
Rada deg-degan saat menuliskan catatan kali ini. Pilu. Rasanya luka di hati saya belum mengering.
Kemarin Sabtu (24/11) Afra, si putri cantik, terjatuh dari baby tafel-nya. Shock. Jantung rasanya berhenti berdetak, nadi tak berdenyut, pikiran hampa kosong sejenak oleh adrenalin yang tiba-tiba meluap.
Afra terjatuh, kala si Baby Sitter yang diberi tugas menjaganya, meletakan Afra dari gendongan ke atas meja bayi, dan nyambi melakukan sesuatu. Sekali saja hentakan kaki Afra, maka melorotlah Afra bersama kasur mandinya. Namun Afra menyentuh lantai lebih dulu tanpa kasurnya.
Rabbi... Saya tak bisa berkata sambil segera mengambil alih Afra dari tangan si Baby Sitter. Saya tidak tahu harus berbuat apa, selain menegur sang BS. Menegur. Ya, menegur dengan lebih tegas. Saya tidak bisa lebih keras daripada teguran yang saat itu sanggup saya lakukan. Apapun, ya apapaun yang terjadi pada Afra, tentu kesalahan saya. Kelenaan saya. Keteledoran ibunya.
Maka ketika seorang teman bertanya, apakah si BS tidak dipecat? Tidak, jawab saya. Hanya akan menambah masalah baru. Apakah saya memarahinya? Tidak, jawab saya. Karena marah sama sekali tidak akan membuat Afra tidak jadi jatuh. Ya, inilah konsekuensi jika mempekerjakan orang lain untuk menjadi asisten kita dalam melakukan tanggung jawab. Tidak ada jaminan, keteledoran semacam ini tidak bakal terjadi, pun oleh orang tuanya sendiri. Saya rasa cukup kejadian yang pertama tersebut menjadi shock theraphy bagi semua orang dewasa di rumah cinta.
Afra, maafkan ummi ya...
Dan Afra pun mengalami trauma. Jangankan bermain air saat masuk dalam ember mandinya. Saat persiapan mandi saja, sudah menerbitkan traumanya. Afra menangis! Afra ketakutan saat mandi. Dan Afra pun langsung mengejang takut, saat diletakkan sendirian di atas box bayinya, di strollernya, apalagi di atas baby tafelnya. Segala gunjangan walau ringan, segala kesendirian di atas bidang datar (terutama baby tafelnya), segala rupa aktivitas mandi, segala rupa di ruangan insiden itu ... semua membuat Afra gugup. Si cantik yang murah senyum itu dalam sekejab menjadi bayi paranoid. Afra trauma! Saya menangis dalam hati.
Afra harus kembali! Dan semua anggota keluarga Rumah Cinta pun bersama, untuk menyembuhkan luka trauma Afra. Ayah, Alif... tentu saja ummi, (si BS tak mau kalah juga), (tante pas ke semarang) semua rela meninggalkan aktivitasnya sementara, untuk menemani si cantik mandi. Pagi tadi, Afra tak lagi menangis saat mandi. Walau badannya masih menegang saat masuk ke ember mandi, namun senyumnya sempat disunggingkan walau segaris. Ah, Afra...
Afra pun sudah mulai mau duduk kembali di stroller nya untuk makan. Sudah mau lagi, untuk sejenak ditinggal berwudhu, makan, dan lainnya oleh orang yang menjaganya. Perlahan Afra kembali. Semoga kian sembuh dari traumanya. Kembalilah Afra... Kami sudah cukup 'ingat' atas keteledoran kami. Harusnya tak perlu sampai kamu jatuh untuk mengingatkan kami Nak..
Afra ... kembalilah sayang ...

No comments:
Post a Comment