Showing posts with label Apresiasi. Show all posts
Showing posts with label Apresiasi. Show all posts

Thursday, June 24, 2010

Mari Berkarya!!































Judul 1 : Jalan Pinggir Kota

Judul 2 : Rumah-rumah


Ini dia hasil karya Alif dan Afra di hari liburnya...

Bahan-bahan :
- kertas lipat warna warni
- sisa-sisa kertas kado
- lem kertas
- kertas gambar
- stiker (kalo ada)
- crayon (buat nambah-nambahin aksentuasi)

*kertas-kertas bisa diganti kertas koran bekas, kertas majalah, apa saja. Stiker juga bisa diganti dengan aneka bentuk yang ada di majalah atau koran. Alif dan Afra heboh demi menemukan gambar kesukaannya. Tapi suka gak nyambung sama tema. Sigh..

Kalo diliat dari hasilnya, pasti ketahuan deh bagaimana cara bikinnya. hehehe..

Kenapa ini yang dikerjakan? Karena di sekolah belum pernah ada kerjaan yang begini (mirip iya, misal menempel buku yang dibuat dari kertas lipat, dll. Tapi kalo full dari menggunting dan menempel kertas sisa, belum pernah). Dan pekerjaan ini dibuat secara kroyokan, antara Alif, Afra, dan tentu saja Ummi.

Siapa saja boleh menyumbangkan hasil karya-nya untuk ditempel di atas kertas gambar, asal sesuai konteks...
Maka tak heran, stiker bulan (di karya berjudul "Jalan Pinggir Kota") dua biji dari Afra ditolak Ummi.

"Biar lebih terang, Ummiiii...." (ih, maksa!)
"Enggak, mana ada Bulan kok dua?"
"Ada, itu kan adiknya Bulan, Ummiiiii...."
. Tentu saja dengan nada teriaaakkk (biar lbh heboh).

"Tetap tidak, Afra!", jawab Ummi tak kalah teriak.

Apa kata Ayah nanti, ini kan kerjaan atas supervisi Ummi, masa Ummi acc aja, ada dua bulan di langit???

ada-ada aja....


*perhatikan gambar mobil di Judul 1. Mobil warna ijo-nya aneh banget yaa... Jaguar bukan, Porche bukan...




Thursday, February 4, 2010

Tertarik, Kagum, juga Penasaran


Saya sebenarnya termasuk orang yang gampang tertarik pada orang lain.
Karena, tiap orang itu unik. Tiap orang itu eksis. Dan tiap orang itu punya posisi di jagat Bima Sakti ini.

Makanya, saya selalu tertarik.

Walau... saya sangat tidak mudah kagum pada orang lain. Karena tiap orang punya kemampuan masing-masing, punya modal masing-masing, punya keinginan masing-masing, dan punya tujuan masing-masing.

Makanya, saya tak mudah kagum pada orang.

Namun kalo kemudian saya tertarik pada satu sosok, lalu kagum, lantas penasaran hingga kini, maka cuma dia-lah orangnya.

Untuk seorang pria (ya, ternyata dia pria.. fiuhh..), tinggi badannya rata-rata saja. Tidak terlalu tinggi. Namun tegap. Proporsional, atletis, dan juga lincah.

Gaya rambutnya unik, lurus, tebal ala punk (tapi nggak nge-punk). Saya nggak tau warna asli rambutnya memang seperti itu, atau tidak. Abu-abu keperakan.
Ilmu beladirinya jangan ditanya. Luar biasa. Itu yang membuat saya kagum. Saya hampir nggak pernah lihat dia kalah di arena pertarungan. Kalau melihat dia bertanding, jantung rasanya berhenti berdetak, badan ikut tegang, tak acap dahi mengkerut, dan alis naik turun. Tapi dia 'selalu' menang memang. Great!

Pakaian ala prajuritnya membuat komplit penampilan yang keren, tangguh, macho dan.. lah segalanya serba pas.

Walau terlihat begitu jantan, dia penyuka novel. Ini yang membuat saya makin suka pada sosoknya. Di sela latihan atau melatih murid-muridnya bela diri, membaca novel adalah kesibukannya.
Keras, namun pengertian. Tangguh, namun romantis. Konyol, cerdik, tapi juga kaya wawasan dan mendalam secara emosional.

Dia punya tugas yang berat dalam melatih dan membina timnya. Menurut saya, tim-nya adalah tim yang paling kompleks dan paling berat ditangani, karena begitu beragam kepribadian dan keahlian.

Sosok yang komplit. Saya tertarik, saya kagum, dan masih penasaran hingga detik ini.

Mata Sharingan implantasi dari temannya si-"crying baby", pedang ayahnya, si-White Fang, Chidori, Rasengan (dg satu tangan)... kepekaan hatinya, kekuatan fisiknya, juga ketajaman otaknya... hhh... saya speechless... Dia bukan paling hebat, tapi paling menarik!

Tapi saya memang masih penasaran... Bagaimana wajahnya??
Karena wajahnya selalu tertutup masker. Walau masker, ikat kepala Konoha, dan slayer mata satunya, memang membuatnya tampak makin keren,.......
Tapi bagaimana wajahnya??

Saya masih penasaran..

Jangankan saya sih, murid-muridnya; Sasuke (yang kemudian 'digantikan' oleh Sai), Sakura dan Naruto pun, tak pernah tahu bagaimana wajah sensei-nya ini.

Ah, peduli amat..
Kakashi Sensei.. teruskan perjuanganmu.
Suatu ketika, semoga penasaranku terjawab.
Mashashi Kishimoto...please... (awas ya, tokoh yang ini nggak boleh mati, Naruto juga! arigato!)


Nb: photonya emang ga nyambung...wkwkwk...

Tuesday, February 2, 2010

Borobudur : Ajiibbb !!



Bangunan megah yang luar biasaa...

Konon bangunan candi ini dibangun di abad VIII pada Dinasti Syailendra.

Kabarnya pula, candi ini dibangun dengan tatanan sekitar dua juta batu di antara aliran Kali Elo dan Progo dengan total volume bangunan mencapai 55.000 meter persegi.


Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, dan kabarnya, sempat tertimbun abu letusan Gunung Merapi pada tahun 950 Masehi.
Pada tahun 1991 UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia yang wajib dilestarikan dan termaktub dalam World Heritage List Nomor 592. Keren kann??

Seingat memori, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Borobudur, candi megah yang menjadi candi favorit saya di antara beribu candi peninggalan sejarah di Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi 'utuh' yang penggambaran sejarahnya masih terasa 'utuh' pula.

Terakhir kali mengunjungi Borobudur di Bulan Oktober 2009 yang lalu, saya betah berlama-lama berada di areal candi, yang sayangnya saya datang di waktu sunset. Sehingga kesempatan untuk menjajaki candi tinggal sedikit waktu. Kawasan candi ditutup pukul 17.00 atau pukul 5 sore. Menyaksikan kemegahan candi ini, terasa betul bagaimana 'keajaiban' itu memang ada. Masa di mana teknologi dan insinyur belum ada, namun bangunan dengan arsitektur dan relief yang relatif berkualitas tinggi ini sudah 'mampu' berdiri. Megah, kokoh, menakjubkan. Walau beberapa patung pertapa atau arca Budha sebanyak 504 buah, sudah tak utuh (tinggal leher dan badannya saja, hidungnya cowel, atau tanggannya tinggal setengah siku), namun bangunan candi ini masih terasa indah dan luar biasa.

Ketika meraba batu berbentuk stupa itu.., rasanya.. luar biasa.. kokoh! Undakan tangga yang curam, nuansanya penuh misteri dan tantangan (tak terbayang untuk mendakinya setiap hari). Puncak-puncak stupa 'kecil' yang mengelilingi stupa tertinggi yang paling megah itu.. menularkan emosi ketakjuban dan penuh memori yang entah tersimpan di stupa bagian mana dan di masa yang mana.
Ajaib.. Subhanallah...

Terhitung sejak februari 2010, harga tiket masuk candi mengalamai kenaikan. Harga tiket untuk wisatawan nusantara (wisnus) kategori umum pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp12.500 menjadi Rp15 ribu/orang. Sedangkan hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional naik dari Rp15 ribu menjadi Rp17.500/orang.
Harga tiket untuk wisnus kategori anak-anak dan pelajar secara rombongan dengan jumlah minimal 20 orang, pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp7.500 menjadi Rp10 ribu/orang. Sementara hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional dikenakan Rp11 ribu/orang. Ia mengatakan, harga tiket wisnus umum pada musim liburan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Rp25 ribu/orang dan wisnus anak-anak atau pelajar Rp12.500/orang.

Untuk harga tiket wisatawan mancanegara (wisman) umum, naik dari 13 dolar AS menjadi 15 dolar AS/orang dan wisman anak-anak atau pelajar naik dari tujuh dolar AS menjadi 8 dolar AS/orang. Harga ini dengan asumsi kurs 1 dollar senilai Rp 10.000,-.
Bagi yang membawa kamera, maka dikenakan bea kamera (sayangnya saya lupa berapa besarnya. kalau tidak Rp. 5000,- ya Rp 1000,-).

Para pengunjung pun sekarang diwajibkan melewati
metal detector sebelum memasuki areal candi. Bayangkan saja wisata candi, wisata abad lampau, tapi ada metal detectornya. Nggak nyambung sih, tapi mau bagaimana lagi. Hehehe..

Terhitung sejak Februari 2010 pula, para pengunjung dilarang mengenakan celana pendek, rok mini atau sepatu high heels (sebenernya buat
high heels, bener juga, masa iya 'mendaki' candi pake high heels sih.. hebat dong.. kekekek...). Untuk celana atau rok mini, dimaksudkan dalam rangka menghormati candi dan sejarah (karena nilai leluhur dan religinya). Padahal kalau 'mendaki' menggunakan rok mini, ribet juga sih...

Karena bersama anak-anak, agak ribet juga mau menjelajahi setiap senti bagian candi. Apalagi mendakinya saja sudah cukup melelahkan. Namun kunjungan kali itu cukup memuaskan.

Satu hal yang masih mengundang rasa penasaran dan belum kesampaian, adalah menyaksikan pentas kesenian tradisional Dayakan/Topeng Hitam, Kubro Siswo, Soreng, dan Jathilan yang rutin diselenggarakan di area candi, juga pentas Sendratari Ramayana yang kesohor itu.
Kapan yaa...(ada yang mau menemani??)


(informasi tambahan; dari berbagai sumber)


Friday, January 22, 2010

My Stylish Corby's Review..

That's my review about My Corby...

Di awal peluncuran hape qwerty ini, saya langsung jatuh hati. Dasarnya ga pernah nonton tipi atau liat iklan koran/majalah, saya menemukan corby di Mal Taman Anggrek melalui flyer-nya. Wiihhh... gue banget dah ni hape.

"Must have item nih Yah.." said to my husband.
"Hape kamu kurang apa sih.." he answered with 'smiley'.

Iya sih... kalo cuma soal per-hape-an, Nokia Express Music 5800 (hasil kerja proyek) saya juga masih jauuuuhh lebih keren ketimbang ni Corby. Warnanya black n red, memory 8GB, touch screen.. pokoknya sdh cukup keren lah buat ukuran saya. Tapi, mengingat saya butuh 1 handphone lagi untuk proyek kerja yg lain, dalam hati saya berjanji : this corby, as soon as possible, i'll get it!

Alahmdulillah... tak lama kemunculannya, saya bisa membeli Samsung Corby TXT dari sisa-sisa uang keringat.. (bau tau uangnya)
seharga Rp.1.485.000 . hehe..

Cara belinya yg ga keren : di Plaza Kalibata, jelang maghrib, pas beli pastel goreng seharga Rp.4000,-. Iseng bertanya pada counter hape di depan Giant "Mas, punya Corby ga?"

At least, puasss make corby ini. Dengan harga banderol segitu, kualifikasinya cukup okeh.

What Color is your life? And i chose this ones : Black and white (habis yg ready cuma white and yellow sih) two white and one black alias dapet 3 chasing, yaitu 2 putih -yang satunya ada buble2nya, dan wana hitamnya satu.

Corby stylish banget.. enteng, genggamannya enak...sletheph!
Buat fast message, buat FB-an, buat nggaya..hehehe.. okeh! Lumayan buat second hape, apalagi 3rd mobile phone.. (tapi ga usah banyak2 lah, ngapain juga punya hape banyak2, susah ngasih makannya).

Tapi pastikan ini sebelum Anda pilih corby :
1. perempuan. cos i think corby is a girls/women style. cowok ga macho banget deh megang ini.
2. berjari lentik. walau qwerty, namun tuts keypads nya mungil2.. jadi yang berjari chubby, ribet juga ngetik pake corby.
3. ga usah pota-poto banyak2 (walau kualitas kamera 2.0MP-nya cukup okeh. soalna ga ada kabel data. susye mau unggah poto -walau ada bluetooth)
4. jangan buat nyimpen film. hehehe (coz free memory-nya cuma 1GB microSD)

My Corby is My Color!



Saturday, January 16, 2010

Internet oh internet ...

Sudah lama tak menyapa SL-ku..

Ceritanya, saya resmi meluncurkan akun FB. Ya ampyunn telat banget yak?
Sebenernya akun FB saya sudah lama terdaftar ke server. Tapi memang bukan buat diapa-apain, selain untuk kepentingan 'pekerjaan' semata. Setelah tidak lagi mengurusi kerjaan terkait dengan si FB, ya tamatlah ke-eksisan si FB itu. Udah ga ada friend-nya, ga ada penggemarnya.. haha..

Yah, tapi apa mau dikata...

Tampaknya Era FB emang sedang masanya. Kegigihan saya untuk tak punya akun FB, akhirnya kandas juga. Bagaimana tidak? kalau cuma dianggap gaptek karna ga punya akun FB 'hare gene', oke lah.. soalnya bukan masalah gaptek ga gaptek. Karna walo ga punya kun FB, temen-temen yang ber-FB ria suka konsul about FB ke saya. Cuma kalo soal gapfor alias gagap informasi, nah ini baru.. bener. Masalahnya saya yang tak berlangganan koran, tak suka nonton tipi, males buka HP (HP nya sileeeennt melulu), walhasil jadi orang dari dunia antah berantah. Apalagi di masa kini, orag mengupdate info, berbagi kabar, pasang pengumuman, sampai mengirim undangan menggunakan FB!

Internet memang tengah menjadi rajanya sosialita dunia. Jarak bisa dipersempit, waktu bisa dipersingkat, biaya bisa dihemat, bahkan kemalasan pun diakomodir (nah lho?). Dengan internet, apa yang enggak coba?!

Dulu di masa 90-an, ketika handphone mulai memasuki era komunikasi manusia, secara signifikan penggunaan telepon seluler ini langsung pesat. Makin nambah tahun, pengguna telepon genggam makin jamak. Yang dulunya cuma dipake oleh direktur, bos proyek, atau menthok di anak konglomerat, pada selanjutnya, bahkan semua golongan ekonomi dan pekerjaan 'wajib' kudu punya HP. Mbok jamu, tukang pijat keliling, tukang mie ayam gerobak, sampai loper koran, semua tampak butuh HP untuk menerima pesanan. "Terima pesanan melalui sms : 08********" Giliran ada calon customer ga punya HP, cuma geleng-geleng kepala.

Tiap ada orang baru berkenalan, yang langsung ditanyakan adalah : "no hp-nya berapa, mas?" Era Hp kemudian disusul era email. Jadi setelah bertanya no HP, pertanyaan berikutnya adalah : "alamat email apa, mbak?". Nah sekarang, "FB nya, bu?" merupakan pertanyaan kedua dari urutan pertanyaan orang yang baru saling kenal dan bertukar informasi kontak pribadi. Urutan pertama masih : no hp. Padahal dulu, selain nama dan nomor telepon, orang akan menanyakan alamat rumah. Lha kalo sekarang? Hwaduh.. kebanyang deh.. kalaupun tahu alamat rumahnya, apa iya mau maen?! Jauh kali.. macet.. ongkosnya? Waktunya? Kalau bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi secara online, kenapa mesti offline?

Survey yang dilakukan TNS Global akhir tahun lalu (2009) menunjukkan gejala di dunia, bahwa 30 persen atau sepertiga dari waktu luang masyarakat di negara maju sudah dipergunakan untuk online. dari hasil penelitian pula, dapat dilihat bahwa ternyata penetrasi internet untuk hiburan dan santai ternyata lebih besar di negara-negara Asia. Kenyataan ini tampaknya sangat mungkin pula untuk negara Indonesia, di mana hal-hal ringan dan santai lebih disukai. Maka tak heran jika facebook dan twitter bisa laris manis di Indonesia bagai krupuk dan kripik, karena kontennya sangat cocok untuk bersantai.

Sayangnya, dengan berkembangnya teknologi komunikasi virtual ini, secara otomatis menyusutkan tingkat komunikasi tradisional alias komunikasi tatap muka di seluruh dunia. Bayangkan, dengan kondisi sekarang, dimungkinkan dalam sepuluh tahun ke depan, seluruh anggota keluarga Anda masing-masing akan sibuk ber-online ria. Padahal, di masa kini, kebiasaan makan bersama seluruh anggota keluarga sudah kian sulit diwujudkan, akibat peningkatan kesibukan dan perkembangan zaman serta teknologi. Apalagi kini, Anda tak perlu ribet menggunakan PC (komputer) untuk bisa online. Segenggam handphone sudah cukup memudahkan Anda. Ditambah lagi hadirnya teknologi 3G, munculnya handphone sejenis Blackberry, lengkaplah sudah kemudah itu.. sambil makan, sambil nge-gym, sambil kuliah, sambil nunggu bus, sambil gelantungan di busway, sambil nunggu anak-anak main, sambil nunggu istri pulang kerja, sambil di toilet pula..

Di negara maju, mereka yang berkomunikasi lewat e-mail dengan teman sudah mencapai 78 persen, dibandingkan tatap muka yang sekitar 84 persen. Sementara via mobile phone atau sms, sudah mendekati 70 persen responden mempergunakan handphone sebagai alat komunikasi utama (internet masih lebih 'menang' ketimbang handphone ternyata).

So, meng-update informasi & teknologi dan mengunduhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, memang penting. Namun tetap, tidak secara berlebihan dipergunakan. Yang tampaknya penting juga, jangan latah. Karena kalo sudah terlanjur latah, susah ngobatinnya. Hehe..

Semoga makin tingginya tingkat komunikasi melalu internet dan telepon seluler tidak membuat ketrampilan berkomunikasi langsung (tatap muka) kita menurun. yang berakibat pada menurunnya ketrampilan sosial dan kepekaan antar pribadi. Banyak hal, tetap saja komunikasi tatap muka, silaturahmi langsung dan copy darat, masih sangat diperlukan. Komunikasi antar persona, tetap punya kelebihan. Ada bahasa tubuh, ada kontak mata, ada sentuhan fisik, yang maknanya kaya dan mendalam ini, tentu saja belum bisa 'dijembatani' oleh teknologi virtual.

Pelengkap data : www.marketing.co.id

Thursday, January 24, 2008

Sampah dan Surat di Bus Patas

Sore itu, usai 'menunaikan' agenda pekanan yang -seperti biasa- riuh rendah dan membahagiakan, saya terburu-buru pulang. Suami terkasih saya sudah menanti.

Kami berdua mau nge-date. 'Jalan-jalan' ke Tangerang. Hari itu empat puluh hari meninggalnya ibu. Dan sebagaimana urf/ budaya yang mengakar di masyarakat setempat, kami mengadakan Doa Bersama (mungkin lebih kerennya : tahlilan 40 harian).

Menjelang pukul 5 sore, kami berdua baru siap berangkat dari rumah. Maklum, makan, mandi dan menyampaikan sederet maklumat pada para dayang-dayang, putri salju dan pangeran berkuda terlebih dahulu.

Di atas Bus Patas AC (yang ACnya hidup segan mati tak mau). Naik dari Slipi, jurusan Tangerang. Bangku penuh, hanya beberapa yang kosong. Itupun tak bersisian. Artinya, saya tak bisa berkasak kusuk dengan suami secara lebih aman.
Tiga bangku berderet, yang di sisi lorong, kosong. Saya pun segera duduk. Sayang sama badan dong... walau tak cukup sayang dengan badan suami, yang 'terpaksa' berdiri di sisi saya. Karena dengan tiba-tiba beberapa bangku yang kosong sudah terisi.

Di samping saya seorang perempuan yang tengah asyik menikmati camilan. Waduh.. baunya.. menggoda. Perut keroncongan. Kebetulan yang dimakannya berupa kripik. Yang kalau dikunyah (apalagi dengan cueknya) maka akan bersuara nyaring "kruek-kruek-kruek..gress-gress..nyam". Si Mbak itu cuek banget ngunyah kripik sambil terus berceloteh dengan kawannya (bukan ngomongin orang yaa.. Cuma membahas perilaku nya saja!). Saya hanya berpikir, ternyata, memang nggak cukup sopan ya, makan di kendaraan umum semacam ini. Apalagi kalo yang dimakan kripik. Apalagi ngunyahnya cuek banget. Boro-boro nawarin atau minta izin sama orang di sampingnya. Dan ternyata memang cukup mengganggu. (Saya sulit menjelaskan di mana letak mengganggunya).

Saya mencoba mengingat-ingat. Kira-kira kapan ya, saya menikmati makanan di atas kendaraan umum semacam ini. Maka saya temukan daftarnya : di atas metromini kala hamil Alif (bus sedang kosong kecuali kondektur dan supir plus tiga orang duduk di kursi paling depan), di atas kopamilet jaya -ngunyah permen karet karena mual, hamil juga-, di atas bus patas AC waktu mau ke depok, dan hanya duduk berdua bersisian dengan sang suami, dan juga di atas taxi. Kalau minum? Hampir di semua kendaraan umum, saya pernah melakukannya (maklum, jakarta panas dan kering!) Ah, ada gak ya, di antara daftar itu, yang ketika saya lakukan perbuatannya mengganggu orang lain? Semoga tidak..

Ah, ya sudahlah, mungkin saja si Mbak ini juga sedang hamil? (hehe...nuduh. kayaknya masih gadis sih..). Atau sedang sangat lapar tapi belum sempat makan? Oh ya, kalau saya jadi dia, dalam kondisi serupa (dari yang saya perkirakan tadi), pasti saya akan makan juga di atas kendaraan umum. Tapi saya tidak akan mengabaikan orang di samping saya, dengan "maaf ya mbak, saya makan. belum makan dari pagi sih". Yahh mungkin -kalau dari sudut pandang saya, orang di samping saya ga bakalan terlalu kesal akibat saya terlalu cuek menikmati makanan.
Lha wong tetangga yang mencium aroma masakan kita aja sunnahnya 'dibagi' masakannya, apalagi ini teman seperjalanan, status jelas : sama-sama musafir! Halah..

Saya cuma menghela nafas saja. Semoga nggak banyak orang yang secuek ini. Eh ternyata belum apa2 kejadian makan di atas bus umum. Yang justru jadi menusuk hati saya adalah, ketika makanannya habis! Apa karna saya tidak dibagi? Bukan. Tapi karna bungkus makanan tersebut dibuang (tetep dengan cueknya) di lantai bus (busyeettt... eh... masya Allah). Ini nih, yang kalau menurut saya : benar-benar mengganggu ketertiban umum! Kalau yang ini benar-benar sudah dzalim. Memangnya bus kota itu tempat sampah? Kenapa nggak dilipat, disimpan dalam tas untuk kemudian nanti dibuang di tempat yang semestinya? Kecil memang, cuman satu bungkus. tapi kalo setiap orang di bus ini berpikiran sama dengan si mbak? Berapa puluh kantong bertebaran? Baunya, bikin risih di kaki, sarang nyamuk, dll buanyakk. Ah...

Usai membuang kantong makanan tersebut, si mbak menyibakkan rambutnya yang tebal terurai. Tertebar aroma wangi. Wuihh... sih mbak ini rambutnya wangi. Spontan saya melirik ke kanan, dan tampaklah oleh saya perempuan berwajah (lumayan) cantik, kulitnya bersih! Namun malang... eh sayang... kalau menjaga kebersihan umum kok gak bisa mbak? Bikin cantik dikit bus kota kita dengan gak buang sampah sembarangan aja kok nggak bisa mbak?

Saya mulai mencari-cari kertas. Gak bisa dibiarin. Masa iya, saya diem aja, melihat 'kedzaliman' ini? Mau berapa banyak lagi orang yang cuek buang sampah? saya mesti melakukan sesuatu. Notes saya tertinggal!

Bus berhenti, dan serombongan orang turun, membuat banyak kursi terkosongkan. Saya mengajak suami pindah ke bangku dua deret. Segera saya menemukan secarik kertas karcis trans Jakarta. Di lembar putihnya, saya pun mulai menuliskan surat. "Mbak cantik dan wangi. Sayang, kok buang sampah sembarangan?" Nggak nyambung. Biarin. Saya lipat kertas itu, bermaksud memberikan padanya saat turun nanti. Dari deret kursi saya, tampak kolong kursi tempat si mbak duduk sangat kotor. Tuhkan, sudah banyak? Apalagi barusan ditambahin lagi?!
Jadi sebenarnya ide buang sampah sembarangan bahkan di atas bus itu hoby, budaya, atau ketidakpedulian ya? Bete. Apa iya, kalau liat sampah berserakan, malah bikin kita semangat untuk melanjutkan 'perjuangan' membuang sampah sembarangan juga?

Tak lama bus pun berhenti. Si mbak beranjak bersama kawannya, langsung merangsek ke pintu hendak turun. Tak melewati saya. Saya hendak menyusul. Bodoh. Suami saya menggenggam tangan saya untuk menahan tindakan saya berikutnya, "nggak usah lah", katanya. Saya enggan berdebat dengannya. Saya manyun.

Saya simpan kembali surat tulisan ceker ayam itu. Semoga saja saya tak sampai pengen memberikan lagi surat itu. Artinya, jangan sampai ada yang memancing saya, untuk bernafsu memberikan surat serupa itu pada yang lain.

Atau ada yang mau menyimpan surat saya untuk mengingatkan diri sendiri?

CIPTAKAN BUDAYA BERSIH DAN TERTIB. SELAMAT BERJUMPA DI KENYAMANAN HIDUP.

Monday, December 3, 2007

Bukuku Belum Jadi-jadi

sEDih ...

Begitu, yang tergores di hati, kala membaca tulisan-tulisan karya penulis muda yang penuh bakat dan semangat. Begitu banyak nama. Begitu banyak kreasi, dan begitu banyak kisah dan makna.

Kalau soal menulis, saya termasuk rajin menulis. Mulai dari Diary-nya anak-anak, resep masakan, daftar belanjaan, sampai nomer telepon. Tapi saya heran, kok saya nggak bisa bikin buku seperti mereka-mereka ya...?

Waktu. Apa iya saya tak punya cukup waktu? Memang, mengurus anak dan segala keperluan rumah tangga adalah 'pengurasan' energi dan waktu. Tapi masa iya, saya hanya punya waktu luang untuk 'bernafas' saja? Wihhh... sesibuk apa?!

Usia. Sejujurnya saya ada di usia yang cukup produktif kan? 26 tahun, belum terlalu tua, belum terlalu tua (tua-muda relatif yak!). Harusnya saya masih cukup trampil mengetik, menulis, berpikir, mengingat, menganalisa, dan mungkin : membuat buku.

Gender. Halah, kayaknya penulis wanita sangat tidak kalah heboh dengan penulis pria kok.

Tema. Aduhhh... masa sih, tema seluruh dunia, sepanjang hidup, seluas asa, seramai mimpi, setinggi langit, nggak ada satu pun tema yang bisa digarap? Pasti ada lah... (ga kreatif nih..)

Fasilitas. Ah, kayaknya banyak yang hanya modal kertas dan pulpen bisa menciptakan karya-karya besar? Masa ada komputer, internet, telepon dan buku, masih nggak bisa mencipta juga?

Kemauan. Nah, ini dia, kemauan sih ada. Tapi cuma sebatas 'ada' namun 'tiada' alias pengen, tapi nggak mau ngapa-ngapain. Hihihi.. Masa' buku datang dari langit? Pembelaan : kenapa semua berjalan mulus di awal. Namun sampai tengah jalan, selalu bingung mau belok ke mana. Atau jadi heran sendiri, ini tadi sebenarnya mau ke mana ya? nah kan.. Kemauan nggak didukung keyakinan dan usaha yang optimal, jadinya bingung dan... linglung. hhihhiii .....

Usaha. Nah, usaha sih selalu ada. Usaha buat ngintip tps-tips sukses para penulis sukses. Juga... usaha untuk ... ngeles, cari alesan kenapa buku-nya nggak jadi-jadi. Usaha separo-separo, kurang fokus, tergantung mood dan duit (?).

Konsistensi. Wahh, konsisten habis buat nulis lho... Nulis diary Alif dan Afra, nulis catatan daftar belanja, nulis posting email, nulis blog, nulis resep masakan, sampai nulis2 jadwal acara bagus di tipi dan Kid's event yang keren2 di Jakarat. Kurang apalagi coba? Cuman kalo suruh konsisten mantengin satu tema tulisan... ga kuat!!! Hehe..

Mental. Apalagi yang satu ini. Nggak punya gue!! (ngakak sambil ngacir)

Yahhh........... jadi kapan dong, bukunya terbit? Kapan-kapan ya... Hehehe...

Thursday, November 22, 2007

Eksistensi Sebuah Pilihan-2


"Aku pengen kaya kamu, jadi full mom. Ga usah kerja dan ninggalin anak"
sebuah 'IM' masuk di Yahoo Massanger saya.

saya jawab dengan " :D " (nyengir)
Tapi dalam hati tersenyum. Lha wong semalam saya baru curhat sama suami, "Bang...aku lagi jenuh nih..." Dan sempat ngebatin, mungkin asyik kali ya, kalau balik kerja lagi. Ga bosen, tiap hari ketemu sesuatu yang beda.

Sorenya, 'IM' yang lain masuk. "Lagi jenuh nih.. Di rumah aja, bosen" (sori mbakyu, chating kita kucatut). dari seorang ibu muda cantik, yang kebetulan full mom full home.
Jawaban saya pun sama dengan yang tadi : nyengir. Soalnya, saya sempat ngebatin juga sebelumnya, si ibu yang satu ini enak juga. Kocek suaminya lumayan (sok tau ya), putrinya cantik, lucu, rumahnya dekat sama mertua (bisa buat mampir2), ada pembantu, punya mobil dan bisa jalan2 kemana aja, punya kesibukan bisnis jual-jual (jual apa aja tho mbak?), di rumahnya ada kolam ikan (ikannya kan bisa diajakin curhat), di rumahnya banyak taneman (ada yang bisa disiram-siram), dll.

Ya gitu deh.. dah ada kesimpulannya.
1st. Bahwa rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Enak ya si dia (padahal dia-nya lagi ngiri sama kita). Beruntung ya si dia (padahal si dia-nya ngerasa dapat ujian berat dari Allah). Dll.

2nd. Bosan bisa menjangkiti siapa saja. Orang yang kelihatan paling enak sekalipun. Artis, presiden, anggota DPR, supir bis, pemulung, dosen, dan banyak lagi. Mau yang kerja, nganggur, iseng, atau apalah, semua pasti bisa kena bosan, jenuh.

3th. Bosan adalah musuh bersama. Bosan harus diperangi bersama-sama. Tapi bosan juga sahabat lama, yang sesekali datang berkunjung. Sekadar menyentil dan mengingatkan kita, bahwa banyak hal yang perlu kita cermati. Membantu kita jadi lebih kreatif dan inovatif.

4th. Bosan bisa muncul karena kita terlalu banyak maunya. Sudah punya ini itu, tapi negarasa kurang, bakalan lebih enak kalau ada ina-ini ita-itu juga. Kita jadi banyak maunya, karena kita (maksudnya : saya) kurang bersyukur. So, mari perbanyak bersyukur ... (terlalu banyak yang bisa disyukuri tapi kita (maksudnya : saya) lebih banyak alpa).

5th. Nggak usah terlalu senewen dengan bosan. Dia makin ge-er jika makin diperhatikan. Selama kita tetap fokus pada apa yang sebaiknya dilakukan (tidak usah dulu berpikir soal : seharusnya), konsisten, on the right way.. keep on cool... secara tidak sadar, si bosan pasti juga pergi tanpa pamit (datang tak dijemput pulang nggak pamitan). Inilah saatnya eksistensi sebuah pilihan diuji! (mau tetap kerja, mau tetap di rumah, mau nganggur, mau iseng atau apa aja).

Saya juga heran, kenapa saya bisa bosan? Padahal ada kerjaan baru yang bisa mendatangkan uang (pesanan bikin buku) -soal 'uang' kan pasti menyenangkan. hehe .. Afra sudah makin besar, makin lucu. Apalagi Alif yang sudah makin pintar. Banyak film2 download baru yang belum ditonton. Wow! Ramai hati saya! Ramai rumah tinggal ini! Seramai House of Love!

So, mari kita bersama melawan kebosanan!!

Alif, Afra, Abang juga, maaf ya kalo sempat rada senewen ... abis jenuh sih ... hihihi...

Friday, October 26, 2007

Eksistensi sebuah Pilihan-1


Sebuah hari.. saat seseorang yang cukup 'beken' di sebuah komunitas, menelepon saya dengan suara beratnya.

"Assalamu'alaikum .. Saya F**** H***** .." dst. Singkatnya, beliau menawarkan sebuah 'agenda', 'mimpi' dan 'imbalan'. Jujur, saya tersanjung. Kala saya sedang 'sendirian', 'hanya' memberikan peran pada sekecil-kecilnya keluarga kecil saya, datanglah sebuah penawaran untuk membangun sebuah eksistensi publik kembali.

'Imbalan'nya, bagi saya tak kecil, walau tak sebesar yang diterima suami tiap bulannya. Tapi.. rasanya lumayan. Gamang, tentu saja. Ada suatu perseteruan diri yang luar biasa gemerlap dan gaduh. Bukan saya, kalau tak segera meminta pendapat sang kekasih.

"Bagaimana Bang ..?", tanya saya mengadu.

Segaris senyum yang meneduhkan itu mengawali jawabannya.
"Kamu selalau tahu mana yang terbaik kan? Aku akan mendukung"

Masalahnya tidak sesimpel saya menerima, saya menindaklanjuti,lalu saya 'akan menerima imbalan'. Tapi lebih, karna komunitas tersebut sedang 'galau', sedang 'perih' juga 'ramai'. Saya akan dihadirkan sebagai penengah, yang tidak ada pretensi dan tendesi yang memihak, juga saya dianggap profesional untuk menanganinya. (In fact : begitulah yang disampaikan oleh si 'beliau' tadi)

Di satu sisi saya tertantang untuk kembali fight di profesionalitas bidang yang enam tahun mendarah daging. Saya juga terpanggil untuk bersumbangsih mengurai kusutnya benang kisah yang ada di suatu tempat itu. Tapi ...

Kalau mau ber-rendervou masa lalu. Saya selalu ingin kelak menjadi ibu yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga. Walau, sama sekali tak tergambar dalam benak saya, orang seperti saya yang kursinya saja adalah jok motor (hi Kenji sayang ...), yang kasurnya adalah handphone yang bisa berdering di atas pukul 11 malam dan sebelum subuh tiba, dan yang piring makannya adalah permen karet (alias si permen karet ini sudah menjadi pengganjal perut sehari-hari), akan bisa berdiam di satu tempat, bergerak dari satu ke tempat lain dalam radius yang pendek, dengan jangkauan yang itu-itu saja, dengan 'pemandangan' yang itu-itu saja, sehari-hari, lebih dari 24 jam sehari! Namun kenyatannya, ketika saya memiliki kekayaan tak ternyana (keluarga) itu, saya benar-benar bisa melakukannya!!

Kerinduan selalu hadir, untuk bercinta lagi dengan si-Kenji. Tapi cinta saya pada 'kekayaan' sejati membuat saya benar-benar nyaris mangkir dari kenangan-kenangan indah bersama Kenji. Dan jika kemudian tawaran yang datang itu faktanya menggiurkan, namun saya tidak jadi menyantapnya. Jika saya harus meninggalkan si kecil Alif dan Afra untuk berjibaku dengan riuhnya tempat yang ditawarkan, ber-harakiri dengan bus kota atau taxi (yang tarifnya kian mahal), atau saya harus memencet bel rumah pada pukul sembilan malam sebagaimana saat kerja di tempat yang sama sebelumnya, hingga ketika suami siap berbaring maka saya baru selesai makan malam (dan belum mandi)? Dan ketika saya harus bertaruh membangun citra sesuatu di luar sana hingga saya tidak sempat mendengar susunan cerita pertama yang terlontar dari Alif. Atau saya harus melihat afra hanya saat dia hendak mandi pagi dan setelah terlelap tidur malam? Atau ketika suami mengajak menikmati film-film terbaru dan saya tertidur pulas di kursi tv? Tuhan.. betapa mahal yang harus saya gadaikan??

Membangun karir. Saya rasa tidak ada satupun yang sangat alergi dengan hal yang satu ini. Saya pun gencar dengan karir saya. Mati-matian. Dengan air mata, tawa, riang dan terpaku untuk membangun dan mempertahankannya. Tapi saya bahagia. Tidak ada pengorbanan. Tak ada luka. Tak ada kerugian. Segalanya karena kenikmatan. Segalanya karena tujuan. Sebuah karir : menjadi dan selalu menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.

Saat ini, cukuplah bagi saya membangun karir dari rumah, menjadi pembicara sesekali, menyusun buku (walau buku pesanan), menghasilkan rupiah demi rupiah (walau tak banyak) melalui koneksi IT, dan tentu saja, mendedikasikan diri sepenuhnya pada anak-anak dan suami (sebagai salah satu kendaraan surga).

Saya bersyukur, bahwa saya memiliki pilihan. Untuk berkarir di luar atau tetap menjadi full mom di rumah. Bersyukur sekali, saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua (dengan konsekuensinya masing-masing). Tak terbayang bagaimana jika saya tak punya pilihan. Seperti seorang teman, yang bahkan 'mau bekerja apa saja' karena gaji suaminya sangat tidak menunjang untuk memenuhi gizi sehari-hari anaknya. Atau seorang ibu yang lain, yang banting tulang sendiri karena suaminya tak jua mendapat pekerjaan yang layak. Atau seorang bunda yang lain, yang ketika pulang dari perjalanan dinasnya, mendapati anaknya sakit parah. Atau seorang kawan (yang sejak belum lulus kuliah sudah menikah) yang hanya boleh di rumah tanpa boleh mencicipi 'nikmatnya' dunia kerja oleh suaminya dll. Semoga Allah menguatkan mereka. Mungkin saya tak kan sanggup demikian.

Saya masih bisa memilih.

Dua tahun, tiga tahun atau mungkin lima-enam tahun mendatang, bisa saja saya kembali merintis karir lain selain menjadi ibu. Tapi semua, setelah anak-anak mandiri dengan lingkungannya, bersekolah, dan mampu memahami kesibukan ibunya.

Segalanya adalah pilihan. Respek saya terhadap moms yang tetap bertahan dengan karir sekaligus menjadi ibu yang baik, juga pada moms yang bertahan mencurahkan pikiran dan waktunya hanya untuk keluarga -tentu dengan mengorbankan sementara kesempatannya berkarir di dunia kerja-

Sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati dan pikiran, untuk membuat diri mampu memilih yang terbaik, dan benar menurut-Nya.

Thursday, October 25, 2007

Sebait Nama

tentang NAMA ...

dulunya ga kebayang, kalau yang namanya mencipta sebuah nama itu susah minta ampun. Saya sering nulis puisi, dan menjadikannya kamus untuk menjiplak penciptaan nama-nama. Apa saja. Saat jadi ketua himpunan mahasiswa, saat kasih ide nama toko/bisnis buat temen, sampai nama-nama anak-nya temen, saudara, dll. Tapi bener2 ga kebayang, kalau pas berusaha ciptain nama buat anak2 sendiri, susahnya bukan main.

Alif
.
Walaupun saya sudah ber-feeling bakal melahirkan anak pertama laki-laki, tapi soal nama, masih blank. Bahkan kata suami, nanti aja kalau dah lahir, kita cari nama yang pas dengan face-nya. Walau saya kurang setuju, karena kalau menurut saya, face yang bakalan ngikutin namanya (-aneh juga-), tapi tak urung membuat saya menyepakati untuk menunda mencipta sebuah nama pada si jabang bayi. Saat itu saya malah sibuk merangkai nama buat kakak ipar yang juga melahirkan seorang bayi perempuan. Maka ketika si sulung saya lahir, kami memanggilnya dengan "adek". Hari kedua kelahirannya, saat suami nungguin saya di kamar perawatan sambil tilawah, dan membaca sebuah surat dengan awalan "Alif Lam Miiim.." maka terbetik di otak saya sebuah nama. Nama yang sejak saya belajar huruf hijaiyah, sudah mentekadkan (sori, bahasanya ngasal) akan memberikan nama tersebut untuk anak saya kelak (kelak sekali, karena saat itu usia saya masih dua belasan tahun). Ya, nama itu adalah "Alif". Sontak saat itu saya sampaikan pada suami, dan langsung mengamini sembari melanjutkan tilawahnya yang tiba2 saya potong. Maka, di hari kedua, sulung saya punya nama "Alif".

Saya ingin memberikan nama minimal-maksimal 3 kata untuk anak2 saya. Rasanya asyik aja, nggak terlalu panjang, nggak terlalu pendek. Maka, saya dan suami punya pe-er dua kata lagi untuk Alif. Tak lama setelah muncul nama "Alif", dering handphone saya berbunyi, yang menyenandungkan surat Al Fatihah. Maka usia saya menjawab panggilan tersebut, saya pun mengusulkan untuk menambahkan nama Al Fatih usai nama Alif. Dan sekali lagi, suami saya pun berbinar sembari meng-iya-kannya. Maka, resmilah nama si sulung : Alif Al Fatih.

Pulang ke rumah, saya dan suami berarti masih punya pe-er utk kasih alif satu kata lagi dalam deretan namanya.

Di sebuah siang, Ibu menggendong Alif yang siang itu agak merengek ingin tidur. Dalam senandung jawa yang sedikit tidak saya mengerti, ada satu kata yang menarik : Marsudia (baca : marsudio). Lantas saya tanyakan pada ibu, apa artinya. Menurut ibu, marsudio berasal dari kata : marsudi. Yang artinya jalan yang lurus. Wah, kalau dipikir-pikir, kok cocok ya, dengan rangkaian nama Alif Al Fatih. Saya dan suami memang menginginkan anak2 memiliki deretan nama, yang kalau bisa, dari beberapa bahasa sekaligus dengan syarat mutlak : Bahasa Indonesia harus ada sebagai bahasa ibu. Berhubung Alif AlFatih adalah bahasa Arab, maka deretan namanya bakal diimbuhkan satu kata berbahasa jawa atau indonesia. Setelah dirundingkan dengan suami, bahkan sampai meminta 'restu' eyang kakung (eyang buyutnya Alif) di Jember, maka resmilah. Nama Marsudia (improvisasi dari 'marsudio' agar ta terlalu mencolok ke-jawa-annya) disisipkan di tengah 'Alif' dan 'AlFatih'.

Alif Marsudia Alfatih, sebuah nama dengan bumbungan doa : anak pertama, perintis, yang konsisten, teguh, dalam merintis jalan yang lurus, sebagai pembuka kebenaran dan kemenangan. Amin. (thanks to my husband's friend -yang namanya belum dimintakan izin untuk diposting- atas imbuhan pemaknaan kata 'alif').

Afra.
Kalau anak perempuan kami yang satu ini, susah sekali berdamai mencipta sebuah nama. Di-search engine, di double klik (halah), di bongkar-bongkar kamus inggris-arab-jawa, nggak paten2 juga. puyeng banget. Awalnya tercetus Alfi (biar dekat dengan ejaan 'alif'), yang artinya 'tak berbatas'-saking banyaknya. Cocok, untuk dipadukan dengan alif, yang artinya satu, pertama, ataupun awalan. Kami ingin si-kedua ini jadi 'tak berbatas' setelah di'awali oleh perintis (-kakak)-nya. Tapi si Ibu, kurang setuju. Terlalu pasaran, alasannya. Saya sempat terfikir juga : pasaran (walaupun : masa seh?). Dan Alfi memang tidak memutlakkan keperempuanan si kedua ini (kebetulan yang tahu calon bayi kedua saya adalah perempuan, hanya saya, suami, dan Ibu Smg). Masalahnya teman saya yang cewek ada yang bernama Alfi. Dan saya pun punya teman laki-laki bernama Alfi juga.

Singkat cerita (saya rada lupa dengan kebingunan luar biasa masa tsb). Hingga si kedua lahir, kami belum juga dapat nama. Semua rangkaian nama gugur, alias enggak jadi dipatenkan. Di malam kelima, saat saya sudah pulang ke rumah usai cesar, dijalanilah sebuah perenungan. Terbersit sebuah nama yang sedari dulu saya favoritkan, sebagaimana nama 'alif'. Yaitu 'afra'. Kalau tidak salah ingat, maknanya kedamaian (CMIIW). Juga sebuah nama sahabat perempuan Rasulullah, yang ditinggal syahid oleh kedua anakknya -mungkin bisa dimaknai kemuliaan dan kesabaran?-
Tapi Afra adalah kata yang sulit untuk diucapkan sehari2 -setidaknya dibandingkan dengan 'alif'. Apalagi untuk keluarga betawi suami di Tangerang, yang 'selalu merubah' nama untuk lebih enak di'lontar'kan. Pastilah si Afra bakalan jadi 'Apra'. Maka, nama Afra yang saya favoritkan harus tetap ada, namun harus disambung dengan kata yang bakal lebih mudah diucapkan. Terpilihlah : Lifia (tercetus dari suami), biar nanti panggilannya jadi : Fia. (walaupun ujung2nya panggilannya tetap Afra juga -hasil dikompori tante dan eyangnya Afra). Lifia adalah paduan nama saya dan suami, plus nama Alif. Afra Lifia. Lifia juga memaknai/ mengindonesiakan kata 'life' (kehidupan). Bagi saya, artinya kurang 'dalam'. dan tetap, harus ada tiga kata. Maka tidak cukup hanya Afra dan Lifia.

Sebelum kelahiran Afra, kami bersepakat untuk memberikan makna 'cahaya' atau 'penerang' pada-nya. Maka kami mencari padanan kata bermakna tersebut, yang ternyata susah sekali. Kalau 'Nur', terlalu umum (apalagi tantenya bernama Nuri). kalau Shine? Citra (baca : citro)? Atau apa? Terinspirasi dari nama artis 'Cahya Kamila', maka saya pun mencetuskan untuk memaknai 'cahaya' atau 'penerang' dengan CAHYA. Nah, kalau Afra Lifia Cahya? Aneh. Ngambang. Nggak mandeg mantep (halah). Setelah buka-buka buku nama anak-nya Mbak Siti Nur Badriah, saya pun menemukan Nadira (yang sudah diberi tanda suami sebagai salah satu nama pilihan). Maka jadilah Nadira yang berarti "berharga" diimbuhkan sebagai kata terakhir dalam deretan rangkaian nama Afra. Afra Lifia Cahya Nadira. Lho, kok empat kata?! Kebanyakan!
Akhirnya, jadilah kombinasi : Afralifia Cahya Nadira. Terasa panjang, tapi tetap tiga kata doang kan?

Afralifia Cahya Nadira ; doa yang dilantunkan : perempuan, buah hati kami bertiga, yang senantiasa damai, tenang dan sabar dalam memberikan cahaya kehidupan yang berharga. Amin.

Pada perjalanan selanjutnya, nama-nama kedua anak kami mengundang decak pujian. Namun yang namanya keisengan yang benar-benar iseng sampai nyebelin, sampai keisengan yang tulus muncul silih berganti. Jadi, selain banyak yang mengamini doa kami melalui nama-nama kedua anak ini, muncul juga ledekan2 seperti : habis Alif, 'Ba' dong...hehehe (yang ketawa yang ngledekin lho, bukan saya. Saya pantang ikut tertawa kalau ada yang melontarkan ledekan semacam ini. garing dan nggak lucu. apalagi saat Afra-nya sudah 'ada'), yang kasihan yang giliran wawu, anak keberapa itu ya? Hahaha (saya makin ga ikutan perbincangan alias ngacir). Ada juga : Afra? kok susah amat sih kasih nama. yang biasa aja lah (padahal sumpah, saya nggak berniat kasih nama yang nggak 'biasa'. so, kalaupun tercetus Afra tentu dengan pertimbangan kan?). Yang lain : Kalau Afra, nanti ada yang iseng manggil 'japra' lho... panggilannya 'Dira' aja ya.. (padahal saya ga tau, japra itu artinya siapa, dan siapa pula yang bakal iseng manggil dengan nama itu). Bahkan, Bapak Tng aja manggilnya 'Nur'. nah lho.. alasannya, yang beliau ingat hanya nama 'Cahya'nya saja.

Buat semua yang pernah berkomentar atas nama-nama anak2 kami, terima kasih ya... Yang tulus maupun asal comment. Yang perlu saya ingatkan : cari nama buat anak itu susah (kaya ga pernah aja sih?!), dan semuanya adalah doa. Kalau yang dijadikan panggilan hanya sepotong, misalnya, atau diganti dengan yang lain, doanya jadi beda kan? Apalagi biasanya kan sebuah nama merangkum banyak makna. Bahkan kalau saya dan suami, antara nama Alif dan Afra maknanya sinergis.

Namun hikmahnya, saya jadi makin menyadari, bahwa menyakitkan jika kita mengkomen buruk atau mengkritisi nama yang diciptakan (kecuali memang perlu dikritisi apalagi perlu diubah) orang. Karena bikinnya aja butuh energi, pikiran, tenaga, juga doa! (halah, kok jadi sensitif gini sih...?) Walaupun ada yang punya panggilan khusus buat anak-anak, saya tetap akan mengkoreksinya. Apalagi biasanya, panggilan khusus ga jauh dari julukan, n ga jauh juga dari 'konotasi' yang biasanya nggak asyik, nggak hi-tech, kurang sip, dll (nyengir). Lagipula, bayangkan saja kalau tiap orang punya panggilan khusus buat kita. Yang ada kita malah bingung, nama kita sebenarnya siapa sih? Trus, sebenarnya orang tersebut manggil kita ga sih? Kalau tiba-tiba ada panggilan khusus buat saya : "Cantik..." kira-kira kalau saya menoleh atau menjawab panggilan tersebut, disangka ge-er ga ya...?

Wednesday, October 24, 2007

soal blog saya

Kali ini saya pengen cuap-cuap (sendiri) soal nge-blog. Saya ga bakalan cuap-cuap panjang lebar, apalagi dengan analisa dan informasi. Saya memang punya blog, tapi saya bukan 'bloger' (istilah yang saya sendiri mengartikannya sebagai orang yang mahir soal blog *jam terbang tinggi, paham IT, ngerti istilah html, popup window, kompresi, nge-link, dll*).

Belum lama saya membaca postingan di blog milik "Priyadi" (maaf mas, belum saya link-kan. hehe.. saya kan ga ngerti :D). Inti bahasannya adalah soal 'Blog Seleb'. Saya nyegir waktu baca postingan yang cukup singkat tersebut. Sumpah deh, dalam hati : ga bakalan yang dimaksud itu adalah blog saya. kekekek... Ada sedikit hal yang membuat hati saya pun berujar tak sepakat, bahwa 'blog dibuat untuk dikunjugi-dikomentari-dst. Dan bahkan kemudian hal tersebut bisa membuat blog seseorang menjadi blog seleb, yang mana pemiliknya bisa menjadi seleb di kalangan para penge-blog.

Sedikit cerita. Dulu saya nggak paham sama sekali dengan dunia internet -Walau sertifikat pelatihan komputer dan internet saya tak kurang dari 3 buah-. Garis besarnya sih, saya tak akrab dengan dunia internet -walau nilai komputer saya di kampus selalu AB atau B (ternyata bisa komputer tak selalu mengerti internet ya..)-. Seorang teman memperkenalkan internet secara khusus pada saya saat menjadi partner kerja. Namun ternyata saya cuman merem melek nggak paham juga (balik lagi ; karena memang nggak akrab, jadi saya tidak bisa berhubungan lebih jauh dengannya -si internet-). Pokoknya, saya mati kutu kalau ketemu 'google', 'yahoo', apalagi sekarang ada 'kubuntu', ada 'linux' ada 'open source' dan lain-lain istilah yang bikin saya kekenyangan.

Itulah, kalau kemudian cerita berlanjut dengan sebuah 'perjodohan' (hehe...). Siapa nyana kalau saya berjodoh dengan seseorang yang paham dengan itu semua. Dan ketika status 'istri' pertama kali saya sandang, maka yang namanya internet, hampir jadi santapan sehari-hari (note : nada suaranya rada bangga gitu). Betapa tidak, akses internet kebetulan bisa 24 jam sehari. Sehingga, silahkan mengenyangkan diri dengannya.

Singkat kata : saya kemudian diajari 'seseorang tersebut' untuk membuat blog. Apa motivasinya sebagai guru pribadi saya? "Blog tidak harus untuk dipublikasikan. Blog bisa saja dipakai sebagai 'kotak penyimpan', tanpa kita takut suatu saat 'missing' dengannya (paling2 kalau internetnya mati). Sama seperti buku diary. Hanya bedanya, kita tinggal klik 'save' untuk menyimpan, dan akan tersimpan secara 'abadi'. Kita nggak lagi harus bingung "dimana gue mesti simpen diary gue? Gimana kalo ilang", dll".
Thats it, simpel. Saya pun memindahkan isi folder-folder ajaib saya di hard disk, ke blog baru saya (yang template nya sudah berganti 3 kali, karena ga bisa bikin template sendiri, jadi ga puas-puas juga). Apa isi folder-folder Diary saya itu? Ya inilah, yang ada di Box-nya Blog "House of Love". Saya belum kebayang jauh, ada yang mau menyambangi secara spesial blog saya, apalagi berkomentar, apalagi kasih nomer rekening. Saya pun yakin, kalau si guru pribadi saya pun belum membaca seluruh postingan yang ada (guru juga manusia kan, ga harus tahu semuanya.. hehe..).

So, saya ga terlalu mentingin tuh, apakah blog saya dikunjungi atau dikomentari. Karena semua catatan yang ada tendensi nya ke saya pribadi, dan syukur2 ke anak2 saya yang pintar2 itu. Makanya, sampai sekarang saya sama sekali belum pernah launching blog ke siapapun, kecuali adik perempuan saya. Itupun karena dia memohon2 saya untuk mengajarinya bikin blog (saya senang, akhirnya saya -seorang murid ini- bisa jadi calon 'guru blog'). So, kalau mau jadi seleb lewat blog, rasanya jauh deh. Apalagi kalau, blog-nya jadi nominator blog seleb. hihi... ga berani deh, nyaingin Mas Pri, Mbak Lita, Nita&Enda, dll (mas, mbak, maaf lho, nggak nge-link juga. Insya Allah kapan2 saya edit deh).

Nah, lain ceritanya, kalau tiba-tiba ada seorang teman yang meminta web-blog saya, yang katanya mau melihat 'pencerahan-pencerahan'. Ada juga yang tiba-tiba 'memungut' kutipan catatan saya di blog untuk di'selipkan' di hak milik pribadinya tanpa mencantumkan 'by' siapa nya. Atau kalau tiba-tiba ada yang bilang tersanjung setelah baca blog saya. halah... yang ini paling ngawur. Tapi sumpah deh, saya belum lanching blog saya ini ke siapa-siapa. Atau jangan-jangan.................................................................................

Mungkin saya perlu pertimbangkan saran seorang teman saya yang perspektif, untuk mengabarkan si "house of love" ini. Ya, ga papa lah, itung2 belum bisa nerbitin buku sendiri. Ok dee... konsultasi dulu nih sama guru pribadi. Apakah beliau bersedia, kisah2 cinta kami 'terpublikasikan'? hehe... (ah, sok banget sih..)

Intinya dek (spesial buat adikku yang pengen punya blog), kalau pengen punya blog, ga harus dengan paradigma 'bakalan di santap' oleh orang2 di dunia maya. Jadi, ga usah tuh, bingung2 ngelihat-lihat blog orang biar bisa meniru, lalu mewarisi, lalu menjadikan dirinya sebagai seleb blog. Kembali lagi, menulislah, bertuturlah, berkisahlah, bertindaklah, bersikaplah, terlepas apakah orang menghargai, membalas, memberikan apresiasi, mengomentari, atau mendiamkan. Tapi tetaplah pada pijakan, untuk menjadikan segala 'hasil karya' sebagai apresiasi diri, penghargaan pada diri sendiri (yang nantinya bakalan sendirian lagi), layar dan cermin instrospeksi. Dan muaranya tentu saja : kembali pada fitrah, untuk sebuah perbaikan yang tak henti.

Oke dek, kutunggu blog-mu ya..

Buat "para seleb blog", makasih ya, inspirasi-inspirasinya. Akhirnya tulisan tiada pernah berakhir berkisah (walau tak dibaca orang sekalipun). Anda adalah para guru bagi para pemula seperti saya (jasamu tiada..........tara.........).