Friday, March 3, 2006

KETIKA TAK MAMPU BERDOA

Pernahkah mengalami hal di atas? Ya, saat dimana kita “tak mampu” berdoa?

Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.

Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.

Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.

Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”

No comments: