Thursday, January 24, 2008

Sampah dan Surat di Bus Patas

Sore itu, usai 'menunaikan' agenda pekanan yang -seperti biasa- riuh rendah dan membahagiakan, saya terburu-buru pulang. Suami terkasih saya sudah menanti.

Kami berdua mau nge-date. 'Jalan-jalan' ke Tangerang. Hari itu empat puluh hari meninggalnya ibu. Dan sebagaimana urf/ budaya yang mengakar di masyarakat setempat, kami mengadakan Doa Bersama (mungkin lebih kerennya : tahlilan 40 harian).

Menjelang pukul 5 sore, kami berdua baru siap berangkat dari rumah. Maklum, makan, mandi dan menyampaikan sederet maklumat pada para dayang-dayang, putri salju dan pangeran berkuda terlebih dahulu.

Di atas Bus Patas AC (yang ACnya hidup segan mati tak mau). Naik dari Slipi, jurusan Tangerang. Bangku penuh, hanya beberapa yang kosong. Itupun tak bersisian. Artinya, saya tak bisa berkasak kusuk dengan suami secara lebih aman.
Tiga bangku berderet, yang di sisi lorong, kosong. Saya pun segera duduk. Sayang sama badan dong... walau tak cukup sayang dengan badan suami, yang 'terpaksa' berdiri di sisi saya. Karena dengan tiba-tiba beberapa bangku yang kosong sudah terisi.

Di samping saya seorang perempuan yang tengah asyik menikmati camilan. Waduh.. baunya.. menggoda. Perut keroncongan. Kebetulan yang dimakannya berupa kripik. Yang kalau dikunyah (apalagi dengan cueknya) maka akan bersuara nyaring "kruek-kruek-kruek..gress-gress..nyam". Si Mbak itu cuek banget ngunyah kripik sambil terus berceloteh dengan kawannya (bukan ngomongin orang yaa.. Cuma membahas perilaku nya saja!). Saya hanya berpikir, ternyata, memang nggak cukup sopan ya, makan di kendaraan umum semacam ini. Apalagi kalo yang dimakan kripik. Apalagi ngunyahnya cuek banget. Boro-boro nawarin atau minta izin sama orang di sampingnya. Dan ternyata memang cukup mengganggu. (Saya sulit menjelaskan di mana letak mengganggunya).

Saya mencoba mengingat-ingat. Kira-kira kapan ya, saya menikmati makanan di atas kendaraan umum semacam ini. Maka saya temukan daftarnya : di atas metromini kala hamil Alif (bus sedang kosong kecuali kondektur dan supir plus tiga orang duduk di kursi paling depan), di atas kopamilet jaya -ngunyah permen karet karena mual, hamil juga-, di atas bus patas AC waktu mau ke depok, dan hanya duduk berdua bersisian dengan sang suami, dan juga di atas taxi. Kalau minum? Hampir di semua kendaraan umum, saya pernah melakukannya (maklum, jakarta panas dan kering!) Ah, ada gak ya, di antara daftar itu, yang ketika saya lakukan perbuatannya mengganggu orang lain? Semoga tidak..

Ah, ya sudahlah, mungkin saja si Mbak ini juga sedang hamil? (hehe...nuduh. kayaknya masih gadis sih..). Atau sedang sangat lapar tapi belum sempat makan? Oh ya, kalau saya jadi dia, dalam kondisi serupa (dari yang saya perkirakan tadi), pasti saya akan makan juga di atas kendaraan umum. Tapi saya tidak akan mengabaikan orang di samping saya, dengan "maaf ya mbak, saya makan. belum makan dari pagi sih". Yahh mungkin -kalau dari sudut pandang saya, orang di samping saya ga bakalan terlalu kesal akibat saya terlalu cuek menikmati makanan.
Lha wong tetangga yang mencium aroma masakan kita aja sunnahnya 'dibagi' masakannya, apalagi ini teman seperjalanan, status jelas : sama-sama musafir! Halah..

Saya cuma menghela nafas saja. Semoga nggak banyak orang yang secuek ini. Eh ternyata belum apa2 kejadian makan di atas bus umum. Yang justru jadi menusuk hati saya adalah, ketika makanannya habis! Apa karna saya tidak dibagi? Bukan. Tapi karna bungkus makanan tersebut dibuang (tetep dengan cueknya) di lantai bus (busyeettt... eh... masya Allah). Ini nih, yang kalau menurut saya : benar-benar mengganggu ketertiban umum! Kalau yang ini benar-benar sudah dzalim. Memangnya bus kota itu tempat sampah? Kenapa nggak dilipat, disimpan dalam tas untuk kemudian nanti dibuang di tempat yang semestinya? Kecil memang, cuman satu bungkus. tapi kalo setiap orang di bus ini berpikiran sama dengan si mbak? Berapa puluh kantong bertebaran? Baunya, bikin risih di kaki, sarang nyamuk, dll buanyakk. Ah...

Usai membuang kantong makanan tersebut, si mbak menyibakkan rambutnya yang tebal terurai. Tertebar aroma wangi. Wuihh... sih mbak ini rambutnya wangi. Spontan saya melirik ke kanan, dan tampaklah oleh saya perempuan berwajah (lumayan) cantik, kulitnya bersih! Namun malang... eh sayang... kalau menjaga kebersihan umum kok gak bisa mbak? Bikin cantik dikit bus kota kita dengan gak buang sampah sembarangan aja kok nggak bisa mbak?

Saya mulai mencari-cari kertas. Gak bisa dibiarin. Masa iya, saya diem aja, melihat 'kedzaliman' ini? Mau berapa banyak lagi orang yang cuek buang sampah? saya mesti melakukan sesuatu. Notes saya tertinggal!

Bus berhenti, dan serombongan orang turun, membuat banyak kursi terkosongkan. Saya mengajak suami pindah ke bangku dua deret. Segera saya menemukan secarik kertas karcis trans Jakarta. Di lembar putihnya, saya pun mulai menuliskan surat. "Mbak cantik dan wangi. Sayang, kok buang sampah sembarangan?" Nggak nyambung. Biarin. Saya lipat kertas itu, bermaksud memberikan padanya saat turun nanti. Dari deret kursi saya, tampak kolong kursi tempat si mbak duduk sangat kotor. Tuhkan, sudah banyak? Apalagi barusan ditambahin lagi?!
Jadi sebenarnya ide buang sampah sembarangan bahkan di atas bus itu hoby, budaya, atau ketidakpedulian ya? Bete. Apa iya, kalau liat sampah berserakan, malah bikin kita semangat untuk melanjutkan 'perjuangan' membuang sampah sembarangan juga?

Tak lama bus pun berhenti. Si mbak beranjak bersama kawannya, langsung merangsek ke pintu hendak turun. Tak melewati saya. Saya hendak menyusul. Bodoh. Suami saya menggenggam tangan saya untuk menahan tindakan saya berikutnya, "nggak usah lah", katanya. Saya enggan berdebat dengannya. Saya manyun.

Saya simpan kembali surat tulisan ceker ayam itu. Semoga saja saya tak sampai pengen memberikan lagi surat itu. Artinya, jangan sampai ada yang memancing saya, untuk bernafsu memberikan surat serupa itu pada yang lain.

Atau ada yang mau menyimpan surat saya untuk mengingatkan diri sendiri?

CIPTAKAN BUDAYA BERSIH DAN TERTIB. SELAMAT BERJUMPA DI KENYAMANAN HIDUP.

1 comment:

Anonymous said...

Mba lin mba lin, aku tersinggung loh.. secara aku gitu paling jagoan kalau suruh makan, ngga dimana ngga dimana, ya makann aja. Termasuk ya di atas bis atau angkot, paling sering tuh kalau pas ngga sempet sarapan atau ngga pas ngemil abis pulang kantor. Tapi namanya juga Jakarta, ya emang gitu.. bukannya pelit ngga mau bagi2 bukan juga ngga mau mengamalkan sunah rasul tapi kayanya percuma aja nawarin makanan ke orang yang ngga kita kenal di bis nanti malah disangka kita mau niat jelek lagi.. maklum tingkat suudzon di Jakarta kan tinggi banget :D. Eh tapi aku ngga ikutan buang sampah sembarangan lhoo.. abis makan, sampahnya pasti aku bawa pulang.. sooo pisss yooo :D.