Thursday, June 24, 2010

Mari Berkarya!!































Judul 1 : Jalan Pinggir Kota

Judul 2 : Rumah-rumah


Ini dia hasil karya Alif dan Afra di hari liburnya...

Bahan-bahan :
- kertas lipat warna warni
- sisa-sisa kertas kado
- lem kertas
- kertas gambar
- stiker (kalo ada)
- crayon (buat nambah-nambahin aksentuasi)

*kertas-kertas bisa diganti kertas koran bekas, kertas majalah, apa saja. Stiker juga bisa diganti dengan aneka bentuk yang ada di majalah atau koran. Alif dan Afra heboh demi menemukan gambar kesukaannya. Tapi suka gak nyambung sama tema. Sigh..

Kalo diliat dari hasilnya, pasti ketahuan deh bagaimana cara bikinnya. hehehe..

Kenapa ini yang dikerjakan? Karena di sekolah belum pernah ada kerjaan yang begini (mirip iya, misal menempel buku yang dibuat dari kertas lipat, dll. Tapi kalo full dari menggunting dan menempel kertas sisa, belum pernah). Dan pekerjaan ini dibuat secara kroyokan, antara Alif, Afra, dan tentu saja Ummi.

Siapa saja boleh menyumbangkan hasil karya-nya untuk ditempel di atas kertas gambar, asal sesuai konteks...
Maka tak heran, stiker bulan (di karya berjudul "Jalan Pinggir Kota") dua biji dari Afra ditolak Ummi.

"Biar lebih terang, Ummiiii...." (ih, maksa!)
"Enggak, mana ada Bulan kok dua?"
"Ada, itu kan adiknya Bulan, Ummiiiii...."
. Tentu saja dengan nada teriaaakkk (biar lbh heboh).

"Tetap tidak, Afra!", jawab Ummi tak kalah teriak.

Apa kata Ayah nanti, ini kan kerjaan atas supervisi Ummi, masa Ummi acc aja, ada dua bulan di langit???

ada-ada aja....


*perhatikan gambar mobil di Judul 1. Mobil warna ijo-nya aneh banget yaa... Jaguar bukan, Porche bukan...




Wednesday, June 23, 2010

Sakit?? Ga papa :)

Hayyaaahhh...
baru juga terima Raport KBB-nya, Alif dah KO duluan. Rapotnya sih baguss... tapi kondisi kesehatannya lagi gak fit. Meler.. srat srott... haduhh...

Ummi gak kurang akal lah.. Langsung berburu buku dan alat-alat ketrampilan yang bisa digarap Alif dan Afra di rumah, biar ga pada garing liburannya.
Prinsipnya sih, liburan kudu bermanfaat, se-happy mungkin, se-seru mungkin, se-enggak capek mungkin (nggak tau kenapa ya, kami berempat rasanya anti banget sama yang namanya kecapean. Nggak banget lah... kaya apa aja hidup sampe kecapekan gitu. hehehe), dan tentu saja dengan budget se-optimal mungkin.

Liburan di Jakarta pastilah nguras kantong. Kalo di Semarang, murah-murahnya bisa aja ke pinggiran Gombel (apakah namanya masih Bukit Asri??) kemudian memandang indahnya pemandangan kota Semarang dari bukit, main ke Ksatrian liat kuda, atau maen ke sepupu yang punya ayunan? Tapi kalo Jakarta... semurah-murahnya pasti kena cost tambahan. Bensin karena macet kah? Ongkos makan minum yang premium kah? Atau bayar parkirnya dengan sistem jam-jaman? (nanti kita buat review tentang liburan murah di Jakarta deh yaa... next time).

Dan di hari liburan kelima, Afra tertular batuk, dan makin ramailah lomba serak-senggrokan-dan serot-serotan. Haduhh...

Tapi eniwe, Ummi pastilah bahagia, melihat anak-anak yang walo sakit, masih bisa sebegitu cerianya. Ummi stress pastinya, karena badan Afra panas, Alif yang batuk terus-menerus, lalu ayah yang lembur tiada henti...
Namun, keceriaan anak-anak seolah menampar menyadarkan diri, bahwa kehidupan itu, dengan cinta dan ketulusan, pastilah tetap indah. No pretensi, no tendensi. Cukuplah bersikap TULUS dan menebar CINTA.

Cepat sembuh ya anak-anak, mari jajan es krim, mari pesta coklat, dan main hujan lagi!!!
Love u more and more ...

*Ummi
(ntar diposting foto-foto hasil karya Alif dan Afra selama liburan. lengkap dengan berantakannya rumah. hehehe)





Friday, June 18, 2010

Wanita Cantik Sebabkan Stres Pada Pria

img

(Amelia Ayu Kinanti) - wolipop

Jakarta - Siapa bilang pria selalu bahagia di depan wanita cantik? Sebuah penelitian membuktikan, kecantikan wanita justru memicu stress pada pria.

Penelitian itu dilakukan terhadap ratusan pria di Spanyol. Cara penelitian dilakukan cukup unik. Para pria itu diberikan sebuah puzzle dan diminta menyelesaikan dalam satu ruangan. Di dalam ruangan itu ada satu pria asing dan seorang wanita yang cantik yang mengaku sebagai peneliti.

Dalam beberapa menit, sang pria yang mengaku peneliti sengaja keluar ruangan dan meninggalkan objek penelitian berdua saja dengan wanita cantik tersebut.

Dari hasil pengamatan terbukti bahwa tingkat stress pria setelah ditinggal berdua saja dengan wanita cantik menjadi meningkat. Produksi keringatnya bertambah, wajahnya seringkali tertunduk malu, serta pipinya seringkali merona.

Keadaan tersebut membuat konsentrasi para pria terpecah, sehingga mereka pun sulit menyelesaikan puzzlenya. Para peneliti juga menemukan sebuah hormon bernama cortisol yang biasa muncul dalam keadaan stres.

Stress pria muncul karena rasa tidak percaya diri dan perasaan kurang menarik di depan wanita cantik tersebut. Stress para pria mereda setelah wanita cantik itu meninggalkan ruangan.

-end-

"Syukurlahh....."
Bukan syukur karena saya bukanlah Sang Wanita Cantik,..
Tapi syukurlah, karna saya tak sampai membuat bapak, kakak2, dan suami (apalagi anak laki-laki) saya berkeringat dingin, konsentrasi menurun, apalagi stress.... ;)

Tuesday, June 15, 2010

Nikmatnya Rasa Sakit

Senin lalu (14 Juni 2010), pukul 7 pagi, saya begitu bersemangat (as ussual) membangunkan anak-anak dan mempersiapkan mereka utk berangkat sekolah.
Usai libur dua hari, tampaknya pompa semangat di Hari Senin harus lebih ditekan. Pameo Hate Monday memang racun, yang sadar atau tidak, menghipnotis orang untuk menjadikannya 'Hari Istimewa' bekerja (super repot dan ribet), layaknya Love Sunday sebagai Hari Istimewa berlibur.

Bisa ditebak, dua kurcaci saya itu begitu sulit dibangunkan. Merem-melek-menggeliat-merem lagi. Biar tidak senewen, saya nyanyikan lagu kencang-kencang supaya mereka terbangun dan tersadar dari mimpi akhir pekannya. Dan tentu saja dengan nada fals supaya mereka lebih terusik (pada dasarnya suara saya memang fals).

Ada sahutan mezo-sopran. Artinya Afra sudah bangun. Bersamaan dengan itu, saya tengah bersiap mengeluarkan tas mereka dari dalam lemari besar di ruang tengah sebagai tempat penyimpan segala rupa tas.
Namun tak dinyana...

"Dugh...buk... kreekkk...blek"

Sang pintu lemari kayu yang big dan keras itu menghantam kepala saya. Sisinya tepat mengenai pelipis, entah dimana persisnya, yang jelas suakitnya bukan main.
Rasanya kesal dengan si pintu lemari. Andai dia bukan barang berat, mungkin sudah saya lemparkan ke lantai sebagai upaya pelepasan rasa sakit yang tak terkira. Namun demi mengingat berat dan kerasnya, dengan perlahan saya sandarkan kembali pintu itu.

Ya, pintu lemari itu memang tidak sempat jatuh ke lantai. Pintu lemari setinggi 2,5 meter itu terhenti di kepala saya.

Saya sempat terdiam sambil memegang si pintu. Sempat terputar satu memori dengan rasa yang pernah akrab. Namun apa dan kapan ya?

Tak lama saya berbaring di kasur menahan nyeri yang luar biasa. Mata merah dan berair, pelipis yang senut-senut, serta badan yang rasanya remuk redam.

Sesaat saya teringat peristiwa delapan tahun silam. Kala itu juga pagi hari, pukul 6.30. Bedanya adalah pagi bagian semarang (bukan jakarta) dan TKP-nya di luar, di jalan raya, bukan di dalam rumah. Bukan pintu lemari, tapi kecelakaan (motor) tunggal. Di tengah basahnya gerimis. Demi menghindari sebuah motor yang berbalik arah dari sisi kiri ke sisi kanan arah sebaliknya, rem mendadak saya membuat kami berdua (saya dan si tornado) terjungkal ke sisi kanan. Syukurnya tidak ada kendaraan dalam jarak dekat dari sisi kanan. Si motor 'tersangka' segera melarikan motornya, sementara saya yang sempat mati rasa ditolong oleh seorang yang lain yang juga mengendarai motor.

Saya ingat, kala itu di tengah nyeri, saya berusaha pulang menempuh jarak sepuluh kilometer, dengan kondisi stang motor yang bengkok. Tanpa kacamata minus yang pecah terbelah (tak bisa lagi dipakai), dan kaca helm full protect yang hancur berantakan. Dahsyatnya accident pagi itu. *Pesan : jangan sayang membeli helm full protect kualitas baik (SNI). Saya tidak bisa membayangkan jika sedang pakai helm abal-abal.

Tiba di rumah, di tengah kepanikan ibu dan bapak, singkatnya saya segera diistirahatkan.
Pertolongan pertama : minyak tawon! Oleh ibu, si minyak dibalurkan ke sekujur tubuh sisi kanan, mulai kepala (yang berlumur darah), pipi, lengan, dan kaki (alhamdulillah....pakaian panjang saya cukup 'bermanfaat' sebagai perisai).

Tak lama setelahnya, saya tiba-tiba terbang ke alam lain. Saya tidak sadarkan diri. .... untungnya sudah di rumah.
Kala terbangun, yang saya rasakan adalah perasaan damai... sangat damai.... padahal darah segar masih menetes di pelipis, dan badan senut-senut tidak keruan. Saat itu juga saya bersyukur... entah darimana rasa nyaman itu.
Padahal latar belakangnya aroma minyak tawon :D

Saya teringat di masa itu adalah saat sibuk2nya saya menjalani aktivitas kemahasiswaan. Begitu overnya. Dan mungkin kecelakaan itu-lah rem-nya. Masih terngiang bagaimana ketika tiba di rumah, dengan sisa tenaga saya menceritakan kronologis kecelakaan, kakak sulung saya dengan begitu hebohnya bilang "Mending kamu tabrak aja tuh motor, jadi kamunya gak jatuh separah ini!". Benar memang. Tapi mungkin saya tidak bisa tidur nyenyak (pingsan dengan sukses) setelahnya. sebagaimana yang baru saja saya lalui. Saya bersyukur tidak melakukan opsi tersebut, dan bersyukur atas jalanan yang tengah sepi (mungkin karena tengah hujan).

Seminggu penuh saya total istirahat, sampai bengkak itu surut, luka parut itu mengering, dan senut-senut itu berkurang. Saya nikmati seminggu itu sebagai waktu istirahat. Waktu berpikir tentang pilihan aktivitas, dan waktu untuk lebih merasai 'masa jeda'. Kita boleh berusaha, namun Tuhan penentu segalanya. Entah mengapa rasa sakit itu begitu nikmat.

Dan kecelakaan pintu lemari tadi mengingatkan saya pada hari kecelakaan di pagi gerimis silam itu. Segera tersadar, lalu secara mantap saya memilih untuk menikmatinya. Saya bersyukur karena pintu lemari itu tidak menimpa anak atau suami saya, dan bersykur bahwa pintu yang jatuh adalah pintu lemari, bukan pintu rumah yang lebih tinggi dan lebih berat. Saya juga teringat, sebulan yang baru lalu adalah hari-hari yang luar biasa sibuk dan berat, dengan segala macam urusan dan kegiatan. Mungkin 'saatnya utk beristirahat' telah tiba. Badan saya mulai demam, energi mulai surut, dan mata terasa berat.
Setelah anak-anak diambil alih suami, segala persiapan dan urusan sekolahnya, saya pun tak sadarkan diri. Tak sadar, namun dalam kedamaian dan mimpi yang indah :)
Seharian itu saya 'bebas tugas', ditemani aroma minyak tawon. Nikmat :D

*pesan : jangan lupa sediakan minyak tawon sebagai pertolongan pertama pada luka baru! Mantap!


*terkadang kita perlu ditegur dengan keras, hanya untuk membuat kita 'sekedar beristirahat'*
- jangan lupa istirahat yaa.... sebelum kita 'dipaksa' beristirahat :)

Thursday, February 4, 2010

Tertarik, Kagum, juga Penasaran


Saya sebenarnya termasuk orang yang gampang tertarik pada orang lain.
Karena, tiap orang itu unik. Tiap orang itu eksis. Dan tiap orang itu punya posisi di jagat Bima Sakti ini.

Makanya, saya selalu tertarik.

Walau... saya sangat tidak mudah kagum pada orang lain. Karena tiap orang punya kemampuan masing-masing, punya modal masing-masing, punya keinginan masing-masing, dan punya tujuan masing-masing.

Makanya, saya tak mudah kagum pada orang.

Namun kalo kemudian saya tertarik pada satu sosok, lalu kagum, lantas penasaran hingga kini, maka cuma dia-lah orangnya.

Untuk seorang pria (ya, ternyata dia pria.. fiuhh..), tinggi badannya rata-rata saja. Tidak terlalu tinggi. Namun tegap. Proporsional, atletis, dan juga lincah.

Gaya rambutnya unik, lurus, tebal ala punk (tapi nggak nge-punk). Saya nggak tau warna asli rambutnya memang seperti itu, atau tidak. Abu-abu keperakan.
Ilmu beladirinya jangan ditanya. Luar biasa. Itu yang membuat saya kagum. Saya hampir nggak pernah lihat dia kalah di arena pertarungan. Kalau melihat dia bertanding, jantung rasanya berhenti berdetak, badan ikut tegang, tak acap dahi mengkerut, dan alis naik turun. Tapi dia 'selalu' menang memang. Great!

Pakaian ala prajuritnya membuat komplit penampilan yang keren, tangguh, macho dan.. lah segalanya serba pas.

Walau terlihat begitu jantan, dia penyuka novel. Ini yang membuat saya makin suka pada sosoknya. Di sela latihan atau melatih murid-muridnya bela diri, membaca novel adalah kesibukannya.
Keras, namun pengertian. Tangguh, namun romantis. Konyol, cerdik, tapi juga kaya wawasan dan mendalam secara emosional.

Dia punya tugas yang berat dalam melatih dan membina timnya. Menurut saya, tim-nya adalah tim yang paling kompleks dan paling berat ditangani, karena begitu beragam kepribadian dan keahlian.

Sosok yang komplit. Saya tertarik, saya kagum, dan masih penasaran hingga detik ini.

Mata Sharingan implantasi dari temannya si-"crying baby", pedang ayahnya, si-White Fang, Chidori, Rasengan (dg satu tangan)... kepekaan hatinya, kekuatan fisiknya, juga ketajaman otaknya... hhh... saya speechless... Dia bukan paling hebat, tapi paling menarik!

Tapi saya memang masih penasaran... Bagaimana wajahnya??
Karena wajahnya selalu tertutup masker. Walau masker, ikat kepala Konoha, dan slayer mata satunya, memang membuatnya tampak makin keren,.......
Tapi bagaimana wajahnya??

Saya masih penasaran..

Jangankan saya sih, murid-muridnya; Sasuke (yang kemudian 'digantikan' oleh Sai), Sakura dan Naruto pun, tak pernah tahu bagaimana wajah sensei-nya ini.

Ah, peduli amat..
Kakashi Sensei.. teruskan perjuanganmu.
Suatu ketika, semoga penasaranku terjawab.
Mashashi Kishimoto...please... (awas ya, tokoh yang ini nggak boleh mati, Naruto juga! arigato!)


Nb: photonya emang ga nyambung...wkwkwk...

Tuesday, February 2, 2010

Borobudur : Ajiibbb !!



Bangunan megah yang luar biasaa...

Konon bangunan candi ini dibangun di abad VIII pada Dinasti Syailendra.

Kabarnya pula, candi ini dibangun dengan tatanan sekitar dua juta batu di antara aliran Kali Elo dan Progo dengan total volume bangunan mencapai 55.000 meter persegi.


Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, dan kabarnya, sempat tertimbun abu letusan Gunung Merapi pada tahun 950 Masehi.
Pada tahun 1991 UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia yang wajib dilestarikan dan termaktub dalam World Heritage List Nomor 592. Keren kann??

Seingat memori, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Borobudur, candi megah yang menjadi candi favorit saya di antara beribu candi peninggalan sejarah di Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi 'utuh' yang penggambaran sejarahnya masih terasa 'utuh' pula.

Terakhir kali mengunjungi Borobudur di Bulan Oktober 2009 yang lalu, saya betah berlama-lama berada di areal candi, yang sayangnya saya datang di waktu sunset. Sehingga kesempatan untuk menjajaki candi tinggal sedikit waktu. Kawasan candi ditutup pukul 17.00 atau pukul 5 sore. Menyaksikan kemegahan candi ini, terasa betul bagaimana 'keajaiban' itu memang ada. Masa di mana teknologi dan insinyur belum ada, namun bangunan dengan arsitektur dan relief yang relatif berkualitas tinggi ini sudah 'mampu' berdiri. Megah, kokoh, menakjubkan. Walau beberapa patung pertapa atau arca Budha sebanyak 504 buah, sudah tak utuh (tinggal leher dan badannya saja, hidungnya cowel, atau tanggannya tinggal setengah siku), namun bangunan candi ini masih terasa indah dan luar biasa.

Ketika meraba batu berbentuk stupa itu.., rasanya.. luar biasa.. kokoh! Undakan tangga yang curam, nuansanya penuh misteri dan tantangan (tak terbayang untuk mendakinya setiap hari). Puncak-puncak stupa 'kecil' yang mengelilingi stupa tertinggi yang paling megah itu.. menularkan emosi ketakjuban dan penuh memori yang entah tersimpan di stupa bagian mana dan di masa yang mana.
Ajaib.. Subhanallah...

Terhitung sejak februari 2010, harga tiket masuk candi mengalamai kenaikan. Harga tiket untuk wisatawan nusantara (wisnus) kategori umum pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp12.500 menjadi Rp15 ribu/orang. Sedangkan hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional naik dari Rp15 ribu menjadi Rp17.500/orang.
Harga tiket untuk wisnus kategori anak-anak dan pelajar secara rombongan dengan jumlah minimal 20 orang, pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp7.500 menjadi Rp10 ribu/orang. Sementara hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional dikenakan Rp11 ribu/orang. Ia mengatakan, harga tiket wisnus umum pada musim liburan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Rp25 ribu/orang dan wisnus anak-anak atau pelajar Rp12.500/orang.

Untuk harga tiket wisatawan mancanegara (wisman) umum, naik dari 13 dolar AS menjadi 15 dolar AS/orang dan wisman anak-anak atau pelajar naik dari tujuh dolar AS menjadi 8 dolar AS/orang. Harga ini dengan asumsi kurs 1 dollar senilai Rp 10.000,-.
Bagi yang membawa kamera, maka dikenakan bea kamera (sayangnya saya lupa berapa besarnya. kalau tidak Rp. 5000,- ya Rp 1000,-).

Para pengunjung pun sekarang diwajibkan melewati
metal detector sebelum memasuki areal candi. Bayangkan saja wisata candi, wisata abad lampau, tapi ada metal detectornya. Nggak nyambung sih, tapi mau bagaimana lagi. Hehehe..

Terhitung sejak Februari 2010 pula, para pengunjung dilarang mengenakan celana pendek, rok mini atau sepatu high heels (sebenernya buat
high heels, bener juga, masa iya 'mendaki' candi pake high heels sih.. hebat dong.. kekekek...). Untuk celana atau rok mini, dimaksudkan dalam rangka menghormati candi dan sejarah (karena nilai leluhur dan religinya). Padahal kalau 'mendaki' menggunakan rok mini, ribet juga sih...

Karena bersama anak-anak, agak ribet juga mau menjelajahi setiap senti bagian candi. Apalagi mendakinya saja sudah cukup melelahkan. Namun kunjungan kali itu cukup memuaskan.

Satu hal yang masih mengundang rasa penasaran dan belum kesampaian, adalah menyaksikan pentas kesenian tradisional Dayakan/Topeng Hitam, Kubro Siswo, Soreng, dan Jathilan yang rutin diselenggarakan di area candi, juga pentas Sendratari Ramayana yang kesohor itu.
Kapan yaa...(ada yang mau menemani??)


(informasi tambahan; dari berbagai sumber)


Saturday, January 30, 2010

Temukan Diet Ideal


Lagi-lagi soal diet.

Dari jaman saya masih SD sampai saya sudah punya krucil dua anak, tema DIET rasanya tidak pernah luntur dari peradaban.

Seumur-umur saya nggak pernah tertarik dengan tema ini. Nggak pernah minat membaca apalagi mengikuti dan mempelajari ilmu diet. Karena badan usia SD saya justru kerempeng. Mulai gemuk saat masa puber di usia hampir lulus SMP. Tapi saya masih nggak merasa gemuk (waa.. ngeselin kan?). Hingga di usia SMU, ketika seorang teman nyeletuk "Nggak kaya kamu, gendut".. wealah...

Tapi saya ga acuh juga lah.. Bisa jadi dia sirik (hehehe...membela diri). Tapi kok dia cowok? Masa iya sirik sama saya yang notabene perempuan tulen??

Hingga akhirnya saya menikah dan memiliki dua anak. Ilmu DIET serasa jadi wajib buat dilirik. Terutama saat anak kedua sudah menginjak usia setahun lebih. Ketika kedua anak saya sudah berjalan, baru deh ngerasa keliatan badan gemuknya (namanya juga ibu-ibu hamil melahirkan dua kali menyusui ekslusif masing2 enam bulan. Kurang gemuk apa coba?) Hehehe... kalo gendong anak kan badannya ga keliatan, ngapain juga langsing? :))

Sebenarnya cuma biar keliatan keren aja, pas jalan sama anak-anak. Keliatan bugar dan serasi dengan suami saya yang konon hingga kini masih mungil dan makin mungil (piye tho bang?).

Ilmu-ilmu terapan diet, saya coba. Berhasil!!! Iya, turun sekilo dalam tiga hari, hari keempat naik lagi. Lho?? Jamu diet, lotion peluntur lemak, pil diet, baju pelangsing, makanan diet dan bla-bla yang sempat saya lirik demi menjadi bugar dan keren, rasanya nihil! Mulai dari harga 60 ribu perak, sampai 400 ribu, gagal total semua... Nyebelin banget, mengingat duit segitu bisa buat ngapa-ngapain.

Saya rasa pengetahuan dasar tentang diet saya yang salah.

jadi beginilah kesimpulan saya (yang akhirnya terbukti benar) :
Temukan masalah dasar mengapa kita menjadi gemuk, lalu atasi.
Inilah yang terpenting.



Berikut Daftar Masalah Kegemukan :

1. Suka mengemil (ternyata ini masalah utama. Hormon menyenangkan yang keluar setelah mengudap, rasanya sudah menjadi candu)

2. Genetis? (hati-hati dengan genetis. Bukan sekedar karena orang tua kita gemuk lantas otomatis kita langsung -pantas saja- menjadi gemuk. Genetis di sini lebih saya fokuskan pada : gen kebiasaan. So, kalo orang tua kita secara gen alias kebiasaan, suka memasak dan memakan makanan berkuah santan, maka biasanya kita meniru hingga menjadi kebiasaan -nggak bisa kalo nggak makan santan-. Dan di sinilah masalah dasar kita : kebiasaan/ perilaku terhadap makanan)

3. Obat-obatan (hati-hati dengan obat-obatan yang memicu kota mengkonsumsi makanan dengan kalori berlebih. Obat anti depresan, pil KB hormon dan sejenisnya, sudah pasti membuat badan cenderung meng-gemuk)

4. Kebiasaan Begadang (suka begadang atau kurang tidur membuat metabolisme tubuh melambat. Akhirnya proses mencerna dan pengolahan makanan menjadi energi juga melambat. Akibatnya, penumpukan sisa kalori menjadi lemak justru meningkat)

5. Melewatkan salah satu waktu makan; baik sarapan, lunch maupun dinner (melewatkan salah satu waktu makan hanya akan membuat gula darah tubuh kita turun drastis. akibatnya, ketika diisi makanan, langsung melonjak tajam. So, hati-hati gula darah. Saat salah satu waktu makan dilewatkan, kalori yang masuk memang berkurang, namun ingat, tubuh biasanya tetap akan meminta jatah yang kita potong di waktu lainnya. Bisa jadi makan berlebih di jam makan berikutnya, atau keinginan mengemil gula (akibat gula darah turun) yang justru berlebih

6. -Tentu saja- malas bergerak. Dampaknya, metabolisme lambat, dan proses pembentukan kalori menjadi cadangan alias lemak justru tinggi.


Berikut Kesimpulan Solusinya :

1. Makan ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Sepertiga lambung kita untuk makanan, sepertiganya untuk air, dan sisanya untuk udara, agar pencernaan tetap sehat. Kalau tidak lapar, sebaiknya nggak usah nyari-nyari makanan :)

2. Kaji dan evaluasi kebiasaan keluarga yang tidak sehat untuk diwariskan pada diri sendiri dan keluarga kecil kita.

3. Jangan mudah mengkonsumsi obat. Sebaiknya gunakan pendekatan alamiah tubuh : istirahat, makan cukup dan kaya nutrisi, serta olah raga agar badan tidak mudah drop (daya tahan tubuh menurun = mudah sakit).

4. Tidur dan bangun pada jam yang -diusahakan- sama, agar badan juga 'lebih menghargai' kita karena kita disiplin 'memperlakukan mereka'. Disiplin. Jam tidur dan lamanya orang tidur berbeda-beda, sesuai kebutuhan. Namun yang jelas, tetap butuh istirahat. Biasanya kita sendiri lah yang paling tahu, berapa lama dan kapan waktu yang cocok buat kita tidur, lalu terapkan.

5. Disiplin dengan waktu makan. Upayakan demikian, karena dampaknya bukan hanya masalah gemuk, tapi juga kesehatan tubuh keseluruhan dalam jangka panjang.

6. Banyak bergerak. Belum bisa olah raga rutin, biasakan perbanyak aktivitas fisik. Pilih tangga ketimbang lift, parkir mobil atau motor lebih jauh, ambil minum atau buat minum sendiri alih-alih meminta OB, menyapu, mengepel, dan lain-lain.

*bukan untuk mengkritik kebiasaan dan tubuh orang dan diri sendiri :)*

Topik ini mungkin akan berlanjut lebih detil...

CMIIW yahh..

Tuesday, January 26, 2010

Who Am I?


Kenapa identitas sebegitu pentingnya?

karena identitas adalah 'kode' untuk menggambarkan siapa kita. Identitas adalah cermin siapa kita. Identitas juga sebuah 'stempel' akan jati diri.

Pencarian identitas bukanlah sesuatu yang mudah. Pemberian label identitas juga bukan sesuatu yang gampang. Karena identitas, berarti identik dengan kompensasi sosial, selalu berkaitan relatif terhadap seseorang atau sesuatu, di luar kita. Oleh karena itu, pencarian identitas adalah perjuangan.

Ketika lahir dulu, saya tidak kesulitan dengan sebuah identitas. Karena kemampuan untuk itu, saya belum punya.
Ketika sekolah TK-SD-SMP-SMA hingga kuliah, identitas itu pun melekat dengan mudah. Walau status diri bisa berganti atau bertambah tiap tahun, tiap semester.

Di masa menjadi mahasiswi,
"Saya sekretaris Rohis fakultas, Bu.."
"Saya Ketua Himpunan Mahasiswa, Mbak.."
"Saya pengurus FLP Semarang, Pak.."
"Saya Anggota Muda Perhumas, Mas.."
Simple. Dan identitas saya selalu banyak (lebih dari satu). Namun yang jelas, identitas saya yang utama adalah : Mahasiswa Komunikasi. Ketika emblem2 sekretaris, ketua himpunan, pengurus, atau anggota muda dicabut seketika, identitas saya sebagai mahasiswa masih erat melekat, selama pita tambang toga belum dipindah; dari kiri ke kanan.

Secara identitas, saya aman.
(Tidak mungkin identitas utama saya 'sekedar' anaknya Pak Ini dan Bu Itu, atau kakaknya si Ini dan adeknya si Itu).

Namun ketika jubah wisuda berwarna hitam legam itu dikenakan (yang penantiannya sebegitu hebohnya dengan perjuangan ujian yang mati-matian secara waktu dan perdebatan dengan tiga orang dosen), saya merasa mulai 'krisis' identitas. Walau masih ada identitas lain yang melekat, namun saya tidak bisa menggunakannya sebagai 'identitas utama'. Mengapa? Yang jelas kala itu saya belum tahu jawabannya.

Akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Saya punya identitas baru, yang bisa saya gunakan sebagai identitas utama. "Saya Corporate Secretary, Om..".

Lalu saya menikah. Dan langsung memutuskan keluar dari sang company.
Identitas utama saya pun baru : as a wife. "Saya istrinya, Kang...".

Saya ingat sekali, betapa bangganya, ketika pada akhirnya saya dipanggil "Bu.." di supermarket ketika sedang belanja. Dan kala itu saya tengah hamil 6 bulan (semenjak jadi istri hingga hamil 5 bulan, masih dipanggil "Mbak", dan panggilan itu membuat saya tertekan "Masa iya, saya nggak ada pantes2nya jadi istri orang?"). Saya bangga dengan status sekaligus 'panggilan' baru saya : "Bu.."

Ketika melahirkan dua anak, Alif dan Afra, panggilan "Bu" tentu saja sangat amat biasa di telinga saya. Ya jelas lah, masa bawa dua anak gini masih dipanggil "Mbak" juga?
Tapi ketika Afra sudah berusia hampir dua tahun, tiba-tiba seseorang menyapa saya,"Mbak, tantenya ya? Ibunya yang mana, anak2nya lucu,". Mendadak saya krisis identitas. Hehehe.. norak. Saking noraknya, saya langsung ke kamar mandi dan berkaca; "I'm still young" kekekek..

Dan ketika berat badan saya menyusut, dan makin sering bepergian sendiri, maka saya pun disangka 'masih embak-embak'. bahkan ketika bulan madu ke Bali bersama suami di jelang anniversary kelima, kami disangka pengantin baru yang baru bulan madu. Maka saya jawab kepada sang tour-guide, "Bulan madu kelima Mbak.. ".

Kacaunya, saat mendaftar di RT setempat ketika baru pindah. Pak RT bilang, "Pengantin baru ya, KK-nya belum bikin dong?". Suami pun menjawab "Sudah dua anak pak, paling besar empat tahun".

Maka, krisis identitas itu makin parah terjadi. Ketika sesekali masih ada yang memanggil saya dengan panggilan "Bu", saya tertekan kembali. Kening saya berkerut, bibir mencerucut : Badan saya ga langsing lagi ya? Muka saya sudah nggak muda lagi ya? Perut saya gendut ya? (aduh maaf yah ibu-ibu, saya tidak bermaksud 'menghina' status kita secara fisik sebagai ibu-ibu kok, ini mah saya nya aja yang minder).

Empat tahun menjadi seorang ibu, bekerja sebagai konsultan, masih aktif di organisasi, masih merintis marketing online, ternyata tidak membuat saya berhenti mencari identitas. Mengapa? Tak puas rasanya. "Ibu", "Istri", "Temannya dia", "Budhenya, tantenya, kenalannya si anu", "Redaktur di ini", "Konsultan di itu", "Bisnis online di anu".. masih 'belum stabil'. Karena semua 'gelar' itu bisa tercabut satu per satu, ataupun seketika. Who knows..? Lalu identitas saya?

Maka proses pencarian identitas itu masih saya lakukan. Kok sepertinya identitas saya sedemikian banyak tapi tidak ada yang membuat saya 'berhenti' mencari?

Dan saya bertemu pada sebuah identitas yang tak akan berubah, apapun cuacanya.
Bahwa saya adalah : apa yang saya pikir dan lakukan.

Maka saya pun merasa bahwa selain menjadi ibu, istri dan bla bla di atas, saya adalah :

- penulis, karena saya rutin menulis di tabloid yang saya kelola (termasuk menulis blog ini), dan membuat artikel atau cerpen untuk majalah

- pengamat, karena saya suka mengamati berbagai hal dan mengkaji kalau memungkinkan (lalu dijadikan tulisan)

- producer, karena saya masih di belakang layar untuk membuat dokumentasi foto-foto anak-anak dan keluarga

- event organizer, karena saya merancang acara-acara ultah anak-anak (tiap tahun), ultah suami, ultah pernikahan, ultah saya sendiri, dll

- konsultan, karena selain memang sebagai konsultan PR, saya juga tempat teman-teman berkonsultasi mengenai segala rupa internet (karena suami saya programmer)

- penerjemah, karena anak-anak sering menanyakan arti ini itu di buku maupun film kepada saya

- manager keuangan, karena ngurusin uang kantor dan uang rumah tangga. Pusingnya minta ampun, kecuali akhir bulan (masa menghabiskan anggaran, kalau ada sisa)

- HRD management, karena di rumah ada tiga pekerja, yang semua urusan tetek bengeknya saya yang mengurusnya

- public figure, karena tiap ada yang menanyakan nama saya pada satpam kompleks, atau tetangga-tetangga kompleks, atau orang tua murid di sekolah anak-anak, atau orang-orang di kantor yang seruangan, teman-teman kuliah sejurusan seangkatan, keluarga besar saya sampai sepupu2, Pak RT dan Bu RT, semua mengenal saya. Percayalah..

Bahkan saya juga seorang pembantu rumah tangga, yang selalu siap membantu di kala ayah, Alif ataupun Afra membutuhkan bantuan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dll, apalagi ketika para asisten sedang off.

Ternyata saya nyaman dengan identitas yang saya ciptakan sendiri :)

So, saya ciptakan identitas Saya sendiri dari apa yang Saya pikirkan dan lakukan, tanpa terjebak pada label yang orang lain berikan pada saya. Karena label orang lain adalah apa yang mereka pikir dan inginkan atas saya, bukanlah diri kita sesungguhnya :)

CMIIW yach...

Friday, January 22, 2010

My Stylish Corby's Review..

That's my review about My Corby...

Di awal peluncuran hape qwerty ini, saya langsung jatuh hati. Dasarnya ga pernah nonton tipi atau liat iklan koran/majalah, saya menemukan corby di Mal Taman Anggrek melalui flyer-nya. Wiihhh... gue banget dah ni hape.

"Must have item nih Yah.." said to my husband.
"Hape kamu kurang apa sih.." he answered with 'smiley'.

Iya sih... kalo cuma soal per-hape-an, Nokia Express Music 5800 (hasil kerja proyek) saya juga masih jauuuuhh lebih keren ketimbang ni Corby. Warnanya black n red, memory 8GB, touch screen.. pokoknya sdh cukup keren lah buat ukuran saya. Tapi, mengingat saya butuh 1 handphone lagi untuk proyek kerja yg lain, dalam hati saya berjanji : this corby, as soon as possible, i'll get it!

Alahmdulillah... tak lama kemunculannya, saya bisa membeli Samsung Corby TXT dari sisa-sisa uang keringat.. (bau tau uangnya)
seharga Rp.1.485.000 . hehe..

Cara belinya yg ga keren : di Plaza Kalibata, jelang maghrib, pas beli pastel goreng seharga Rp.4000,-. Iseng bertanya pada counter hape di depan Giant "Mas, punya Corby ga?"

At least, puasss make corby ini. Dengan harga banderol segitu, kualifikasinya cukup okeh.

What Color is your life? And i chose this ones : Black and white (habis yg ready cuma white and yellow sih) two white and one black alias dapet 3 chasing, yaitu 2 putih -yang satunya ada buble2nya, dan wana hitamnya satu.

Corby stylish banget.. enteng, genggamannya enak...sletheph!
Buat fast message, buat FB-an, buat nggaya..hehehe.. okeh! Lumayan buat second hape, apalagi 3rd mobile phone.. (tapi ga usah banyak2 lah, ngapain juga punya hape banyak2, susah ngasih makannya).

Tapi pastikan ini sebelum Anda pilih corby :
1. perempuan. cos i think corby is a girls/women style. cowok ga macho banget deh megang ini.
2. berjari lentik. walau qwerty, namun tuts keypads nya mungil2.. jadi yang berjari chubby, ribet juga ngetik pake corby.
3. ga usah pota-poto banyak2 (walau kualitas kamera 2.0MP-nya cukup okeh. soalna ga ada kabel data. susye mau unggah poto -walau ada bluetooth)
4. jangan buat nyimpen film. hehehe (coz free memory-nya cuma 1GB microSD)

My Corby is My Color!



Saturday, January 16, 2010

Internet oh internet ...

Sudah lama tak menyapa SL-ku..

Ceritanya, saya resmi meluncurkan akun FB. Ya ampyunn telat banget yak?
Sebenernya akun FB saya sudah lama terdaftar ke server. Tapi memang bukan buat diapa-apain, selain untuk kepentingan 'pekerjaan' semata. Setelah tidak lagi mengurusi kerjaan terkait dengan si FB, ya tamatlah ke-eksisan si FB itu. Udah ga ada friend-nya, ga ada penggemarnya.. haha..

Yah, tapi apa mau dikata...

Tampaknya Era FB emang sedang masanya. Kegigihan saya untuk tak punya akun FB, akhirnya kandas juga. Bagaimana tidak? kalau cuma dianggap gaptek karna ga punya akun FB 'hare gene', oke lah.. soalnya bukan masalah gaptek ga gaptek. Karna walo ga punya kun FB, temen-temen yang ber-FB ria suka konsul about FB ke saya. Cuma kalo soal gapfor alias gagap informasi, nah ini baru.. bener. Masalahnya saya yang tak berlangganan koran, tak suka nonton tipi, males buka HP (HP nya sileeeennt melulu), walhasil jadi orang dari dunia antah berantah. Apalagi di masa kini, orag mengupdate info, berbagi kabar, pasang pengumuman, sampai mengirim undangan menggunakan FB!

Internet memang tengah menjadi rajanya sosialita dunia. Jarak bisa dipersempit, waktu bisa dipersingkat, biaya bisa dihemat, bahkan kemalasan pun diakomodir (nah lho?). Dengan internet, apa yang enggak coba?!

Dulu di masa 90-an, ketika handphone mulai memasuki era komunikasi manusia, secara signifikan penggunaan telepon seluler ini langsung pesat. Makin nambah tahun, pengguna telepon genggam makin jamak. Yang dulunya cuma dipake oleh direktur, bos proyek, atau menthok di anak konglomerat, pada selanjutnya, bahkan semua golongan ekonomi dan pekerjaan 'wajib' kudu punya HP. Mbok jamu, tukang pijat keliling, tukang mie ayam gerobak, sampai loper koran, semua tampak butuh HP untuk menerima pesanan. "Terima pesanan melalui sms : 08********" Giliran ada calon customer ga punya HP, cuma geleng-geleng kepala.

Tiap ada orang baru berkenalan, yang langsung ditanyakan adalah : "no hp-nya berapa, mas?" Era Hp kemudian disusul era email. Jadi setelah bertanya no HP, pertanyaan berikutnya adalah : "alamat email apa, mbak?". Nah sekarang, "FB nya, bu?" merupakan pertanyaan kedua dari urutan pertanyaan orang yang baru saling kenal dan bertukar informasi kontak pribadi. Urutan pertama masih : no hp. Padahal dulu, selain nama dan nomor telepon, orang akan menanyakan alamat rumah. Lha kalo sekarang? Hwaduh.. kebanyang deh.. kalaupun tahu alamat rumahnya, apa iya mau maen?! Jauh kali.. macet.. ongkosnya? Waktunya? Kalau bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi secara online, kenapa mesti offline?

Survey yang dilakukan TNS Global akhir tahun lalu (2009) menunjukkan gejala di dunia, bahwa 30 persen atau sepertiga dari waktu luang masyarakat di negara maju sudah dipergunakan untuk online. dari hasil penelitian pula, dapat dilihat bahwa ternyata penetrasi internet untuk hiburan dan santai ternyata lebih besar di negara-negara Asia. Kenyataan ini tampaknya sangat mungkin pula untuk negara Indonesia, di mana hal-hal ringan dan santai lebih disukai. Maka tak heran jika facebook dan twitter bisa laris manis di Indonesia bagai krupuk dan kripik, karena kontennya sangat cocok untuk bersantai.

Sayangnya, dengan berkembangnya teknologi komunikasi virtual ini, secara otomatis menyusutkan tingkat komunikasi tradisional alias komunikasi tatap muka di seluruh dunia. Bayangkan, dengan kondisi sekarang, dimungkinkan dalam sepuluh tahun ke depan, seluruh anggota keluarga Anda masing-masing akan sibuk ber-online ria. Padahal, di masa kini, kebiasaan makan bersama seluruh anggota keluarga sudah kian sulit diwujudkan, akibat peningkatan kesibukan dan perkembangan zaman serta teknologi. Apalagi kini, Anda tak perlu ribet menggunakan PC (komputer) untuk bisa online. Segenggam handphone sudah cukup memudahkan Anda. Ditambah lagi hadirnya teknologi 3G, munculnya handphone sejenis Blackberry, lengkaplah sudah kemudah itu.. sambil makan, sambil nge-gym, sambil kuliah, sambil nunggu bus, sambil gelantungan di busway, sambil nunggu anak-anak main, sambil nunggu istri pulang kerja, sambil di toilet pula..

Di negara maju, mereka yang berkomunikasi lewat e-mail dengan teman sudah mencapai 78 persen, dibandingkan tatap muka yang sekitar 84 persen. Sementara via mobile phone atau sms, sudah mendekati 70 persen responden mempergunakan handphone sebagai alat komunikasi utama (internet masih lebih 'menang' ketimbang handphone ternyata).

So, meng-update informasi & teknologi dan mengunduhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, memang penting. Namun tetap, tidak secara berlebihan dipergunakan. Yang tampaknya penting juga, jangan latah. Karena kalo sudah terlanjur latah, susah ngobatinnya. Hehe..

Semoga makin tingginya tingkat komunikasi melalu internet dan telepon seluler tidak membuat ketrampilan berkomunikasi langsung (tatap muka) kita menurun. yang berakibat pada menurunnya ketrampilan sosial dan kepekaan antar pribadi. Banyak hal, tetap saja komunikasi tatap muka, silaturahmi langsung dan copy darat, masih sangat diperlukan. Komunikasi antar persona, tetap punya kelebihan. Ada bahasa tubuh, ada kontak mata, ada sentuhan fisik, yang maknanya kaya dan mendalam ini, tentu saja belum bisa 'dijembatani' oleh teknologi virtual.

Pelengkap data : www.marketing.co.id

Thursday, January 24, 2008

Sampah dan Surat di Bus Patas

Sore itu, usai 'menunaikan' agenda pekanan yang -seperti biasa- riuh rendah dan membahagiakan, saya terburu-buru pulang. Suami terkasih saya sudah menanti.

Kami berdua mau nge-date. 'Jalan-jalan' ke Tangerang. Hari itu empat puluh hari meninggalnya ibu. Dan sebagaimana urf/ budaya yang mengakar di masyarakat setempat, kami mengadakan Doa Bersama (mungkin lebih kerennya : tahlilan 40 harian).

Menjelang pukul 5 sore, kami berdua baru siap berangkat dari rumah. Maklum, makan, mandi dan menyampaikan sederet maklumat pada para dayang-dayang, putri salju dan pangeran berkuda terlebih dahulu.

Di atas Bus Patas AC (yang ACnya hidup segan mati tak mau). Naik dari Slipi, jurusan Tangerang. Bangku penuh, hanya beberapa yang kosong. Itupun tak bersisian. Artinya, saya tak bisa berkasak kusuk dengan suami secara lebih aman.
Tiga bangku berderet, yang di sisi lorong, kosong. Saya pun segera duduk. Sayang sama badan dong... walau tak cukup sayang dengan badan suami, yang 'terpaksa' berdiri di sisi saya. Karena dengan tiba-tiba beberapa bangku yang kosong sudah terisi.

Di samping saya seorang perempuan yang tengah asyik menikmati camilan. Waduh.. baunya.. menggoda. Perut keroncongan. Kebetulan yang dimakannya berupa kripik. Yang kalau dikunyah (apalagi dengan cueknya) maka akan bersuara nyaring "kruek-kruek-kruek..gress-gress..nyam". Si Mbak itu cuek banget ngunyah kripik sambil terus berceloteh dengan kawannya (bukan ngomongin orang yaa.. Cuma membahas perilaku nya saja!). Saya hanya berpikir, ternyata, memang nggak cukup sopan ya, makan di kendaraan umum semacam ini. Apalagi kalo yang dimakan kripik. Apalagi ngunyahnya cuek banget. Boro-boro nawarin atau minta izin sama orang di sampingnya. Dan ternyata memang cukup mengganggu. (Saya sulit menjelaskan di mana letak mengganggunya).

Saya mencoba mengingat-ingat. Kira-kira kapan ya, saya menikmati makanan di atas kendaraan umum semacam ini. Maka saya temukan daftarnya : di atas metromini kala hamil Alif (bus sedang kosong kecuali kondektur dan supir plus tiga orang duduk di kursi paling depan), di atas kopamilet jaya -ngunyah permen karet karena mual, hamil juga-, di atas bus patas AC waktu mau ke depok, dan hanya duduk berdua bersisian dengan sang suami, dan juga di atas taxi. Kalau minum? Hampir di semua kendaraan umum, saya pernah melakukannya (maklum, jakarta panas dan kering!) Ah, ada gak ya, di antara daftar itu, yang ketika saya lakukan perbuatannya mengganggu orang lain? Semoga tidak..

Ah, ya sudahlah, mungkin saja si Mbak ini juga sedang hamil? (hehe...nuduh. kayaknya masih gadis sih..). Atau sedang sangat lapar tapi belum sempat makan? Oh ya, kalau saya jadi dia, dalam kondisi serupa (dari yang saya perkirakan tadi), pasti saya akan makan juga di atas kendaraan umum. Tapi saya tidak akan mengabaikan orang di samping saya, dengan "maaf ya mbak, saya makan. belum makan dari pagi sih". Yahh mungkin -kalau dari sudut pandang saya, orang di samping saya ga bakalan terlalu kesal akibat saya terlalu cuek menikmati makanan.
Lha wong tetangga yang mencium aroma masakan kita aja sunnahnya 'dibagi' masakannya, apalagi ini teman seperjalanan, status jelas : sama-sama musafir! Halah..

Saya cuma menghela nafas saja. Semoga nggak banyak orang yang secuek ini. Eh ternyata belum apa2 kejadian makan di atas bus umum. Yang justru jadi menusuk hati saya adalah, ketika makanannya habis! Apa karna saya tidak dibagi? Bukan. Tapi karna bungkus makanan tersebut dibuang (tetep dengan cueknya) di lantai bus (busyeettt... eh... masya Allah). Ini nih, yang kalau menurut saya : benar-benar mengganggu ketertiban umum! Kalau yang ini benar-benar sudah dzalim. Memangnya bus kota itu tempat sampah? Kenapa nggak dilipat, disimpan dalam tas untuk kemudian nanti dibuang di tempat yang semestinya? Kecil memang, cuman satu bungkus. tapi kalo setiap orang di bus ini berpikiran sama dengan si mbak? Berapa puluh kantong bertebaran? Baunya, bikin risih di kaki, sarang nyamuk, dll buanyakk. Ah...

Usai membuang kantong makanan tersebut, si mbak menyibakkan rambutnya yang tebal terurai. Tertebar aroma wangi. Wuihh... sih mbak ini rambutnya wangi. Spontan saya melirik ke kanan, dan tampaklah oleh saya perempuan berwajah (lumayan) cantik, kulitnya bersih! Namun malang... eh sayang... kalau menjaga kebersihan umum kok gak bisa mbak? Bikin cantik dikit bus kota kita dengan gak buang sampah sembarangan aja kok nggak bisa mbak?

Saya mulai mencari-cari kertas. Gak bisa dibiarin. Masa iya, saya diem aja, melihat 'kedzaliman' ini? Mau berapa banyak lagi orang yang cuek buang sampah? saya mesti melakukan sesuatu. Notes saya tertinggal!

Bus berhenti, dan serombongan orang turun, membuat banyak kursi terkosongkan. Saya mengajak suami pindah ke bangku dua deret. Segera saya menemukan secarik kertas karcis trans Jakarta. Di lembar putihnya, saya pun mulai menuliskan surat. "Mbak cantik dan wangi. Sayang, kok buang sampah sembarangan?" Nggak nyambung. Biarin. Saya lipat kertas itu, bermaksud memberikan padanya saat turun nanti. Dari deret kursi saya, tampak kolong kursi tempat si mbak duduk sangat kotor. Tuhkan, sudah banyak? Apalagi barusan ditambahin lagi?!
Jadi sebenarnya ide buang sampah sembarangan bahkan di atas bus itu hoby, budaya, atau ketidakpedulian ya? Bete. Apa iya, kalau liat sampah berserakan, malah bikin kita semangat untuk melanjutkan 'perjuangan' membuang sampah sembarangan juga?

Tak lama bus pun berhenti. Si mbak beranjak bersama kawannya, langsung merangsek ke pintu hendak turun. Tak melewati saya. Saya hendak menyusul. Bodoh. Suami saya menggenggam tangan saya untuk menahan tindakan saya berikutnya, "nggak usah lah", katanya. Saya enggan berdebat dengannya. Saya manyun.

Saya simpan kembali surat tulisan ceker ayam itu. Semoga saja saya tak sampai pengen memberikan lagi surat itu. Artinya, jangan sampai ada yang memancing saya, untuk bernafsu memberikan surat serupa itu pada yang lain.

Atau ada yang mau menyimpan surat saya untuk mengingatkan diri sendiri?

CIPTAKAN BUDAYA BERSIH DAN TERTIB. SELAMAT BERJUMPA DI KENYAMANAN HIDUP.

Sunday, January 20, 2008

Air Mata di Senin Siang (2)

empat puluh hari..

berjalan, berlalu, berbilang..

Rasanya masih hangat dirasa, sehangat tangan ibu kalau kucium takzim. Tak terasa, sudah empat puluh hari kami tak bersama lagi.
Bapak, yang masih sering menangis tertahan di kala subuh tiba, seringkali membuat hati teriris kembali, bagai empat puluh hari silam itu.
Tangis yang menderu, deras bagai tumpah dari segenap rindu.

Ibu telah pergi. Sejak empat puluh hari itu. Tangis dan sedih yang tiada usai.
Namun ingatkan satu hal; bahwa semua kelak menuju Tambatan yang sama. Hanya.. entah kapan, namun pasti.

Ibu berangkat lebih dulu. Dan nantinya, kami, kita semua pasti akan menyusul. Tinggal menanti saatnya.

Selamat Jalan Ibu. Semoga Allah melapangkan perjalanmu.

-mengenang Ibu di empat puluh hari-

Friday, December 21, 2007

Air Mata Di Senin Siang1

Dan ... saat itu pun akan tiba.

Siang itu, saat sedang menemani Alif minum susu menjelang tidur siangnya. Suami mendatangi saya dan mengabarkan bahwa Ibu sedang kritis. Suami meminta izin untuk berangkat ke Tangerang bersama kakak perempuan dan suaminya. Dan tentu saya menyetujuinya, bahkan menyarankannya untuk segera berangkat. Karena Alif sedang flu dan terfikir juga bahwa Afra masih menyusu ASI, maka tentu akan repot meninggalkan Alif atau membawa Afra berangkat. Hingga saya pun menyarankan suami untuk segera berangkat tanpa saya. Suami menyetujuinya.

Entah mengapa, saat kabar bahwa ibu kritis, walau sudah beberapa kali problem jantung ibu kambuh dan sudah sering pula kabar bahwa ibu kembali jatuh sakit, namun kabar di tengah siang hari itu terasa berbeda. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya bahwa ibu akan meninggal kali ini (maaf beribu maaf, bahasanya jadi terkesan kasar). Namun saya segera beristighfar, dan memohon pada Allah untuk menjauhkan diri ini dari lintasan pikiran semacam itu.

Usai Alif tertidur, saya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Semenit kemudian, suami mengahmpiri saya, dan membawa kabar itu. Ibu Telah Tiada. Ibu telah meninggal dunia. Saya linglung sekian detik itu. Namun tiba-tiba kesadaran saya kembali, untuk bersiap menguatkan suami. Betapapun, suami adalah anak kandung. Dan saya tau, kedekatannya mungkin melebihi kedekatan saya dengan ibu (mertua).

Namun ternyata tidak. Sedetik usai kesadaran saya kembali, maka saat itu pulalah, saya menangis. Justru suami lah yang membimbing saya, menguatkan saya, dan membesarkan hati saya yang tiba-tiba menciut bagai plastik tersengat api.

Tangis saya benar-benar deras. Dada saya sesak. Mengingat ibu, mengenang ibu, mencinta ibu. Dan ketika waktu yang diberikan hanya 3 tahun, saya bersama ibu kedua, bersama beliau, Allah 'memisahkan' kami. Dan sungguh, rasanya saya belum sempat memberikan bhakti apapun pada beliau. (Ya Rabb.. semoga Engkau ampuni hamba).

Ibu, walau perjalanan hidupmu aku tak banyak tau, namun tergores kasih yang begitu dalam. Terasa dan melekat, walau tak sepatah kata wujudnya. Walau aku tak lahir dari rahimmu, namun bagian darah dan dagingmu, mewujudkan keindahan hidupku yang tak setara sebelumnya. Yang kini menjelma lewat wujud dua kekasih Allah yang suci dosa.

Ibu, jika pun tak ada bhakti yang cukup kuukir, semoga aku bisa memahatkannya, pada ketiga kekasih hatiku, juga pada bapak, dan segenap cinta yang kau 'tinggalkan'. Semoga Allah berkenan menambatkan cintaku pada surga di telapakmu, ibu.

Dan kuingin engkau tahu, aku sungguh mencintaimu Ibu..

Selamat jalan Ibu, Semoga allah melapangkan jalan-mu. Amin.

tertanda cinta,
ananda-

Friday, December 7, 2007

2nd Besde


5 Desember 2007

Selamat Ulang Tahun Alif..

"Raja" nya ayah dan ummi, sudah 2 tahun. Tinggi badannya 87 cm dan BB-nya....mmm (kok masih) 12 Kg (?).
Kakaknya adek Afra, yang lebih suka serius ketimbang ketawa ketiwi. Yang lebih suka merhatiin semut dan cicak (yang saling pandang-pandangan di tembok) ketimbang merhatiin televisi. Yang lebih heboh lihat bulan dan bintang di langit atau di menara masjid, ketimbang lihat badut. Dan yang lebih suka naik bus daripada naik taxi.

Alif, dari bayi sampai seusia sekarang, memang lebih suka dengan 'atribut' orang dewasa ketimbang atributnya anak-anak. Lebih favorit sama motornya ummi daripada motor mainannya yang bisa jalan sendiri sambil muter2, sambil ada musiknya, plus ada suara klaksonnya. Alif juga lebih senang main gitarnya ayah daripada mainin mobil2annya. Alif juga lebih favorit sama obeng dan palu ketimbang robot atau pesawat-pesawatannya.

Si sulung ini juga lebih suka bongkar pasang semua mainannya, daripada memainkannya. Pesawat yang sayapnya entah kemana. Motor mainan yang entah kemana stang dan spionnya. Dan banyak lagi.
Alif juga lebih betah mendengar orang bicara dan menyanyi ketimbang main komedi putar. Tapi Alif gemar menyanyi. (tunggu nak, ummi ketawa dulu). Jadi ingat dengan gaya nyanyi Alif. Apa-apa dijadikan mike buat nyanyi. Dari mulai pensil, handphone ayah, remote AC, stik drum, sendok, sampai sapu (mungkin maksudnya standing mike kali).

Si 'penyanyi' ini juga sangat gemar beres2 rumah (semua benar-benar heran soal yang satu ini). Tidak pernah terlewat sehari pun, tanpa Alif menyapu, membuang sampah, mengelap meja, mengelap lemari es, mengelap tepi tempat tidur, membenahi sprei kasur (kasur Alif ataupun kasur ayah&ummi), dll. Soal suka mengelap ini tidak hanya dikerjakan Alif di rumah. Tapi juga di rumah engkong, di rumah eyang, di rumah eyang tante, juga di dalam taxi. Alif juga sangat suka membuang sampah. Begitu ada tisu sehelai saja di atas meja, pasti langsung masuk keranjang sampah. Ada sehelai rambut di atas bantal, pasti bakal dibuang ke tempat sampah juga sama Alif. Alif juga ga betah, kalau pas lagi mandi, pintunya kebuka; "tutup! Malu", katanya. Sejak umur satu tahun, Alif sangat tidak terbiasa beraktivitas di kamar mandi dengan pintu terbuka.

Alif, favorit sekali dengan coklat. Semua jenis coklat Alif pasti suka (kecuali coklat murni yang pait). Alif juga doyan banget es krim (yang Alif sebut dengan : Ejim) dan keju, doyan semur ayam, kacang, susu, jus buah, juga makanan2 pedas (padahal waktu bayi Alif nggak doyan makan). Untungnya Alif juga rajin gosok gigi 2x sehari.

Kakak yang sudah bisa jagain adik cantiknya, anak yang bisa ikut sedih kalo ayah atau ummi lagi sakit, dan cucu yang selalu nangis sedih kalau eyang atau engkongnya pulang (habis nengok Alif). Hehe.. Alif memang favorit sama Eyang kakung dan Engkongnya saja. sama Eyang Putri malu-malu, sama Nyainya, malah sungkan.

Si kakak yang memanggil adiknya dengan "Adek Awa (malaikat yang cantik)" juga senang nolongin orang. Ndorongin kereta belanja di supermarket, ngangkatin keranjang belanjaannya ummi, dorong2 strollernya Afra, narikin koper beroda nya eyang, dan masih byk lagi yang di'tolong'in Alif. Yang seringkali, yang terjadi adalah, ditolong malah jadi repot sendiri (hehe).

Alif ... Selamat berulang tahun yang kedua ya... Selalulah menjadi insan yang sadar akan keberadaannya di dunia. Seorang hamba yang ikhlas dengan amanahnya. Dan seorang 'musafir' yang selalu ingat 'tempat kembali'nya.

Terima kasih, sudah menjadi bagian kebahagiaan dan keluarbiasaan sepanjang jalan hidup ayah-ummi-adek Afra-dan semua yang mencintai, mengasihi dan menjadi bagian hidupmu. Terima kasih atas pelajaran, hikmah, dan rasa yang terbagi indah diantara kita.
Semoga ayah dan ummi bisa menunaikan amanah-Nya atas dirimu dengan sebaik-baiknya. Menjadilah jalan pelapang ayah dan ummi menuju surga ya Nak... Doakan kami, sayang...

Ya Rabb.. jadikan Alif anak sholeh, berbakti, dan berguna bagi kehidupan-nya. Dan jadikan kami, orang tua yang mampu menjaga amanah indah-Mu ini dengan sebaik-baiknya. Amin.

Monday, December 3, 2007

Bukuku Belum Jadi-jadi

sEDih ...

Begitu, yang tergores di hati, kala membaca tulisan-tulisan karya penulis muda yang penuh bakat dan semangat. Begitu banyak nama. Begitu banyak kreasi, dan begitu banyak kisah dan makna.

Kalau soal menulis, saya termasuk rajin menulis. Mulai dari Diary-nya anak-anak, resep masakan, daftar belanjaan, sampai nomer telepon. Tapi saya heran, kok saya nggak bisa bikin buku seperti mereka-mereka ya...?

Waktu. Apa iya saya tak punya cukup waktu? Memang, mengurus anak dan segala keperluan rumah tangga adalah 'pengurasan' energi dan waktu. Tapi masa iya, saya hanya punya waktu luang untuk 'bernafas' saja? Wihhh... sesibuk apa?!

Usia. Sejujurnya saya ada di usia yang cukup produktif kan? 26 tahun, belum terlalu tua, belum terlalu tua (tua-muda relatif yak!). Harusnya saya masih cukup trampil mengetik, menulis, berpikir, mengingat, menganalisa, dan mungkin : membuat buku.

Gender. Halah, kayaknya penulis wanita sangat tidak kalah heboh dengan penulis pria kok.

Tema. Aduhhh... masa sih, tema seluruh dunia, sepanjang hidup, seluas asa, seramai mimpi, setinggi langit, nggak ada satu pun tema yang bisa digarap? Pasti ada lah... (ga kreatif nih..)

Fasilitas. Ah, kayaknya banyak yang hanya modal kertas dan pulpen bisa menciptakan karya-karya besar? Masa ada komputer, internet, telepon dan buku, masih nggak bisa mencipta juga?

Kemauan. Nah, ini dia, kemauan sih ada. Tapi cuma sebatas 'ada' namun 'tiada' alias pengen, tapi nggak mau ngapa-ngapain. Hihihi.. Masa' buku datang dari langit? Pembelaan : kenapa semua berjalan mulus di awal. Namun sampai tengah jalan, selalu bingung mau belok ke mana. Atau jadi heran sendiri, ini tadi sebenarnya mau ke mana ya? nah kan.. Kemauan nggak didukung keyakinan dan usaha yang optimal, jadinya bingung dan... linglung. hhihhiii .....

Usaha. Nah, usaha sih selalu ada. Usaha buat ngintip tps-tips sukses para penulis sukses. Juga... usaha untuk ... ngeles, cari alesan kenapa buku-nya nggak jadi-jadi. Usaha separo-separo, kurang fokus, tergantung mood dan duit (?).

Konsistensi. Wahh, konsisten habis buat nulis lho... Nulis diary Alif dan Afra, nulis catatan daftar belanja, nulis posting email, nulis blog, nulis resep masakan, sampai nulis2 jadwal acara bagus di tipi dan Kid's event yang keren2 di Jakarat. Kurang apalagi coba? Cuman kalo suruh konsisten mantengin satu tema tulisan... ga kuat!!! Hehe..

Mental. Apalagi yang satu ini. Nggak punya gue!! (ngakak sambil ngacir)

Yahhh........... jadi kapan dong, bukunya terbit? Kapan-kapan ya... Hehehe...

Tuesday, November 27, 2007

Serunya Jurassic's World!

Awalnya curhat sama Fithrie, soal lapangan bermain anak yang makin sempit. Apalagi daerah tempat tinggal Alif yang perkantoran, susah banget bisa nemuin tempat main dengan teman seusianya yang aman dari godaan dan gangguan syetan yang terkutuk :D

Ternyata, di Kalibata Mall (Mall terdekat dari rumah), ada Jurassic's World. Maka, tancap gas lah ke sana, yang hanya memakan waktu 15 menit! (mungkin juga karna hari minggu yak...?).

Usai lunch di Mc.D yang kurang memuaskan (minyaknya buanyak amat sih Mac... emang lemet?) tapi alhamdulillah kenyang, maka Alif segera 'digiring' ke lokasi si Dino. Dan Alif bengong. ?!?!?!
Apaan nih ... mungkin itu pikirannya. Namun begitu melihat ada beraneka mobil-mobil mini berseliweran, Alif langsung semangat! "Ummi, mau ana..." (translate: ummi, mau ke sana) sambil menunjuk 'kandangnya' Dino. Oh, jadi ini ya, si Dino's World?

Begitu bayar 20.000 rupiah (murahnyaaaaaaaaaaaa............) Alif langsung dikasih 'gelang' tanda masuk ke JW. Jangan salah ya, 20.000 itu termasuk ayah-umminya boleh masuk lho.........!!! Asyik, bisa ikut mandi bola!! Waa... Belum lagi niy, 20 ribu-nya bisa buat main sampe puas, sampe ngantuk, sampe capekk (walaupun tertulis di pintu masuk : 20.000/jam)!! Murah kan? Apalagi kalo dibandingin sama Gymboree-nya Cilandak Town Square (30 ribu per jam, dengan mainan yang sangat terbatas).

Masuklah Alif (yang dah ga sabar), ayah dan ummi. Apa aja item permainannya ya..... lets see....
- Kuda-kudaan (buat dienjot-enjot)
- Kolam Bola (lengkap dengan tangga kayu dan prosotan mini)
- Jumping Area (Balon dengan ikon si Belalai Panjang)
- Trampolin
- Sepeda, motor, mobil (yang semuanya mini-mini)
- Ayunan
- Aneka Puzzle dan Lego
- Mobil dan area prosotan (anak bisa naik mobil beroda, di atas jalur khusus bergelombang dan mirip prosotan. Ati2 nih... buat 3 tahun aja)

Secara umum, area ini asyik banget buat anak2 main bareng (apalagi murah meriah). Apalagi secara lokasi, berada di sekitar tempat2 makan-nya KaMall (ada Hokben, ada Rice Bowls, ada KFC). Jadiii... kalo yang jagain laper, bisa sambil makan, sambil ngawasin anak2. Asyik kan...?

Di JW, anak2 bisa nyoba aneka mainan untuk merangsang kepekaan dan daya motoriknya. Di sana mereka juga bisa bersosialisasi, tergantung bagaimana si anak dan teman bermainnya masing-masing. Alif pun asyik bereksplorasi dari setengah 3 sampai jam 5 sore! (jelas-jelas) 1 jam lebih! Udah gitu, masih nggak mau pulang pula! Intinya, secara umum tempat ini asyik banget. Seru! Rame! Dan cukup bisa direkomendasikan.

Sayangnya ...
- Makanan boleh dibawa masuk (asyik sih sebenernya). Maka kebersihan bisa jadi taruhan. Ada beberapa makanan yang tercecer, atau resiko minuman tumpah dll.

- Tidak adanya peraturan atau tata tertib sama sekali di tempat ini (selain bayar bea masuk 20 ribu per anak dan melepas alas kaki saat masuk ke arena). Gaduh, riuh rendah. Benar-benar 'hanya' untuk bermain. Tidak ada guru apalagi modul (beda banget dengan class-nya Gymboree).

- Memang menyenangkan jika pendamping anak boleh ikut masuk area, tapi apa nggak sebaiknya dibatasi ya? Masa ada seorang anak diantar oleh 4 orang dewasa? Kan menuh-menuhin tempat. Udah gitu, mereka duduk-duduk di item yang harusnya hanya layak dipakai oleh anak-anak (misal : kursi kecil untuk menggambar. Trus ada juga bapak-bapak yang duduk di jumping area sambil telpon-telponan, sampai-sampai di wilayah yang diduduki tsb cekong dalem bgt. Namanya juga berat orang dewasa. Anak-anak yang ada di area ini jadi gampang melorot ke wilayah tsb.) Dll.

(kok catatan ga enaknya banyak bgt ya? hehehe...)

But so far, ini bisa jadi alternatif buat mom semua, yang punya anak dengan kisaran usia 1-5 tahun. Apalagi dengan kondisi di Jakarta saat ini. Untuk yang bertempat tinggal di Kalibata, Buncit, Pasar Minggu, Rawajati dan sekitarnya, kemacetan bukan lagi hal yang perlu dirisaukan (karena mall-nya di daerah Kalibata).

Oya, di area ini juga disediakan terapi pijat (pakai alat elektrik, yang diletakkan di telapak kaki), dengan biaya hanya 10.000 per 20 menit. Ini untuk orang dewasa ya.... Lumayan sambil nungguin anak main.

Kalau ada yang berniat ke sana, call me ya, kita janjian! Hehehe...

Note : tempatnya hampir nggak nyambung sama namanya 'Jurassic's World'

Monday, November 26, 2007

Kreasi Perselingkuhan (Saya)

Saya tidak menyangka, bahwa saya akan mampu berselingkuh.

Suatu malam, di malam itu... sudah larut ... hening ... lelap dalam dekapan malam ...
Saya merasa bahagia, ketika seseorang itu, lelaki berwajah sangat tampan, berbincang dengan saya. Mesra. Dan saya merasa nyaman. Ada perasaan luar biasa.

Senyum. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata yang menggetarkan hati "Sayang..." (sepertinya saya pernah mendengar kata dengan nada seperti itu...?). Lelaki itu tersenyum lagi dan mengucapkan kata demi kata lagi (dan sungguh, saya lupa dia ngomong apa ya..? Tampan. Dan dia masih sangat tampan. Dia bukan orang pribumi, walau berbahasa Indonesia juga. Dia lelaki bule. Ya, saya yakin itu. Rambut pirangnya, mata coklat terang ... dan kulit khas bule ... Tampan sekali. Teduh, dan menyamankan. Juga membahagiakan.

Di awal Subuh, saya terjaga. Dan segera menyadari, bahwa baru saja saya bermimpi. Saya pun segera menyadari pula, 'lelaki indah' dalam mimpi tadi, bukanlah sang pangeran (My Prince, My Beloved Husband ---satu-satunya pangeran saya---).

"Abang...saya berselingkuh". Disambutnya dengan senyum. Saya resah.

Di ujung sore, pangeran saya datang menghampiri dan dengan tatapan teduhnya, mengajak saya bicara. Nada yang menenangkan, menyenangkan, juga menyamankan. Persis seperti dalam mimpi saya semalam. Mesra. Dan dia membawa kabar.

--- Saya mendapat 'hadiah' dari seorang lelaki berkebangsaan Perancis!! Pemberian yang akan sangat berarti untuk hidup saya (semoga Allah melapangkan urusan-nya). Sangat-sangat berarti ---

Kabar gembira, untuk saya, suami, dan tentu, anak-anak akan merasakannya pula. Sesuatu yang sangat berarti. Hadiah yang 'besar' dan sangat berarti. Sekali lagi : sangat berarti.

Ada tangis haru dalam biru hati saya. Ada kecerahan di wajah pangeran saya. Secerah senyum Alif dan Afra para buah hati penghias surga.

'Perselingkuhan' saya, senyatanya, adalah ukiran kreasi dari ungkapan suami, dan datangnya 'hadiah yang berarti' dari seseorang nun jauh di sana, di negeri kiblat mode dunia.

Thanks Lot Mr. Delomenie.. (hanya Allah yang bisa Membalasnya). Alhamdulillah, atas segala karunia ini.

--- Saat itu akan tiba. Dan perjuangan baru akan dimulai kembali ---

(kejadian di awal november)

Insiden


Rada deg-degan saat menuliskan catatan kali ini. Pilu. Rasanya luka di hati saya belum mengering.

Kemarin Sabtu (24/11) Afra, si putri cantik, terjatuh dari baby tafel-nya. Shock. Jantung rasanya berhenti berdetak, nadi tak berdenyut, pikiran hampa kosong sejenak oleh adrenalin yang tiba-tiba meluap.

Afra terjatuh, kala si Baby Sitter yang diberi tugas menjaganya, meletakan Afra dari gendongan ke atas meja bayi, dan nyambi melakukan sesuatu. Sekali saja hentakan kaki Afra, maka melorotlah Afra bersama kasur mandinya. Namun Afra menyentuh lantai lebih dulu tanpa kasurnya.

Rabbi... Saya tak bisa berkata sambil segera mengambil alih Afra dari tangan si Baby Sitter. Saya tidak tahu harus berbuat apa, selain menegur sang BS. Menegur. Ya, menegur dengan lebih tegas. Saya tidak bisa lebih keras daripada teguran yang saat itu sanggup saya lakukan. Apapun, ya apapaun yang terjadi pada Afra, tentu kesalahan saya. Kelenaan saya. Keteledoran ibunya.

Maka ketika seorang teman bertanya, apakah si BS tidak dipecat? Tidak, jawab saya. Hanya akan menambah masalah baru. Apakah saya memarahinya? Tidak, jawab saya. Karena marah sama sekali tidak akan membuat Afra tidak jadi jatuh. Ya, inilah konsekuensi jika mempekerjakan orang lain untuk menjadi asisten kita dalam melakukan tanggung jawab. Tidak ada jaminan, keteledoran semacam ini tidak bakal terjadi, pun oleh orang tuanya sendiri. Saya rasa cukup kejadian yang pertama tersebut menjadi shock theraphy bagi semua orang dewasa di rumah cinta.

Afra, maafkan ummi ya...

Dan Afra pun mengalami trauma. Jangankan bermain air saat masuk dalam ember mandinya. Saat persiapan mandi saja, sudah menerbitkan traumanya. Afra menangis! Afra ketakutan saat mandi. Dan Afra pun langsung mengejang takut, saat diletakkan sendirian di atas box bayinya, di strollernya, apalagi di atas baby tafelnya. Segala gunjangan walau ringan, segala kesendirian di atas bidang datar (terutama baby tafelnya), segala rupa aktivitas mandi, segala rupa di ruangan insiden itu ... semua membuat Afra gugup. Si cantik yang murah senyum itu dalam sekejab menjadi bayi paranoid. Afra trauma! Saya menangis dalam hati.

Afra harus kembali! Dan semua anggota keluarga Rumah Cinta pun bersama, untuk menyembuhkan luka trauma Afra. Ayah, Alif... tentu saja ummi, (si BS tak mau kalah juga), (tante pas ke semarang) semua rela meninggalkan aktivitasnya sementara, untuk menemani si cantik mandi. Pagi tadi, Afra tak lagi menangis saat mandi. Walau badannya masih menegang saat masuk ke ember mandi, namun senyumnya sempat disunggingkan walau segaris. Ah, Afra...

Afra pun sudah mulai mau duduk kembali di stroller nya untuk makan. Sudah mau lagi, untuk sejenak ditinggal berwudhu, makan, dan lainnya oleh orang yang menjaganya. Perlahan Afra kembali. Semoga kian sembuh dari traumanya. Kembalilah Afra... Kami sudah cukup 'ingat' atas keteledoran kami. Harusnya tak perlu sampai kamu jatuh untuk mengingatkan kami Nak..

Afra ... kembalilah sayang ...

Thursday, November 22, 2007

Eksistensi Sebuah Pilihan-2


"Aku pengen kaya kamu, jadi full mom. Ga usah kerja dan ninggalin anak"
sebuah 'IM' masuk di Yahoo Massanger saya.

saya jawab dengan " :D " (nyengir)
Tapi dalam hati tersenyum. Lha wong semalam saya baru curhat sama suami, "Bang...aku lagi jenuh nih..." Dan sempat ngebatin, mungkin asyik kali ya, kalau balik kerja lagi. Ga bosen, tiap hari ketemu sesuatu yang beda.

Sorenya, 'IM' yang lain masuk. "Lagi jenuh nih.. Di rumah aja, bosen" (sori mbakyu, chating kita kucatut). dari seorang ibu muda cantik, yang kebetulan full mom full home.
Jawaban saya pun sama dengan yang tadi : nyengir. Soalnya, saya sempat ngebatin juga sebelumnya, si ibu yang satu ini enak juga. Kocek suaminya lumayan (sok tau ya), putrinya cantik, lucu, rumahnya dekat sama mertua (bisa buat mampir2), ada pembantu, punya mobil dan bisa jalan2 kemana aja, punya kesibukan bisnis jual-jual (jual apa aja tho mbak?), di rumahnya ada kolam ikan (ikannya kan bisa diajakin curhat), di rumahnya banyak taneman (ada yang bisa disiram-siram), dll.

Ya gitu deh.. dah ada kesimpulannya.
1st. Bahwa rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Enak ya si dia (padahal dia-nya lagi ngiri sama kita). Beruntung ya si dia (padahal si dia-nya ngerasa dapat ujian berat dari Allah). Dll.

2nd. Bosan bisa menjangkiti siapa saja. Orang yang kelihatan paling enak sekalipun. Artis, presiden, anggota DPR, supir bis, pemulung, dosen, dan banyak lagi. Mau yang kerja, nganggur, iseng, atau apalah, semua pasti bisa kena bosan, jenuh.

3th. Bosan adalah musuh bersama. Bosan harus diperangi bersama-sama. Tapi bosan juga sahabat lama, yang sesekali datang berkunjung. Sekadar menyentil dan mengingatkan kita, bahwa banyak hal yang perlu kita cermati. Membantu kita jadi lebih kreatif dan inovatif.

4th. Bosan bisa muncul karena kita terlalu banyak maunya. Sudah punya ini itu, tapi negarasa kurang, bakalan lebih enak kalau ada ina-ini ita-itu juga. Kita jadi banyak maunya, karena kita (maksudnya : saya) kurang bersyukur. So, mari perbanyak bersyukur ... (terlalu banyak yang bisa disyukuri tapi kita (maksudnya : saya) lebih banyak alpa).

5th. Nggak usah terlalu senewen dengan bosan. Dia makin ge-er jika makin diperhatikan. Selama kita tetap fokus pada apa yang sebaiknya dilakukan (tidak usah dulu berpikir soal : seharusnya), konsisten, on the right way.. keep on cool... secara tidak sadar, si bosan pasti juga pergi tanpa pamit (datang tak dijemput pulang nggak pamitan). Inilah saatnya eksistensi sebuah pilihan diuji! (mau tetap kerja, mau tetap di rumah, mau nganggur, mau iseng atau apa aja).

Saya juga heran, kenapa saya bisa bosan? Padahal ada kerjaan baru yang bisa mendatangkan uang (pesanan bikin buku) -soal 'uang' kan pasti menyenangkan. hehe .. Afra sudah makin besar, makin lucu. Apalagi Alif yang sudah makin pintar. Banyak film2 download baru yang belum ditonton. Wow! Ramai hati saya! Ramai rumah tinggal ini! Seramai House of Love!

So, mari kita bersama melawan kebosanan!!

Alif, Afra, Abang juga, maaf ya kalo sempat rada senewen ... abis jenuh sih ... hihihi...

Wednesday, November 21, 2007

ANNIVERSARY ... (selalu dan makin cinta)

19 dan 20 November ...

Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).

Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)

Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..

Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.

HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..

note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)

Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)