Ada satu hal, yang selalu membuat saya takut ketika bicara soal CINTA. Ya, cinta yang menjadi energi dalam hidup saya, tiba-tiba menjadi 'momok' untuk terus saya resapi sebagai sebuah karunia dari-Nya. Satu hal tersebut adalah, KEHILANGAN.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
Monday, January 23, 2006
Friday, January 20, 2006
KETIKA JATUH CINTA LAGI
Ada banyak kata yang tak terungkapkan, manakala perasaan tak mampu diterjemahkan lewat kata ataupun laku. Sebenarnya tak melulu kata-kata cinta, yang tak banyak bisa terungkap lewat kata dan laku. ada banyak emosi yang -sungguh- kata, bahkan perilaku tak cukup bisa mengartikan.
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
Jatuh cinta. Siapa sih, yang sama sekali tidak pernah merasakannya? Saya bahkan merasakannya kembali. Jatuh cinta kembali pada sebuah wujud cinta! Wahai cinta! Begitu macam, rasa cinta yang tumbuh pada suami terkasih. Dan rasanya, banyak kata dan laku yang coba saya ungkapkan serta saya utarakan dengan berbagai gaya. Gaya pemain sinetron, hingga gaya pembawa berita. Dan rasanya, masih belum cukup dibanding besarnya rasa cinta yang berkumpul, tumbuh, berkembang, dan berlompatan bak quantum dalam hati saya. -Sekali lagi- Duhai cinta!
Satu tahun sudah, sejak bibit cinta ditanamkan, ketika akad nikah diikrarkan, rasa cinta itu terungkapkan dengan lebih baik -walau tak jua mewakili seluruh rasa cinta yang ada-. Segala rasa cinta itu berwujud dalam rupa seorang 'manusia mungil', yang kini telah berusia 40 hari. Alif Marsudia Alfatih, telah lahir sebagai wujud lain ungkapan cinta saya pada belahan hati saya, pemimpin utama kehidupan yang kini saya jalani, sebagai istrinya.
Ya, saya jatuh cinta lagi pada sang suami, justru ketika anak saya lahir. Episode kedua cinta saya, setelah akad nikah setahun silam. Ungkapan cinta suami pada ananda tercinta, adalah bara api yang menyalakan tungku kedua rasa cinta saya. Saat si mungil ada dalam pelukannya, sepercik api cinta menambah terangnya cinta. terus menerus kian terang, saat suami bermain, bercanda, menjaga, serta merawat si kecil. Terang, dan kian terang.
Cahaya itulah, penerang jalan jalan hidup saya kini, menuju cahaya hakiki Sang Pencipta. Dan saya berharap, terang itu tak pernah padam. Keyakinan saya adalah, tulusnya cinta sang ayah pada putra pertama saya, yang tak akan pernah pudar. Seiring dengan kelelahan sang ayah untuk turut menimang, menjaga, merawat, sekaligus menjadi idola bagi ananda tercinta.
Begitulah, cinta yang Allah tumbuhkan, untuk menjaga cinta yang lainnya (bukan menafikan, atau justru memusnahkannya!). Saya percaya, bahwa hadirnya buah hati, harusnya menjadi perekat cinta orang tuanya, mengabadikan kasih antara orang tuanya, serta menjaga ketulusan rasa diantara keduanya. Begitupun saya yakin, Alif, akan menjadi 'orang ketiga', yang membuat saya jatuh cinta kembali pada ayahnya, seterusnya (semoga!).
RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
RASANYA SAAT INI, DAN NANTINYA
Suatu ketika seorang teman bertanya; “Bagaimana rasanya menjadi ibu?”. Waktu itu Alif berusia 6 minggu. Pertanyaan yang sempat membuat kening saya berkerut, dan hati mereka-reka. Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya menjawab singkat, “Kalau menjadi ibu, saya belum tahu rasanya. Tapi kalau punya anak, saya sudah tahu rasanya”. Dan teman saya ganti mengerutkan kening.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Kami, orang tua Alif, menikah di usia yang relatif muda. Meski kalau dibilang menikah dini, nggak juga. Kami berikrar janji ketika saya berusia 23 tahun, dan suami 27 tahun. Dan ketika anugrah kami lahir, Alif, saya berusia 24 tahun, dan suami 28 tahun. Entahlah, namun yang jelas, saya merasa kami dua orang kakak beradik (yang saling menyayangi ;-), yang dititipi seorang adek kecil, bernama Alif.
Kalau kami bertiga sedang bermain bersama, jadi tidak jelas siapa menghibur siapa, siapa ngemong siapa. Karena tak jarang, saya atau suami saling menertawakan ketika sedang 'menghibur' adek kecil kami, Alif. Mulai dari falsnya suara nyanyian saya, atau ngawurnya lagu yang dinyanyikan suami. Kadang kami ngoceh sendiri, saling meledek satu sama lain (kalau saling puji jadi nggak lucu), sementara sang objek, si kecil Alif, hanya memandang ke arah kami secara bergantian, dengan mimik lucunya, entah heran, geli, atau justru prihatin. Kadang Alif bengong, kadang tersenyum, kadang tertawa, dan tak jarang merengek di tengah-tengah acara bermain bersama. Harapan saya sih, Alif bangga, punya 'kakak-kakak' seperti kami.
Bermain bersama Alif merupakan saat yang unik. Apalagi Alif masih bayi, dua bulan menjadi manusia dunia. Belum banyak mengerti, apalagi melakukan sesuatu. Padahal, mengajak bicara, mengajak bermain, serta bernyanyi untuk si kecil usia ini, sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Memang Alif belum paham apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi dia telah belajar mengerti orang lain sejak dini. Alif memang tak mungkin tahu, makna lagu 'Naik-naik ke puncak gunung' atau 'Kotek-kotek anak ayam'. Tapi dia telah menetapkan lagu2 ini di antara lagu2 favoritnya. Cara mengetahuinya? Gampang. Dia selalu tersenyum atau tertawa, atau mengoceh jika dinyanyikan lagu ini. Bahkan ketika merengek-rengek rewel, dia akan berhenti sejenak ketika lagu-lagu tersebut disenandungkan (dengan nada fals sekalipun). Beda ketika dinyanyikan lagu 'Garuda Pancasila' misalnya. Alif tak memberikan respon istimewa. bahkan tak jarang diacuhkannya. Lihatlah, betapa anak sekecil Alif telah MENETAPKAN PILIHANNYA. Atau soal cara menggendong. Alif selalu menjejak-jejakkan kakinya, tampak tak nyaman ketika digendong dengan cara lama (saat dia masih baru lahir). Tapi rewelnya akan mereda, kalau digendong tegak. Selama kepalanya dapat lebih bebas melihat ke arah depan, dia menunjukkan rasa nyaman. Tapi bukan main. Bagi kami berdua, 'kakak-kakak' Alif, menggendongnya dengan cara ini perlu upaya tersendiri. Di usia dua bulan, dengan berat 6 Kg ternyata bukan hal enteng untuk menggendongnya dengan cara demikian.
Sekali lagi, inilah pilihan si kecil. Dia telah bisa memilih.
Dan inilah, pilihan bagi orang tuanya. Tentu, siapa yang tak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan nantinya menjadi insan kamil. Apa yang dibutuhkan anak, tentulah mesti dipenuhi untuk mewujudkan harapan tersebut. Bermain bersamanya, adalah hal yang 'menggelikan' bagi orang dewasa umumnya. Tapi kami, orang tua Alif, melakukan untuknya. Meski menjadi kanak-kanak kembali (dengan bernyanyi-nyayi lagu anak-anak, tertawa, memainkan mimik wajah, dll). Saat ini, 'untunglah' Alif belum banyak tahu apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Tapi nantinya, Alif menjadi saksi kunci, bagaimana orang tuanya.
Untuk menjadikan Alif mengerti dunia manusia yang sesungguhnya, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana orang tuanya. Untuk menjadikan Alif mengerti harus menjadi manusia yang bagaimana, yang pertama dipelajarinya adalah bagaimana orang tuanya. Dan bahkan, bagaimana dia membuat terminal terakhir kehidupannya kelak, dia mengamatinya dari bagaimana orang tuanya membangun terminal-terminal kehidupan.
Memang, nantinya Alif tumbuh berkembang, menjadi manusia yang kian utuh, dengan belajar dan belajar. Tapi dia membutuhkan guru. Dan guru pertamanya itu, adalah ayah ibunya.
Nantinya pula Alif akan memilih, layakkah dia mencontoh ayah ibunya, sebagai guru pertamanya? Pertanyaan itu kami simpan berikut jawaban misterinya. Namun yang jelas bagi kami, adalah menjadi apapun yang dibutuhkan Alif, sebagai hamba Allah, untuk membangun terminal terbaiknya kelak. Dan itu, dimulai sejak kini. Untuk menjadikan Alif layak mendapat guru pertama terbaik, adalah hal yang paling mungkin kami lakukan sekarang. Dan untuk itu, kami butuh kredibilitas di hadapannya. Menjadi guru pertama favoritnya, menjadi orang tua favoritnya, dan menjadi idola baginya. Bukan, bukan agar kami 'berhasil' menjadi orang tua yang dikagumi anaknya. Tapi agar Alif BERHASIL menjadi manusia terbaik yang dapat dia wujudkan. Dengan mendapatkan guru pertama terbaik, orang tua terbaik, dan idola baginya. Dan ketika tiba saatnya Alif mengerti, memahami sekaligus mampu bertindak atas apa yang dilakukan orang tuanya, barulah saya akan tahu, bagaimana rasanya menjadi ibu. Sementara sekarang? Saya hanya bisa merasa 'memiliki anak' dan mempersiapkan diri sesegera mungkin, untuk layak menjadi guru pertama terbaik, ibu, sekaligus idola bagi anak saya, yaitu KETIKA SAYA MENJADI SEORANG IBU.
Subscribe to:
Posts (Atom)
