
Kenapa identitas sebegitu pentingnya?
karena identitas adalah 'kode' untuk menggambarkan siapa kita. Identitas adalah cermin siapa kita. Identitas juga sebuah 'stempel' akan jati diri.
Pencarian identitas bukanlah sesuatu yang mudah. Pemberian label identitas juga bukan sesuatu yang gampang. Karena identitas, berarti identik dengan kompensasi sosial, selalu berkaitan relatif terhadap seseorang atau sesuatu, di luar kita. Oleh karena itu, pencarian identitas adalah perjuangan.
Ketika lahir dulu, saya tidak kesulitan dengan sebuah identitas. Karena kemampuan untuk itu, saya belum punya.
Ketika sekolah TK-SD-SMP-SMA hingga kuliah, identitas itu pun melekat dengan mudah. Walau status diri bisa berganti atau bertambah tiap tahun, tiap semester.
Di masa menjadi mahasiswi,
"Saya sekretaris Rohis fakultas, Bu.."
"Saya Ketua Himpunan Mahasiswa, Mbak.."
"Saya pengurus FLP Semarang, Pak.."
"Saya Anggota Muda Perhumas, Mas.."
Simple. Dan identitas saya selalu banyak (lebih dari satu). Namun yang jelas, identitas saya yang utama adalah : Mahasiswa Komunikasi. Ketika emblem2 sekretaris, ketua himpunan, pengurus, atau anggota muda dicabut seketika, identitas saya sebagai mahasiswa masih erat melekat, selama pita tambang toga belum dipindah; dari kiri ke kanan.
Secara identitas, saya aman.
(Tidak mungkin identitas utama saya 'sekedar' anaknya Pak Ini dan Bu Itu, atau kakaknya si Ini dan adeknya si Itu).
Namun ketika jubah wisuda berwarna hitam legam itu dikenakan (yang penantiannya sebegitu hebohnya dengan perjuangan ujian yang mati-matian secara waktu dan perdebatan dengan tiga orang dosen), saya merasa mulai 'krisis' identitas. Walau masih ada identitas lain yang melekat, namun saya tidak bisa menggunakannya sebagai 'identitas utama'. Mengapa? Yang jelas kala itu saya belum tahu jawabannya.
Akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Saya punya identitas baru, yang bisa saya gunakan sebagai identitas utama. "Saya Corporate Secretary, Om..".
Lalu saya menikah. Dan langsung memutuskan keluar dari sang company.
Identitas utama saya pun baru : as a wife. "Saya istrinya, Kang...".
Saya ingat sekali, betapa bangganya, ketika pada akhirnya saya dipanggil "Bu.." di supermarket ketika sedang belanja. Dan kala itu saya tengah hamil 6 bulan (semenjak jadi istri hingga hamil 5 bulan, masih dipanggil "Mbak", dan panggilan itu membuat saya tertekan "Masa iya, saya nggak ada pantes2nya jadi istri orang?"). Saya bangga dengan status sekaligus 'panggilan' baru saya : "Bu.."
Ketika melahirkan dua anak, Alif dan Afra, panggilan "Bu" tentu saja sangat amat biasa di telinga saya. Ya jelas lah, masa bawa dua anak gini masih dipanggil "Mbak" juga?
Tapi ketika Afra sudah berusia hampir dua tahun, tiba-tiba seseorang menyapa saya,"Mbak, tantenya ya? Ibunya yang mana, anak2nya lucu,". Mendadak saya krisis identitas. Hehehe.. norak. Saking noraknya, saya langsung ke kamar mandi dan berkaca; "I'm still young" kekekek..
Dan ketika berat badan saya menyusut, dan makin sering bepergian sendiri, maka saya pun disangka 'masih embak-embak'. bahkan ketika bulan madu ke Bali bersama suami di jelang anniversary kelima, kami disangka pengantin baru yang baru bulan madu. Maka saya jawab kepada sang tour-guide, "Bulan madu kelima Mbak.. ".
Kacaunya, saat mendaftar di RT setempat ketika baru pindah. Pak RT bilang, "Pengantin baru ya, KK-nya belum bikin dong?". Suami pun menjawab "Sudah dua anak pak, paling besar empat tahun".
Maka, krisis identitas itu makin parah terjadi. Ketika sesekali masih ada yang memanggil saya dengan panggilan "Bu", saya tertekan kembali. Kening saya berkerut, bibir mencerucut : Badan saya ga langsing lagi ya? Muka saya sudah nggak muda lagi ya? Perut saya gendut ya? (aduh maaf yah ibu-ibu, saya tidak bermaksud 'menghina' status kita secara fisik sebagai ibu-ibu kok, ini mah saya nya aja yang minder).
Empat tahun menjadi seorang ibu, bekerja sebagai konsultan, masih aktif di organisasi, masih merintis marketing online, ternyata tidak membuat saya berhenti mencari identitas. Mengapa? Tak puas rasanya. "Ibu", "Istri", "Temannya dia", "Budhenya, tantenya, kenalannya si anu", "Redaktur di ini", "Konsultan di itu", "Bisnis online di anu".. masih 'belum stabil'. Karena semua 'gelar' itu bisa tercabut satu per satu, ataupun seketika. Who knows..? Lalu identitas saya?
Maka proses pencarian identitas itu masih saya lakukan. Kok sepertinya identitas saya sedemikian banyak tapi tidak ada yang membuat saya 'berhenti' mencari?
Dan saya bertemu pada sebuah identitas yang tak akan berubah, apapun cuacanya.
Bahwa saya adalah : apa yang saya pikir dan lakukan.
Maka saya pun merasa bahwa selain menjadi ibu, istri dan bla bla di atas, saya adalah :
- penulis, karena saya rutin menulis di tabloid yang saya kelola (termasuk menulis blog ini), dan membuat artikel atau cerpen untuk majalah
- pengamat, karena saya suka mengamati berbagai hal dan mengkaji kalau memungkinkan (lalu dijadikan tulisan)
- producer, karena saya masih di belakang layar untuk membuat dokumentasi foto-foto anak-anak dan keluarga
- event organizer, karena saya merancang acara-acara ultah anak-anak (tiap tahun), ultah suami, ultah pernikahan, ultah saya sendiri, dll
- konsultan, karena selain memang sebagai konsultan PR, saya juga tempat teman-teman berkonsultasi mengenai segala rupa internet (karena suami saya programmer)
- penerjemah, karena anak-anak sering menanyakan arti ini itu di buku maupun film kepada saya
- manager keuangan, karena ngurusin uang kantor dan uang rumah tangga. Pusingnya minta ampun, kecuali akhir bulan (masa menghabiskan anggaran, kalau ada sisa)
- HRD management, karena di rumah ada tiga pekerja, yang semua urusan tetek bengeknya saya yang mengurusnya
- public figure, karena tiap ada yang menanyakan nama saya pada satpam kompleks, atau tetangga-tetangga kompleks, atau orang tua murid di sekolah anak-anak, atau orang-orang di kantor yang seruangan, teman-teman kuliah sejurusan seangkatan, keluarga besar saya sampai sepupu2, Pak RT dan Bu RT, semua mengenal saya. Percayalah..
Bahkan saya juga seorang pembantu rumah tangga, yang selalu siap membantu di kala ayah, Alif ataupun Afra membutuhkan bantuan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dll, apalagi ketika para asisten sedang off.
Ternyata saya nyaman dengan identitas yang saya ciptakan sendiri :)
So, saya ciptakan identitas Saya sendiri dari apa yang Saya pikirkan dan lakukan, tanpa terjebak pada label yang orang lain berikan pada saya. Karena label orang lain adalah apa yang mereka pikir dan inginkan atas saya, bukanlah diri kita sesungguhnya :)
CMIIW yach...

