empat puluh hari..
berjalan, berlalu, berbilang..
Rasanya masih hangat dirasa, sehangat tangan ibu kalau kucium takzim. Tak terasa, sudah empat puluh hari kami tak bersama lagi.
Bapak, yang masih sering menangis tertahan di kala subuh tiba, seringkali membuat hati teriris kembali, bagai empat puluh hari silam itu.
Tangis yang menderu, deras bagai tumpah dari segenap rindu.
Ibu telah pergi. Sejak empat puluh hari itu. Tangis dan sedih yang tiada usai.
Namun ingatkan satu hal; bahwa semua kelak menuju Tambatan yang sama. Hanya.. entah kapan, namun pasti.
Ibu berangkat lebih dulu. Dan nantinya, kami, kita semua pasti akan menyusul. Tinggal menanti saatnya.
Selamat Jalan Ibu. Semoga Allah melapangkan perjalanmu.
-mengenang Ibu di empat puluh hari-
Showing posts with label rumpun hati. Show all posts
Showing posts with label rumpun hati. Show all posts
Sunday, January 20, 2008
Monday, November 26, 2007
Kreasi Perselingkuhan (Saya)
Saya tidak menyangka, bahwa saya akan mampu berselingkuh.
Suatu malam, di malam itu... sudah larut ... hening ... lelap dalam dekapan malam ...
Saya merasa bahagia, ketika seseorang itu, lelaki berwajah sangat tampan, berbincang dengan saya. Mesra. Dan saya merasa nyaman. Ada perasaan luar biasa.
Senyum. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata yang menggetarkan hati "Sayang..." (sepertinya saya pernah mendengar kata dengan nada seperti itu...?). Lelaki itu tersenyum lagi dan mengucapkan kata demi kata lagi (dan sungguh, saya lupa dia ngomong apa ya..? Tampan. Dan dia masih sangat tampan. Dia bukan orang pribumi, walau berbahasa Indonesia juga. Dia lelaki bule. Ya, saya yakin itu. Rambut pirangnya, mata coklat terang ... dan kulit khas bule ... Tampan sekali. Teduh, dan menyamankan. Juga membahagiakan.
Di awal Subuh, saya terjaga. Dan segera menyadari, bahwa baru saja saya bermimpi. Saya pun segera menyadari pula, 'lelaki indah' dalam mimpi tadi, bukanlah sang pangeran (My Prince, My Beloved Husband ---satu-satunya pangeran saya---).
"Abang...saya berselingkuh". Disambutnya dengan senyum. Saya resah.
Di ujung sore, pangeran saya datang menghampiri dan dengan tatapan teduhnya, mengajak saya bicara. Nada yang menenangkan, menyenangkan, juga menyamankan. Persis seperti dalam mimpi saya semalam. Mesra. Dan dia membawa kabar.
--- Saya mendapat 'hadiah' dari seorang lelaki berkebangsaan Perancis!! Pemberian yang akan sangat berarti untuk hidup saya (semoga Allah melapangkan urusan-nya). Sangat-sangat berarti ---
Kabar gembira, untuk saya, suami, dan tentu, anak-anak akan merasakannya pula. Sesuatu yang sangat berarti. Hadiah yang 'besar' dan sangat berarti. Sekali lagi : sangat berarti.
Ada tangis haru dalam biru hati saya. Ada kecerahan di wajah pangeran saya. Secerah senyum Alif dan Afra para buah hati penghias surga.
'Perselingkuhan' saya, senyatanya, adalah ukiran kreasi dari ungkapan suami, dan datangnya 'hadiah yang berarti' dari seseorang nun jauh di sana, di negeri kiblat mode dunia.
Thanks Lot Mr. Delomenie.. (hanya Allah yang bisa Membalasnya). Alhamdulillah, atas segala karunia ini.
--- Saat itu akan tiba. Dan perjuangan baru akan dimulai kembali ---
(kejadian di awal november)
Suatu malam, di malam itu... sudah larut ... hening ... lelap dalam dekapan malam ...
Saya merasa bahagia, ketika seseorang itu, lelaki berwajah sangat tampan, berbincang dengan saya. Mesra. Dan saya merasa nyaman. Ada perasaan luar biasa.
