Saat tulisan ini dibuat, usianya belum genap 3 minggu. Beberapa hari yang lalu, berat badannya sudah mencapai 3,7 kg dan panjang (bukan tinggi ;-) badannya 52 cm. Jadi, kalau dihitung dari kelahirannya, beratnya sudah nambah 400 gram, dan panjangnya bertambah 2 cm. Kata dokter “Bagus nih!”. Alhamdulillah...
Alif, ketika masih di Rumah Sakit, saya tak banyak tahu perkembangannya (karena sibuk dengan pemulihan pasca operasi). Pada hari keempat sejak masuk RS, kami membawa Alif pulang. Lega rasanya, bisa pulih lebih cepat. Karena biasanya pasien operasi cesar berada di RS 4-5 hari. Bahkan tak jarang sampai 1 minggu. Dan syukur, Alif pun cukup sehat dan siap dipindahkan ke tempat perawatan yang sesungguhnya, di antara ayah dan umminya.
Lelah yang sangat menjemput saya setibanya di rumah. Rasanya ingin langsung tidur dalam lelap yang panjang. Pada hari ini, kelelahan usia kehamilan akhir dan kelelahan masa persalinan mencapai klimaksnya. Untunglah ada ibu, eyang putri Alif, yang segera mengambil alih perawatan Alif -kecuali menyusui tentunya- yang membuat saya dapat istirahat sejenak. Ternyata saya benar-benar butuh istirahat yang panjang. Maka ketika Alif mulai sedikit rewel menjelang malam, saya mulai terganggu. Kebetulan Alif tidur sekamar dengan saya dan ayahnya. Saya pikir dia pasti lapar. Saya mencoba menyusuinya. Lelah dan belum mahirnya menyusui, membuat saya dan juga Alif tentunya, menjadi panik. Suami ikut bangun, dan bergantian menenangkan Alif (untung suami saya mau ikut berjaga malam itu. Karena saya sangat-sangat lelah!). Alif hanya tenang sesaat-sesaat. Kemudian merengek lagi. Tidak lagi saya susui, tapi saya gendong untuk menenangkannya. Ketika saya membetulkan kain bedongnya, terasalah badannya yang -tak cuma hangat- tapi panas! Ya Rabbi............ saya pikir biasa saja, untuk ukuran bayi. Saya mencoba tenang dan mencoba menidurkannya kembali. Alif memang tak menangis keras atau berteriak-teriak. Dia hanya menangis perlahan dan merengek. Dan hal itu membuat saya berpikir, dia tidak apa-apa, mungkin hanya kaget dengan keadaan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Malam itu berlalu dengan kelelahan yang amat sangat.
Esok paginya, badan Alif masih panas. Setelah diukur dengan termometer, panasnya mencapai 39 derajat celsius. Masya Allah. Wajarkah? Kami menelepon kakak, yang kebetulan dokter. Pagi itu juga beliau datang. Obat penurun panas sementara diberikan. Plus susu untuk bayi usia 0-6 bulan. Maklum saya, ibunya, belum juga bisa menyusui dengan baik. Sementara Alif dalam kondisi panas tubuh demikian, butuh banyak air (asi). Alif pun meminum susu botolnya dengan lahap. Ah, ternyata dia sangat lapar! Rabbi......... saya menatapnya dengan nanar. Ibu macam apa saya ini?! Anak lapar, sementara saya tak bisa menyusuinya dengan baik. Bahkan susu botol pun tidak saya berikan, hanya karena takut akan kenyataan, bahwa saya memang tidak becus menyusui bayi saya. Hh, kasihan Alif. Mungkin panasnya diperparah dengan kurangnya cairan dalam tubuhnya. Saya kecewa sekali pada diri sendiri. Namun juga termotivasi sekaligus, bahwa seorang ibu, pasti mampu menyusui bayinya. Karena Allah, tentu tak akan membiarkan hamba-Nya yang baru lahir itu kelaparan. Bukankah rizki seorang bayi juga dijamin oleh-Nya?
Keesokan harinya Alif kami bawa ke RS. Selain kontrol rutin, kami juga sangat kepikiran dengan panas badannya. Karena panasnya yang cukup tinggi, diagnosa dokter sementara, ada kemungkinan Alif juga terkena infeksi, sebagaimana kemungkinan terjadinya infeksi pada kandungan saya, dengan pecahnya ketuban tanpa adanya kontraksi. Ah, lagi-lagi saya merasa bersalah padanya.
Obat pun diberikan pada Alif. Antibiotik untuk 2 minggu. Syukurlah, Alif meminum obatnya dengan baik, hingga habis (tertulis “Habiskan” dalam kemasan obat. Maklum, antibiotik). 'Sakit' itupun pergi meninggalkan Alif.
Selama 2 minggu, Alif tumbuh dengan baik. Perkembangan motoriknya terlihat cepat -setidaknya menurut saya, yang selalu bersamanya hampir sepanjang waktu-. Minggu pertama, Alif hanya minum asi, buang air (tanpa menangis atau rewel jika popoknya basah), dan tidur. Minumnya masih sedikit, juga buang airnya. Tidurnya saja yang banyak. Meski malam hari tetap saja membangunkan saya berkali-kali untuk minum, yang hanya seteguk dua teguk.
Memasuki minggu kedua, banyak terjadi perubahan pada Alif. Dia sudah mulai merasakan kenyamanan jika digendong dan dipeluk. Maka tak jarang dia rewel jika mengantuk, namun tidak ada yang menidurkannya dengan menggendong atau memeluknya. Bahkan terkadang rewelnya baru mereda, ketika disenandungkan sebuah lagu, atau diajak bicara.
Baru selisih satu hari berikutnya, Alif punya kebiasaan baru lagi. Terbangun di siang atau sore hari, dan 'mengajak bermain' selama 1-2 jam, baru menyusu lagi, untuk kemudian tidur kembali. Seringkali saya kehabisan bahan untuk menemaninya bermain. Hingga tak jarang saya tertidur, sementara Alif sibuk sendiri dengan tangan dan kakinya. Ketika akan buang air, baik pipis maupun BAB, dia selalu terbangun dan nampak 'konsentrasi'. Baru merengek, karena popoknya terasa basah atau tak nyaman. Buang airnya pun sudah banyak.
Selisih satu hari berikutnya, lain lagi. Alif suka menyusu sebentar-sebentar, tapi berkali-kali. Sampai-sampai harus ditunggui hingga dia benar-benar kenyang, dan saya baru bisa beranjak meninggalkannya.
Hari berikutnya, dia suka menyusu diselingi istirahat -dengan melepaskannya begitu saja, yang tak jarang mengakibatkan asi memancar dan mengenai wajahnya. Kalau sudah begini, banjirlah asi, membasahi bajunya. Kemudian dia tampak kaget, dan kadangkala menangis pelan.
Malam berikutnya (semalam, sebelum paginya tulisan ini dibuat), beda lagi. Setelah malam sebelumnya Alif mulai tak banyak mengganggu tidur malam saya, hanya bangun-minum-tidur lagi, malam itu dia membuat saya kelimpungan. Karena saya sedang mengkonsumsi obat batuk, pukul 9 malam saya sudah mengantuk dan bersiap hendak tidur. Alif sudah saya susui setengah sembilan tadi. Dan mungkin baru akan bangun lagi pukul 12 malam. Cukuplah untuk tidur dulu. Alif pun ditemani ayahnya, karena setelah kenyang tampaknya Alif antusias untuk bermain. Selama beberapa menit, Alif mulai merengek. Ayahnya menggendong, karena mengira dia mulai mengantuk. Namun ternyata, mata Alif justru melebar dan kembali aktif bergerak. Mencari-cari susu. Saya pun bangun dan menyusuinya kembali. Setelah Alif berhenti mengisap, saya pikir dia kenyang dan akan segera tidur. Saya letakkan di kasur lipatnya. Ternyata dia kembali aktif bergerak. Saya biarkan. Mungkin memang masih ingin bermain. Tidak saya atau ayahnya temani, dengan maksud membuat Alif terbiasa mengerti waktu, bahwa saat itu malam hari, dan waktunya untuk tidur. Namun, bagaimana saya bisa tidur, tak lama dia merengek lagi. Saya susui kembali. Sampai dia menghentikan hisapannya dan tampak memejamkan mata. Saya letekkan di kasurnya. Tak lama, dia bangun dan aktif kembali. Tak sampai lima belas menit, merengek lagi, minta menyusu. Saya susui kembali di tengah kantuk dan lelah yang sudah teramat sangat tak tertahankan. Begitu terus sampai berulang-ulang kali. Sampai saya susui dari arah kanan-kiri, dengan posisi duduk dan tidur, tapi Alif tampak tak jua kenyang apalagi terlelap. Usai mengganti popok sekali pakainya (karena dia sempat terdengar BAB), saya mengajaknya bicara. Seperti biasa, Alif hanya tampak memperhatikan, namun kemudian mengulang perbuatannya kembali. Dari pukul sepuluh malam, hingga pukul satu dini hari, Alif terus terjaga, dan saya berkali-kali membujuknya. Tiap menyusu, pada malam itu, Alif melakukannya dengan cukup lama. Hingga saya sempat tertidur berkali-kali. Namun Alif tak jua kenyang atau tertidur, setelahnya. Tak henti-henti saya panjatkan doa, semoga dimudahkan untuk menidurkannya kembali, karena saya pun begitu butuh dan ingin istirahat.
Di puncak kelelahan, saya selimuti Alif, saya peluk dia erat, saya cium wajahnya, kemudian saya tidurkan sejajar dengan saya, dengan meletakkan kepalanya di atas bantal saya pula. Tentu saja dengan kepalanya tetap di atas telapak tangan saya. Hanya sekian detik, Alif tampak tenang. Matanya terpejam, dan entahlah bagaimana selanjutnya, karena saya pun langsung terlelap. Kurang lebih pukul 3 dini hari, saya terbangun, dan mendapati Alif masih lelap di samping saya. Tangan saya terasa kram, karena menahan kepalanya tetap di atas bantal selama kurang lebih dua jam. Perlahan saya pindahkan Alif ke atas kasurnya. Dia tetap terlelap. Sambil memandang wajah polosnya yang imut, saya sisipkan ungkapan sesal dan permintaan maaf, karena sebelumnya sempat kesal padanya. Ya, harusnya tak ada kesal atau lelah dalam menjaga karunia agung ini. Alif sayang.... maafkan ummi ya nak. Moga tak berulang lagi.
Alif masih terlelap, dan membangunkan saya kembali pukul empat dini hari, seperti hari-hari biasanya. Usai menyusu, dia kembali terlelap. Terbangun pukul 7, kemudian mandi, menyusu, dan tidur kembali. Pagi hingga siang ini, dia hanya terbangun untuk menyusu, dan kemudian terlelap kembali. Sehingga tulisan ini dapat disusun hingga tuntas.
Alif, darinya saya belajar banyak, meski belum memahami makna dari pelajaran itu sendiri. Namun selama 2 jelang 3 minggu usianya, Alif mampu mengubah diri saya, umminya. Entah mengubahnya menjadi seperti apa, tapi saya benar-benar merasakan perubahan.
Diri, yang dulu berawal dari segumpal darah, seonggok daging, dirangkai tulang, kemudian lahir sebagai makhluk merah yang teramat lemah, kini tumbuh dan terus tumbuh. Mendzikirkan waktu ilahiyah, menuai kasih dan sayang dari orang tua, dan mengeja makna demi makna kehidupan. Untuk kemudian membentuk diri yang baru, dengan hakiki yang baru, dan terus baru seiring usia yang merajutnya.
Sampai detik ini, setidaknya, belajar kesabaran yang sesungguhnya, adalah menjalani sesuatu yang tak ringan dan tak mudah, namun untuk yang teramat sangat dicintai dan dikasihi.
Saturday, February 4, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment