Thursday, June 24, 2010

Mari Berkarya!!































Judul 1 : Jalan Pinggir Kota

Judul 2 : Rumah-rumah


Ini dia hasil karya Alif dan Afra di hari liburnya...

Bahan-bahan :
- kertas lipat warna warni
- sisa-sisa kertas kado
- lem kertas
- kertas gambar
- stiker (kalo ada)
- crayon (buat nambah-nambahin aksentuasi)

*kertas-kertas bisa diganti kertas koran bekas, kertas majalah, apa saja. Stiker juga bisa diganti dengan aneka bentuk yang ada di majalah atau koran. Alif dan Afra heboh demi menemukan gambar kesukaannya. Tapi suka gak nyambung sama tema. Sigh..

Kalo diliat dari hasilnya, pasti ketahuan deh bagaimana cara bikinnya. hehehe..

Kenapa ini yang dikerjakan? Karena di sekolah belum pernah ada kerjaan yang begini (mirip iya, misal menempel buku yang dibuat dari kertas lipat, dll. Tapi kalo full dari menggunting dan menempel kertas sisa, belum pernah). Dan pekerjaan ini dibuat secara kroyokan, antara Alif, Afra, dan tentu saja Ummi.

Siapa saja boleh menyumbangkan hasil karya-nya untuk ditempel di atas kertas gambar, asal sesuai konteks...
Maka tak heran, stiker bulan (di karya berjudul "Jalan Pinggir Kota") dua biji dari Afra ditolak Ummi.

"Biar lebih terang, Ummiiii...." (ih, maksa!)
"Enggak, mana ada Bulan kok dua?"
"Ada, itu kan adiknya Bulan, Ummiiiii...."
. Tentu saja dengan nada teriaaakkk (biar lbh heboh).

"Tetap tidak, Afra!", jawab Ummi tak kalah teriak.

Apa kata Ayah nanti, ini kan kerjaan atas supervisi Ummi, masa Ummi acc aja, ada dua bulan di langit???

ada-ada aja....


*perhatikan gambar mobil di Judul 1. Mobil warna ijo-nya aneh banget yaa... Jaguar bukan, Porche bukan...




Wednesday, June 23, 2010

Sakit?? Ga papa :)

Hayyaaahhh...
baru juga terima Raport KBB-nya, Alif dah KO duluan. Rapotnya sih baguss... tapi kondisi kesehatannya lagi gak fit. Meler.. srat srott... haduhh...

Ummi gak kurang akal lah.. Langsung berburu buku dan alat-alat ketrampilan yang bisa digarap Alif dan Afra di rumah, biar ga pada garing liburannya.
Prinsipnya sih, liburan kudu bermanfaat, se-happy mungkin, se-seru mungkin, se-enggak capek mungkin (nggak tau kenapa ya, kami berempat rasanya anti banget sama yang namanya kecapean. Nggak banget lah... kaya apa aja hidup sampe kecapekan gitu. hehehe), dan tentu saja dengan budget se-optimal mungkin.

Liburan di Jakarta pastilah nguras kantong. Kalo di Semarang, murah-murahnya bisa aja ke pinggiran Gombel (apakah namanya masih Bukit Asri??) kemudian memandang indahnya pemandangan kota Semarang dari bukit, main ke Ksatrian liat kuda, atau maen ke sepupu yang punya ayunan? Tapi kalo Jakarta... semurah-murahnya pasti kena cost tambahan. Bensin karena macet kah? Ongkos makan minum yang premium kah? Atau bayar parkirnya dengan sistem jam-jaman? (nanti kita buat review tentang liburan murah di Jakarta deh yaa... next time).

Dan di hari liburan kelima, Afra tertular batuk, dan makin ramailah lomba serak-senggrokan-dan serot-serotan. Haduhh...

Tapi eniwe, Ummi pastilah bahagia, melihat anak-anak yang walo sakit, masih bisa sebegitu cerianya. Ummi stress pastinya, karena badan Afra panas, Alif yang batuk terus-menerus, lalu ayah yang lembur tiada henti...
Namun, keceriaan anak-anak seolah menampar menyadarkan diri, bahwa kehidupan itu, dengan cinta dan ketulusan, pastilah tetap indah. No pretensi, no tendensi. Cukuplah bersikap TULUS dan menebar CINTA.

Cepat sembuh ya anak-anak, mari jajan es krim, mari pesta coklat, dan main hujan lagi!!!
Love u more and more ...

*Ummi
(ntar diposting foto-foto hasil karya Alif dan Afra selama liburan. lengkap dengan berantakannya rumah. hehehe)





Friday, June 18, 2010

Wanita Cantik Sebabkan Stres Pada Pria

img

(Amelia Ayu Kinanti) - wolipop

Jakarta - Siapa bilang pria selalu bahagia di depan wanita cantik? Sebuah penelitian membuktikan, kecantikan wanita justru memicu stress pada pria.

Penelitian itu dilakukan terhadap ratusan pria di Spanyol. Cara penelitian dilakukan cukup unik. Para pria itu diberikan sebuah puzzle dan diminta menyelesaikan dalam satu ruangan. Di dalam ruangan itu ada satu pria asing dan seorang wanita yang cantik yang mengaku sebagai peneliti.

Dalam beberapa menit, sang pria yang mengaku peneliti sengaja keluar ruangan dan meninggalkan objek penelitian berdua saja dengan wanita cantik tersebut.

Dari hasil pengamatan terbukti bahwa tingkat stress pria setelah ditinggal berdua saja dengan wanita cantik menjadi meningkat. Produksi keringatnya bertambah, wajahnya seringkali tertunduk malu, serta pipinya seringkali merona.

Keadaan tersebut membuat konsentrasi para pria terpecah, sehingga mereka pun sulit menyelesaikan puzzlenya. Para peneliti juga menemukan sebuah hormon bernama cortisol yang biasa muncul dalam keadaan stres.

Stress pria muncul karena rasa tidak percaya diri dan perasaan kurang menarik di depan wanita cantik tersebut. Stress para pria mereda setelah wanita cantik itu meninggalkan ruangan.

-end-

"Syukurlahh....."
Bukan syukur karena saya bukanlah Sang Wanita Cantik,..
Tapi syukurlah, karna saya tak sampai membuat bapak, kakak2, dan suami (apalagi anak laki-laki) saya berkeringat dingin, konsentrasi menurun, apalagi stress.... ;)

Tuesday, June 15, 2010

Nikmatnya Rasa Sakit

Senin lalu (14 Juni 2010), pukul 7 pagi, saya begitu bersemangat (as ussual) membangunkan anak-anak dan mempersiapkan mereka utk berangkat sekolah.
Usai libur dua hari, tampaknya pompa semangat di Hari Senin harus lebih ditekan. Pameo Hate Monday memang racun, yang sadar atau tidak, menghipnotis orang untuk menjadikannya 'Hari Istimewa' bekerja (super repot dan ribet), layaknya Love Sunday sebagai Hari Istimewa berlibur.

Bisa ditebak, dua kurcaci saya itu begitu sulit dibangunkan. Merem-melek-menggeliat-merem lagi. Biar tidak senewen, saya nyanyikan lagu kencang-kencang supaya mereka terbangun dan tersadar dari mimpi akhir pekannya. Dan tentu saja dengan nada fals supaya mereka lebih terusik (pada dasarnya suara saya memang fals).

Ada sahutan mezo-sopran. Artinya Afra sudah bangun. Bersamaan dengan itu, saya tengah bersiap mengeluarkan tas mereka dari dalam lemari besar di ruang tengah sebagai tempat penyimpan segala rupa tas.
Namun tak dinyana...

"Dugh...buk... kreekkk...blek"

Sang pintu lemari kayu yang big dan keras itu menghantam kepala saya. Sisinya tepat mengenai pelipis, entah dimana persisnya, yang jelas suakitnya bukan main.
Rasanya kesal dengan si pintu lemari. Andai dia bukan barang berat, mungkin sudah saya lemparkan ke lantai sebagai upaya pelepasan rasa sakit yang tak terkira. Namun demi mengingat berat dan kerasnya, dengan perlahan saya sandarkan kembali pintu itu.

Ya, pintu lemari itu memang tidak sempat jatuh ke lantai. Pintu lemari setinggi 2,5 meter itu terhenti di kepala saya.

Saya sempat terdiam sambil memegang si pintu. Sempat terputar satu memori dengan rasa yang pernah akrab. Namun apa dan kapan ya?

Tak lama saya berbaring di kasur menahan nyeri yang luar biasa. Mata merah dan berair, pelipis yang senut-senut, serta badan yang rasanya remuk redam.

Sesaat saya teringat peristiwa delapan tahun silam. Kala itu juga pagi hari, pukul 6.30. Bedanya adalah pagi bagian semarang (bukan jakarta) dan TKP-nya di luar, di jalan raya, bukan di dalam rumah. Bukan pintu lemari, tapi kecelakaan (motor) tunggal. Di tengah basahnya gerimis. Demi menghindari sebuah motor yang berbalik arah dari sisi kiri ke sisi kanan arah sebaliknya, rem mendadak saya membuat kami berdua (saya dan si tornado) terjungkal ke sisi kanan. Syukurnya tidak ada kendaraan dalam jarak dekat dari sisi kanan. Si motor 'tersangka' segera melarikan motornya, sementara saya yang sempat mati rasa ditolong oleh seorang yang lain yang juga mengendarai motor.

Saya ingat, kala itu di tengah nyeri, saya berusaha pulang menempuh jarak sepuluh kilometer, dengan kondisi stang motor yang bengkok. Tanpa kacamata minus yang pecah terbelah (tak bisa lagi dipakai), dan kaca helm full protect yang hancur berantakan. Dahsyatnya accident pagi itu. *Pesan : jangan sayang membeli helm full protect kualitas baik (SNI). Saya tidak bisa membayangkan jika sedang pakai helm abal-abal.

Tiba di rumah, di tengah kepanikan ibu dan bapak, singkatnya saya segera diistirahatkan.
Pertolongan pertama : minyak tawon! Oleh ibu, si minyak dibalurkan ke sekujur tubuh sisi kanan, mulai kepala (yang berlumur darah), pipi, lengan, dan kaki (alhamdulillah....pakaian panjang saya cukup 'bermanfaat' sebagai perisai).

Tak lama setelahnya, saya tiba-tiba terbang ke alam lain. Saya tidak sadarkan diri. .... untungnya sudah di rumah.
Kala terbangun, yang saya rasakan adalah perasaan damai... sangat damai.... padahal darah segar masih menetes di pelipis, dan badan senut-senut tidak keruan. Saat itu juga saya bersyukur... entah darimana rasa nyaman itu.
Padahal latar belakangnya aroma minyak tawon :D

Saya teringat di masa itu adalah saat sibuk2nya saya menjalani aktivitas kemahasiswaan. Begitu overnya. Dan mungkin kecelakaan itu-lah rem-nya. Masih terngiang bagaimana ketika tiba di rumah, dengan sisa tenaga saya menceritakan kronologis kecelakaan, kakak sulung saya dengan begitu hebohnya bilang "Mending kamu tabrak aja tuh motor, jadi kamunya gak jatuh separah ini!". Benar memang. Tapi mungkin saya tidak bisa tidur nyenyak (pingsan dengan sukses) setelahnya. sebagaimana yang baru saja saya lalui. Saya bersyukur tidak melakukan opsi tersebut, dan bersyukur atas jalanan yang tengah sepi (mungkin karena tengah hujan).

Seminggu penuh saya total istirahat, sampai bengkak itu surut, luka parut itu mengering, dan senut-senut itu berkurang. Saya nikmati seminggu itu sebagai waktu istirahat. Waktu berpikir tentang pilihan aktivitas, dan waktu untuk lebih merasai 'masa jeda'. Kita boleh berusaha, namun Tuhan penentu segalanya. Entah mengapa rasa sakit itu begitu nikmat.

Dan kecelakaan pintu lemari tadi mengingatkan saya pada hari kecelakaan di pagi gerimis silam itu. Segera tersadar, lalu secara mantap saya memilih untuk menikmatinya. Saya bersyukur karena pintu lemari itu tidak menimpa anak atau suami saya, dan bersykur bahwa pintu yang jatuh adalah pintu lemari, bukan pintu rumah yang lebih tinggi dan lebih berat. Saya juga teringat, sebulan yang baru lalu adalah hari-hari yang luar biasa sibuk dan berat, dengan segala macam urusan dan kegiatan. Mungkin 'saatnya utk beristirahat' telah tiba. Badan saya mulai demam, energi mulai surut, dan mata terasa berat.
Setelah anak-anak diambil alih suami, segala persiapan dan urusan sekolahnya, saya pun tak sadarkan diri. Tak sadar, namun dalam kedamaian dan mimpi yang indah :)
Seharian itu saya 'bebas tugas', ditemani aroma minyak tawon. Nikmat :D

*pesan : jangan lupa sediakan minyak tawon sebagai pertolongan pertama pada luka baru! Mantap!


*terkadang kita perlu ditegur dengan keras, hanya untuk membuat kita 'sekedar beristirahat'*
- jangan lupa istirahat yaa.... sebelum kita 'dipaksa' beristirahat :)

Thursday, February 4, 2010

Tertarik, Kagum, juga Penasaran


Saya sebenarnya termasuk orang yang gampang tertarik pada orang lain.
Karena, tiap orang itu unik. Tiap orang itu eksis. Dan tiap orang itu punya posisi di jagat Bima Sakti ini.

Makanya, saya selalu tertarik.

Walau... saya sangat tidak mudah kagum pada orang lain. Karena tiap orang punya kemampuan masing-masing, punya modal masing-masing, punya keinginan masing-masing, dan punya tujuan masing-masing.

Makanya, saya tak mudah kagum pada orang.

Namun kalo kemudian saya tertarik pada satu sosok, lalu kagum, lantas penasaran hingga kini, maka cuma dia-lah orangnya.

Untuk seorang pria (ya, ternyata dia pria.. fiuhh..), tinggi badannya rata-rata saja. Tidak terlalu tinggi. Namun tegap. Proporsional, atletis, dan juga lincah.

Gaya rambutnya unik, lurus, tebal ala punk (tapi nggak nge-punk). Saya nggak tau warna asli rambutnya memang seperti itu, atau tidak. Abu-abu keperakan.
Ilmu beladirinya jangan ditanya. Luar biasa. Itu yang membuat saya kagum. Saya hampir nggak pernah lihat dia kalah di arena pertarungan. Kalau melihat dia bertanding, jantung rasanya berhenti berdetak, badan ikut tegang, tak acap dahi mengkerut, dan alis naik turun. Tapi dia 'selalu' menang memang. Great!

Pakaian ala prajuritnya membuat komplit penampilan yang keren, tangguh, macho dan.. lah segalanya serba pas.

Walau terlihat begitu jantan, dia penyuka novel. Ini yang membuat saya makin suka pada sosoknya. Di sela latihan atau melatih murid-muridnya bela diri, membaca novel adalah kesibukannya.
Keras, namun pengertian. Tangguh, namun romantis. Konyol, cerdik, tapi juga kaya wawasan dan mendalam secara emosional.

Dia punya tugas yang berat dalam melatih dan membina timnya. Menurut saya, tim-nya adalah tim yang paling kompleks dan paling berat ditangani, karena begitu beragam kepribadian dan keahlian.

Sosok yang komplit. Saya tertarik, saya kagum, dan masih penasaran hingga detik ini.

Mata Sharingan implantasi dari temannya si-"crying baby", pedang ayahnya, si-White Fang, Chidori, Rasengan (dg satu tangan)... kepekaan hatinya, kekuatan fisiknya, juga ketajaman otaknya... hhh... saya speechless... Dia bukan paling hebat, tapi paling menarik!

Tapi saya memang masih penasaran... Bagaimana wajahnya??
Karena wajahnya selalu tertutup masker. Walau masker, ikat kepala Konoha, dan slayer mata satunya, memang membuatnya tampak makin keren,.......
Tapi bagaimana wajahnya??

Saya masih penasaran..

Jangankan saya sih, murid-muridnya; Sasuke (yang kemudian 'digantikan' oleh Sai), Sakura dan Naruto pun, tak pernah tahu bagaimana wajah sensei-nya ini.

Ah, peduli amat..
Kakashi Sensei.. teruskan perjuanganmu.
Suatu ketika, semoga penasaranku terjawab.
Mashashi Kishimoto...please... (awas ya, tokoh yang ini nggak boleh mati, Naruto juga! arigato!)


Nb: photonya emang ga nyambung...wkwkwk...

Tuesday, February 2, 2010

Borobudur : Ajiibbb !!



Bangunan megah yang luar biasaa...

Konon bangunan candi ini dibangun di abad VIII pada Dinasti Syailendra.

Kabarnya pula, candi ini dibangun dengan tatanan sekitar dua juta batu di antara aliran Kali Elo dan Progo dengan total volume bangunan mencapai 55.000 meter persegi.


Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, dan kabarnya, sempat tertimbun abu letusan Gunung Merapi pada tahun 950 Masehi.
Pada tahun 1991 UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia yang wajib dilestarikan dan termaktub dalam World Heritage List Nomor 592. Keren kann??

Seingat memori, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Borobudur, candi megah yang menjadi candi favorit saya di antara beribu candi peninggalan sejarah di Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi 'utuh' yang penggambaran sejarahnya masih terasa 'utuh' pula.

Terakhir kali mengunjungi Borobudur di Bulan Oktober 2009 yang lalu, saya betah berlama-lama berada di areal candi, yang sayangnya saya datang di waktu sunset. Sehingga kesempatan untuk menjajaki candi tinggal sedikit waktu. Kawasan candi ditutup pukul 17.00 atau pukul 5 sore. Menyaksikan kemegahan candi ini, terasa betul bagaimana 'keajaiban' itu memang ada. Masa di mana teknologi dan insinyur belum ada, namun bangunan dengan arsitektur dan relief yang relatif berkualitas tinggi ini sudah 'mampu' berdiri. Megah, kokoh, menakjubkan. Walau beberapa patung pertapa atau arca Budha sebanyak 504 buah, sudah tak utuh (tinggal leher dan badannya saja, hidungnya cowel, atau tanggannya tinggal setengah siku), namun bangunan candi ini masih terasa indah dan luar biasa.

Ketika meraba batu berbentuk stupa itu.., rasanya.. luar biasa.. kokoh! Undakan tangga yang curam, nuansanya penuh misteri dan tantangan (tak terbayang untuk mendakinya setiap hari). Puncak-puncak stupa 'kecil' yang mengelilingi stupa tertinggi yang paling megah itu.. menularkan emosi ketakjuban dan penuh memori yang entah tersimpan di stupa bagian mana dan di masa yang mana.
Ajaib.. Subhanallah...

Terhitung sejak februari 2010, harga tiket masuk candi mengalamai kenaikan. Harga tiket untuk wisatawan nusantara (wisnus) kategori umum pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp12.500 menjadi Rp15 ribu/orang. Sedangkan hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional naik dari Rp15 ribu menjadi Rp17.500/orang.
Harga tiket untuk wisnus kategori anak-anak dan pelajar secara rombongan dengan jumlah minimal 20 orang, pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp7.500 menjadi Rp10 ribu/orang. Sementara hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional dikenakan Rp11 ribu/orang. Ia mengatakan, harga tiket wisnus umum pada musim liburan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Rp25 ribu/orang dan wisnus anak-anak atau pelajar Rp12.500/orang.

Untuk harga tiket wisatawan mancanegara (wisman) umum, naik dari 13 dolar AS menjadi 15 dolar AS/orang dan wisman anak-anak atau pelajar naik dari tujuh dolar AS menjadi 8 dolar AS/orang. Harga ini dengan asumsi kurs 1 dollar senilai Rp 10.000,-.
Bagi yang membawa kamera, maka dikenakan bea kamera (sayangnya saya lupa berapa besarnya. kalau tidak Rp. 5000,- ya Rp 1000,-).

Para pengunjung pun sekarang diwajibkan melewati
metal detector sebelum memasuki areal candi. Bayangkan saja wisata candi, wisata abad lampau, tapi ada metal detectornya. Nggak nyambung sih, tapi mau bagaimana lagi. Hehehe..

Terhitung sejak Februari 2010 pula, para pengunjung dilarang mengenakan celana pendek, rok mini atau sepatu high heels (sebenernya buat
high heels, bener juga, masa iya 'mendaki' candi pake high heels sih.. hebat dong.. kekekek...). Untuk celana atau rok mini, dimaksudkan dalam rangka menghormati candi dan sejarah (karena nilai leluhur dan religinya). Padahal kalau 'mendaki' menggunakan rok mini, ribet juga sih...

Karena bersama anak-anak, agak ribet juga mau menjelajahi setiap senti bagian candi. Apalagi mendakinya saja sudah cukup melelahkan. Namun kunjungan kali itu cukup memuaskan.

Satu hal yang masih mengundang rasa penasaran dan belum kesampaian, adalah menyaksikan pentas kesenian tradisional Dayakan/Topeng Hitam, Kubro Siswo, Soreng, dan Jathilan yang rutin diselenggarakan di area candi, juga pentas Sendratari Ramayana yang kesohor itu.
Kapan yaa...(ada yang mau menemani??)


(informasi tambahan; dari berbagai sumber)


Saturday, January 30, 2010

Temukan Diet Ideal


Lagi-lagi soal diet.

Dari jaman saya masih SD sampai saya sudah punya krucil dua anak, tema DIET rasanya tidak pernah luntur dari peradaban.

Seumur-umur saya nggak pernah tertarik dengan tema ini. Nggak pernah minat membaca apalagi mengikuti dan mempelajari ilmu diet. Karena badan usia SD saya justru kerempeng. Mulai gemuk saat masa puber di usia hampir lulus SMP. Tapi saya masih nggak merasa gemuk (waa.. ngeselin kan?). Hingga di usia SMU, ketika seorang teman nyeletuk "Nggak kaya kamu, gendut".. wealah...

Tapi saya ga acuh juga lah.. Bisa jadi dia sirik (hehehe...membela diri). Tapi kok dia cowok? Masa iya sirik sama saya yang notabene perempuan tulen??

Hingga akhirnya saya menikah dan memiliki dua anak. Ilmu DIET serasa jadi wajib buat dilirik. Terutama saat anak kedua sudah menginjak usia setahun lebih. Ketika kedua anak saya sudah berjalan, baru deh ngerasa keliatan badan gemuknya (namanya juga ibu-ibu hamil melahirkan dua kali menyusui ekslusif masing2 enam bulan. Kurang gemuk apa coba?) Hehehe... kalo gendong anak kan badannya ga keliatan, ngapain juga langsing? :))

Sebenarnya cuma biar keliatan keren aja, pas jalan sama anak-anak. Keliatan bugar dan serasi dengan suami saya yang konon hingga kini masih mungil dan makin mungil (piye tho bang?).

Ilmu-ilmu terapan diet, saya coba. Berhasil!!! Iya, turun sekilo dalam tiga hari, hari keempat naik lagi. Lho?? Jamu diet, lotion peluntur lemak, pil diet, baju pelangsing, makanan diet dan bla-bla yang sempat saya lirik demi menjadi bugar dan keren, rasanya nihil! Mulai dari harga 60 ribu perak, sampai 400 ribu, gagal total semua... Nyebelin banget, mengingat duit segitu bisa buat ngapa-ngapain.

Saya rasa pengetahuan dasar tentang diet saya yang salah.

jadi beginilah kesimpulan saya (yang akhirnya terbukti benar) :
Temukan masalah dasar mengapa kita menjadi gemuk, lalu atasi.
Inilah yang terpenting.



Berikut Daftar Masalah Kegemukan :

1. Suka mengemil (ternyata ini masalah utama. Hormon menyenangkan yang keluar setelah mengudap, rasanya sudah menjadi candu)

2. Genetis? (hati-hati dengan genetis. Bukan sekedar karena orang tua kita gemuk lantas otomatis kita langsung -pantas saja- menjadi gemuk. Genetis di sini lebih saya fokuskan pada : gen kebiasaan. So, kalo orang tua kita secara gen alias kebiasaan, suka memasak dan memakan makanan berkuah santan, maka biasanya kita meniru hingga menjadi kebiasaan -nggak bisa kalo nggak makan santan-. Dan di sinilah masalah dasar kita : kebiasaan/ perilaku terhadap makanan)

3. Obat-obatan (hati-hati dengan obat-obatan yang memicu kota mengkonsumsi makanan dengan kalori berlebih. Obat anti depresan, pil KB hormon dan sejenisnya, sudah pasti membuat badan cenderung meng-gemuk)

4. Kebiasaan Begadang (suka begadang atau kurang tidur membuat metabolisme tubuh melambat. Akhirnya proses mencerna dan pengolahan makanan menjadi energi juga melambat. Akibatnya, penumpukan sisa kalori menjadi lemak justru meningkat)

5. Melewatkan salah satu waktu makan; baik sarapan, lunch maupun dinner (melewatkan salah satu waktu makan hanya akan membuat gula darah tubuh kita turun drastis. akibatnya, ketika diisi makanan, langsung melonjak tajam. So, hati-hati gula darah. Saat salah satu waktu makan dilewatkan, kalori yang masuk memang berkurang, namun ingat, tubuh biasanya tetap akan meminta jatah yang kita potong di waktu lainnya. Bisa jadi makan berlebih di jam makan berikutnya, atau keinginan mengemil gula (akibat gula darah turun) yang justru berlebih

6. -Tentu saja- malas bergerak. Dampaknya, metabolisme lambat, dan proses pembentukan kalori menjadi cadangan alias lemak justru tinggi.


Berikut Kesimpulan Solusinya :

1. Makan ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Sepertiga lambung kita untuk makanan, sepertiganya untuk air, dan sisanya untuk udara, agar pencernaan tetap sehat. Kalau tidak lapar, sebaiknya nggak usah nyari-nyari makanan :)

2. Kaji dan evaluasi kebiasaan keluarga yang tidak sehat untuk diwariskan pada diri sendiri dan keluarga kecil kita.

3. Jangan mudah mengkonsumsi obat. Sebaiknya gunakan pendekatan alamiah tubuh : istirahat, makan cukup dan kaya nutrisi, serta olah raga agar badan tidak mudah drop (daya tahan tubuh menurun = mudah sakit).

4. Tidur dan bangun pada jam yang -diusahakan- sama, agar badan juga 'lebih menghargai' kita karena kita disiplin 'memperlakukan mereka'. Disiplin. Jam tidur dan lamanya orang tidur berbeda-beda, sesuai kebutuhan. Namun yang jelas, tetap butuh istirahat. Biasanya kita sendiri lah yang paling tahu, berapa lama dan kapan waktu yang cocok buat kita tidur, lalu terapkan.

5. Disiplin dengan waktu makan. Upayakan demikian, karena dampaknya bukan hanya masalah gemuk, tapi juga kesehatan tubuh keseluruhan dalam jangka panjang.

6. Banyak bergerak. Belum bisa olah raga rutin, biasakan perbanyak aktivitas fisik. Pilih tangga ketimbang lift, parkir mobil atau motor lebih jauh, ambil minum atau buat minum sendiri alih-alih meminta OB, menyapu, mengepel, dan lain-lain.

*bukan untuk mengkritik kebiasaan dan tubuh orang dan diri sendiri :)*

Topik ini mungkin akan berlanjut lebih detil...

CMIIW yahh..

Tuesday, January 26, 2010

Who Am I?


Kenapa identitas sebegitu pentingnya?

karena identitas adalah 'kode' untuk menggambarkan siapa kita. Identitas adalah cermin siapa kita. Identitas juga sebuah 'stempel' akan jati diri.

Pencarian identitas bukanlah sesuatu yang mudah. Pemberian label identitas juga bukan sesuatu yang gampang. Karena identitas, berarti identik dengan kompensasi sosial, selalu berkaitan relatif terhadap seseorang atau sesuatu, di luar kita. Oleh karena itu, pencarian identitas adalah perjuangan.

Ketika lahir dulu, saya tidak kesulitan dengan sebuah identitas. Karena kemampuan untuk itu, saya belum punya.
Ketika sekolah TK-SD-SMP-SMA hingga kuliah, identitas itu pun melekat dengan mudah. Walau status diri bisa berganti atau bertambah tiap tahun, tiap semester.

Di masa menjadi mahasiswi,
"Saya sekretaris Rohis fakultas, Bu.."
"Saya Ketua Himpunan Mahasiswa, Mbak.."
"Saya pengurus FLP Semarang, Pak.."
"Saya Anggota Muda Perhumas, Mas.."
Simple. Dan identitas saya selalu banyak (lebih dari satu). Namun yang jelas, identitas saya yang utama adalah : Mahasiswa Komunikasi. Ketika emblem2 sekretaris, ketua himpunan, pengurus, atau anggota muda dicabut seketika, identitas saya sebagai mahasiswa masih erat melekat, selama pita tambang toga belum dipindah; dari kiri ke kanan.

Secara identitas, saya aman.
(Tidak mungkin identitas utama saya 'sekedar' anaknya Pak Ini dan Bu Itu, atau kakaknya si Ini dan adeknya si Itu).

Namun ketika jubah wisuda berwarna hitam legam itu dikenakan (yang penantiannya sebegitu hebohnya dengan perjuangan ujian yang mati-matian secara waktu dan perdebatan dengan tiga orang dosen), saya merasa mulai 'krisis' identitas. Walau masih ada identitas lain yang melekat, namun saya tidak bisa menggunakannya sebagai 'identitas utama'. Mengapa? Yang jelas kala itu saya belum tahu jawabannya.

Akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Saya punya identitas baru, yang bisa saya gunakan sebagai identitas utama. "Saya Corporate Secretary, Om..".

Lalu saya menikah. Dan langsung memutuskan keluar dari sang company.
Identitas utama saya pun baru : as a wife. "Saya istrinya, Kang...".

Saya ingat sekali, betapa bangganya, ketika pada akhirnya saya dipanggil "Bu.." di supermarket ketika sedang belanja. Dan kala itu saya tengah hamil 6 bulan (semenjak jadi istri hingga hamil 5 bulan, masih dipanggil "Mbak", dan panggilan itu membuat saya tertekan "Masa iya, saya nggak ada pantes2nya jadi istri orang?"). Saya bangga dengan status sekaligus 'panggilan' baru saya : "Bu.."

Ketika melahirkan dua anak, Alif dan Afra, panggilan "Bu" tentu saja sangat amat biasa di telinga saya. Ya jelas lah, masa bawa dua anak gini masih dipanggil "Mbak" juga?
Tapi ketika Afra sudah berusia hampir dua tahun, tiba-tiba seseorang menyapa saya,"Mbak, tantenya ya? Ibunya yang mana, anak2nya lucu,". Mendadak saya krisis identitas. Hehehe.. norak. Saking noraknya, saya langsung ke kamar mandi dan berkaca; "I'm still young" kekekek..

Dan ketika berat badan saya menyusut, dan makin sering bepergian sendiri, maka saya pun disangka 'masih embak-embak'. bahkan ketika bulan madu ke Bali bersama suami di jelang anniversary kelima, kami disangka pengantin baru yang baru bulan madu. Maka saya jawab kepada sang tour-guide, "Bulan madu kelima Mbak.. ".

Kacaunya, saat mendaftar di RT setempat ketika baru pindah. Pak RT bilang, "Pengantin baru ya, KK-nya belum bikin dong?". Suami pun menjawab "Sudah dua anak pak, paling besar empat tahun".

Maka, krisis identitas itu makin parah terjadi. Ketika sesekali masih ada yang memanggil saya dengan panggilan "Bu", saya tertekan kembali. Kening saya berkerut, bibir mencerucut : Badan saya ga langsing lagi ya? Muka saya sudah nggak muda lagi ya? Perut saya gendut ya? (aduh maaf yah ibu-ibu, saya tidak bermaksud 'menghina' status kita secara fisik sebagai ibu-ibu kok, ini mah saya nya aja yang minder).

Empat tahun menjadi seorang ibu, bekerja sebagai konsultan, masih aktif di organisasi, masih merintis marketing online, ternyata tidak membuat saya berhenti mencari identitas. Mengapa? Tak puas rasanya. "Ibu", "Istri", "Temannya dia", "Budhenya, tantenya, kenalannya si anu", "Redaktur di ini", "Konsultan di itu", "Bisnis online di anu".. masih 'belum stabil'. Karena semua 'gelar' itu bisa tercabut satu per satu, ataupun seketika. Who knows..? Lalu identitas saya?

Maka proses pencarian identitas itu masih saya lakukan. Kok sepertinya identitas saya sedemikian banyak tapi tidak ada yang membuat saya 'berhenti' mencari?

Dan saya bertemu pada sebuah identitas yang tak akan berubah, apapun cuacanya.
Bahwa saya adalah : apa yang saya pikir dan lakukan.

Maka saya pun merasa bahwa selain menjadi ibu, istri dan bla bla di atas, saya adalah :

- penulis, karena saya rutin menulis di tabloid yang saya kelola (termasuk menulis blog ini), dan membuat artikel atau cerpen untuk majalah

- pengamat, karena saya suka mengamati berbagai hal dan mengkaji kalau memungkinkan (lalu dijadikan tulisan)

- producer, karena saya masih di belakang layar untuk membuat dokumentasi foto-foto anak-anak dan keluarga

- event organizer, karena saya merancang acara-acara ultah anak-anak (tiap tahun), ultah suami, ultah pernikahan, ultah saya sendiri, dll

- konsultan, karena selain memang sebagai konsultan PR, saya juga tempat teman-teman berkonsultasi mengenai segala rupa internet (karena suami saya programmer)

- penerjemah, karena anak-anak sering menanyakan arti ini itu di buku maupun film kepada saya

- manager keuangan, karena ngurusin uang kantor dan uang rumah tangga. Pusingnya minta ampun, kecuali akhir bulan (masa menghabiskan anggaran, kalau ada sisa)

- HRD management, karena di rumah ada tiga pekerja, yang semua urusan tetek bengeknya saya yang mengurusnya

- public figure, karena tiap ada yang menanyakan nama saya pada satpam kompleks, atau tetangga-tetangga kompleks, atau orang tua murid di sekolah anak-anak, atau orang-orang di kantor yang seruangan, teman-teman kuliah sejurusan seangkatan, keluarga besar saya sampai sepupu2, Pak RT dan Bu RT, semua mengenal saya. Percayalah..

Bahkan saya juga seorang pembantu rumah tangga, yang selalu siap membantu di kala ayah, Alif ataupun Afra membutuhkan bantuan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dll, apalagi ketika para asisten sedang off.

Ternyata saya nyaman dengan identitas yang saya ciptakan sendiri :)

So, saya ciptakan identitas Saya sendiri dari apa yang Saya pikirkan dan lakukan, tanpa terjebak pada label yang orang lain berikan pada saya. Karena label orang lain adalah apa yang mereka pikir dan inginkan atas saya, bukanlah diri kita sesungguhnya :)

CMIIW yach...

Friday, January 22, 2010

My Stylish Corby's Review..

That's my review about My Corby...

Di awal peluncuran hape qwerty ini, saya langsung jatuh hati. Dasarnya ga pernah nonton tipi atau liat iklan koran/majalah, saya menemukan corby di Mal Taman Anggrek melalui flyer-nya. Wiihhh... gue banget dah ni hape.

"Must have item nih Yah.." said to my husband.
"Hape kamu kurang apa sih.." he answered with 'smiley'.

Iya sih... kalo cuma soal per-hape-an, Nokia Express Music 5800 (hasil kerja proyek) saya juga masih jauuuuhh lebih keren ketimbang ni Corby. Warnanya black n red, memory 8GB, touch screen.. pokoknya sdh cukup keren lah buat ukuran saya. Tapi, mengingat saya butuh 1 handphone lagi untuk proyek kerja yg lain, dalam hati saya berjanji : this corby, as soon as possible, i'll get it!

Alahmdulillah... tak lama kemunculannya, saya bisa membeli Samsung Corby TXT dari sisa-sisa uang keringat.. (bau tau uangnya)
seharga Rp.1.485.000 . hehe..

Cara belinya yg ga keren : di Plaza Kalibata, jelang maghrib, pas beli pastel goreng seharga Rp.4000,-. Iseng bertanya pada counter hape di depan Giant "Mas, punya Corby ga?"

At least, puasss make corby ini. Dengan harga banderol segitu, kualifikasinya cukup okeh.

What Color is your life? And i chose this ones : Black and white (habis yg ready cuma white and yellow sih) two white and one black alias dapet 3 chasing, yaitu 2 putih -yang satunya ada buble2nya, dan wana hitamnya satu.

Corby stylish banget.. enteng, genggamannya enak...sletheph!
Buat fast message, buat FB-an, buat nggaya..hehehe.. okeh! Lumayan buat second hape, apalagi 3rd mobile phone.. (tapi ga usah banyak2 lah, ngapain juga punya hape banyak2, susah ngasih makannya).

Tapi pastikan ini sebelum Anda pilih corby :
1. perempuan. cos i think corby is a girls/women style. cowok ga macho banget deh megang ini.
2. berjari lentik. walau qwerty, namun tuts keypads nya mungil2.. jadi yang berjari chubby, ribet juga ngetik pake corby.
3. ga usah pota-poto banyak2 (walau kualitas kamera 2.0MP-nya cukup okeh. soalna ga ada kabel data. susye mau unggah poto -walau ada bluetooth)
4. jangan buat nyimpen film. hehehe (coz free memory-nya cuma 1GB microSD)

My Corby is My Color!



Saturday, January 16, 2010

Internet oh internet ...

Sudah lama tak menyapa SL-ku..

Ceritanya, saya resmi meluncurkan akun FB. Ya ampyunn telat banget yak?
Sebenernya akun FB saya sudah lama terdaftar ke server. Tapi memang bukan buat diapa-apain, selain untuk kepentingan 'pekerjaan' semata. Setelah tidak lagi mengurusi kerjaan terkait dengan si FB, ya tamatlah ke-eksisan si FB itu. Udah ga ada friend-nya, ga ada penggemarnya.. haha..

Yah, tapi apa mau dikata...

Tampaknya Era FB emang sedang masanya. Kegigihan saya untuk tak punya akun FB, akhirnya kandas juga. Bagaimana tidak? kalau cuma dianggap gaptek karna ga punya akun FB 'hare gene', oke lah.. soalnya bukan masalah gaptek ga gaptek. Karna walo ga punya kun FB, temen-temen yang ber-FB ria suka konsul about FB ke saya. Cuma kalo soal gapfor alias gagap informasi, nah ini baru.. bener. Masalahnya saya yang tak berlangganan koran, tak suka nonton tipi, males buka HP (HP nya sileeeennt melulu), walhasil jadi orang dari dunia antah berantah. Apalagi di masa kini, orag mengupdate info, berbagi kabar, pasang pengumuman, sampai mengirim undangan menggunakan FB!

Internet memang tengah menjadi rajanya sosialita dunia. Jarak bisa dipersempit, waktu bisa dipersingkat, biaya bisa dihemat, bahkan kemalasan pun diakomodir (nah lho?). Dengan internet, apa yang enggak coba?!

Dulu di masa 90-an, ketika handphone mulai memasuki era komunikasi manusia, secara signifikan penggunaan telepon seluler ini langsung pesat. Makin nambah tahun, pengguna telepon genggam makin jamak. Yang dulunya cuma dipake oleh direktur, bos proyek, atau menthok di anak konglomerat, pada selanjutnya, bahkan semua golongan ekonomi dan pekerjaan 'wajib' kudu punya HP. Mbok jamu, tukang pijat keliling, tukang mie ayam gerobak, sampai loper koran, semua tampak butuh HP untuk menerima pesanan. "Terima pesanan melalui sms : 08********" Giliran ada calon customer ga punya HP, cuma geleng-geleng kepala.

Tiap ada orang baru berkenalan, yang langsung ditanyakan adalah : "no hp-nya berapa, mas?" Era Hp kemudian disusul era email. Jadi setelah bertanya no HP, pertanyaan berikutnya adalah : "alamat email apa, mbak?". Nah sekarang, "FB nya, bu?" merupakan pertanyaan kedua dari urutan pertanyaan orang yang baru saling kenal dan bertukar informasi kontak pribadi. Urutan pertama masih : no hp. Padahal dulu, selain nama dan nomor telepon, orang akan menanyakan alamat rumah. Lha kalo sekarang? Hwaduh.. kebanyang deh.. kalaupun tahu alamat rumahnya, apa iya mau maen?! Jauh kali.. macet.. ongkosnya? Waktunya? Kalau bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi secara online, kenapa mesti offline?

Survey yang dilakukan TNS Global akhir tahun lalu (2009) menunjukkan gejala di dunia, bahwa 30 persen atau sepertiga dari waktu luang masyarakat di negara maju sudah dipergunakan untuk online. dari hasil penelitian pula, dapat dilihat bahwa ternyata penetrasi internet untuk hiburan dan santai ternyata lebih besar di negara-negara Asia. Kenyataan ini tampaknya sangat mungkin pula untuk negara Indonesia, di mana hal-hal ringan dan santai lebih disukai. Maka tak heran jika facebook dan twitter bisa laris manis di Indonesia bagai krupuk dan kripik, karena kontennya sangat cocok untuk bersantai.

Sayangnya, dengan berkembangnya teknologi komunikasi virtual ini, secara otomatis menyusutkan tingkat komunikasi tradisional alias komunikasi tatap muka di seluruh dunia. Bayangkan, dengan kondisi sekarang, dimungkinkan dalam sepuluh tahun ke depan, seluruh anggota keluarga Anda masing-masing akan sibuk ber-online ria. Padahal, di masa kini, kebiasaan makan bersama seluruh anggota keluarga sudah kian sulit diwujudkan, akibat peningkatan kesibukan dan perkembangan zaman serta teknologi. Apalagi kini, Anda tak perlu ribet menggunakan PC (komputer) untuk bisa online. Segenggam handphone sudah cukup memudahkan Anda. Ditambah lagi hadirnya teknologi 3G, munculnya handphone sejenis Blackberry, lengkaplah sudah kemudah itu.. sambil makan, sambil nge-gym, sambil kuliah, sambil nunggu bus, sambil gelantungan di busway, sambil nunggu anak-anak main, sambil nunggu istri pulang kerja, sambil di toilet pula..

Di negara maju, mereka yang berkomunikasi lewat e-mail dengan teman sudah mencapai 78 persen, dibandingkan tatap muka yang sekitar 84 persen. Sementara via mobile phone atau sms, sudah mendekati 70 persen responden mempergunakan handphone sebagai alat komunikasi utama (internet masih lebih 'menang' ketimbang handphone ternyata).

So, meng-update informasi & teknologi dan mengunduhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, memang penting. Namun tetap, tidak secara berlebihan dipergunakan. Yang tampaknya penting juga, jangan latah. Karena kalo sudah terlanjur latah, susah ngobatinnya. Hehe..

Semoga makin tingginya tingkat komunikasi melalu internet dan telepon seluler tidak membuat ketrampilan berkomunikasi langsung (tatap muka) kita menurun. yang berakibat pada menurunnya ketrampilan sosial dan kepekaan antar pribadi. Banyak hal, tetap saja komunikasi tatap muka, silaturahmi langsung dan copy darat, masih sangat diperlukan. Komunikasi antar persona, tetap punya kelebihan. Ada bahasa tubuh, ada kontak mata, ada sentuhan fisik, yang maknanya kaya dan mendalam ini, tentu saja belum bisa 'dijembatani' oleh teknologi virtual.

Pelengkap data : www.marketing.co.id