Sudah lama tak menyapa SL-ku..
Ceritanya, saya resmi meluncurkan akun FB. Ya ampyunn telat banget yak?
Sebenernya akun FB saya sudah lama terdaftar ke server. Tapi memang bukan buat diapa-apain, selain untuk kepentingan 'pekerjaan' semata. Setelah tidak lagi mengurusi kerjaan terkait dengan si FB, ya tamatlah ke-eksisan si FB itu. Udah ga ada friend-nya, ga ada penggemarnya.. haha..
Yah, tapi apa mau dikata...
Tampaknya Era FB emang sedang masanya. Kegigihan saya untuk tak punya akun FB, akhirnya kandas juga. Bagaimana tidak? kalau cuma dianggap gaptek karna ga punya akun FB 'hare gene', oke lah.. soalnya bukan masalah gaptek ga gaptek. Karna walo ga punya kun FB, temen-temen yang ber-FB ria suka konsul about FB ke saya. Cuma kalo soal gapfor alias gagap informasi, nah ini baru.. bener. Masalahnya saya yang tak berlangganan koran, tak suka nonton tipi, males buka HP (HP nya sileeeennt melulu), walhasil jadi orang dari dunia antah berantah. Apalagi di masa kini, orag mengupdate info, berbagi kabar, pasang pengumuman, sampai mengirim undangan menggunakan FB!
Internet memang tengah menjadi rajanya sosialita dunia. Jarak bisa dipersempit, waktu bisa dipersingkat, biaya bisa dihemat, bahkan kemalasan pun diakomodir (nah lho?). Dengan internet, apa yang enggak coba?!
Dulu di masa 90-an, ketika handphone mulai memasuki era komunikasi manusia, secara signifikan penggunaan telepon seluler ini langsung pesat. Makin nambah tahun, pengguna telepon genggam makin jamak. Yang dulunya cuma dipake oleh direktur, bos proyek, atau menthok di anak konglomerat, pada selanjutnya, bahkan semua golongan ekonomi dan pekerjaan 'wajib' kudu punya HP. Mbok jamu, tukang pijat keliling, tukang mie ayam gerobak, sampai loper koran, semua tampak butuh HP untuk menerima pesanan. "Terima pesanan melalui sms : 08********" Giliran ada calon customer ga punya HP, cuma geleng-geleng kepala.
Tiap ada orang baru berkenalan, yang langsung ditanyakan adalah : "no hp-nya berapa, mas?" Era Hp kemudian disusul era email. Jadi setelah bertanya no HP, pertanyaan berikutnya adalah : "alamat email apa, mbak?". Nah sekarang, "FB nya, bu?" merupakan pertanyaan kedua dari urutan pertanyaan orang yang baru saling kenal dan bertukar informasi kontak pribadi. Urutan pertama masih : no hp. Padahal dulu, selain nama dan nomor telepon, orang akan menanyakan alamat rumah. Lha kalo sekarang? Hwaduh.. kebanyang deh.. kalaupun tahu alamat rumahnya, apa iya mau maen?! Jauh kali.. macet.. ongkosnya? Waktunya? Kalau bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi secara online, kenapa mesti offline?
Survey yang dilakukan TNS Global akhir tahun lalu (2009) menunjukkan gejala di dunia, bahwa 30 persen atau sepertiga dari waktu luang masyarakat di negara maju sudah dipergunakan untuk online. dari hasil penelitian pula, dapat dilihat bahwa ternyata penetrasi internet untuk hiburan dan santai ternyata lebih besar di negara-negara Asia. Kenyataan ini tampaknya sangat mungkin pula untuk negara Indonesia, di mana hal-hal ringan dan santai lebih disukai. Maka tak heran jika facebook dan twitter bisa laris manis di Indonesia bagai krupuk dan kripik, karena kontennya sangat cocok untuk bersantai.
Sayangnya, dengan berkembangnya teknologi komunikasi virtual ini, secara otomatis menyusutkan tingkat komunikasi tradisional alias komunikasi tatap muka di seluruh dunia. Bayangkan, dengan kondisi sekarang, dimungkinkan dalam sepuluh tahun ke depan, seluruh anggota keluarga Anda masing-masing akan sibuk ber-online ria. Padahal, di masa kini, kebiasaan makan bersama seluruh anggota keluarga sudah kian sulit diwujudkan, akibat peningkatan kesibukan dan perkembangan zaman serta teknologi. Apalagi kini, Anda tak perlu ribet menggunakan PC (komputer) untuk bisa online. Segenggam handphone sudah cukup memudahkan Anda. Ditambah lagi hadirnya teknologi 3G, munculnya handphone sejenis Blackberry, lengkaplah sudah kemudah itu.. sambil makan, sambil nge-gym, sambil kuliah, sambil nunggu bus, sambil gelantungan di busway, sambil nunggu anak-anak main, sambil nunggu istri pulang kerja, sambil di toilet pula..
Di negara maju, mereka yang berkomunikasi lewat e-mail dengan teman sudah mencapai 78 persen, dibandingkan tatap muka yang sekitar 84 persen. Sementara via mobile phone atau sms, sudah mendekati 70 persen responden mempergunakan handphone sebagai alat komunikasi utama (internet masih lebih 'menang' ketimbang handphone ternyata).
So, meng-update informasi & teknologi dan mengunduhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, memang penting. Namun tetap, tidak secara berlebihan dipergunakan. Yang tampaknya penting juga, jangan latah. Karena kalo sudah terlanjur latah, susah ngobatinnya. Hehe..
Semoga makin tingginya tingkat komunikasi melalu internet dan telepon seluler tidak membuat ketrampilan berkomunikasi langsung (tatap muka) kita menurun. yang berakibat pada menurunnya ketrampilan sosial dan kepekaan antar pribadi. Banyak hal, tetap saja komunikasi tatap muka, silaturahmi langsung dan copy darat, masih sangat diperlukan. Komunikasi antar persona, tetap punya kelebihan. Ada bahasa tubuh, ada kontak mata, ada sentuhan fisik, yang maknanya kaya dan mendalam ini, tentu saja belum bisa 'dijembatani' oleh teknologi virtual.
Pelengkap data : www.marketing.co.id
Saturday, January 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment