Kali ini saya pengen cuap-cuap (sendiri) soal nge-blog. Saya ga bakalan cuap-cuap panjang lebar, apalagi dengan analisa dan informasi. Saya memang punya blog, tapi saya bukan 'bloger' (istilah yang saya sendiri mengartikannya sebagai orang yang mahir soal blog *jam terbang tinggi, paham IT, ngerti istilah html, popup window, kompresi, nge-link, dll*).
Belum lama saya membaca postingan di blog milik "Priyadi" (maaf mas, belum saya link-kan. hehe.. saya kan ga ngerti :D). Inti bahasannya adalah soal 'Blog Seleb'. Saya nyegir waktu baca postingan yang cukup singkat tersebut. Sumpah deh, dalam hati : ga bakalan yang dimaksud itu adalah blog saya. kekekek... Ada sedikit hal yang membuat hati saya pun berujar tak sepakat, bahwa 'blog dibuat untuk dikunjugi-dikomentari-dst. Dan bahkan kemudian hal tersebut bisa membuat blog seseorang menjadi blog seleb, yang mana pemiliknya bisa menjadi seleb di kalangan para penge-blog.
Sedikit cerita. Dulu saya nggak paham sama sekali dengan dunia internet -Walau sertifikat pelatihan komputer dan internet saya tak kurang dari 3 buah-. Garis besarnya sih, saya tak akrab dengan dunia internet -walau nilai komputer saya di kampus selalu AB atau B (ternyata bisa komputer tak selalu mengerti internet ya..)-. Seorang teman memperkenalkan internet secara khusus pada saya saat menjadi partner kerja. Namun ternyata saya cuman merem melek nggak paham juga (balik lagi ; karena memang nggak akrab, jadi saya tidak bisa berhubungan lebih jauh dengannya -si internet-). Pokoknya, saya mati kutu kalau ketemu 'google', 'yahoo', apalagi sekarang ada 'kubuntu', ada 'linux' ada 'open source' dan lain-lain istilah yang bikin saya kekenyangan.
Itulah, kalau kemudian cerita berlanjut dengan sebuah 'perjodohan' (hehe...). Siapa nyana kalau saya berjodoh dengan seseorang yang paham dengan itu semua. Dan ketika status 'istri' pertama kali saya sandang, maka yang namanya internet, hampir jadi santapan sehari-hari (note : nada suaranya rada bangga gitu). Betapa tidak, akses internet kebetulan bisa 24 jam sehari. Sehingga, silahkan mengenyangkan diri dengannya.
Singkat kata : saya kemudian diajari 'seseorang tersebut' untuk membuat blog. Apa motivasinya sebagai guru pribadi saya? "Blog tidak harus untuk dipublikasikan. Blog bisa saja dipakai sebagai 'kotak penyimpan', tanpa kita takut suatu saat 'missing' dengannya (paling2 kalau internetnya mati). Sama seperti buku diary. Hanya bedanya, kita tinggal klik 'save' untuk menyimpan, dan akan tersimpan secara 'abadi'. Kita nggak lagi harus bingung "dimana gue mesti simpen diary gue? Gimana kalo ilang", dll".
Thats it, simpel. Saya pun memindahkan isi folder-folder ajaib saya di hard disk, ke blog baru saya (yang template nya sudah berganti 3 kali, karena ga bisa bikin template sendiri, jadi ga puas-puas juga). Apa isi folder-folder Diary saya itu? Ya inilah, yang ada di Box-nya Blog "House of Love". Saya belum kebayang jauh, ada yang mau menyambangi secara spesial blog saya, apalagi berkomentar, apalagi kasih nomer rekening. Saya pun yakin, kalau si guru pribadi saya pun belum membaca seluruh postingan yang ada (guru juga manusia kan, ga harus tahu semuanya.. hehe..).
So, saya ga terlalu mentingin tuh, apakah blog saya dikunjungi atau dikomentari. Karena semua catatan yang ada tendensi nya ke saya pribadi, dan syukur2 ke anak2 saya yang pintar2 itu. Makanya, sampai sekarang saya sama sekali belum pernah launching blog ke siapapun, kecuali adik perempuan saya. Itupun karena dia memohon2 saya untuk mengajarinya bikin blog (saya senang, akhirnya saya -seorang murid ini- bisa jadi calon 'guru blog'). So, kalau mau jadi seleb lewat blog, rasanya jauh deh. Apalagi kalau, blog-nya jadi nominator blog seleb. hihi... ga berani deh, nyaingin Mas Pri, Mbak Lita, Nita&Enda, dll (mas, mbak, maaf lho, nggak nge-link juga. Insya Allah kapan2 saya edit deh).
Nah, lain ceritanya, kalau tiba-tiba ada seorang teman yang meminta web-blog saya, yang katanya mau melihat 'pencerahan-pencerahan'. Ada juga yang tiba-tiba 'memungut' kutipan catatan saya di blog untuk di'selipkan' di hak milik pribadinya tanpa mencantumkan 'by' siapa nya. Atau kalau tiba-tiba ada yang bilang tersanjung setelah baca blog saya. halah... yang ini paling ngawur. Tapi sumpah deh, saya belum lanching blog saya ini ke siapa-siapa. Atau jangan-jangan.................................................................................
Mungkin saya perlu pertimbangkan saran seorang teman saya yang perspektif, untuk mengabarkan si "house of love" ini. Ya, ga papa lah, itung2 belum bisa nerbitin buku sendiri. Ok dee... konsultasi dulu nih sama guru pribadi. Apakah beliau bersedia, kisah2 cinta kami 'terpublikasikan'? hehe... (ah, sok banget sih..)
Intinya dek (spesial buat adikku yang pengen punya blog), kalau pengen punya blog, ga harus dengan paradigma 'bakalan di santap' oleh orang2 di dunia maya. Jadi, ga usah tuh, bingung2 ngelihat-lihat blog orang biar bisa meniru, lalu mewarisi, lalu menjadikan dirinya sebagai seleb blog. Kembali lagi, menulislah, bertuturlah, berkisahlah, bertindaklah, bersikaplah, terlepas apakah orang menghargai, membalas, memberikan apresiasi, mengomentari, atau mendiamkan. Tapi tetaplah pada pijakan, untuk menjadikan segala 'hasil karya' sebagai apresiasi diri, penghargaan pada diri sendiri (yang nantinya bakalan sendirian lagi), layar dan cermin instrospeksi. Dan muaranya tentu saja : kembali pada fitrah, untuk sebuah perbaikan yang tak henti.
Oke dek, kutunggu blog-mu ya..
Buat "para seleb blog", makasih ya, inspirasi-inspirasinya. Akhirnya tulisan tiada pernah berakhir berkisah (walau tak dibaca orang sekalipun). Anda adalah para guru bagi para pemula seperti saya (jasamu tiada..........tara.........).
Wednesday, October 24, 2007
Thursday, September 13, 2007
Afra, adeknya Kakak Alif

Kalau ada Diary Alif, pastilah kudu ada Diary Afra. Kenapa? Biar nggak iri-irian? Oh nggak, biar mereka bisa saling belajar satu sama lain di saat kelak, melalui catatan umminya ini. Kalau Afra bisa 'ngetawain' Kakak Alif, karena kakak Alif susah belajar menyusu, maka Alif mungkin bisa menyentil adiknya sambil tersenyum, tatkala adegan menyusunya Afra yang pertama, ga brenti2 sampe ummi pegel. Hehehe..
Memang, rekaman video Alif bayi buanyak bgt, sampe 3 seri (tiap 3 bulan, ganti kaset). Tapi Alif bayi nyaris ga punya foto. Setidaknya foto yang bagus. Kalau mau yang jelek, banyak, karena motonya pake HP ummi. Hihi.. (yg jelek kualitas fotonya lho Nak..).
Sementara Afra, rekaman videonya dikit. Malahan pas Afra lahir, kan Kakak Alif lagi lucu2nya bertingkah, jadinya, teteup, rekaman Alif lebih menuh2in tempat. Tapi, pas Afra umur sebulanan, Ayah akhirnya ACC juga buat beli kamera digital! (Lah Ayah, mau beli kamera digital ini, urusannya (baca: mikirnya) ribet bgt! Dari setahun lalu, ga jadi2.hehe..) Horreee!!! Walo si kamera ga canggih2 amat, tapi alhamdulillah, yang penting acara poto2an, bisa lbh gampang.
Akhirnya, Afra pun punya koleksi foto bayinya, buanyak! Kakak Alif? Banyak juga! Hahaha... Iya, kalo Alif, foto2 gedenya (ya umur segitu tuh) banyak, sebagai ganti foto bayinya.
Ohya, adek Afra sekarang umur 4 bulan 19 hari. Masih aja jadi bayi cuek padahal bentol-bentol digigit nyamuk, buanyak banget ngocehnya sambil teriak-teriak kenceng, paling seneng kalo denger suara kakaknya, udah incip-incip rasa jeruk, dan...... masih lanjut asi ekslusif 6 bulan. Bentar lagi ya Nak.. sabar..
Afra ini beda banget sama kakaknya. Selain langsung pinter saat awal menyusu, Afra juga belum bisa tengkurep sendiri sampe sekarang. Haha! Adek, padahal tingkahnya dah nglebihin kakaknya pas dulu seumuran dia. Kalau mandi, selalu nyari-nyari barang yang bisa dia jatuhkan dari atas meja. Sudah pintar meraih benda di hadapannya, dan sudah bisa tengkurap umur 2 minggu!! Maksudnya, ditengkurepin. Posisinya sudah sangat sempurna, bahkan berguling/berbalik sendiri pas sudah kelelahan tengkurap. Cuman, yang bikin heran, kok sampe umur segini, belum juga mau tengkurep sendiri. Padahal kakaknya, sudah bisa tengkurap saat lebih muda dari umur adeknya sekarang.
Afra juga cuek sama suara-suara yang bikin kaget. Malahan, habis kaget, dia langsung ketawa. Afra juga suka nungguin ummi atau ayah-nya bobok. Maksudnya ngawasin, gitu. Ngliatin, sambil pegang-pegang. Mungkin maksudnya ngebangunin. Adek Afra juga jarang banget nangis! Bahkan saat dia lapar, ya cuma teriak-teriak gitu. Tapi, pas sekalinya nangis............ Masya Allah, kenceng banget suaranya. Sampe kakak Alif ikutan sedih dan.......... menangis pula! (Duhh.. Alif ini memang peka sekali).
Afra paling suka senyum-senyum. Mau senyum-senyum sendiri, sama orang, atau sama chicken little, poster pertama kakak Alif (yang umurnya sudah seumuran Alif, tapi belum dicopot-copot juga). Afra bahkan bisa tertawa ngakak, seperti kakaknya, saat umurnya baru 2 bulan. walah..
Sepertinya Afra ini ngebet banget 'ngejar' kakaknya, biar bisa segera main bareng.
Afra yang anak cewek, imut, dan cantik, paling ga bisa kalo pakai rok atau baju yang ada lampinnya. Apa pasal, karena pastilah akan kuyup! Mungkin afra pikir, lampin dan rok yang dipakainya itu sengaja disediakan buat di-enyot-enyot (bahasa Alif). Ummi juga jadi males kalau mau makein Afra baju pakai rok. Jadi kalau Afra terlihat pakai rok, sepanjang ini sih yang makein tante atau baby sitternya. Hehehe.. Tapi ada untungnya buat ummi dengan tingkah laku Afra yang satu ini. Ummi jadi selalu mengurungkan niat untuk membelikannya baju rok. Padahal kan lucu-lucu ya... apalagi selama ini belinya celana (buat Alif) melulu! Maka penampilan Afra (di tangan ummi), ga jauh beda sama kakak Alif! Hehe.. Kaus plus celana pendek.
Afra ga mau dot. Ya, jadinya Afra juga susah kalau mau dikasih asi perah. Bagusnya memang disendokin, tapi kan jadi lama. Ntar kakak Alif suka ikut-ikutan nyuapin pakai sendok pula. Kalau Alif, dulu, oke-oke aja waktu minum asi perah pakai dot. Dan sama sekali ga bingung puting kok (tiap anak beda kali ya..?).
Afra bobok n bangunnya masih belum tertib (dibandingkan Alif dulu, yang mulai umur 1 bulan bangun dan tidurnya sudah disiplin banget). Tapi ga papa lah, toh selama tidak ada yang perlu dikuatirkan. Apalagi, setiap waktu tidur malam, Afra selalu pulas kok. Sepanjang malam sampai menjelang subuh. Ini kan yang penting? Tidur malam yang cukup? (iya. dijawab sendiri).
Apalagi yang soal Afra ya.. Kayaknya ga ada habisnya deh, cerita soal 'anak gadis' yang satu ini. Sekarang lagi bobok. Jangan berisik ya... Ntar Afra ketawa-tawa!! (dikira ada yang ngajakin dia becanda).
Love u dear ..
Friday, July 20, 2007
LATIHAN JADI IBU
“Ini anak siapa, Mbak?”, tanya seorang teman tiba-tiba dari arah bangku belakang saya, di suatu seminar yang tengah berlangsung.
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.
“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.
Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.
Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.
Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...
di Jum'at siang
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.
“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.
Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.
Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.
Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...
di Jum'at siang
Subscribe to:
Posts (Atom)
