Thursday, September 13, 2007

Afra, adeknya Kakak Alif



Kalau ada Diary Alif, pastilah kudu ada Diary Afra. Kenapa? Biar nggak iri-irian? Oh nggak, biar mereka bisa saling belajar satu sama lain di saat kelak, melalui catatan umminya ini. Kalau Afra bisa 'ngetawain' Kakak Alif, karena kakak Alif susah belajar menyusu, maka Alif mungkin bisa menyentil adiknya sambil tersenyum, tatkala adegan menyusunya Afra yang pertama, ga brenti2 sampe ummi pegel. Hehehe..

Memang, rekaman video Alif bayi buanyak bgt, sampe 3 seri (tiap 3 bulan, ganti kaset). Tapi Alif bayi nyaris ga punya foto. Setidaknya foto yang bagus. Kalau mau yang jelek, banyak, karena motonya pake HP ummi. Hihi.. (yg jelek kualitas fotonya lho Nak..).
Sementara Afra, rekaman videonya dikit. Malahan pas Afra lahir, kan Kakak Alif lagi lucu2nya bertingkah, jadinya, teteup, rekaman Alif lebih menuh2in tempat. Tapi, pas Afra umur sebulanan, Ayah akhirnya ACC juga buat beli kamera digital! (Lah Ayah, mau beli kamera digital ini, urusannya (baca: mikirnya) ribet bgt! Dari setahun lalu, ga jadi2.hehe..) Horreee!!! Walo si kamera ga canggih2 amat, tapi alhamdulillah, yang penting acara poto2an, bisa lbh gampang.
Akhirnya, Afra pun punya koleksi foto bayinya, buanyak! Kakak Alif? Banyak juga! Hahaha... Iya, kalo Alif, foto2 gedenya (ya umur segitu tuh) banyak, sebagai ganti foto bayinya.

Ohya, adek Afra sekarang umur 4 bulan 19 hari. Masih aja jadi bayi cuek padahal bentol-bentol digigit nyamuk, buanyak banget ngocehnya sambil teriak-teriak kenceng, paling seneng kalo denger suara kakaknya, udah incip-incip rasa jeruk, dan...... masih lanjut asi ekslusif 6 bulan. Bentar lagi ya Nak.. sabar..

Afra ini beda banget sama kakaknya. Selain langsung pinter saat awal menyusu, Afra juga belum bisa tengkurep sendiri sampe sekarang. Haha! Adek, padahal tingkahnya dah nglebihin kakaknya pas dulu seumuran dia. Kalau mandi, selalu nyari-nyari barang yang bisa dia jatuhkan dari atas meja. Sudah pintar meraih benda di hadapannya, dan sudah bisa tengkurap umur 2 minggu!! Maksudnya, ditengkurepin. Posisinya sudah sangat sempurna, bahkan berguling/berbalik sendiri pas sudah kelelahan tengkurap. Cuman, yang bikin heran, kok sampe umur segini, belum juga mau tengkurep sendiri. Padahal kakaknya, sudah bisa tengkurap saat lebih muda dari umur adeknya sekarang.

Afra juga cuek sama suara-suara yang bikin kaget. Malahan, habis kaget, dia langsung ketawa. Afra juga suka nungguin ummi atau ayah-nya bobok. Maksudnya ngawasin, gitu. Ngliatin, sambil pegang-pegang. Mungkin maksudnya ngebangunin. Adek Afra juga jarang banget nangis! Bahkan saat dia lapar, ya cuma teriak-teriak gitu. Tapi, pas sekalinya nangis............ Masya Allah, kenceng banget suaranya. Sampe kakak Alif ikutan sedih dan.......... menangis pula! (Duhh.. Alif ini memang peka sekali).

Afra paling suka senyum-senyum. Mau senyum-senyum sendiri, sama orang, atau sama chicken little, poster pertama kakak Alif (yang umurnya sudah seumuran Alif, tapi belum dicopot-copot juga). Afra bahkan bisa tertawa ngakak, seperti kakaknya, saat umurnya baru 2 bulan. walah..
Sepertinya Afra ini ngebet banget 'ngejar' kakaknya, biar bisa segera main bareng.

Afra yang anak cewek, imut, dan cantik, paling ga bisa kalo pakai rok atau baju yang ada lampinnya. Apa pasal, karena pastilah akan kuyup! Mungkin afra pikir, lampin dan rok yang dipakainya itu sengaja disediakan buat di-enyot-enyot (bahasa Alif). Ummi juga jadi males kalau mau makein Afra baju pakai rok. Jadi kalau Afra terlihat pakai rok, sepanjang ini sih yang makein tante atau baby sitternya. Hehehe.. Tapi ada untungnya buat ummi dengan tingkah laku Afra yang satu ini. Ummi jadi selalu mengurungkan niat untuk membelikannya baju rok. Padahal kan lucu-lucu ya... apalagi selama ini belinya celana (buat Alif) melulu! Maka penampilan Afra (di tangan ummi), ga jauh beda sama kakak Alif! Hehe.. Kaus plus celana pendek.

Afra ga mau dot. Ya, jadinya Afra juga susah kalau mau dikasih asi perah. Bagusnya memang disendokin, tapi kan jadi lama. Ntar kakak Alif suka ikut-ikutan nyuapin pakai sendok pula. Kalau Alif, dulu, oke-oke aja waktu minum asi perah pakai dot. Dan sama sekali ga bingung puting kok (tiap anak beda kali ya..?).

Afra bobok n bangunnya masih belum tertib (dibandingkan Alif dulu, yang mulai umur 1 bulan bangun dan tidurnya sudah disiplin banget). Tapi ga papa lah, toh selama tidak ada yang perlu dikuatirkan. Apalagi, setiap waktu tidur malam, Afra selalu pulas kok. Sepanjang malam sampai menjelang subuh. Ini kan yang penting? Tidur malam yang cukup? (iya. dijawab sendiri).

Apalagi yang soal Afra ya.. Kayaknya ga ada habisnya deh, cerita soal 'anak gadis' yang satu ini. Sekarang lagi bobok. Jangan berisik ya... Ntar Afra ketawa-tawa!! (dikira ada yang ngajakin dia becanda).

Love u dear ..

Friday, July 20, 2007

LATIHAN JADI IBU

“Ini anak siapa, Mbak?”, tanya seorang teman tiba-tiba dari arah bangku belakang saya, di suatu seminar yang tengah berlangsung.
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.

“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.

Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.

Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.

Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...

di Jum'at siang

Tuesday, June 5, 2007

EUFORIA PERNIKAHAN

Pak-Bu, Mbak-Mas, saudara-saudari, apa sih yang akan kita tulis dalam 'diary' tentang pernikahan? Bagi pernikahan yang sudah berjalan sekian tahun, mungkin semua sudah berjalan 'alami'. Tidak lagi mesti melirik cetak biru pernikahan. Sekali lagi mungkin. Tapi bagi yang hendak menikah dan di awal pernikahan? Tentu berbeda ceritanya.

Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').

Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!

Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.

Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.

Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.

Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....

Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.

I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-