Ada satu hal, yang selalu membuat saya takut ketika bicara soal CINTA. Ya, cinta yang menjadi energi dalam hidup saya, tiba-tiba menjadi 'momok' untuk terus saya resapi sebagai sebuah karunia dari-Nya. Satu hal tersebut adalah, KEHILANGAN.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
Monday, January 23, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment