-19 November 2006 (ditulis dg sangat terlambat)-
Satu tahun genap usia pernikahan dalam bilangan Masehi. Selamat Ulang Tahun, suamiku... Tak ada rasa lain yang ada, selain cinta, sayang, kasih, dan (kucoba untuk) setia (hehe) ...
Rasa itu kian tumbuh, berkembang dengan ranum dan wangi yang semerbak, memenuhi sukma dan raga-raga yang fana...
Ingatkah setahun yang lalu, saat jelang pernikahan kita, tak (cukup) kenal maka kita sayang ..
Ingatkah di awal pernikahan kita, ketika rasa-rasa bujang dan lajang masih lekat dengan egoisme, kemanjaan, kesendirian, keangkuhan, serta cinta-dan kesal yang beraduk dan mulai tumbuh kemana-mana...
Ingatkah kekanak-kanakan kita dengan masa pacaran, usai akad nikah diikrarkan? Ketika malu dan takut, juga suka dan penasaran membaur bersuka-ria juga menjelma menjadi monster-monster menakutkan?
Ya, itu setahun yang lalu...
Kini, kita sedikit lebih dewasa, setidaknya karena kita akan punya anak (hehe) ...
Dirimu yang berubah, Bang... perubahan yang membuat hati membahana. Ketika seseorang seperti dirimu telah bisa lebih romantis (setidaknya dengan sering datangnya pelukanmu, pertanyaanmu “bagaimana hari ini, sayang...?” -meskipun mungkin basa-basi-, seringnya kurasakan pijatan lembutmu (saking lembutnya jadi tak terasa dipijat), seringnya kau biarkan aku memilih menu makan akhir pekan kita (meski kemudian keputusan jatuh padamu jua). Dan, ah... banyak sekali, Bang... (cieeeehhhh.....)
Namun yang jelas, ungkapan tanggung jawabmu makin membuatku tenang menjadi pendamping setiamu. Bahwa aku terlindungi, bahwa aku terayomi, bahwa aku terbimbing dan bahwa aku terhibur banyak olehmu, maka, apalagi yang tidak akan kuberikan padamu?
Selamat Ulang Tahun yang pertama, suamiku...
Ulang Tahun yang tak ada perayaan apapun, kecuali mengingat masa setahun lalu. Ulang Tahun pertama yang direncanakan untuk makan malam (yang romantis) bersama, malah membuat kita mengantuk dan jatuh tidur (maklum, kehamilanku sudah menginjak usia 9 bulan dan membuatku mudah mengantuk).
Ah, bukankah kehindahan ulang tahun tak sepenting keindahan perjalanan setahun sebelumnya, dan bertahun-tahun selanjutnya? (Bang, aku hanya membela diri. Sebenarnya, pengen juga ada makan malam yang romantis seperti di film-film :-)
Selamat Ulang Tahun, suamiku ...
Selamat mengarungi bahtera yang lebih luas lagi (bersamaku, tentunya). Semoga kita menjadi lebih dewasa, menjadi lebih arif dan bijak, dan menjadi “lebih tua” (karena kita akan menjadi orang tua). Karena pertambahan usia perjalanan kita, makin memperdekat kita pada Saat Pertanggungjawaban. Sudah siapkah menjadi suami terbaik bagiku? (Jangan kau balik bertanya ya... hehe...)
-5 Maret 2006-
Selamat Ulang Bulan, anakku sayang...
Selamat melihat-lihat dunia ini dengan lebih jelas. Dengan mata yang kian tajam, bisa kau bedakan wajah ayah dan ummi kan? Masa sama saja?
Alif, kehadiranmu sebagai orang ketiga justru membuat ummi makin cinta pada ayahmu. Meski waktu ummi seharian nyaris habis bersamamu (ayahmu prioritas kesekian saja ya... ayah kan sudah besar :-) Kehadiranmu membuat ummi makin sadar, bahwa tanggung jawab manusia justru semakin meningkat, seiring kian dekatnya hari perjumpaan dengan-Nya.
Alif sayang, sekarang ocehanmu kian banyak ya... Seolah kamu adalah jubir yang sibuk, apa-apa mengundang komentarmu. Pipis, kamu komentar, gerah, kedinginan, komentar juga. Bosan, komentar, ngantuk komentar, lapar komentar, bahkan saat menyusu pun kamu masih saja sempat komentar meski dengan gumaman.