Senyum. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata yang menggetarkan hati "Sayang..." (sepertinya saya pernah mendengar kata dengan nada seperti itu...?). Lelaki itu tersenyum lagi dan mengucapkan kata demi kata lagi (dan sungguh, saya lupa dia ngomong apa ya..? Tampan. Dan dia masih sangat tampan. Dia bukan orang pribumi, walau berbahasa Indonesia juga. Dia lelaki bule. Ya, saya yakin itu. Rambut pirangnya, mata coklat terang ... dan kulit khas bule ... Tampan sekali. Teduh, dan menyamankan. Juga membahagiakan.
Di awal Subuh, saya terjaga. Dan segera menyadari, bahwa baru saja saya bermimpi. Saya pun segera menyadari pula, 'lelaki indah' dalam mimpi tadi, bukanlah sang pangeran (My Prince, My Beloved Husband ---satu-satunya pangeran saya---).
"Abang...saya berselingkuh". Disambutnya dengan senyum. Saya resah.
Di ujung sore, pangeran saya datang menghampiri dan dengan tatapan teduhnya, mengajak saya bicara. Nada yang menenangkan, menyenangkan, juga menyamankan. Persis seperti dalam mimpi saya semalam. Mesra. Dan dia membawa kabar.
--- Saya mendapat 'hadiah' dari seorang lelaki berkebangsaan Perancis!! Pemberian yang akan sangat berarti untuk hidup saya (semoga Allah melapangkan urusan-nya). Sangat-sangat berarti ---
Kabar gembira, untuk saya, suami, dan tentu, anak-anak akan merasakannya pula. Sesuatu yang sangat berarti. Hadiah yang 'besar' dan sangat berarti. Sekali lagi : sangat berarti.
Ada tangis haru dalam biru hati saya. Ada kecerahan di wajah pangeran saya. Secerah senyum Alif dan Afra para buah hati penghias surga.
'Perselingkuhan' saya, senyatanya, adalah ukiran kreasi dari ungkapan suami, dan datangnya 'hadiah yang berarti' dari seseorang nun jauh di sana, di negeri kiblat mode dunia.
Thanks Lot Mr. Delomenie.. (hanya Allah yang bisa Membalasnya). Alhamdulillah, atas segala karunia ini.
--- Saat itu akan tiba. Dan perjuangan baru akan dimulai kembali ---
(kejadian di awal november)
Monday, March 5, 2007
(siapa yang tidak) EMPATI (ya... ?)

Kalau dengar kata “Empati”, kira-kira apa yang tergambar dalam benak ya......? Turut bersedih? Turut berduka? Ikut merasakan penderitaan? Atau sebaliknya?
Empati memang selalu relatif. Tergantung dari bagaimana orang tersebut biasa bersikap, bertindak, berlatar belakang, berharap, dan sebagainya. Karena perasaan yang muncul dari sikap empati, pastilah tidak akan sama persis dengan perasaan orang lain yang sedang dijadikan objek empati. Kadangkala yang berempati memiliki perasaan yang tidak sekuat perasaan sang objek, atau justru sebaliknya, perasaan yang berempati berlebihan, melebihi objek empati. (-bingung :-))
Terbersit kata empati, adalah ketika suatu ketika, saat Jakarta tengah banjir besar lima tahunan. Tahun ini banjir besar jatuh di bulan Januari-Februari 2007.
Saat itu, pada suatu hari, sepulang mengantarkan beberapa barang dan makanan ke posko Peduli Banjir di Rawajati, saya mengirim sms pada seorang teman, yang tiga hari lalu melangsungkan pernikahannya. Bukan di Jakarta memang. Ada sesisip sesal, saya tidak bisa menghadiri pernikahannya yang berjarak ratusan kilo dari Jakarta, dan terlambat pula untuk 'sekedar' mengucapkan 'selamat' atas pernikahannya. Ya, tentu saja, karena Jakarta sedang banjir besar, nyaris semua orang di Jakarta sibuk. Sibuk dengan air yang meluap, sibuk membantu korban, sibuk dengan genteng yang bocor, dll. Saya sendiri sibuk dengan rembesan air yang jatuh ke lantai, menyiapkan makanan sehat karena bahan pangan mulai surut, sampai membersihkan rumah sendiri akibat para asisten yang absen. Satu opname di RS karena tifus, yang satu terjebak banjir.
Pesan singkat itu : “Barakallah ya, semoga jadi keluarga samara. Maaf tidak bisa datang”, tak lupa saya tambahkan kalimat “Jakarta lagi banjir bandhang nih...”
Lama, saya menanti balasannya. Ah, mungkin dia sibuk dengan aktivitas barunya sebagai istri, -pikir saya. Esoknya, balasan itu tiba. Begini kurang lebih jawabannya “Wah, rasanya campur-campur, tapi asyik juga bulan madunya” soal banjir dia komentar “wah asyik, selamat ya, ente berenang2 dong..”. Masya Allah..........
Di tengah deru hujan dan petir, saya merasa sedih dengan jawabannya. Mengapa tak ada EMPATI? Bahkan dia mengucapkan “selamat” atas musibah ini. Keterlaluan -pikir saya-. Apa dia tidak lihat berita, bagaimana banyak korban yang kehilangan rumah bahkan nyawa? Bagaimana kota Jakarta hampir lumpuh total? Bagaimana mereka yang jadi korban sekaligus jadi tim penolong di posko peduli banjir? Bagaimana halte busway jadi tempat tidur yang 'nyaman'? Bagaimana was-was dan rasa khawatir yang selalu muncul tiap kali terdengar hujan turun? Dan dia -sekali lagi- mengucapkan selamat? Saya tak habis pikir.
Ternyata empati sulit muncul jika tidak mengalaminya. Saya benar-benar bisa berempati dengan korban bencana ini, walau saya -Alhamdulillah- tidak termasuk dalam bagian 'korban'. Namun karena saya melihat langsung kejadiannya, bertemu korban, dan memberikan bantuan. Walau tempat tinggal saya tak kena banjir, namun hati was-was juga. Tidur pun tidak tenang, sementara banyak orang beratap langit di luar sana, berselimut dingin. Dengan begitu, ada juga yang mengucapkan “selamat”?
Kesal memang, saya membaca pesan tersebut. Gundah gulana (ta'elaa...). Tak berapa lama sms itu saya terima -dan ditengah gulana- suami saya masuk ke kamar (saat itu saya sedang bersama Alif).
Sontak saja saya teringat banyak kenangan manis saat kami memasuki episode awal hidup bersama (mungkin teringat teman tadi yang belum lama menikah). Ah, saya lalu beristighfar. Entah siapa yang tak punya empati. Bahkan ketika saya menghakimi teman saya tak punya empati, mungkin saya sendiri sedang tak berempati padanya. Mengapa? Saya teringat awal pernikahan dulu (belum terlalu lama). Banyak keindahan, seru, asyik, heboh, dll. Nah, mungkin teman saya ini sedang sangat mengharu-biru dan mengahayati kehidupan awalnya sebagai seorang istri. Sehingga perasaannya diliputi kebahagiaan, kecintaan, hingga 'kalimat empati' nya pun menjadi 'kalimat bahagia'. Oh, kira-kira begitu, mungkin. Bukankah berarti kehidupan pernikahannya, setidaknya awal episode itu tampak membahagiakan? (maafkan aku saudari..)
Akhirnya saya balas kembali sms tersebut. Saya katakan, 'selamat' atas kebahagiaannya, namun, tetaplah berempati dengan musibah yang terjadi, bukannya malah memberi 'selamat' juga. Dia pun membalas dengan maaf; “maaf maksudku tidak begitu” (kalimat ini belum menenangkan dan menerangkan 'empati' apapun). Kelanjutannya : “eh, tapi bener ya, asyik juga pacaran sesudah menikah :-)”
See........... masih seputar 'kebahagiaannya' yang itu-itu juga. Padahal yang saya harap, setidaknya dia bertanya tentang kabar dan situasi terakhir, atau 'kalimat empati' lainnya. Saya kecewa.
Eh, saya salah lagi. Harusnya berempati itu tidak 'memaksakan' orang lain untuk berempati sama sebagaimana empati yang kita rasakan. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu, saudariku ...
Thursday, March 9, 2006
UMMI CURHAT YA NAK.....
(Tentang Kesabaran)
anakku Alif........
ummi sedang sedih nak......
sayangnya ummi nggak tau kenapa tiba-tiba ummi sedih
seperti ummi tidak tau kenapa pagi tadi,
tiba-tiba kamu tidak mau menyusu,
padahal ummi tau harusnya kamu sudah lapar
karena kamu terakhir menyusu 6 jam yang lalu,
di tengah tidur malammu sejak pukul delapan
ummi juga nggak tau,
kenapa kamu juga jadi nangis dan merengek-rengek
tapi nggak mau minum
ada apa nak?
kamu baru sedikit tenang ketika ayah menggendongmu
mengajakmu jalan-jalan di kamar
hingga akhirnya kamu tertidur.....
ah Alif...
sudah 3 bulan menjadi ummimu
tapi banyak hal
yang ummi masih belum mengerti dari kamu
inilah salah satu tanda kebesaran-Nya ya..
Tangisan bayi,
dengan banyak arti meski dengan bahasa yang sama;
MENANGIS
yang menjadi bahan belajar bagi ibu di manapun
untuk selalu sabar
dan bijak mengerti keinginan anaknya
meski selalu hanya;
melalui tangisan.
Alif,
untung ada ayah ya......
yang selalu bisa memberi contoh
pada ummi,
untuk menjadi ibu yang sabar
Doakan ummi menjadi ibu yang sabar ya....
hingga bisa mendidikmu dengan sabar pula
mendampingimu dengan sabar,
menyayangimu dengan sabar,
dan membesarkanmu dengan sabar
Bahkan ketika ummi nggak tau,
apa yang mesti ummi lakukan
ketika kamu menangis,
ummi tetap harus sabar kan?
seperti Nabi Khidir yang sabar
ketika mendampingi Nabi Musa
anakku Alif........
ummi sedang sedih nak......
sayangnya ummi nggak tau kenapa tiba-tiba ummi sedih
seperti ummi tidak tau kenapa pagi tadi,
tiba-tiba kamu tidak mau menyusu,
padahal ummi tau harusnya kamu sudah lapar
karena kamu terakhir menyusu 6 jam yang lalu,
di tengah tidur malammu sejak pukul delapan
ummi juga nggak tau,
kenapa kamu juga jadi nangis dan merengek-rengek
tapi nggak mau minum
ada apa nak?
kamu baru sedikit tenang ketika ayah menggendongmu
mengajakmu jalan-jalan di kamar
hingga akhirnya kamu tertidur.....
ah Alif...
sudah 3 bulan menjadi ummimu
tapi banyak hal
yang ummi masih belum mengerti dari kamu
inilah salah satu tanda kebesaran-Nya ya..
Tangisan bayi,
dengan banyak arti meski dengan bahasa yang sama;
MENANGIS
yang menjadi bahan belajar bagi ibu di manapun
untuk selalu sabar
dan bijak mengerti keinginan anaknya
meski selalu hanya;
melalui tangisan.
Alif,
untung ada ayah ya......
yang selalu bisa memberi contoh
pada ummi,
untuk menjadi ibu yang sabar
Doakan ummi menjadi ibu yang sabar ya....
hingga bisa mendidikmu dengan sabar pula
mendampingimu dengan sabar,
menyayangimu dengan sabar,
dan membesarkanmu dengan sabar
Bahkan ketika ummi nggak tau,
apa yang mesti ummi lakukan
ketika kamu menangis,
ummi tetap harus sabar kan?
seperti Nabi Khidir yang sabar
ketika mendampingi Nabi Musa
Wednesday, March 8, 2006
KETIKA MUSUH DATANG
Ada nggak sih, yang takut pada rasa BOSAN? Kalo saya, takut sekali dengan yang namanya BOSAN. Bosan membuat hidup tidak bergairah. Mau ngapa-ngapain juga malas. Visi hidup mengabur, misi hidup melabur. Pekerjaan numpuk, tidak fokus, dan akhirnya berabe, jadi tidak produktif.. Bayangkan, betapa menakutkannya penyakit bosan, karena dia menyerang hati juga. Yang membuat semangat menurun drastis seperti orang mati rasa. Ah sedihnya...
Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...
Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.
Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.
Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........
Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.
Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?
Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.
Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......
Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...
Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.
Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.
Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........
Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.
Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?
Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.
Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......
Tuesday, March 7, 2006
1 Tahun, 3 Bulan, dan 25 Tahun
-19 November 2006 (ditulis dg sangat terlambat)-
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Friday, March 3, 2006
KETIKA TAK MAMPU BERDOA
Pernahkah mengalami hal di atas? Ya, saat dimana kita “tak mampu” berdoa?
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
Subscribe to:
Posts (Atom)
