2 juga. puyeng banget. Awalnya tercetus Alfi (biar dekat dengan ejaan 'alif'), yang artinya 'tak berbatas'-saking banyaknya. Cocok, untuk dipadukan dengan alif, yang artinya satu, pertama, ataupun awalan. Kami ingin si-kedua ini jadi 'tak berbatas' setelah di'awali oleh perintis (-kakak)-nya. Tapi si Ibu, kurang setuju. Terlalu pasaran, alasannya. Saya sempat terfikir juga : pasaran (walaupun : masa seh?). Dan Alfi memang tidak memutlakkan keperempuanan si kedua ini (kebetulan yang tahu calon bayi kedua saya adalah perempuan, hanya saya, suami, dan Ibu Smg). Masalahnya teman saya yang cewek ada yang bernama Alfi. Dan saya pun punya teman laki-laki bernama Alfi juga.

Singkat cerita (saya rada lupa dengan kebingunan luar biasa masa tsb). Hingga si kedua lahir, kami belum juga dapat nama. Semua rangkaian nama gugur, alias enggak jadi dipatenkan. Di malam kelima, saat saya sudah pulang ke rumah usai cesar, dijalanilah sebuah perenungan. Terbersit sebuah nama yang sedari dulu saya favoritkan, sebagaimana nama 'alif'. Yaitu 'afra'. Kalau tidak salah ingat, maknanya kedamaian (CMIIW). Juga sebuah nama sahabat perempuan Rasulullah, yang ditinggal syahid oleh kedua anakknya -mungkin bisa dimaknai kemuliaan dan kesabaran?-
Tapi Afra adalah kata yang sulit untuk diucapkan sehari2 -setidaknya dibandingkan dengan 'alif'. Apalagi untuk keluarga betawi suami di Tangerang, yang 'selalu merubah' nama untuk lebih enak di'lontar'kan. Pastilah si Afra bakalan jadi 'Apra'. Maka, nama Afra yang saya favoritkan harus tetap ada, namun harus disambung dengan kata yang bakal lebih mudah diucapkan. Terpilihlah : Lifia (tercetus dari suami), biar nanti panggilannya jadi : Fia. (walaupun ujung2nya panggilannya tetap Afra juga -hasil dikompori tante dan eyangnya Afra). Lifia adalah paduan nama saya dan suami, plus nama Alif. Afra Lifia. Lifia juga memaknai/ mengindonesiakan kata 'life' (kehidupan). Bagi saya, artinya kurang 'dalam'. dan tetap, harus ada tiga kata. Maka tidak cukup hanya Afra dan Lifia.

Sebelum kelahiran Afra, kami bersepakat untuk memberikan makna 'cahaya' atau 'penerang' pada-nya. Maka kami mencari padanan kata bermakna tersebut, yang ternyata susah sekali. Kalau 'Nur', terlalu umum (apalagi tantenya bernama Nuri). kalau Shine? Citra (baca : citro)? Atau apa? Terinspirasi dari nama artis 'Cahya Kamila', maka saya pun mencetuskan untuk memaknai 'cahaya' atau 'penerang' dengan CAHYA. Nah, kalau Afra Lifia Cahya? Aneh. Ngambang. Nggak mandeg mantep (halah). Setelah buka-buka buku nama anak-nya Mbak Siti Nur Badriah, saya pun menemukan Nadira (yang sudah diberi tanda suami sebagai salah satu nama pilihan). Maka jadilah Nadira yang berarti "berharga" diimbuhkan sebagai kata terakhir dalam deretan rangkaian nama Afra. Afra Lifia Cahya Nadira. Lho, kok empat kata?! Kebanyakan!
Akhirnya, jadilah kombinasi : Afralifia Cahya Nadira. Terasa panjang, tapi tetap tiga kata doang kan?

Afralifia Cahya Nadira ; doa yang dilantunkan : perempuan, buah hati kami bertiga, yang senantiasa damai, tenang dan sabar dalam memberikan cahaya kehidupan yang berharga. Amin.

Pada perjalanan selanjutnya, nama-nama kedua anak kami mengundang decak pujian. Namun yang namanya keisengan yang benar-benar iseng sampai nyebelin, sampai keisengan yang tulus muncul silih berganti. Jadi, selain banyak yang mengamini doa kami melalui nama-nama kedua anak ini, muncul juga ledekan2 seperti : habis Alif, 'Ba' dong...hehehe (yang ketawa yang ngledekin lho, bukan saya. Saya pantang ikut tertawa kalau ada yang melontarkan ledekan semacam ini. garing dan nggak lucu. apalagi saat Afra-nya sudah 'ada'), yang kasihan yang giliran wawu, anak keberapa itu ya? Hahaha (saya makin ga ikutan perbincangan alias ngacir). Ada juga : Afra? kok susah amat sih kasih nama. yang biasa aja lah (padahal sumpah, saya nggak berniat kasih nama yang nggak 'biasa'. so, kalaupun tercetus Afra tentu dengan pertimbangan kan?). Yang lain : Kalau Afra, nanti ada yang iseng manggil 'japra' lho... panggilannya 'Dira' aja ya.. (padahal saya ga tau, japra itu artinya siapa, dan siapa pula yang bakal iseng manggil dengan nama itu). Bahkan, Bapak Tng aja manggilnya 'Nur'. nah lho.. alasannya, yang beliau ingat hanya nama 'Cahya'nya saja.

Buat semua yang pernah berkomentar atas nama-nama anak2 kami, terima kasih ya... Yang tulus maupun asal comment. Yang perlu saya ingatkan : cari nama buat anak itu susah (kaya ga pernah aja sih?!), dan semuanya adalah doa. Kalau yang dijadikan panggilan hanya sepotong, misalnya, atau diganti dengan yang lain, doanya jadi beda kan? Apalagi biasanya kan sebuah nama merangkum banyak makna. Bahkan kalau saya dan suami, antara nama Alif dan Afra maknanya sinergis.

Namun hikmahnya, saya jadi makin menyadari, bahwa menyakitkan jika kita mengkomen buruk atau mengkritisi nama yang diciptakan (kecuali memang perlu dikritisi apalagi perlu diubah) orang. Karena bikinnya aja butuh energi, pikiran, tenaga, juga doa! (halah, kok jadi sensitif gini sih...?) Walaupun ada yang punya panggilan khusus buat anak-anak, saya tetap akan mengkoreksinya. Apalagi biasanya, panggilan khusus ga jauh dari julukan, n ga jauh juga dari 'konotasi' yang biasanya nggak asyik, nggak hi-tech, kurang sip, dll (nyengir). Lagipula, bayangkan saja kalau tiap orang punya panggilan khusus buat kita. Yang ada kita malah bingung, nama kita sebenarnya siapa sih? Trus, sebenarnya orang tersebut manggil kita ga sih? Kalau tiba-tiba ada panggilan khusus buat saya : "Cantik..." kira-kira kalau saya menoleh atau menjawab panggilan tersebut, disangka ge-er ga ya...?

Afra dan Ummi lulus!

Happy Ulang Bulan dek Afra..
Akhirnya afra kecil menikmati sajian selain ASI. Alhamdulillah Afralifia ini lolos ASI Ekslusif 6 bulan dengan sukses. Semua tentu karena limpahan karunia Allah yang begitu besar pada Afra dan ummi, atas kesabaran, kegigihan dan kekompakan bersama, hingga perjuangan asi ekslusif tercapai hingga 6 bulan.

Kalau Kakak Alif ASI Eks-nya sempat gagal di usia 4 bulan karena asi-nya ummi habis, tapi kakak Alif masih minta susu, (walaupun mulai 5 bulan back to asi on demand lagi), kalau adek afra beda lagi. Ummi dah punya pengalaman, jadi pantang menyerah sebelum 6 bulan. Support makanan yang full gizi, susu kedelai (kebetulan adek afra ini alergi susu sapi/ gluten), kemesraan dari ayah, dan cheers dari kakak alif, alhamdulillah akhirnya Afra dan ummi lulus asi eks 6 bulan. Alhamdulillah wa syukrulillah.. Semuanya demi kebaikan afra di masa selanjutnya. Asi ekslusif memang butuh perjuangan ekstra; kesabaran, kegigihan, juga ketulusan! Makanya butuh kekompakan antara ummi dan afra, juga ayah dan kakak alif. Oya, kali ini didukung tante Nuri, tante yang selalu support Afra utk... tersenyum!! hehehe..
Kalaupun secara materi tersisih banyak utk support asi-nya ummi, maka itu sangat tidak seberapa dibandingkan dengan daya tahan tubuh, perkembangan, stimulasi otak, dll-nya Afra yang masanya tak terhitung hingga sepanjang hidup Afra. Oya, satu lagi, asi eks juga memudahkan ummi utk balik langsing lagi seperti saat mula hamil afra 15 bulan lalu. Wow! Padahal masih lebih gemuk dibanding saat bersanding sama ayah di pelaminan 3 tahun lalu (hiks..jadi malu). Belum lagi, jadi ga perlu keluar uang untuk beli susu formula bayi 0-6 bulan, yang harganya muahal minta ampun, apalagi, bayi di bawah 6 bulan kerjaannya nyusu melulu. Bayangin aja, berapa botol berapa kaleng tuh ya...? hehehehe...

Pokoknya, selamat ya dek Afra, atas kesuksesan asi ekslusif-nya.. Bersyukur pada Allah ya, karena hanya Dia-lah yang menjamin hidup kita, bahkan dengan segala kenikmatan limpahan asi ummi buat adek. Semoga perjuangan kita berlanjut dengan kesuksesan-kesuksesan di masa mendatang. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Oya, today jadwalnya Afra imunisasi DPaT-HiB yang ketiga. Semoga everything gonna be ok aja ya..

Sun sayang buat Adek Afra, tetaplah sehat, ceria, juga cerdas seperti kakakmu.

Wednesday, October 24, 2007

soal blog saya

Kali ini saya pengen cuap-cuap (sendiri) soal nge-blog. Saya ga bakalan cuap-cuap panjang lebar, apalagi dengan analisa dan informasi. Saya memang punya blog, tapi saya bukan 'bloger' (istilah yang saya sendiri mengartikannya sebagai orang yang mahir soal blog *jam terbang tinggi, paham IT, ngerti istilah html, popup window, kompresi, nge-link, dll*).

Belum lama saya membaca postingan di blog milik "Priyadi" (maaf mas, belum saya link-kan. hehe.. saya kan ga ngerti :D). Inti bahasannya adalah soal 'Blog Seleb'. Saya nyegir waktu baca postingan yang cukup singkat tersebut. Sumpah deh, dalam hati : ga bakalan yang dimaksud itu adalah blog saya. kekekek... Ada sedikit hal yang membuat hati saya pun berujar tak sepakat, bahwa 'blog dibuat untuk dikunjugi-dikomentari-dst. Dan bahkan kemudian hal tersebut bisa membuat blog seseorang menjadi blog seleb, yang mana pemiliknya bisa menjadi seleb di kalangan para penge-blog.

Sedikit cerita. Dulu saya nggak paham sama sekali dengan dunia internet -Walau sertifikat pelatihan komputer dan internet saya tak kurang dari 3 buah-. Garis besarnya sih, saya tak akrab dengan dunia internet -walau nilai komputer saya di kampus selalu AB atau B (ternyata bisa komputer tak selalu mengerti internet ya..)-. Seorang teman memperkenalkan internet secara khusus pada saya saat menjadi partner kerja. Namun ternyata saya cuman merem melek nggak paham juga (balik lagi ; karena memang nggak akrab, jadi saya tidak bisa berhubungan lebih jauh dengannya -si internet-). Pokoknya, saya mati kutu kalau ketemu 'google', 'yahoo', apalagi sekarang ada 'kubuntu', ada 'linux' ada 'open source' dan lain-lain istilah yang bikin saya kekenyangan.

Itulah, kalau kemudian cerita berlanjut dengan sebuah 'perjodohan' (hehe...). Siapa nyana kalau saya berjodoh dengan seseorang yang paham dengan itu semua. Dan ketika status 'istri' pertama kali saya sandang, maka yang namanya internet, hampir jadi santapan sehari-hari (note : nada suaranya rada bangga gitu). Betapa tidak, akses internet kebetulan bisa 24 jam sehari. Sehingga, silahkan mengenyangkan diri dengannya.

Singkat kata : saya kemudian diajari 'seseorang tersebut' untuk membuat blog. Apa motivasinya sebagai guru pribadi saya? "Blog tidak harus untuk dipublikasikan. Blog bisa saja dipakai sebagai 'kotak penyimpan', tanpa kita takut suatu saat 'missing' dengannya (paling2 kalau internetnya mati). Sama seperti buku diary. Hanya bedanya, kita tinggal klik 'save' untuk menyimpan, dan akan tersimpan secara 'abadi'. Kita nggak lagi harus bingung "dimana gue mesti simpen diary gue? Gimana kalo ilang", dll".
Thats it, simpel. Saya pun memindahkan isi folder-folder ajaib saya di hard disk, ke blog baru saya (yang template nya sudah berganti 3 kali, karena ga bisa bikin template sendiri, jadi ga puas-puas juga). Apa isi folder-folder Diary saya itu? Ya inilah, yang ada di Box-nya Blog "House of Love". Saya belum kebayang jauh, ada yang mau menyambangi secara spesial blog saya, apalagi berkomentar, apalagi kasih nomer rekening. Saya pun yakin, kalau si guru pribadi saya pun belum membaca seluruh postingan yang ada (guru juga manusia kan, ga harus tahu semuanya.. hehe..).

So, saya ga terlalu mentingin tuh, apakah blog saya dikunjungi atau dikomentari. Karena semua catatan yang ada tendensi nya ke saya pribadi, dan syukur2 ke anak2 saya yang pintar2 itu. Makanya, sampai sekarang saya sama sekali belum pernah launching blog ke siapapun, kecuali adik perempuan saya. Itupun karena dia memohon2 saya untuk mengajarinya bikin blog (saya senang, akhirnya saya -seorang murid ini- bisa jadi calon 'guru blog'). So, kalau mau jadi seleb lewat blog, rasanya jauh deh. Apalagi kalau, blog-nya jadi nominator blog seleb. hihi... ga berani deh, nyaingin Mas Pri, Mbak Lita, Nita&Enda, dll (mas, mbak, maaf lho, nggak nge-link juga. Insya Allah kapan2 saya edit deh).

Nah, lain ceritanya, kalau tiba-tiba ada seorang teman yang meminta web-blog saya, yang katanya mau melihat 'pencerahan-pencerahan'. Ada juga yang tiba-tiba 'memungut' kutipan catatan saya di blog untuk di'selipkan' di hak milik pribadinya tanpa mencantumkan 'by' siapa nya. Atau kalau tiba-tiba ada yang bilang tersanjung setelah baca blog saya. halah... yang ini paling ngawur. Tapi sumpah deh, saya belum lanching blog saya ini ke siapa-siapa. Atau jangan-jangan.................................................................................

Mungkin saya perlu pertimbangkan saran seorang teman saya yang perspektif, untuk mengabarkan si "house of love" ini. Ya, ga papa lah, itung2 belum bisa nerbitin buku sendiri. Ok dee... konsultasi dulu nih sama guru pribadi. Apakah beliau bersedia, kisah2 cinta kami 'terpublikasikan'? hehe... (ah, sok banget sih..)

Intinya dek (spesial buat adikku yang pengen punya blog), kalau pengen punya blog, ga harus dengan paradigma 'bakalan di santap' oleh orang2 di dunia maya. Jadi, ga usah tuh, bingung2 ngelihat-lihat blog orang biar bisa meniru, lalu mewarisi, lalu menjadikan dirinya sebagai seleb blog. Kembali lagi, menulislah, bertuturlah, berkisahlah, bertindaklah, bersikaplah, terlepas apakah orang menghargai, membalas, memberikan apresiasi, mengomentari, atau mendiamkan. Tapi tetaplah pada pijakan, untuk menjadikan segala 'hasil karya' sebagai apresiasi diri, penghargaan pada diri sendiri (yang nantinya bakalan sendirian lagi), layar dan cermin instrospeksi. Dan muaranya tentu saja : kembali pada fitrah, untuk sebuah perbaikan yang tak henti.

Oke dek, kutunggu blog-mu ya..

Buat "para seleb blog", makasih ya, inspirasi-inspirasinya. Akhirnya tulisan tiada pernah berakhir berkisah (walau tak dibaca orang sekalipun). Anda adalah para guru bagi para pemula seperti saya (jasamu tiada..........tara.........).