Tuesday, January 26, 2010

Who Am I?


Kenapa identitas sebegitu pentingnya?

karena identitas adalah 'kode' untuk menggambarkan siapa kita. Identitas adalah cermin siapa kita. Identitas juga sebuah 'stempel' akan jati diri.

Pencarian identitas bukanlah sesuatu yang mudah. Pemberian label identitas juga bukan sesuatu yang gampang. Karena identitas, berarti identik dengan kompensasi sosial, selalu berkaitan relatif terhadap seseorang atau sesuatu, di luar kita. Oleh karena itu, pencarian identitas adalah perjuangan.

Ketika lahir dulu, saya tidak kesulitan dengan sebuah identitas. Karena kemampuan untuk itu, saya belum punya.
Ketika sekolah TK-SD-SMP-SMA hingga kuliah, identitas itu pun melekat dengan mudah. Walau status diri bisa berganti atau bertambah tiap tahun, tiap semester.

Di masa menjadi mahasiswi,
"Saya sekretaris Rohis fakultas, Bu.."
"Saya Ketua Himpunan Mahasiswa, Mbak.."
"Saya pengurus FLP Semarang, Pak.."
"Saya Anggota Muda Perhumas, Mas.."
Simple. Dan identitas saya selalu banyak (lebih dari satu). Namun yang jelas, identitas saya yang utama adalah : Mahasiswa Komunikasi. Ketika emblem2 sekretaris, ketua himpunan, pengurus, atau anggota muda dicabut seketika, identitas saya sebagai mahasiswa masih erat melekat, selama pita tambang toga belum dipindah; dari kiri ke kanan.

Secara identitas, saya aman.
(Tidak mungkin identitas utama saya 'sekedar' anaknya Pak Ini dan Bu Itu, atau kakaknya si Ini dan adeknya si Itu).

Namun ketika jubah wisuda berwarna hitam legam itu dikenakan (yang penantiannya sebegitu hebohnya dengan perjuangan ujian yang mati-matian secara waktu dan perdebatan dengan tiga orang dosen), saya merasa mulai 'krisis' identitas. Walau masih ada identitas lain yang melekat, namun saya tidak bisa menggunakannya sebagai 'identitas utama'. Mengapa? Yang jelas kala itu saya belum tahu jawabannya.

Akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Saya punya identitas baru, yang bisa saya gunakan sebagai identitas utama. "Saya Corporate Secretary, Om..".

Lalu saya menikah. Dan langsung memutuskan keluar dari sang company.
Identitas utama saya pun baru : as a wife. "Saya istrinya, Kang...".

Saya ingat sekali, betapa bangganya, ketika pada akhirnya saya dipanggil "Bu.." di supermarket ketika sedang belanja. Dan kala itu saya tengah hamil 6 bulan (semenjak jadi istri hingga hamil 5 bulan, masih dipanggil "Mbak", dan panggilan itu membuat saya tertekan "Masa iya, saya nggak ada pantes2nya jadi istri orang?"). Saya bangga dengan status sekaligus 'panggilan' baru saya : "Bu.."

Ketika melahirkan dua anak, Alif dan Afra, panggilan "Bu" tentu saja sangat amat biasa di telinga saya. Ya jelas lah, masa bawa dua anak gini masih dipanggil "Mbak" juga?
Tapi ketika Afra sudah berusia hampir dua tahun, tiba-tiba seseorang menyapa saya,"Mbak, tantenya ya? Ibunya yang mana, anak2nya lucu,". Mendadak saya krisis identitas. Hehehe.. norak. Saking noraknya, saya langsung ke kamar mandi dan berkaca; "I'm still young" kekekek..

Dan ketika berat badan saya menyusut, dan makin sering bepergian sendiri, maka saya pun disangka 'masih embak-embak'. bahkan ketika bulan madu ke Bali bersama suami di jelang anniversary kelima, kami disangka pengantin baru yang baru bulan madu. Maka saya jawab kepada sang tour-guide, "Bulan madu kelima Mbak.. ".

Kacaunya, saat mendaftar di RT setempat ketika baru pindah. Pak RT bilang, "Pengantin baru ya, KK-nya belum bikin dong?". Suami pun menjawab "Sudah dua anak pak, paling besar empat tahun".

