Friday, December 21, 2007

Air Mata Di Senin Siang1

Dan ... saat itu pun akan tiba.

Siang itu, saat sedang menemani Alif minum susu menjelang tidur siangnya. Suami mendatangi saya dan mengabarkan bahwa Ibu sedang kritis. Suami meminta izin untuk berangkat ke Tangerang bersama kakak perempuan dan suaminya. Dan tentu saya menyetujuinya, bahkan menyarankannya untuk segera berangkat. Karena Alif sedang flu dan terfikir juga bahwa Afra masih menyusu ASI, maka tentu akan repot meninggalkan Alif atau membawa Afra berangkat. Hingga saya pun menyarankan suami untuk segera berangkat tanpa saya. Suami menyetujuinya.

Entah mengapa, saat kabar bahwa ibu kritis, walau sudah beberapa kali problem jantung ibu kambuh dan sudah sering pula kabar bahwa ibu kembali jatuh sakit, namun kabar di tengah siang hari itu terasa berbeda. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya bahwa ibu akan meninggal kali ini (maaf beribu maaf, bahasanya jadi terkesan kasar). Namun saya segera beristighfar, dan memohon pada Allah untuk menjauhkan diri ini dari lintasan pikiran semacam itu.

Usai Alif tertidur, saya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Semenit kemudian, suami mengahmpiri saya, dan membawa kabar itu. Ibu Telah Tiada. Ibu telah meninggal dunia. Saya linglung sekian detik itu. Namun tiba-tiba kesadaran saya kembali, untuk bersiap menguatkan suami. Betapapun, suami adalah anak kandung. Dan saya tau, kedekatannya mungkin melebihi kedekatan saya dengan ibu (mertua).

Namun ternyata tidak. Sedetik usai kesadaran saya kembali, maka saat itu pulalah, saya menangis. Justru suami lah yang membimbing saya, menguatkan saya, dan membesarkan hati saya yang tiba-tiba menciut bagai plastik tersengat api.

Tangis saya benar-benar deras. Dada saya sesak. Mengingat ibu, mengenang ibu, mencinta ibu. Dan ketika waktu yang diberikan hanya 3 tahun, saya bersama ibu kedua, bersama beliau, Allah 'memisahkan' kami. Dan sungguh, rasanya saya belum sempat memberikan bhakti apapun pada beliau. (Ya Rabb.. semoga Engkau ampuni hamba).

Ibu, walau perjalanan hidupmu aku tak banyak tau, namun tergores kasih yang begitu dalam. Terasa dan melekat, walau tak sepatah kata wujudnya. Walau aku tak lahir dari rahimmu, namun bagian darah dan dagingmu, mewujudkan keindahan hidupku yang tak setara sebelumnya. Yang kini menjelma lewat wujud dua kekasih Allah yang suci dosa.

Ibu, jika pun tak ada bhakti yang cukup kuukir, semoga aku bisa memahatkannya, pada ketiga kekasih hatiku, juga pada bapak, dan segenap cinta yang kau 'tinggalkan'. Semoga Allah berkenan menambatkan cintaku pada surga di telapakmu, ibu.

Dan kuingin engkau tahu, aku sungguh mencintaimu Ibu..

Selamat jalan Ibu, Semoga allah melapangkan jalan-mu. Amin.

tertanda cinta,
ananda-

No comments: