Dan ... saat itu pun akan tiba.
Siang itu, saat sedang menemani Alif minum susu menjelang tidur siangnya. Suami mendatangi saya dan mengabarkan bahwa Ibu sedang kritis. Suami meminta izin untuk berangkat ke Tangerang bersama kakak perempuan dan suaminya. Dan tentu saya menyetujuinya, bahkan menyarankannya untuk segera berangkat. Karena Alif sedang flu dan terfikir juga bahwa Afra masih menyusu ASI, maka tentu akan repot meninggalkan Alif atau membawa Afra berangkat. Hingga saya pun menyarankan suami untuk segera berangkat tanpa saya. Suami menyetujuinya.
Entah mengapa, saat kabar bahwa ibu kritis, walau sudah beberapa kali problem jantung ibu kambuh dan sudah sering pula kabar bahwa ibu kembali jatuh sakit, namun kabar di tengah siang hari itu terasa berbeda. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya bahwa ibu akan meninggal kali ini (maaf beribu maaf, bahasanya jadi terkesan kasar). Namun saya segera beristighfar, dan memohon pada Allah untuk menjauhkan diri ini dari lintasan pikiran semacam itu.
Usai Alif tertidur, saya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Semenit kemudian, suami mengahmpiri saya, dan membawa kabar itu. Ibu Telah Tiada. Ibu telah meninggal dunia. Saya linglung sekian detik itu. Namun tiba-tiba kesadaran saya kembali, untuk bersiap menguatkan suami. Betapapun, suami adalah anak kandung. Dan saya tau, kedekatannya mungkin melebihi kedekatan saya dengan ibu (mertua).
Namun ternyata tidak. Sedetik usai kesadaran saya kembali, maka saat itu pulalah, saya menangis. Justru suami lah yang membimbing saya, menguatkan saya, dan membesarkan hati saya yang tiba-tiba menciut bagai plastik tersengat api.
Tangis saya benar-benar deras. Dada saya sesak. Mengingat ibu, mengenang ibu, mencinta ibu. Dan ketika waktu yang diberikan hanya 3 tahun, saya bersama ibu kedua, bersama beliau, Allah 'memisahkan' kami. Dan sungguh, rasanya saya belum sempat memberikan bhakti apapun pada beliau. (Ya Rabb.. semoga Engkau ampuni hamba).
Ibu, walau perjalanan hidupmu aku tak banyak tau, namun tergores kasih yang begitu dalam. Terasa dan melekat, walau tak sepatah kata wujudnya. Walau aku tak lahir dari rahimmu, namun bagian darah dan dagingmu, mewujudkan keindahan hidupku yang tak setara sebelumnya. Yang kini menjelma lewat wujud dua kekasih Allah yang suci dosa.
Ibu, jika pun tak ada bhakti yang cukup kuukir, semoga aku bisa memahatkannya, pada ketiga kekasih hatiku, juga pada bapak, dan segenap cinta yang kau 'tinggalkan'. Semoga Allah berkenan menambatkan cintaku pada surga di telapakmu, ibu.
Dan kuingin engkau tahu, aku sungguh mencintaimu Ibu..
Selamat jalan Ibu, Semoga allah melapangkan jalan-mu. Amin.
tertanda cinta,
ananda-
Showing posts with label Sarang Cinta. Show all posts
Showing posts with label Sarang Cinta. Show all posts
Friday, December 21, 2007
Friday, December 7, 2007
2nd Besde

5 Desember 2007
Selamat Ulang Tahun Alif..
"Raja" nya ayah dan ummi, sudah 2 tahun. Tinggi badannya 87 cm dan BB-nya....mmm (kok masih) 12 Kg (?).
Kakaknya adek Afra, yang lebih suka serius ketimbang ketawa ketiwi. Yang lebih suka merhatiin semut dan cicak (yang saling pandang-pandangan di tembok) ketimbang merhatiin televisi. Yang lebih heboh lihat bulan dan bintang di langit atau di menara masjid, ketimbang lihat badut. Dan yang lebih suka naik bus daripada naik taxi.
Alif, dari bayi sampai seusia sekarang, memang lebih suka dengan 'atribut' orang dewasa ketimbang atributnya anak-anak. Lebih favorit sama motornya ummi daripada motor mainannya yang bisa jalan sendiri sambil muter2, sambil ada musiknya, plus ada suara klaksonnya. Alif juga lebih senang main gitarnya ayah daripada mainin mobil2annya. Alif juga lebih favorit sama obeng dan palu ketimbang robot atau pesawat-pesawatannya.
Si sulung ini juga lebih suka bongkar pasang semua mainannya, daripada memainkannya. Pesawat yang sayapnya entah kemana. Motor mainan yang entah kemana stang dan spionnya. Dan banyak lagi.
Alif juga lebih betah mendengar orang bicara dan menyanyi ketimbang main komedi putar. Tapi Alif gemar menyanyi. (tunggu nak, ummi ketawa dulu). Jadi ingat dengan gaya nyanyi Alif. Apa-apa dijadikan mike buat nyanyi. Dari mulai pensil, handphone ayah, remote AC, stik drum, sendok, sampai sapu (mungkin maksudnya standing mike kali).
Si 'penyanyi' ini juga sangat gemar beres2 rumah (semua benar-benar heran soal yang satu ini). Tidak pernah terlewat sehari pun, tanpa Alif menyapu, membuang sampah, mengelap meja, mengelap lemari es, mengelap tepi tempat tidur, membenahi sprei kasur (kasur Alif ataupun kasur ayah&ummi), dll. Soal suka mengelap ini tidak hanya dikerjakan Alif di rumah. Tapi juga di rumah engkong, di rumah eyang, di rumah eyang tante, juga di dalam taxi. Alif juga sangat suka membuang sampah. Begitu ada tisu sehelai saja di atas meja, pasti langsung masuk keranjang sampah. Ada sehelai rambut di atas bantal, pasti bakal dibuang ke tempat sampah juga sama Alif. Alif juga ga betah, kalau pas lagi mandi, pintunya kebuka; "tutup! Malu", katanya. Sejak umur satu tahun, Alif sangat tidak terbiasa beraktivitas di kamar mandi dengan pintu terbuka.
Alif, favorit sekali dengan coklat. Semua jenis coklat Alif pasti suka (kecuali coklat murni yang pait). Alif juga doyan banget es krim (yang Alif sebut dengan : Ejim) dan keju, doyan semur ayam, kacang, susu, jus buah, juga makanan2 pedas (padahal waktu bayi Alif nggak doyan makan). Untungnya Alif juga rajin gosok gigi 2x sehari.
Kakak yang sudah bisa jagain adik cantiknya, anak yang bisa ikut sedih kalo ayah atau ummi lagi sakit, dan cucu yang selalu nangis sedih kalau eyang atau engkongnya pulang (habis nengok Alif). Hehe.. Alif memang favorit sama Eyang kakung dan Engkongnya saja. sama Eyang Putri malu-malu, sama Nyainya, malah sungkan.
Si kakak yang memanggil adiknya dengan "Adek Awa (malaikat yang cantik)" juga senang nolongin orang. Ndorongin kereta belanja di supermarket, ngangkatin keranjang belanjaannya ummi, dorong2 strollernya Afra, narikin koper beroda nya eyang, dan masih byk lagi yang di'tolong'in Alif. Yang seringkali, yang terjadi adalah, ditolong malah jadi repot sendiri (hehe).
Alif ... Selamat berulang tahun yang kedua ya... Selalulah menjadi insan yang sadar akan keberadaannya di dunia. Seorang hamba yang ikhlas dengan amanahnya. Dan seorang 'musafir' yang selalu ingat 'tempat kembali'nya.
Terima kasih, sudah menjadi bagian kebahagiaan dan keluarbiasaan sepanjang jalan hidup ayah-ummi-adek Afra-dan semua yang mencintai, mengasihi dan menjadi bagian hidupmu. Terima kasih atas pelajaran, hikmah, dan rasa yang terbagi indah diantara kita.
Semoga ayah dan ummi bisa menunaikan amanah-Nya atas dirimu dengan sebaik-baiknya. Menjadilah jalan pelapang ayah dan ummi menuju surga ya Nak... Doakan kami, sayang...
Ya Rabb.. jadikan Alif anak sholeh, berbakti, dan berguna bagi kehidupan-nya. Dan jadikan kami, orang tua yang mampu menjaga amanah indah-Mu ini dengan sebaik-baiknya. Amin.
Wednesday, November 21, 2007
ANNIVERSARY ... (selalu dan makin cinta)
19 dan 20 November ...
Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).
Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)
Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..
Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.
HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..
note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)
Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)
Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).
Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)
Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..
Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.
HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..
note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)
Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)
Tuesday, June 5, 2007
EUFORIA PERNIKAHAN
Pak-Bu, Mbak-Mas, saudara-saudari, apa sih yang akan kita tulis dalam 'diary' tentang pernikahan? Bagi pernikahan yang sudah berjalan sekian tahun, mungkin semua sudah berjalan 'alami'. Tidak lagi mesti melirik cetak biru pernikahan. Sekali lagi mungkin. Tapi bagi yang hendak menikah dan di awal pernikahan? Tentu berbeda ceritanya.
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Tuesday, March 7, 2006
1 Tahun, 3 Bulan, dan 25 Tahun
-19 November 2006 (ditulis dg sangat terlambat)-
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Monday, January 23, 2006
CINTA DAN RASA TAKUT
Ada satu hal, yang selalu membuat saya takut ketika bicara soal CINTA. Ya, cinta yang menjadi energi dalam hidup saya, tiba-tiba menjadi 'momok' untuk terus saya resapi sebagai sebuah karunia dari-Nya. Satu hal tersebut adalah, KEHILANGAN.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
Friday, January 20, 2006
KETIKA JATUH CINTA LAGI
Ada banyak kata yang tak terungkapkan, manakala perasaan tak mampu diterjemahkan lewat kata ataupun laku. Sebenarnya tak melulu kata-kata cinta, yang tak banyak bisa terungkap lewat kata dan laku. ada banyak emosi yang -sungguh- kata, bahkan perilaku tak cukup bisa mengartikan.
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Subscribe to:
Posts (Atom)