Maka, krisis identitas itu makin parah terjadi. Ketika sesekali masih ada yang memanggil saya dengan panggilan "Bu", saya tertekan kembali. Kening saya berkerut, bibir mencerucut : Badan saya ga langsing lagi ya? Muka saya sudah nggak muda lagi ya? Perut saya gendut ya? (aduh maaf yah ibu-ibu, saya tidak bermaksud 'menghina' status kita secara fisik sebagai ibu-ibu kok, ini mah saya nya aja yang minder).

Empat tahun menjadi seorang ibu, bekerja sebagai konsultan, masih aktif di organisasi, masih merintis marketing online, ternyata tidak membuat saya berhenti mencari identitas. Mengapa? Tak puas rasanya. "Ibu", "Istri", "Temannya dia", "Budhenya, tantenya, kenalannya si anu", "Redaktur di ini", "Konsultan di itu", "Bisnis online di anu".. masih 'belum stabil'. Karena semua 'gelar' itu bisa tercabut satu per satu, ataupun seketika. Who knows..? Lalu identitas saya?

Maka proses pencarian identitas itu masih saya lakukan. Kok sepertinya identitas saya sedemikian banyak tapi tidak ada yang membuat saya 'berhenti' mencari?

Dan saya bertemu pada sebuah identitas yang tak akan berubah, apapun cuacanya.
Bahwa saya adalah : apa yang saya pikir dan lakukan.

Maka saya pun merasa bahwa selain menjadi ibu, istri dan bla bla di atas, saya adalah :

- penulis, karena saya rutin menulis di tabloid yang saya kelola (termasuk menulis blog ini), dan membuat artikel atau cerpen untuk majalah

- pengamat, karena saya suka mengamati berbagai hal dan mengkaji kalau memungkinkan (lalu dijadikan tulisan)

- producer, karena saya masih di belakang layar untuk membuat dokumentasi foto-foto anak-anak dan keluarga

- event organizer, karena saya merancang acara-acara ultah anak-anak (tiap tahun), ultah suami, ultah pernikahan, ultah saya sendiri, dll

- konsultan, karena selain memang sebagai konsultan PR, saya juga tempat teman-teman berkonsultasi mengenai segala rupa internet (karena suami saya programmer)

- penerjemah, karena anak-anak sering menanyakan arti ini itu di buku maupun film kepada saya

- manager keuangan, karena ngurusin uang kantor dan uang rumah tangga. Pusingnya minta ampun, kecuali akhir bulan (masa menghabiskan anggaran, kalau ada sisa)

- HRD management, karena di rumah ada tiga pekerja, yang semua urusan tetek bengeknya saya yang mengurusnya

- public figure, karena tiap ada yang menanyakan nama saya pada satpam kompleks, atau tetangga-tetangga kompleks, atau orang tua murid di sekolah anak-anak, atau orang-orang di kantor yang seruangan, teman-teman kuliah sejurusan seangkatan, keluarga besar saya sampai sepupu2, Pak RT dan Bu RT, semua mengenal saya. Percayalah..

Bahkan saya juga seorang pembantu rumah tangga, yang selalu siap membantu di kala ayah, Alif ataupun Afra membutuhkan bantuan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dll, apalagi ketika para asisten sedang off.

Ternyata saya nyaman dengan identitas yang saya ciptakan sendiri :)

So, saya ciptakan identitas Saya sendiri dari apa yang Saya pikirkan dan lakukan, tanpa terjebak pada label yang orang lain berikan pada saya. Karena label orang lain adalah apa yang mereka pikir dan inginkan atas saya, bukanlah diri kita sesungguhnya :)

CMIIW yach...

Friday, January 22, 2010

My Stylish Corby's Review..

That's my review about My Corby...

Di awal peluncuran hape qwerty ini, saya langsung jatuh hati. Dasarnya ga pernah nonton tipi atau liat iklan koran/majalah, saya menemukan corby di Mal Taman Anggrek melalui flyer-nya. Wiihhh... gue banget dah ni hape.

"Must have item nih Yah.." said to my husband.
"Hape kamu kurang apa sih.." he answered with 'smiley'.

Iya sih... kalo cuma soal per-hape-an, Nokia Express Music 5800 (hasil kerja proyek) saya juga masih jauuuuhh lebih keren ketimbang ni Corby. Warnanya black n red, memory 8GB, touch screen.. pokoknya sdh cukup keren lah buat ukuran saya. Tapi, mengingat saya butuh 1 handphone lagi untuk proyek kerja yg lain, dalam hati saya berjanji : this corby, as soon as possible, i'll get it!

Alahmdulillah... tak lama kemunculannya, saya bisa membeli Samsung Corby TXT dari sisa-sisa uang keringat.. (bau tau uangnya)
seharga Rp.1.485.000 . hehe..

Cara belinya yg ga keren : di Plaza Kalibata, jelang maghrib, pas beli pastel goreng seharga Rp.4000,-. Iseng bertanya pada counter hape di depan Giant "Mas, punya Corby ga?"

At least, puasss make corby ini. Dengan harga banderol segitu, kualifikasinya cukup okeh.

What Color is your life? And i chose this ones : Black and white (habis yg ready cuma white and yellow sih) two white and one black alias dapet 3 chasing, yaitu 2 putih -yang satunya ada buble2nya, dan wana hitamnya satu.

Corby stylish banget.. enteng, genggamannya enak...sletheph!
Buat fast message, buat FB-an, buat nggaya..hehehe.. okeh! Lumayan buat second hape, apalagi 3rd mobile phone.. (tapi ga usah banyak2 lah, ngapain juga punya hape banyak2, susah ngasih makannya).

Tapi pastikan ini sebelum Anda pilih corby :
1. perempuan. cos i think corby is a girls/women style. cowok ga macho banget deh megang ini.
2. berjari lentik. walau qwerty, namun tuts keypads nya mungil2.. jadi yang berjari chubby, ribet juga ngetik pake corby.
3. ga usah pota-poto banyak2 (walau kualitas kamera 2.0MP-nya cukup okeh. soalna ga ada kabel data. susye mau unggah poto -walau ada bluetooth)
4. jangan buat nyimpen film. hehehe (coz free memory-nya cuma 1GB microSD)

My Corby is My Color!



Saturday, January 16, 2010

Internet oh internet ...

Sudah lama tak menyapa SL-ku..

Ceritanya, saya resmi meluncurkan akun FB. Ya ampyunn telat banget yak?
Sebenernya akun FB saya sudah lama terdaftar ke server. Tapi memang bukan buat diapa-apain, selain untuk kepentingan 'pekerjaan' semata. Setelah tidak lagi mengurusi kerjaan terkait dengan si FB, ya tamatlah ke-eksisan si FB itu. Udah ga ada friend-nya, ga ada penggemarnya.. haha..

Yah, tapi apa mau dikata...

Tampaknya Era FB emang sedang masanya. Kegigihan saya untuk tak punya akun FB, akhirnya kandas juga. Bagaimana tidak? kalau cuma dianggap gaptek karna ga punya akun FB 'hare gene', oke lah.. soalnya bukan masalah gaptek ga gaptek. Karna walo ga punya kun FB, temen-temen yang ber-FB ria suka konsul about FB ke saya. Cuma kalo soal gapfor alias gagap informasi, nah ini baru.. bener. Masalahnya saya yang tak berlangganan koran, tak suka nonton tipi, males buka HP (HP nya sileeeennt melulu), walhasil jadi orang dari dunia antah berantah. Apalagi di masa kini, orag mengupdate info, berbagi kabar, pasang pengumuman, sampai mengirim undangan menggunakan FB!

Internet memang tengah menjadi rajanya sosialita dunia. Jarak bisa dipersempit, waktu bisa dipersingkat, biaya bisa dihemat, bahkan kemalasan pun diakomodir (nah lho?). Dengan internet, apa yang enggak coba?!

Dulu di masa 90-an, ketika handphone mulai memasuki era komunikasi manusia, secara signifikan penggunaan telepon seluler ini langsung pesat. Makin nambah tahun, pengguna telepon genggam makin jamak. Yang dulunya cuma dipake oleh direktur, bos proyek, atau menthok di anak konglomerat, pada selanjutnya, bahkan semua golongan ekonomi dan pekerjaan 'wajib' kudu punya HP. Mbok jamu, tukang pijat keliling, tukang mie ayam gerobak, sampai loper koran, semua tampak butuh HP untuk menerima pesanan. "Terima pesanan melalui sms : 08********" Giliran ada calon customer ga punya HP, cuma geleng-geleng kepala.

Tiap ada orang baru berkenalan, yang langsung ditanyakan adalah : "no hp-nya berapa, mas?" Era Hp kemudian disusul era email. Jadi setelah bertanya no HP, pertanyaan berikutnya adalah : "alamat email apa, mbak?". Nah sekarang, "FB nya, bu?" merupakan pertanyaan kedua dari urutan pertanyaan orang yang baru saling kenal dan bertukar informasi kontak pribadi. Urutan pertama masih : no hp. Padahal dulu, selain nama dan nomor telepon, orang akan menanyakan alamat rumah. Lha kalo sekarang? Hwaduh.. kebanyang deh.. kalaupun tahu alamat rumahnya, apa iya mau maen?! Jauh kali.. macet.. ongkosnya? Waktunya? Kalau bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi secara online, kenapa mesti offline?

Survey yang dilakukan TNS Global akhir tahun lalu (2009) menunjukkan gejala di dunia, bahwa 30 persen atau sepertiga dari waktu luang masyarakat di negara maju sudah dipergunakan untuk online. dari hasil penelitian pula, dapat dilihat bahwa ternyata penetrasi internet untuk hiburan dan santai ternyata lebih besar di negara-negara Asia. Kenyataan ini tampaknya sangat mungkin pula untuk negara Indonesia, di mana hal-hal ringan dan santai lebih disukai. Maka tak heran jika facebook dan twitter bisa laris manis di Indonesia bagai krupuk dan kripik, karena kontennya sangat cocok untuk bersantai.

Sayangnya, dengan berkembangnya teknologi komunikasi virtual ini, secara otomatis menyusutkan tingkat komunikasi tradisional alias komunikasi tatap muka di seluruh dunia. Bayangkan, dengan kondisi sekarang, dimungkinkan dalam sepuluh tahun ke depan, seluruh anggota keluarga Anda masing-masing akan sibuk ber-online ria. Padahal, di masa kini, kebiasaan makan bersama seluruh anggota keluarga sudah kian sulit diwujudkan, akibat peningkatan kesibukan dan perkembangan zaman serta teknologi. Apalagi kini, Anda tak perlu ribet menggunakan PC (komputer) untuk bisa online. Segenggam handphone sudah cukup memudahkan Anda. Ditambah lagi hadirnya teknologi 3G, munculnya handphone sejenis Blackberry, lengkaplah sudah kemudah itu.. sambil makan, sambil nge-gym, sambil kuliah, sambil nunggu bus, sambil gelantungan di busway, sambil nunggu anak-anak main, sambil nunggu istri pulang kerja, sambil di toilet pula..

Di negara maju, mereka yang berkomunikasi lewat e-mail dengan teman sudah mencapai 78 persen, dibandingkan tatap muka yang sekitar 84 persen. Sementara via mobile phone atau sms, sudah mendekati 70 persen responden mempergunakan handphone sebagai alat komunikasi utama (internet masih lebih 'menang' ketimbang handphone ternyata).

So, meng-update informasi & teknologi dan mengunduhnya dalam kehidupan kita sehari-hari, memang penting. Namun tetap, tidak secara berlebihan dipergunakan. Yang tampaknya penting juga, jangan latah. Karena kalo sudah terlanjur latah, susah ngobatinnya. Hehe..

Semoga makin tingginya tingkat komunikasi melalu internet dan telepon seluler tidak membuat ketrampilan berkomunikasi langsung (tatap muka) kita menurun. yang berakibat pada menurunnya ketrampilan sosial dan kepekaan antar pribadi. Banyak hal, tetap saja komunikasi tatap muka, silaturahmi langsung dan copy darat, masih sangat diperlukan. Komunikasi antar persona, tetap punya kelebihan. Ada bahasa tubuh, ada kontak mata, ada sentuhan fisik, yang maknanya kaya dan mendalam ini, tentu saja belum bisa 'dijembatani' oleh teknologi virtual.

Pelengkap data : www.marketing.co.id