Friday, July 20, 2007

LATIHAN JADI IBU

“Ini anak siapa, Mbak?”, tanya seorang teman tiba-tiba dari arah bangku belakang saya, di suatu seminar yang tengah berlangsung.
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.

“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.

Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.

Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.

Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...

di Jum'at siang

1 comment:

Anonymous said...

adikmu ning Jakarta saiki Lin? wah enak tenan .. direwangi. Kapan-kapan ta dolan yo.. nengok ponakan2..