Alif sayang, badanmu yang gemuk makin membuatmu mudah berkeringat. Dengan beban 7 Kg lebih di usia ini, tidak menghalangimu untuk banyak beraktivitas. Begitu aktifnya kamu, sampai-sampai ayah atau ummi tertidur kelelahan atau kehabisan bahan bermain denganmu. Kamu juga jadi sering haus, karena seringnya kamu berceramah. Sayangnya nak, ummi dan ayah sama sekali nggak paham, kamu ngomong apa. Ah nak... mungkin orang tuamu begitu ramai ya, sampai-sampai kamu dapat contoh yang tepat :-)
Alif sayang, semoga kamu senantiasa sehat ya nak... Dengan ASI yang dilimpahkan Allah untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuhmu ini, bersyukurlah.. Karena hanya dengan bersyukur, kamu akan dapat ASI lebih banyak! Semoga dengan kesehatan tubuhmu yang baik, akan mendukung kecerdasanmu, aktivitasmu, juga prestasi-prestasimu nantinya.
Alif sayang, jadilah anak yang banyak bersyukur. Jadilah manusia yang senantiasa ingat, dan khusyuk pada amanah-Nya. Cintailah Dia melebihi segala apapun. Cintamu yang tinggi pada-Nya, akan membuatmu mampu membagi cinta dengan baik pada orang tuamu, kakek-nenek, saudara-saudara, teman-teman, dan siapapun yang layak kamu cintai.
Alif sayang, maafkan ummi ya, jika hingga 3 bulan usiamu ummi tak banyak bisa memberikan sesuatu. Tapi yang perlu kauingat, segala yang ummi dan ayah berikan padamu, adalah segala yang terbaik yang bisa kami berikan. Dan nantinya, semoga akan membuatmu menjadi manusia yang mampu berbagi kebaikan dan memberikan segala yang terbaik yang bisa kauberikan pada sesama.
Alif sayang... peluk hangat selalu buatmu..
Untuk ayah Alif yang tercinta, terima kasih ya.. untuk berbagi tugas dan beban dalam merawat anak lucu ini. Kasih sayangmu, belaianmu, didikanmu, dan segala yang kauberikan pada nanda Alif, adalah hadiah paling istimewa buatku, umminya Alif. (Jangan pernah lelah ya...)
-2 Maret 2006-
Ah ... makin dekatlah diri ini pada tempat kembali...
Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Kau ijinkan aku menjalani kehidupan hingga seperempat abad ini. Hingga 25 tahun, untuk mengumpulkan bekal di Hari Selamanya. Telah cukupkah ... ?
Ketika kian dekat diri ini pada saat itu, selalu menyadarkan diri akan betapa minimnya bekal yang terkumpul. Namun, sungguh, sebelum jiwa ini kembali, selalu masih ada kesempatan. Ya, semoga sisa usia ini mampu mengumpulkan lebih banyak bekal .. Semoga sisa hari yang ada, benar-benar mampu menjadi hari yang kian berarti. Tak ada tua ataupun muda di bilangan usia. Melainkan tua dan muda di bilangan kesempatan hidup dari-Nya.
Nikmat Allah yang manakah yang mampu didustai. Di usia ini, menerima anugerah seorang pendamping yang baik, dan anugerah anak yang sehat... juga segenap karunia dari Rahmat dan Rahim sifat-Nya di sepanjang usia ini ...
Dan ternyata, diri ini masih sangat kurang bersyukur...
Banyak sekali tugas dan amanah yang belum tertunaikan hingga di 25 tahun ini..
Semoga diri ini segera tersadar, bahwa sewaktu-waktu panggilan-Nya akan datang, hingga harusnya senantiasa bersiap diri, sesegera mungkin.
Beri hamba kemampuan dan cukup waktu, ya Allah ...
Agar kembali pada-Mu dengan SELAMAT.
(03/03 & 07/03, 2006)
Tuesday, March 7, 2006
Friday, March 3, 2006
KETIKA TAK MAMPU BERDOA
Pernahkah mengalami hal di atas? Ya, saat dimana kita “tak mampu” berdoa?
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
Pada suatu ketika, saat sholat wajib usai ditunaikan, saya menengadahkan tangan seperti biasa, usai berdzikir (rutinitas yang sering alpa saya nikmati). Sesaat saya terdiam, ketika tangan sudah menengadah memohon.......... “Apa ya, kira-kira yang akan saya mohonkan kali ini.......?”
Saya turunkan kedua tangan saya. Ternyata usai berdzikir, saya tak menemukan doa “yang pantas untuk saat itu”. Bagi saya doa adalah permintaan. Dan saya bingung, akan meminta apa pada usai sholat itu.
Beberapa saat saya terdiam. Menjadi lama. Tapi entah mengapa, tubuh ini masih enggan meninggalkan sajadah sujud. Mata saya malah berkeliling mengitari kamar, mihrab saya ber-taqarub pada-Nya sehari-hari. Foto Pernikahan, perabotan kamar, lemari pakaian dan berhelai-helai pakaian di dalamnya, buku-buku bahan skripsi yang sebentar lagi akan dipindahkan (karena untuk sementara tugasnya telah usai), dan mata saya terpekur lama pada sosok mungil di atas kasur... Lama saya pandangi buah hati pertama itu...... Begitu nyenyak dan damai. Bayi mungil itu lahir dari indahnya pernikahan dengan seseorang yang penuh kasih dan cinta. Dan serentetan kehidupan yang indah dan penuh rasa! Apalagi yang bisa diingkari kenikmatannya, dari semua yang telah diberikan-Nya? Bahkan sakit yang dirasa pun memiliki kenikmatan? Seperti bagaiman sakit ketika hamil dan melahirkan, yang membuahkan kenikmatan dengan belai kasih dari suami tercinta. Terlengkapi dengan nikmatnya anugerah seorang anak. Bahkan setiap sakit itu, dijanjikan ampunan oleh-Nya.
Ah ya Allah... Saya temukan juga doa saat itu! “Ya Allah, bimbinglah kami, agar senantiasa bersyukur atas limpahan karunia-Mu. Dan jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang melalaikan nikmat-Mu”. Lega rasanya, akhirnya menemukan doa yang membuat hati menjadi lapang. Ya, berapa banyak kali doa saya benar-benar selalu menjadi sekadar permintaan saja. Begitu banyak permintaan. Tapi mengapa di banyak bilangan kalimat doa itu, tak banyak yang menjadi doa, permintaan untuk menjadi hamba yang murah syukur... Bukankah tiap doa itu dijawab dengan baik oleh-Nya? Berapa kali terpanjatkan doa sebelum tidur, sebelum makan, sebelum masuk bepergian, dll, tapi berapa kali membaca syukur setelahnya? Aha, selalu bisa dihitung dengan mudah.
Saya temukan doa yang selalu pantas saya panjatkan kapan saja, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, atas segala nikmat yang Kau limpahkan. Jadikan kami, golongan hamba-hamba-Mu yang murah syukur...”
KEBANGGAAN


Apa yang tergambar dalam benak kita, akan sebuah perasaan bangga? Bahagia, merasa lebih, bersyukur, sombong, takut, atau apa? Dan, kira-kira, apa yang dapat membuat seseorang merasa bangga? Lebih dari orang lain; berbeda dengan orang kebanyakan; tak tertandingi oleh siapapun; atau apa?
Setiap manusia, pastilah pernah merasa bangga pada dirinya. Walau hanya sebersit sekalipun. Dengan aneka format bangga. Bangga yang membuat hati meledak-ledak, bangga yang membuat mata menangis, bangga yang membuat angkuh, dan lain sebagainya. Seumur hidup -hingga detik ini- sebagai manusia -biasa- saya beberapa kali merasa bangga pada diri sendiri. Banyak hal, yang sempat membuat saya bangga dalam hidup ini. Kebanggaan yang membuat saya menangis bersyukur, kebanggaan yang membuat saya sempat terlena, kebanggaan yang membuat saya takut, juga kebanggaan yang sempat membuat diri ini merasa lebih dari yang lain.
Yang pada hari kemudian, setelah pelajaran hidup selanjutnya, saya baru mengerti bagaimana harusnya menyikapi perasaan bangga.
Kalau boleh membuka hati, saat ini, secara jujur, saya merasa seluruh kebanggaan yang pernah saya rasakan itu, perlahan sirna. Atau bahkan ada yang lenyap begitu saja tanpa bekas. Sepertinya tidak satupun kebanggan yang pernah saya rasakan dulu itu, berwujud nyata saat ini. Dan kalaupun ada kebanggaan yang nyata saya rasakan sekarang ini, itu adalah kebanggaan yang telah berlangsung dalam hitungan bulan. Ya, saya sedang bangga MENJADI IBU.
Hanya dengan MENJADI IBU, saya bisa memberikan ASI, yang notabene merupakan makanan dan nutrisi terbaik bagi anak saya. Memang, ada alternatif susu formula sebagai pengganti ASI. Namun, siapapun tahu, hanya ASI-lah yang terbaik, yang dapat memenuhi kebutuhan manusia baru lahir ini. Hanya ASI-lah yang dapat dicerna dengan baik oleh pencernaan bayi, hingga seluruh nutrisinya dapat terserap baik oleh tubuh bayi.Hanya ASI-lah yang mampu memberikan imunitas terbaik bagi kelangsungan hidup seseorang.
Bayangkan! Seolah hanya ibu dengan ASI-nya lah, yang dibutuhkan oleh seorang bayi. Sang Pencipta telah mempercayakan seorang hamba, makhluknya yang baru, kepada seorang IBU untuk menjadikannya tumbuh dan berkembang dengan ASI. Dengan amanah itu, seorang ibu haruslah senantiasa sehat, agar tak terganggu masa menyusuinya, juga merawat dan mengasuh si kecil. Seorang ibu harus memiliki stamina yang kuat, karena harus siap sedia setiap waktu, di saat bayi-nya membutuhkan susu. Seorang ibu, hendaknya selalu menampakkan wajah manis dan ramah, agar itulah yang ditiru sang anak. Seorang ibu baiknya selalu tenang, agar anaknya tak mudah rewel. Seorang ibu, baiknya sabar, pintar, dan inovatif, agar anaknya berkembang dan tumbuh lebih baik. Ah, sempurna memang “tuntutan” itu...
Maaf, tapi tulisan ini bukanlah untuk menafikan peran ayah dalam tumbuh kembang sang bayi. Atau peran orang lain, seperti dokter, orang tua, rekan-rekan berbagi, dan berbagai orang penuh jasa dan kebaikan lainnya. Hanya saja, saya ingin berbicara sebagai seorang ibu, yang dibutuhkan anaknya (sehingga saya memilih tak menggunakan pengasuh bayi). Terlalu klise, normatif, atau ideal mungkin. Tapi, ah.. sekali lagi saya “hanya” seorang manusia yang tengah bangga menjalankan peran dan amanah SEBAGAI IBU.
Menjadi Ibu, kebanggaan yang sama sekali tak mampu membuat saya menyombongkan diri. Karena ASI yang keluar dari tubuh saya berproses melalui mekanisme yang luar biasa. Daya tahan tubuh saya sebagai seorang ibu, terbentuk dari sebuah mekanisme yang luar biasa pula. Dan keterikatan batin yang terbentuk antara saya dengan bayi saya, adalah proses yang sangat luar biasa, yang dimulai sejak terbentuknya bakal janin dalam rahim.
Dan segala yang luar biasa ini, saya tak banyak bercampur tangan. Membuat ASI keluar dan tidak keluar, membuat seluruh rangkaian tubuh menjadi sehat, dan menjadikan terbentuknya janin, saya sama sekali tak mampu mengaturnya. Segala yang luar biasa itu, hanya datang dari Sang Maha Luar Biasa. Campur tangan yang bisa saya lakukan pun, tak lepas dari Keluar Biasa-an-Nya. Ya, SANGAT LUAR BIASA.
Dan saya bangga, dianugerahi keluarbiasaan ini, yakni MENJADI seorang IBU. KEBANGGAAN yang sama sekali TAK MAMPU MEMBUAT sebuah KESOMBONGAN.
(27/02 & 03/03, 2006)
Subscribe to:
Posts (Atom)
