empat puluh hari..
berjalan, berlalu, berbilang..
Rasanya masih hangat dirasa, sehangat tangan ibu kalau kucium takzim. Tak terasa, sudah empat puluh hari kami tak bersama lagi.
Bapak, yang masih sering menangis tertahan di kala subuh tiba, seringkali membuat hati teriris kembali, bagai empat puluh hari silam itu.
Tangis yang menderu, deras bagai tumpah dari segenap rindu.
Ibu telah pergi. Sejak empat puluh hari itu. Tangis dan sedih yang tiada usai.
Namun ingatkan satu hal; bahwa semua kelak menuju Tambatan yang sama. Hanya.. entah kapan, namun pasti.
Ibu berangkat lebih dulu. Dan nantinya, kami, kita semua pasti akan menyusul. Tinggal menanti saatnya.
Selamat Jalan Ibu. Semoga Allah melapangkan perjalanmu.
-mengenang Ibu di empat puluh hari-
Sunday, January 20, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment