Wednesday, March 8, 2006

KETIKA MUSUH DATANG

Ada nggak sih, yang takut pada rasa BOSAN? Kalo saya, takut sekali dengan yang namanya BOSAN. Bosan membuat hidup tidak bergairah. Mau ngapa-ngapain juga malas. Visi hidup mengabur, misi hidup melabur. Pekerjaan numpuk, tidak fokus, dan akhirnya berabe, jadi tidak produktif.. Bayangkan, betapa menakutkannya penyakit bosan, karena dia menyerang hati juga. Yang membuat semangat menurun drastis seperti orang mati rasa. Ah sedihnya...

Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...

Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.

Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.

Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........

Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.

Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?

Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.

Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......

No comments: