Ada banyak kata yang tak terungkapkan, manakala perasaan tak mampu diterjemahkan lewat kata ataupun laku. Sebenarnya tak melulu kata-kata cinta, yang tak banyak bisa terungkap lewat kata dan laku. ada banyak emosi yang -sungguh- kata, bahkan perilaku tak cukup bisa mengartikan.
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
Friday, January 20, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment