Monday, November 26, 2007

Insiden


Rada deg-degan saat menuliskan catatan kali ini. Pilu. Rasanya luka di hati saya belum mengering.

Kemarin Sabtu (24/11) Afra, si putri cantik, terjatuh dari baby tafel-nya. Shock. Jantung rasanya berhenti berdetak, nadi tak berdenyut, pikiran hampa kosong sejenak oleh adrenalin yang tiba-tiba meluap.

Afra terjatuh, kala si Baby Sitter yang diberi tugas menjaganya, meletakan Afra dari gendongan ke atas meja bayi, dan nyambi melakukan sesuatu. Sekali saja hentakan kaki Afra, maka melorotlah Afra bersama kasur mandinya. Namun Afra menyentuh lantai lebih dulu tanpa kasurnya.

Rabbi... Saya tak bisa berkata sambil segera mengambil alih Afra dari tangan si Baby Sitter. Saya tidak tahu harus berbuat apa, selain menegur sang BS. Menegur. Ya, menegur dengan lebih tegas. Saya tidak bisa lebih keras daripada teguran yang saat itu sanggup saya lakukan. Apapun, ya apapaun yang terjadi pada Afra, tentu kesalahan saya. Kelenaan saya. Keteledoran ibunya.

Maka ketika seorang teman bertanya, apakah si BS tidak dipecat? Tidak, jawab saya. Hanya akan menambah masalah baru. Apakah saya memarahinya? Tidak, jawab saya. Karena marah sama sekali tidak akan membuat Afra tidak jadi jatuh. Ya, inilah konsekuensi jika mempekerjakan orang lain untuk menjadi asisten kita dalam melakukan tanggung jawab. Tidak ada jaminan, keteledoran semacam ini tidak bakal terjadi, pun oleh orang tuanya sendiri. Saya rasa cukup kejadian yang pertama tersebut menjadi shock theraphy bagi semua orang dewasa di rumah cinta.

Afra, maafkan ummi ya...

Dan Afra pun mengalami trauma. Jangankan bermain air saat masuk dalam ember mandinya. Saat persiapan mandi saja, sudah menerbitkan traumanya. Afra menangis! Afra ketakutan saat mandi. Dan Afra pun langsung mengejang takut, saat diletakkan sendirian di atas box bayinya, di strollernya, apalagi di atas baby tafelnya. Segala gunjangan walau ringan, segala kesendirian di atas bidang datar (terutama baby tafelnya), segala rupa aktivitas mandi, segala rupa di ruangan insiden itu ... semua membuat Afra gugup. Si cantik yang murah senyum itu dalam sekejab menjadi bayi paranoid. Afra trauma! Saya menangis dalam hati.

Afra harus kembali! Dan semua anggota keluarga Rumah Cinta pun bersama, untuk menyembuhkan luka trauma Afra. Ayah, Alif... tentu saja ummi, (si BS tak mau kalah juga), (tante pas ke semarang) semua rela meninggalkan aktivitasnya sementara, untuk menemani si cantik mandi. Pagi tadi, Afra tak lagi menangis saat mandi. Walau badannya masih menegang saat masuk ke ember mandi, namun senyumnya sempat disunggingkan walau segaris. Ah, Afra...

Afra pun sudah mulai mau duduk kembali di stroller nya untuk makan. Sudah mau lagi, untuk sejenak ditinggal berwudhu, makan, dan lainnya oleh orang yang menjaganya. Perlahan Afra kembali. Semoga kian sembuh dari traumanya. Kembalilah Afra... Kami sudah cukup 'ingat' atas keteledoran kami. Harusnya tak perlu sampai kamu jatuh untuk mengingatkan kami Nak..

Afra ... kembalilah sayang ...

Thursday, November 22, 2007

Eksistensi Sebuah Pilihan-2


"Aku pengen kaya kamu, jadi full mom. Ga usah kerja dan ninggalin anak"
sebuah 'IM' masuk di Yahoo Massanger saya.

saya jawab dengan " :D " (nyengir)
Tapi dalam hati tersenyum. Lha wong semalam saya baru curhat sama suami, "Bang...aku lagi jenuh nih..." Dan sempat ngebatin, mungkin asyik kali ya, kalau balik kerja lagi. Ga bosen, tiap hari ketemu sesuatu yang beda.

Sorenya, 'IM' yang lain masuk. "Lagi jenuh nih.. Di rumah aja, bosen" (sori mbakyu, chating kita kucatut). dari seorang ibu muda cantik, yang kebetulan full mom full home.
Jawaban saya pun sama dengan yang tadi : nyengir. Soalnya, saya sempat ngebatin juga sebelumnya, si ibu yang satu ini enak juga. Kocek suaminya lumayan (sok tau ya), putrinya cantik, lucu, rumahnya dekat sama mertua (bisa buat mampir2), ada pembantu, punya mobil dan bisa jalan2 kemana aja, punya kesibukan bisnis jual-jual (jual apa aja tho mbak?), di rumahnya ada kolam ikan (ikannya kan bisa diajakin curhat), di rumahnya banyak taneman (ada yang bisa disiram-siram), dll.

Ya gitu deh.. dah ada kesimpulannya.
1st. Bahwa rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Enak ya si dia (padahal dia-nya lagi ngiri sama kita). Beruntung ya si dia (padahal si dia-nya ngerasa dapat ujian berat dari Allah). Dll.

2nd. Bosan bisa menjangkiti siapa saja. Orang yang kelihatan paling enak sekalipun. Artis, presiden, anggota DPR, supir bis, pemulung, dosen, dan banyak lagi. Mau yang kerja, nganggur, iseng, atau apalah, semua pasti bisa kena bosan, jenuh.

3th. Bosan adalah musuh bersama. Bosan harus diperangi bersama-sama. Tapi bosan juga sahabat lama, yang sesekali datang berkunjung. Sekadar menyentil dan mengingatkan kita, bahwa banyak hal yang perlu kita cermati. Membantu kita jadi lebih kreatif dan inovatif.

4th. Bosan bisa muncul karena kita terlalu banyak maunya. Sudah punya ini itu, tapi negarasa kurang, bakalan lebih enak kalau ada ina-ini ita-itu juga. Kita jadi banyak maunya, karena kita (maksudnya : saya) kurang bersyukur. So, mari perbanyak bersyukur ... (terlalu banyak yang bisa disyukuri tapi kita (maksudnya : saya) lebih banyak alpa).

5th. Nggak usah terlalu senewen dengan bosan. Dia makin ge-er jika makin diperhatikan. Selama kita tetap fokus pada apa yang sebaiknya dilakukan (tidak usah dulu berpikir soal : seharusnya), konsisten, on the right way.. keep on cool... secara tidak sadar, si bosan pasti juga pergi tanpa pamit (datang tak dijemput pulang nggak pamitan). Inilah saatnya eksistensi sebuah pilihan diuji! (mau tetap kerja, mau tetap di rumah, mau nganggur, mau iseng atau apa aja).

Saya juga heran, kenapa saya bisa bosan? Padahal ada kerjaan baru yang bisa mendatangkan uang (pesanan bikin buku) -soal 'uang' kan pasti menyenangkan. hehe .. Afra sudah makin besar, makin lucu. Apalagi Alif yang sudah makin pintar. Banyak film2 download baru yang belum ditonton. Wow! Ramai hati saya! Ramai rumah tinggal ini! Seramai House of Love!

So, mari kita bersama melawan kebosanan!!

Alif, Afra, Abang juga, maaf ya kalo sempat rada senewen ... abis jenuh sih ... hihihi...

Wednesday, November 21, 2007

ANNIVERSARY ... (selalu dan makin cinta)

19 dan 20 November ...

Berartinya kedua hari itu (tepatnya di tahun 2004). Kemarin saya mengenangnya kembali, kisah 3 tahun lalu. Masih hangat, masih segar dan masih harum.
Pernikahan, yang kata saudara2, buat saya itu adalah sebuah 'Pernikahan Dini'. Perkenalan singkat, lalu berlanjut pada sebuah ikatan janji, yang biasanya terjadi setelah berbulan-bulan memadu kasih (halah...:p).

Bagi saya pernikahan adalah awal. Awal yang penuh tantangan, perjuangan, kesabaran, dan juga dedikasi. Dedikasi pada komitmen. Dan bagi saya, pernikahan 'hanyalah' sebuah kepastian. Maka jangan pernah percaya pada janji pernikahan tanpa kepastian! Dan suami saya (kala itu masih jadi calon), bukan menawarkan sebuah janji 'sehidup semati', melainkan kepastian untuk hidup saling mendampingi di jalan-Nya. Proses yang singkat, bahkan hanya sebatas saling mengenal bahwa : kami sama-sama orang baik yang menjalankan sholat wajib! hehe.. Kala itu pun suami tidak tahu, betapa saya adalah 'pejantan tangguh' yang wara wiri dengan segala sepak terjang yang ngawur di hutan rimba (bagaimana bisa tahu, kalau kami berbeda rimba?). Di sini lah poinnya. Segala mahar yang ada hanyalah : kepastian yang natural, sesuatu yang alami, bahkan polesan luarnya pun tak tampak, kecuali : kami percaya satu iman. Bahkan, suami saya tidak tahu kalau sebenarnya saya ini cantik, dan saya pun tidak tahu, bahwa sebenarnya pangeran saya itu tidak terlalu tampan (sory bang, becanda :D)

Maka dengan segala kejut terekspresi kala saya menemukan piala, piagam dan penghargaan yang disimpannya hingga berdebu. Pula, ketika sang suami mengetahui, bagaimana aktivitas saya sebelum mendampinginya di hari kemudian. Semuanya kami ketahui saat sama-sama masuk untuk pertama kalinya ke kamar masing-masing. Dan saya pun kian memahami, mengapa Allah memberikannya untuk saya. Karena segala keindahan pribadi dan perilakunya sangat cocok (baca : mengimbangi) untuk saya! Hehehe..

Dengan kepastian, maka segala ketidakpastian akan 'teratasi'. Walo sekedar catatan pribadi, namun saya tak pernah ragu untuk berbagi dengan rekan, teman dan saudara misalnya, soal hal ini. Karena saya mengalaminya, saya menjalani sebuah kepastian yang menuntun perjalanan ini menuju 'kepastian abadi' semoga. Kepastian untuk menjadi makin 'besar', makin 'tinggi' dan makin 'bersujud'.

HAPPY ANNIVERSARY ya Bang.. (selalu dan selamanya, untuk cinta dari dan padamu). Terima kasih atas perjalanan ini ya..

note (khusus buat abang : dulu aku selalu berpikir, bahwa pasanganku kelak adalah orang yang sangat baik, yang sabar, yang lembut, dan lain2. Coz yang namanya pasangan, adalah mengisi kekurangan belahan hatinya. Dan apa yang kaumiliki Bang, melengkapi apa yang tak kumiliki! Hingga sekarang, aku bisa jadi orang baik, sabar, lembut dan ... hehehe...)

Buah 3 tahun : Alif dan Afra (mmmuahh...)