Empat belas malam.
Bukan waktu yang pendek untuk sebuah penantian yang pasti.
Bahkan jam mungil di ujung meja pun hampir beku menghitung lamanya.
Belum lagi bilangan retas hujan yang belakangan menggantikan masanya tiap tahun, yang konon membentuk stalaktit di ujung waktu.
Tapi saat itu belum juga tiba.
Ahhh................................................................................................................
aku lelah. Teramat lelah untuk menghitung waktu. Waktu yang kian hari kian penat. Semula aku tak memperhitungkan sama sekali bakal menjalani eksekusi waktu yang demikian.
Kupikir, tinggal tunggu dan bahkan mungkin aku bakal terkejut dengan saat-nya yang tiba-tiba datang sendiri tanpa kuperkirakan sebelumnya.
“Hah, sudah saatnya?!”, begitu kira-kira keterkejutan sederhanaku yang bakal meloncat keluar dari mulutku.
Tapi nyatanya tidak.
Menyesal? Kecewa? Sedih? Oh Tuhan..... bahkan aku sendiri tak mampu memberikan judul pada rangkaian perasaanku itu. Kalaupun menyesal, pada apa aku harus menghantamkan rasa sesalnya? Jikapun kecewa, bagaimana aku menyusupkan raungan tangisku? Dan bilapun sedih, seperti apa memaknai kesedihan -yang bahkan beraroma kebahagiaan dan sejuta harapan serta impian, juga kebanggaan dan ketiadataraan, dan entah apalagi sastra yang tepat untuk menamainya- dalam rongga harapan? Bukankah tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini, selain masih memiliki nafas harapan, asa, impian, dan sejenisnya?!
Tuhan.... (bahkan aku pun bingung saat bercerita pada Tuhan tentang hatiku).
Apakah aku ini manusia yang tak tahu diuntung? Apakah aku ini manusia yang angkuh? Egois? Sok tahu? Keblinger? Tidak sabaran? -Kalau ada nama-nama yang lebih jelek lagi -pun malah kelewatan-
Lalu, Bagaimana aku ini diberi judul? Hhhhhhh......................................................
Untung saja tidak semua yang punya keberadaan harus diberi judul. Lha wong kadang nama kita saja kurang cocok dengan diri kita sendiri :-)
ah, jadi ingat dengan kesepian ini lagi.
Kalau saja ada yang selalu menemani detik, jam, sore, malam, juga membantuku membunuh sepi, sunyi dan kesendirian yang mencekam.
Jangan ditanya apakah aku tak punya kekasih. Aku punya! Sangat2 terkasih...
tapi dalam suasana seperti ini, keceriaannya, kegembiraan di wajahnya, dan ungkapan manisnya, justru membuatku tersuruk... uh! Makin menjempitku dan mendakwa-ku, betapa aku ini memang tengah sendiri, sunyi, sepi dan menyayat hati... hiks.. bayangkan! Betapa menyedihkannya, sendirian di alam seramai ini! Apalagi ditemani seorang kekasih yang amat sayang..
Wahai “saat” yang kunanti..............kapan dirimu datang menyapa............hingga sepiku pergi, sunyiku tumbang, dan sendiriku tenggelam, musnah! Agar aku bisa mengusir kebimbangan menamai suasana ini, agar aku bisa bersama kekasihku menikmati indahnya dunia dengan ceria, gembira, juga ramai bersama-mu!
-- tulisan ini dibuat ketika si dedek berusia 38 minggu di dalam rahim. Perkiraan dokter, si dedek bisa saja lahir pada usia kandungan 37 minggu. Karena posisinya yang sudah sempurna, ditambah cairan ketuban yang sudah mulai berkurang. Wah, jadilah tak tanggung2 si dedek diajak jalan kaki yang jauuuuuhh-nya masya Allah (kata orang orang biar cepet lahir). Berkilo-kilo....berpeluh-peluh...sepanjang mampang, pasar minggu, buncit... Tapi si dedek ga ngajakin juga! Sudah kangen, nyaris ga sabar lagi, dan lain2 perasaan campur jadi satu. Tapi yang jelas : ketentuan Allah jualah yang menjadi ketetapan mutlak! --
Saturday, December 3, 2005
Friday, December 2, 2005
KEANGKUHAN ASA
aku tenggelam dalam penantian ...
bukan pada asa yang menggairahkan
namun kesepian, kesendirian
dan ketidakpastian
aku meluruh dalam perjalanan
yang menghamparkan impian kenyataan
yang dijelmakan dari tangis harapku dulu
aku rindu. telah sedemikian rindu
menanti dan terus menanti
dalam penat yang kian berarti
menenggelamkan biduk hatiku
yang kian rapuh. rapuh karena sunyi
aku hanya ingin hangatkan hatiku
menggenggamnya dalam ketulusan
merasainya agar sabar menjemput impian
meski perih merajut waktu-waktunya
sang Maha kusebut-sebut ...
aku tampak tak mampu lagi
menjaga milik-ku yang satu ini
aku minta Dia menjaganya
agar terjaga dan tak lagi terlempar
tersisih karena ketidaksabaranku
yang terus merintih ...
aku masih menunggu
walau sepi merajai nafas
(02.12.05)
bukan pada asa yang menggairahkan
namun kesepian, kesendirian
dan ketidakpastian
aku meluruh dalam perjalanan
yang menghamparkan impian kenyataan
yang dijelmakan dari tangis harapku dulu
aku rindu. telah sedemikian rindu
menanti dan terus menanti
dalam penat yang kian berarti
menenggelamkan biduk hatiku
yang kian rapuh. rapuh karena sunyi
aku hanya ingin hangatkan hatiku
menggenggamnya dalam ketulusan
merasainya agar sabar menjemput impian
meski perih merajut waktu-waktunya
sang Maha kusebut-sebut ...
aku tampak tak mampu lagi
menjaga milik-ku yang satu ini
aku minta Dia menjaganya
agar terjaga dan tak lagi terlempar
tersisih karena ketidaksabaranku
yang terus merintih ...
aku masih menunggu
walau sepi merajai nafas
(02.12.05)
Subscribe to:
Posts (Atom)
