“Ini anak siapa, Mbak?”, tanya seorang teman tiba-tiba dari arah bangku belakang saya, di suatu seminar yang tengah berlangsung.
“Oh, anak saya Mbak.”, jawab saya.
“Oooo...”, sambung teman saya itu.
Tak urung saya penasaran dan menanyakan pada teman tersebut, mengapa bertanya demikian. Ternyata, sedari kami masuk ruangan tadi, teman tersebut memperhatikan. 'Kami' yang saya maksud adalah saya, adik saya dan bayi saya yang saat itu tengah digendongnya. Seorang teman yang hampir setengah tahun tidak berjumpa, tak mengira bayi dalam gendongan adik saya itu adalah anak kedua saya. Ya, apalagi adik saya yang menggendongnya.
“Asyik ya, punya asisten”, ujarnya kemudian. Saya hampir mengangguk, tapi tak jadi karena ragu. Saya dan adik cuma saling lempar senyum.
Saya akui, sejak adik saya tinggal di Jakarta usai menamatkan kuliahnya di Malang, saya memang merasa lebih nyaman. Ya tadi, seperti dibilang teman : punya asisten. Sedangkan anak saya yang pertama memang sudah pakai baby sitter sejak umurnya 16 bulan.
Ketika adik perempuan saya itu tiba di Jakarta, anak kedua saya baru berusia 3 minggu. Dan sejak itu, adik saya sudah mulai menggendong, menidurkannya, mengganti popok, bahkan memandikan bayi saya. Hanya menyusui saja yang tidak. Hehe...
Apakah asyik bagi saya? Iya lah, tidak bisa dipungkiri. Kalau saya sudah mulai lapar, tinggal menitipkan bayi saya pada adik, dan saya pun bisa makan dengan konsen. Kalau sedang lelah dan enggan memandikan bayi, adik saya segera ambil alih. Kalau mau istirahat siang? Gantian aja. Pun, pagi-pagi, adik saya sudah ambil alih menjaga bayi saya, sementara saya melanjutkan tidur. Hehe.. maklum, kan semalaman terbangun 2-3 kali untuk menyusui.
Bagaimana dengan adik saya? “Ah, manfaatin adek nih...”, komentar seorang teman lain di waktu yang berbeda. Manfaatin? Tanyakan pada adik saya, maka kesimpulannya adalah : bahwa kami saling memanfaatkan. Saya 'memanfaatkannya' untuk bantu menjaga dan mengurus bayi saya, sementara adik 'memanfaatkannya' untuk BERLATIH MENJADI IBU. Akhirnya senyum lebar menutup kesimpulan tersebut.
Dan memang, adik saya harus bersyukur, sudah memiliki ponakan dan punya kesempatan ikut mengurus. Hingga sebelum waktunya menjadi seorang ibu tiba, pengalaman sudah di tangan. Pokoknya ketika nanti adik saya menikah, sertifikat pengasuhan anak sudah di tangannya! Hehe.. Enak dong, calon suaminya :D
Berbeda dengan saya. Saya menikah lebih dulu dibanding keempat saudara saya yang lain. Dan saya memiliki anak lebih dulu dibanding dua kakak saya, yang menikah tak lama setelah saya hamil anak pertama, kemudian anak kedua. Sementara kesempatan untuk ikut2an ngurus bayi (saudara sepupu) tidak ada. Walhasil, ketika saya jadi ibu, baru kali itulah saya menggendong 'bayi merah'. Memandikan, menggantikan popok, serta memakaikan baju. Kesalahan? Tentu saja terjadi sesekali. Bersyukur, naluri mengasuh bayi dimiliki setiap ibu.
Maka saya ucapkan selamat pada adik perempuan saya, dan saya nyatakan nilai 'pelatihan' menjadi ibunya dapat poin 80! Selamat jadi Ibu ya...
di Jum'at siang
Friday, July 20, 2007
Tuesday, June 5, 2007
EUFORIA PERNIKAHAN
Pak-Bu, Mbak-Mas, saudara-saudari, apa sih yang akan kita tulis dalam 'diary' tentang pernikahan? Bagi pernikahan yang sudah berjalan sekian tahun, mungkin semua sudah berjalan 'alami'. Tidak lagi mesti melirik cetak biru pernikahan. Sekali lagi mungkin. Tapi bagi yang hendak menikah dan di awal pernikahan? Tentu berbeda ceritanya.
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Saya teringat dulu ketika saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah. Saat idealisme sedang tinggi-tingginya.
“Kalau aku menikah nanti, seluruh hidupku kuserahkan padanya. Bahkan aktivitas apapun yang akan kulakukan, harus seizin suami”
“Aku akan melayani suamiku sebaik mungkin. Air hangat tiap dia pulang kerja, sarapan dan makan malam yang lezat”
“Pokoknya aku nggak akan pernah bikin marah suamiku”
Begitu komentar kawan-kawan (tentu saja diiringi sipu malu, maklum masih gadis yang tentu saja masih 'mengharap').
Saya pun tak beda jauh dengan 'angan sebelum menikah' itu. Namun kalau saya agak berbeda. Di antara harap teman-teman saya tadi, terbayang kira-kira bagaimana sosok suaminya. Sedangkan saya justru berharap seorang suami yang 'tidak suka dilayani'. Saya ingin saya dan suami berpartner bersama dalam apapun. Kalau perlu, saya balik sekalian tradisi-tradisi kebanyakan. Kalau bisa yang bertanggung jawab menyiapkan sarapan pagi, adalah suami. Biar saya yang menguras bak kamar mandi (hihi...). Kalau bisa, yang merapikan kasur biar suami saja. Sementara saya pasang paku untuk menggantung cermin. Lalu suami yang masak, saya yang cuci piring. Suami yang menyapu, saya yang mengepel. Kalau sama-sama capek dan pegel, sayalah yang punya hak lebih dulu untuk mendapatkan pijitan. Kalau cari uang? Sama-sama cari uang, tapi penghasilan suami harus lebih besar. Haha !!
Seorang kawan membayangkan memijit pundak suaminya saat nanti menjadi istri. Kalau saya membayangkan diri dipijit suami, ketika nanti jadi istri.
Tapi saya kemudian 'insyaf', dan ingin menjadi seperti kebanyakan calon istri lainnya. Yang 'umum' maksudnya.
Tak ayal, kemudian saya memperdalam ilmu memasak. Memperdalam ilmu kesehatan keluarga, sampai trik-trik membahagiakan suami dengan baik. Ceritanya saya sedang menjadi calon istri yang baik. Menjelang pernikahan? Perawatan pra-pernikahan pun saya jalani (bela-belain, padahal sama sekali bukan tipe saya). Demi apa? Demi memnuhi persyaratan sebagai calon istri yang baik dong.
Bagaimana setelah menikah? Wah ... suami saya bukan tipe yang minta dilayani ini itu. Bahkan awal2 pernikahan saya justru sempat stress, karena semua-semua suami lakukan sendiri. Tidak ada permintaan membuat kopi, permintaan menyiapkan pakaian, memasak, dll. Bahkan ketika saya siapkan semua itu, suami malah bilang “duh, gak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok”. Nah lho?! Awalan, kedua, ketiga, masih asyik. Trus yang keempat, kelima, dan seterusnya? makin asyik? Enggak juga. “Saya pengen jadi istri yang 'biasanya' bang.......”, kata saya. Maka dengan sedikit terpaksa, suami saya bilang “tolong dong bikinkan teh. Jangan terlalu manis ya, airnya anget aja”. Saat saya siapkan pesanannya, “sudah deh aku sendiri aja. Gula segitu masih kebanyakan buat aku”. Walhasil teh buatan saya itu pun saya minum sendiri.
Alamak....
Kesimpulan setelah menikah dua tahun : lakukan sendiri semua keperluan pribadi yang bisa dilakukan sendiri. Tidak usah ada yang merasa bersalah karena tidak dilibatkan. Jika bisa membantu? Bantulah sebisanya. Pembagian tugas? Tidak ada. Karena semua urusan rumah tangga adalah tugas bersama. Siapa yang paling lelah, siapa yang paling sibuk, dan siapa yang paling parah saat sama-sama sakit-lah, yang paling berhak mendapatkan 'pelayanan'. Selebihnya? Ya lakukan bersama-sama saja, seenjoynya.
Hasil setelah melakukannya bersama : kami sama-sama puas.
I Love You Bang...
(harapan dan konsep sebelum menikah, sikap dan perilaku di awal pernikahan, tak lebih euforia saja. Tentu, karena BELUM diALAMI sepenuhnya. baru AKAN)
-ternyata menjadi calon istri yang baik belum tentu nantinya jadi istri yang baik-
Monday, March 5, 2007
(siapa yang tidak) EMPATI (ya... ?)

Kalau dengar kata “Empati”, kira-kira apa yang tergambar dalam benak ya......? Turut bersedih? Turut berduka? Ikut merasakan penderitaan? Atau sebaliknya?
Empati memang selalu relatif. Tergantung dari bagaimana orang tersebut biasa bersikap, bertindak, berlatar belakang, berharap, dan sebagainya. Karena perasaan yang muncul dari sikap empati, pastilah tidak akan sama persis dengan perasaan orang lain yang sedang dijadikan objek empati. Kadangkala yang berempati memiliki perasaan yang tidak sekuat perasaan sang objek, atau justru sebaliknya, perasaan yang berempati berlebihan, melebihi objek empati. (-bingung :-))
Terbersit kata empati, adalah ketika suatu ketika, saat Jakarta tengah banjir besar lima tahunan. Tahun ini banjir besar jatuh di bulan Januari-Februari 2007.
Saat itu, pada suatu hari, sepulang mengantarkan beberapa barang dan makanan ke posko Peduli Banjir di Rawajati, saya mengirim sms pada seorang teman, yang tiga hari lalu melangsungkan pernikahannya. Bukan di Jakarta memang. Ada sesisip sesal, saya tidak bisa menghadiri pernikahannya yang berjarak ratusan kilo dari Jakarta, dan terlambat pula untuk 'sekedar' mengucapkan 'selamat' atas pernikahannya. Ya, tentu saja, karena Jakarta sedang banjir besar, nyaris semua orang di Jakarta sibuk. Sibuk dengan air yang meluap, sibuk membantu korban, sibuk dengan genteng yang bocor, dll. Saya sendiri sibuk dengan rembesan air yang jatuh ke lantai, menyiapkan makanan sehat karena bahan pangan mulai surut, sampai membersihkan rumah sendiri akibat para asisten yang absen. Satu opname di RS karena tifus, yang satu terjebak banjir.
Pesan singkat itu : “Barakallah ya, semoga jadi keluarga samara. Maaf tidak bisa datang”, tak lupa saya tambahkan kalimat “Jakarta lagi banjir bandhang nih...”
Lama, saya menanti balasannya. Ah, mungkin dia sibuk dengan aktivitas barunya sebagai istri, -pikir saya. Esoknya, balasan itu tiba. Begini kurang lebih jawabannya “Wah, rasanya campur-campur, tapi asyik juga bulan madunya” soal banjir dia komentar “wah asyik, selamat ya, ente berenang2 dong..”. Masya Allah..........
Di tengah deru hujan dan petir, saya merasa sedih dengan jawabannya. Mengapa tak ada EMPATI? Bahkan dia mengucapkan “selamat” atas musibah ini. Keterlaluan -pikir saya-. Apa dia tidak lihat berita, bagaimana banyak korban yang kehilangan rumah bahkan nyawa? Bagaimana kota Jakarta hampir lumpuh total? Bagaimana mereka yang jadi korban sekaligus jadi tim penolong di posko peduli banjir? Bagaimana halte busway jadi tempat tidur yang 'nyaman'? Bagaimana was-was dan rasa khawatir yang selalu muncul tiap kali terdengar hujan turun? Dan dia -sekali lagi- mengucapkan selamat? Saya tak habis pikir.
Ternyata empati sulit muncul jika tidak mengalaminya. Saya benar-benar bisa berempati dengan korban bencana ini, walau saya -Alhamdulillah- tidak termasuk dalam bagian 'korban'. Namun karena saya melihat langsung kejadiannya, bertemu korban, dan memberikan bantuan. Walau tempat tinggal saya tak kena banjir, namun hati was-was juga. Tidur pun tidak tenang, sementara banyak orang beratap langit di luar sana, berselimut dingin. Dengan begitu, ada juga yang mengucapkan “selamat”?
Kesal memang, saya membaca pesan tersebut. Gundah gulana (ta'elaa...). Tak berapa lama sms itu saya terima -dan ditengah gulana- suami saya masuk ke kamar (saat itu saya sedang bersama Alif).
Sontak saja saya teringat banyak kenangan manis saat kami memasuki episode awal hidup bersama (mungkin teringat teman tadi yang belum lama menikah). Ah, saya lalu beristighfar. Entah siapa yang tak punya empati. Bahkan ketika saya menghakimi teman saya tak punya empati, mungkin saya sendiri sedang tak berempati padanya. Mengapa? Saya teringat awal pernikahan dulu (belum terlalu lama). Banyak keindahan, seru, asyik, heboh, dll. Nah, mungkin teman saya ini sedang sangat mengharu-biru dan mengahayati kehidupan awalnya sebagai seorang istri. Sehingga perasaannya diliputi kebahagiaan, kecintaan, hingga 'kalimat empati' nya pun menjadi 'kalimat bahagia'. Oh, kira-kira begitu, mungkin. Bukankah berarti kehidupan pernikahannya, setidaknya awal episode itu tampak membahagiakan? (maafkan aku saudari..)
Akhirnya saya balas kembali sms tersebut. Saya katakan, 'selamat' atas kebahagiaannya, namun, tetaplah berempati dengan musibah yang terjadi, bukannya malah memberi 'selamat' juga. Dia pun membalas dengan maaf; “maaf maksudku tidak begitu” (kalimat ini belum menenangkan dan menerangkan 'empati' apapun). Kelanjutannya : “eh, tapi bener ya, asyik juga pacaran sesudah menikah :-)”
See........... masih seputar 'kebahagiaannya' yang itu-itu juga. Padahal yang saya harap, setidaknya dia bertanya tentang kabar dan situasi terakhir, atau 'kalimat empati' lainnya. Saya kecewa.
Eh, saya salah lagi. Harusnya berempati itu tidak 'memaksakan' orang lain untuk berempati sama sebagaimana empati yang kita rasakan. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu, saudariku ...
Subscribe to:
Posts (Atom)
