Hal yang cukup mengkhawatirkan saya ketika mendekati masa-masa persalinan, bukanlah proses melahirkan atau kerepotan pasca melahirkan. Melainkan timbulnya Baby Blues Syndrom (BBS). Secara sederhana BBS digambarkan sebagai sebuah keadaan mental dan fisik yang tidak menentu (seperti perasaan bingung, khawatir, cemas, merasa bersalah, merasa tak mampu, takut, sedih, dan lain sebagainya) yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Secara kasat mata, BBS ini dapat terlihat dari kondisi ibu, seperti lemah-letih-lesu, badmood, senewen, sedih, malas mengurus bayinya, asi-nya terhambat, marah-marah, menangis, dan ungkapan emosional lainnya. Yang kata dokter akibat pengaruh hormon. Yang kata orang, wajar. Meski demikian, kalau belum merasakannya sendiri, memang sulit untuk bisa memahami apa itu BBS.
Pada sebuah artikel yang pernah saya baca (tentu saja sebelum melahirkan), BBS biasanya timbul pada hari ketiga atau keempat pasca melahirkan. Maka ketika usai melahirkan, saya mulai menghitung waktu. Hari ketiga terlewati, keempat terlampaui, bahkan hari kelima sampai menjelang 2 minggu saya masih mereka-reka si BBS. Saya sempat berpikir, sudah hampir dua minggu, dan syukurlah, mungkin masa BBS telah lewat. Dan selamatlah saya dari monster yang sempat menghantui itu.
Ah, ternyata saya salah besar. Hari keduabelas, perasaan-perasaan tidak karuan mencapai klimaksnya. Rasa khawatir, rasa takut, rasa menyesal, kecewa pada diri sendiri, lelah yang amat sangat, menjadi komplikasi dan berakibat pada suatu 'penyakit'. Saya tidak mau menamainya BBS -karena saya tidak yakin juga- (karena BBS memang sulit digambarkan secara pasti). Tapi yang jelas, seusai menyusui Alif dan menidurkannya, saya gelisah bukan main. Ingin tidur karena kelelahan yang amat sangat (maklum, ibu baru selalu terbangun di tengah malam berkali-kali untuk urusan si kecil), namun kegundahan, ketidakyakinan, dan entah perasaan apalagi namanya, menghambat saya untuk terlelap.
Yang muncul dalam benak saya adalah masa-masa kehamilan yang ternyata jauh lebih ringan menjaganya, ketimbang repotnya mengasuh bayi. Namun tiba-tiba teringat pula tugas untuk membesarkan bayi merah yang terlelap di samping saya, bahwa saya harus selalu siap sedia ketika si kecil butuh susu (muncul perasaan bersalah, karena pada hari keduabelas saya belum cukup mahir menyusui Alif), dan apakah saya sanggup? Bagaimana jika saya lelah dan ngantuk yang teramat sangat, sementara si kecil Alif merengek karena lapar atau popoknya basah? Akan sangat kasihan sekali si Alif. Belum lagi ketika di tengah terpejamnya kembali mata saya, yang terbayang adalah bahwa Alif harus segera menjalani imunisasi. Bagaimana ketika membawanya ke dokter? Bagaimana ketika di perjalanan dia menangis, sementara saya masih kesulitan menyusui (apalagi di tempat umum)? Bagaimana pula reaksi si kecil ketika dia menjalani imunisasi pertamanya? Menangis? Demam? Rewel? Ah, kasihan! Sementara Alif benar-benar harus menjalani imunisasi! Saya khawatir, lelah, cucian menumpuk, sementara saya bingung harus melakukan apa.
(Saat itu adalah masa terberat saya pasca melahirkan. Jauh lebih berat dan menyakitkan dibanding sakitnya proses operasi cesar :-).
Akhirnya?! Saya menangis............................................................................ dan tentu saja di depan suami terkasih. Apa yang kira-kira saya katakan padanya? Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Perasaan sudah campur aduk tak menentu. “Perasaanku nggak enak”, ungkapan singkat yang kemudian dilanjutkan tangis yang sulit untuk dihentikan. Genggaman erat suami justru membuat air mata saya makin meleleh................leh!
Di tengah tangisan yang mengharu biru tak jelas :-) saya pun mulai curhat pada kekasih saya. Tentang perasaan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kebosanan, dan lain-lain, diiringi senggukan tangis. Sinetron lah, pokoknya ;-)
Tangis saya yang terus mengalir beriringan dengan masukan dan dukungan suami yang terdengar hangat tapi menyejukkan. Tak lebih dari lima menit, hati saya sudah mulai cair, terasa lebih nyaman, meski masih resah dan lelah. Suami mengijinkan saya melakukan apapun yang dapat membuat saya lebih baik. Kami pun berdiskusi kecil soal pembagian tugas kerumahtanggaan (dan pada kenyataannya, kita -suami istri- memang harus saling berbagi) serta perawatan-perawatan si kecil ke depannya. Sejenak suami meninggalkan saya, dan saya mulai introspeksi diri. Dalam renungan singkat, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa seharusnya SAYA MERASA BAHAGIA! Teringat bagaimana awal2 menikah dulu saya selalu menagis tiap datang bulan, karena itu tandanya SAYA BELUM HAMIL. Tiga bulan menanti akhirnya Allah menjawab doa-doa kami, dengan mengijinkan saya hamil di bulan Maret 2005. Teringat pula tulisan yang saya buat saat usia kandungan 38 minggu. Terngiang pula ungkapan suami di jelang tidur kami saat malam tiba, “Dek, betah amat di dalam? Main di luar yuk!”, di dekat perut saya, ketika si dedek belum lahir juga.
Ya, betapa kami telah sangat merindukan kehadiran anak kami! Belum lagi masih hangat dalam ingatan, bagaimana beratnya menjalani kehamilan selama 9 bulan. 9 bulan menggendong si dedek dengan perut, kemana-mana dalam keadaan apapun!
Kesimpulan sederhana itu membuat saya merasa lebih baik. Lantas saya tatap wajah polos Alif yang tengah terlelap dalam bedongnya. Duh Allah..........betapa Pemurahnya Engkau............. adakah kenikmatan lain yang sangat kami nanti selama ini selain kehadiran kekasih baru nan mungil ini? Bukankah bayi ini lahir juga dengan keadaan yang baik, wajahnya lucu, cakep, nggak rewel, dengan anggota tubuh yang sempurna dan indah, sangat dinanti oleh orang tua saya sebagai cucu pertama, sekaligus cicit pertama dalam keluarga besar eyang saya? Lalu, kenikmatan dari-Nya yang manakah yang dapat kami ingkari? Saya cuma dapat beristighfar menyadari hal ini.
Dalam hitungan waktu, saya sudah merasa jauh lebih baik. Kedatangan kakak ipar yang juga baru saja punya bayi, semakin menambah motivasi saya. “Jangan dijadikan beban”, “lakukan apapun yang membuat kita lebih nyaman”, “betapapun, punya anak adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya”, beberapa ungkapan dari sang kakak yang membuat 'nyess' di hati. Kami pun sharing soal perawatan bayi baru lahir. Bagaimana mengatur jadwal menyusui, memandikan, berbagi tugas dengan suami, dan lain-lain.
Ah, alhamdulillah, hari itu BBS datang mencapai klimaksnya, dan hari itu pula ia beranjak pergi perlahan-lahan. Hari-hari berikutnya makin baik. Saya lakukan apa-apa yang memang sebaiknya (bukan seharusnya) saya lakukan. Melakukannya tanpa beban, dengan kasih sayang, ikhlas, serta yakin 'pasti bisa', mampu membunuh rasa khawatir, takut, perasaan bersalah, serta kecemasan. Bagi saya pribadi, menjalani segalanya bersama suami adalah obat paling mujarab (tentu butuh suami yang pengertian, sabar, penuh kasih sayang, full smile and motivation, serta bertanggung jawab tentu ;-) “Thanks ya honey... u r my best!”
Syukurlah, orang tua dan mertua saya bukanlah tipe yang suka ngatur-ngatur. Jadi saya boleh berlega hati untuk hal yang satu ini, karena tak menambah masalah kian runyam. Kalaupun punya ortu or mertua yang menerapkan banyak aturan, atau ikut menetapkan ini dan itu, kata kakak ipar saya “lakukan saja kalau tidak merugikan”. Satu hal lagi, jangan pernah berhenti (apalagi lupa) untuk berdoa, saat apapun! Dan rasakan kedahsyatannya! Yang terus menerus saya ingat pula adalah; anak akan menjadi apa kelak, sangat tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan sejak dini.
Maka, bagi para calon ibu, atau para ibu baru, obat dari BBS sebenarnya cukup 'sederhana'. 'Cukup' bersyukur pada Allah, bersabar pada amanah-Nya (klise kan ? ;-), dan yang tak kalah penting : dukungan suami! (para suami wajib paham akan BBS ini !)
Friday, February 3, 2006
Thursday, February 2, 2006
Cesar, Normal, 'sama saja'........
Kekasih Baru Yang Telah Tiba
Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.
Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.
Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-
Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.
Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)
Ahh.......... lega rasanya. “Saat” yang dinanti telah tiba. Dan benar juga, kenapa harus memaksakan sesuatu datang menurut perhitungan waktu kita? Toh sudah ada yang Maha Menentukan tibanya waktu! Sementara kita tinggal menanti dengan Sabar dan Ikhlas. 'Tak akan ada yang mampu kita percepat jika Allah menentukannya terjadi lambat. Dan tak ada pula yang mampu kita perlambat, jika Allah menentukannya terjadi cepat.'
Dan sungguh, perhitungan Allah Maha Tepat.
Begitupun kisah hadirnya Kekasih Baru kami, Alif. Tepat ketika kandungan mencapai 39 minggu lebih 3 hari, pada 5 Desember 2005, si dedek minta melihat dunia. Siapa nyana, kandungan yang selama 39 minggu dijaga baik-baik, dan selalu dapat rapor biru alias bagus, berakhir pula dengan cesario, alias operasi cesar. Allah Maha Berkehendak. Di detik terakhir mendekati kelahiran Alif, justru kondisi kandungan sedang buruk. Demam tinggi si calon ibu sebelum melahirkan (38,5 derajat celcius), dan tekanan darah yang rendah (mencapai 80/60), membuat janin kurang oksigen. Dan itu berakibat pada lemahnya gerakan janin, sehingga kontraksi lemah. Bantuan selang oksigen tak banyak membantu. Rapor 2 kali CTG tetap tak ada perkembangan berarti, yang kemudian membuat dokter dengan cepat memutuskan dilakukannya cesar. Apalagi ketuban telah pecah dini tanpa diikuti kontraksi. Akhirnya, operasi cesar mengantarkan Alif melihat dunia fana tepat pada waktu dunia, 09.50 WIB di Jakarta Medical Center. Alhamdulillah operasi berjalan lancar.
Pada realitanya, operasi cesar memang tak selalu karena kondisi gawat janin, seperti yang dialami Alif. Bahkan cesar sempat menjadi trend di masa modern, karena konon katanya melahirkan cesar lebih 'enak' daripada melahirkan normal. Lebih enak tentu maksudnya tidak se-sakit kalo normal. Tak heran, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada seorang ibu yang melahirkan secara cesar. Padahal tidak semua ibu yang melakukan cesar karena pilihan pribadinya. Tentu saja tidak sedikit pula para ibu yang sedih karena harus melahirkan secara cesar. Karena tak jarang para calon ibu punya semangat, kalo tak boleh dibilang -obsesi- untuk melahirkan secara vaginal alias normal. “Lebih puas”, alasannya. Apapun alasan dan pilihan, serta motivasi yang melatarbelakangi keputusan bagaimana proses melahirkan yang dilakukan, menurut saya segalanya kembali pada masing-masing individu. Saya sempat mengira memang, kalau cesar jauh lebih 'enak' dibanding normal. Dibius-tidak sadar-tidak sakit-tiba2 lahir. Ah, siapa bilang. Cesar yang saya rasakan, terasa sakit sejak pemasangan kateter (alat bantu untuk buang air kecil), dibius (suntik di punggung beberapa kali), pasca operasi (demam dan sangat lemah), masa pemulihan (pinggang ke bawah masih mati rasa dan berat serta sakit untuk digerakkan, ditambah tidak bisa segera bermain-main dengan si kecil), rasa 'senut-senut' pada bekas operasi, sampai masa 2 tahun jeda -untuk punya anak kembali- yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun secara pribadi, seluruh rasa sakit itu sebenarnya sangat tidak seberapa dibandingkan gantinya, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, cakep pula (tidak terlalu mirip ayah dan umminya), dan yang terpenting; hadirnya amanah baru -yang akan membawa kita ke surga atau ke neraka (dan pilihan itu ada di tangan kita, orang tuanya)-
Maka sebenarnya, normal atau operasi atau vakum atau induksi dan segala proses melahirkan, termasuk di bidan, dokter spesialis, bahkan dukun beranak, semuanya tidaklah terlalu penting, selama kita punya alasan tepat dalam mengambil pilihan tindakan. Tidak ada yang lebih sakit, lebih 'enak', lebih sulit dan lain-lain dalam proses melahirkan. Karena ada yang sudah Menetapkan segala sesuatunya menurut kemampuan dan daya juang dari masing-masing calon ibu. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menerima dan menjalani amanah baru menjadi orang tua.
Tulisan ini lebih untuk bahan sharing bagi para calon ibu yang menanti kelahiran. Bahwa yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Soal hasil? Ah, ada yang Menentukan. Jadi, jangan khawatir :-)
Monday, January 23, 2006
CINTA DAN RASA TAKUT
Ada satu hal, yang selalu membuat saya takut ketika bicara soal CINTA. Ya, cinta yang menjadi energi dalam hidup saya, tiba-tiba menjadi 'momok' untuk terus saya resapi sebagai sebuah karunia dari-Nya. Satu hal tersebut adalah, KEHILANGAN.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
CINTA TAK SELALU HARUS MEMILIKI, ungkapan yang bagi saya tidak berlaku. Cinta harus memiliki. Ya, setidaknya memiliki wujud cinta itu sendiri. Karena sebenarnya, cinta adalah rasa, yang tumbuh dan ada. Cinta adalah tanpa pamrih. Hingga tak perlu mengharap balas, tak perlu membahas timbal balik. Cinta adalah cinta, yang tunggal, yang ada dari satu, sebagaimana pemiliknya, Sang Maha Tunggal. Sehingga, ketika timbul rasa cinta, maka cukuplah cinta, tanpa ada selintas tentang memiliki, atau tidak. Agar cinta selalu indah, bukan pedih, benci, atau lara. Seperti matahari dan bulan, yang selalu indah, tanpa harus dimiliki oleh siapapun.
Dalam kehidupan kecil yang saya jalani kini, tengah tumbuh dua buah cinta. CINTA PERTAMA adalah cinta yang menumbuhkan. Cinta yang ini membina dan membimbing saya, serta membantu saya tumbuh mewujudkan cinta itu sendiri. CINTA KEDUA adalah tunas cinta. Tunas yang harus saya tumbuhkan, agar nantinya mampu memberikan cinta.
CINTA PERTAMA adalah cinta sang suami. Cinta yang membantu saya untuk terus menjadi manusia yang mengerti akan cinta, dan mampu memberi serta menumbuhkan cinta. Cinta pertama, yang memberi energi pada saya, untuk mampu menumbuhkan CINTA KEDUA. Dan cinta kedua ini adalah cinta ananda, Alif.
Cinta-cinta ini tumbuh, dan terus tumbuh, saling menumbuhkan, memberi, dan berbagi, tanpa mengurangi rasa cinta itu sendiri. Kecintaan yang kian tumbuh ini, menakutkan saya, dengan sebuah kata KEHILANGAN. Ya, saya takut untuk terus mencintai, jika semuanya kemudian memiliki batas. Saya ingin mencintai, dan terus mencintai, dengan bebas, tanpa batas... Namun keinginan tersebut terus dihantui rasa takut tadi. Ah, haruskah saya mengurangi rasa cinta saya, agar ketakutan saya pun meluruh? Ataukah harus saya bunuh cinta itu, hingga musnah pula ketakutan tadi? Sementara menghindar dari batas-batas kehidupan adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan cinta-cinta tadi terbatasi oleh batas-batas kehidupan itu sendiri?
Ternyata, kita hanya butuh CINTA SEJATI.
Saya belajar cinta sejati dari CINTA PERTAMA. Dan kini, guru cinta sejati saya selanjutnya adalah CINTA KEDUA (bukan, saya tak sedang muluk-muluk bicara cinta mati. Karena cinta itu tumbuh, dan tumbuhnya cinta adalah misteri. Maka biarkan, akan tumbuh seperti apa cinta itu nantinya, hasilnya masih tetap misteri).
Cinta sejati adalah cinta yang luas, dan cinta yang jujur. CINTA YANG LUAS, adalah cinta yang melingkupi seluruh wujud cinta, yang menjadi sumber, sekaligus pancaran kecintaan itu sendiri. Dengan mencintai sesuatu, secara sejati harusnya kita juga menjadi sadar (sekaligus mencintai) apa-apa yang menjadi sumber terjadinya sesuatu tersebut. Dengan mencintai anak, harusnya kita juga sadar -sekaligus mencintai- segala sesuatu yang terkait dengan keberadaannya. Adanya Allah, orang tua, pasangan hidup, dan lainnya yang terkait. Sungguh, betapa luas bukan, cinta TUNGGAL itu? Dengan menyadari, sekaligus mencintai eksistensi yang berada di balik objek cinta tersebut, rasa takut kehilangan akan terkalahkan oleh keindahan cinta yang maha luas. Rasa takut akan tertimbun oleh kebesaran jiwa karena cinta yang maha luas. Cinta yang sejati, yang tak kan berkurang, walau kita memberinya, membaginya, serta menebarnya, seluas cinta yang ada. Namun justru menumbuhkan, dan mengembangkan cinta sejati itu sendiri. Tak ada habisnya.
Dan, CINTA YANG JUJUR adalah cinta yang tulus. Terus memberi dan memberi. Tak akan habis, karena kita selalu punya sumber cinta, yaitu CINTA YANG LUAS. Cinta yang jujur adalah cinta yang membuat kita sadar, bahwa kita memiliki cinta karena karunia-Nya. Cinta yang tak berharap balas, atau penghargaan. Karena cinta adalah rasa, bukan perhitungan kuantitas. Jujur, yang apa adanya, dan bukan rekayasa. Jujur, yang mampu membuat kita bertahan untuk terus konsisten menjalani cinta. Cinta, tak mungkin muncul tanpa adanya kejujuran akan kecintaan pada sesuatu.
Cinta, membuat saya 'takut'. Namun dengan cinta sejati, saya memiliki kekuatan untuk membunuh rasa takut. Terima kasih, kepada guru-guru cinta saya, sekaligus syukur pada Sang Mahaguru Cinta.
Subscribe to:
Posts (Atom)
