RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Friday, January 20, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment