Monday, March 5, 2007

(siapa yang tidak) EMPATI (ya... ?)


Kalau dengar kata “Empati”, kira-kira apa yang tergambar dalam benak ya......? Turut bersedih? Turut berduka? Ikut merasakan penderitaan? Atau sebaliknya?
Empati memang selalu relatif. Tergantung dari bagaimana orang tersebut biasa bersikap, bertindak, berlatar belakang, berharap, dan sebagainya. Karena perasaan yang muncul dari sikap empati, pastilah tidak akan sama persis dengan perasaan orang lain yang sedang dijadikan objek empati. Kadangkala yang berempati memiliki perasaan yang tidak sekuat perasaan sang objek, atau justru sebaliknya, perasaan yang berempati berlebihan, melebihi objek empati. (-bingung :-))

Terbersit kata empati, adalah ketika suatu ketika, saat Jakarta tengah banjir besar lima tahunan. Tahun ini banjir besar jatuh di bulan Januari-Februari 2007.
Saat itu, pada suatu hari, sepulang mengantarkan beberapa barang dan makanan ke posko Peduli Banjir di Rawajati, saya mengirim sms pada seorang teman, yang tiga hari lalu melangsungkan pernikahannya. Bukan di Jakarta memang. Ada sesisip sesal, saya tidak bisa menghadiri pernikahannya yang berjarak ratusan kilo dari Jakarta, dan terlambat pula untuk 'sekedar' mengucapkan 'selamat' atas pernikahannya. Ya, tentu saja, karena Jakarta sedang banjir besar, nyaris semua orang di Jakarta sibuk. Sibuk dengan air yang meluap, sibuk membantu korban, sibuk dengan genteng yang bocor, dll. Saya sendiri sibuk dengan rembesan air yang jatuh ke lantai, menyiapkan makanan sehat karena bahan pangan mulai surut, sampai membersihkan rumah sendiri akibat para asisten yang absen. Satu opname di RS karena tifus, yang satu terjebak banjir.
Pesan singkat itu : “Barakallah ya, semoga jadi keluarga samara. Maaf tidak bisa datang”, tak lupa saya tambahkan kalimat “Jakarta lagi banjir bandhang nih...”
Lama, saya menanti balasannya. Ah, mungkin dia sibuk dengan aktivitas barunya sebagai istri, -pikir saya. Esoknya, balasan itu tiba. Begini kurang lebih jawabannya “Wah, rasanya campur-campur, tapi asyik juga bulan madunya” soal banjir dia komentar “wah asyik, selamat ya, ente berenang2 dong..”. Masya Allah..........

Di tengah deru hujan dan petir, saya merasa sedih dengan jawabannya. Mengapa tak ada EMPATI? Bahkan dia mengucapkan “selamat” atas musibah ini. Keterlaluan -pikir saya-. Apa dia tidak lihat berita, bagaimana banyak korban yang kehilangan rumah bahkan nyawa? Bagaimana kota Jakarta hampir lumpuh total? Bagaimana mereka yang jadi korban sekaligus jadi tim penolong di posko peduli banjir? Bagaimana halte busway jadi tempat tidur yang 'nyaman'? Bagaimana was-was dan rasa khawatir yang selalu muncul tiap kali terdengar hujan turun? Dan dia -sekali lagi- mengucapkan selamat? Saya tak habis pikir.

Ternyata empati sulit muncul jika tidak mengalaminya. Saya benar-benar bisa berempati dengan korban bencana ini, walau saya -Alhamdulillah- tidak termasuk dalam bagian 'korban'. Namun karena saya melihat langsung kejadiannya, bertemu korban, dan memberikan bantuan. Walau tempat tinggal saya tak kena banjir, namun hati was-was juga. Tidur pun tidak tenang, sementara banyak orang beratap langit di luar sana, berselimut dingin. Dengan begitu, ada juga yang mengucapkan “selamat”?

Kesal memang, saya membaca pesan tersebut. Gundah gulana (ta'elaa...). Tak berapa lama sms itu saya terima -dan ditengah gulana- suami saya masuk ke kamar (saat itu saya sedang bersama Alif).
Sontak saja saya teringat banyak kenangan manis saat kami memasuki episode awal hidup bersama (mungkin teringat teman tadi yang belum lama menikah). Ah, saya lalu beristighfar. Entah siapa yang tak punya empati. Bahkan ketika saya menghakimi teman saya tak punya empati, mungkin saya sendiri sedang tak berempati padanya. Mengapa? Saya teringat awal pernikahan dulu (belum terlalu lama). Banyak keindahan, seru, asyik, heboh, dll. Nah, mungkin teman saya ini sedang sangat mengharu-biru dan mengahayati kehidupan awalnya sebagai seorang istri. Sehingga perasaannya diliputi kebahagiaan, kecintaan, hingga 'kalimat empati' nya pun menjadi 'kalimat bahagia'. Oh, kira-kira begitu, mungkin. Bukankah berarti kehidupan pernikahannya, setidaknya awal episode itu tampak membahagiakan? (maafkan aku saudari..)

Akhirnya saya balas kembali sms tersebut. Saya katakan, 'selamat' atas kebahagiaannya, namun, tetaplah berempati dengan musibah yang terjadi, bukannya malah memberi 'selamat' juga. Dia pun membalas dengan maaf; “maaf maksudku tidak begitu” (kalimat ini belum menenangkan dan menerangkan 'empati' apapun). Kelanjutannya : “eh, tapi bener ya, asyik juga pacaran sesudah menikah :-)”
See........... masih seputar 'kebahagiaannya' yang itu-itu juga. Padahal yang saya harap, setidaknya dia bertanya tentang kabar dan situasi terakhir, atau 'kalimat empati' lainnya. Saya kecewa.
Eh, saya salah lagi. Harusnya berempati itu tidak 'memaksakan' orang lain untuk berempati sama sebagaimana empati yang kita rasakan. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu, saudariku ...

Thursday, March 9, 2006

UMMI CURHAT YA NAK.....

(Tentang Kesabaran)

anakku Alif........
ummi sedang sedih nak......
sayangnya ummi nggak tau kenapa tiba-tiba ummi sedih
seperti ummi tidak tau kenapa pagi tadi,
tiba-tiba kamu tidak mau menyusu,
padahal ummi tau harusnya kamu sudah lapar
karena kamu terakhir menyusu 6 jam yang lalu,
di tengah tidur malammu sejak pukul delapan

ummi juga nggak tau,
kenapa kamu juga jadi nangis dan merengek-rengek
tapi nggak mau minum
ada apa nak?
kamu baru sedikit tenang ketika ayah menggendongmu
mengajakmu jalan-jalan di kamar
hingga akhirnya kamu tertidur.....

ah Alif...
sudah 3 bulan menjadi ummimu
tapi banyak hal
yang ummi masih belum mengerti dari kamu
inilah salah satu tanda kebesaran-Nya ya..
Tangisan bayi,
dengan banyak arti meski dengan bahasa yang sama;
MENANGIS
yang menjadi bahan belajar bagi ibu di manapun
untuk selalu sabar
dan bijak mengerti keinginan anaknya
meski selalu hanya;
melalui tangisan.

Alif,
untung ada ayah ya......
yang selalu bisa memberi contoh
pada ummi,
untuk menjadi ibu yang sabar

Doakan ummi menjadi ibu yang sabar ya....
hingga bisa mendidikmu dengan sabar pula
mendampingimu dengan sabar,
menyayangimu dengan sabar,
dan membesarkanmu dengan sabar
Bahkan ketika ummi nggak tau,
apa yang mesti ummi lakukan
ketika kamu menangis,
ummi tetap harus sabar kan?

seperti Nabi Khidir yang sabar
ketika mendampingi Nabi Musa

Wednesday, March 8, 2006

KETIKA MUSUH DATANG

Ada nggak sih, yang takut pada rasa BOSAN? Kalo saya, takut sekali dengan yang namanya BOSAN. Bosan membuat hidup tidak bergairah. Mau ngapa-ngapain juga malas. Visi hidup mengabur, misi hidup melabur. Pekerjaan numpuk, tidak fokus, dan akhirnya berabe, jadi tidak produktif.. Bayangkan, betapa menakutkannya penyakit bosan, karena dia menyerang hati juga. Yang membuat semangat menurun drastis seperti orang mati rasa. Ah sedihnya...

Dulu ketika belum memiliki anak, saya memiliki rasa bosan. Bosan karena menunggu kehadiran anak (ada-ada saja...). Padahal waktu itu saya sibuk dengan kerja, juga ngobyek sana-sini. Tetap saja ada rasa bosan.
Dan ternyata setelah diusut panjang lebar, rasa bosan memang makhluk yang sering mengintai saya (lihatlah, saya sampai hafal pada makhluk yang satu ini). Dan bosan banyak membuat saya trauma. Makanya saya hindari si bosan. Makanya, saya hasilkan seorang anak, agar tidak bosan. Hehehe...

Dulu, saya juga berpikir jika punya anak saya akan terbebas dari rasa bosan. Ternyata tidak juga. Tanda-tanda kebosanan sempat menghantui saya ketika bulan pertama memiliki anak. Bayangkan saja; rutinitas saya seharian sepanjang pekan hanya di rumah. Agenda pun yang itu-itu saja. Bangun pagi, sholat, menyusui, mengurus cucian, mandi pagi, sarapan, mandikan Alif, menemaninya, makan siang, dst sampai suami selesai kerja, dan menunggu waktu tidur malam (tidur malam ini jadi waktu favorit saya kala itu. Ya, tidur!). Saat itu, saya nyaris tidak bisa bebas jalan-jalan seperti dulu. Bahkan supermarket yang hanya di depan rumah pun, jarang saya sambangi lagi.

Apalagi ketika belum punya anak dan sebelum menikah dulu saya sangat sibuk di luar rumah. Kerja, kuliah, aktif di beberapa organisasi, dan lain-lain. Sekarang semua nyaris absen dulu. Sekarang juga tidak ada lagi agenda nongkrongin toko buku, ngobok-ngobok aneka makanan di warung jajanan, kumpul dengan teman-teman, bahkan main internet pun tidak sebebas dulu. Memang, bermain dengan si lucu sangat menyenangkan. Melihat senyum canda, bahkan tangisannya, adalah hiburan. Tapi setiap hari menghadapi hal yang sama? Sangat mungkin membuat hati jadi lemah, dan datanglah si bosan tak kenal sopan.
(Ah Alif sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan curhat ummi ini ya... Biasa aja kok. wajar).
Tapi tidak, saya bertekad tidak akan lagi jatuh ke pelukan si BOSAN lagi. Kapok. Makanya, saya segera berkelit ketika si musuh mulai datang.

Langkah pertama, tentu curhat pada Sang Pencipta. Kedua, sharing pada kekasih hati, suami tercinta. Ya, dengan cintanya itu, saya diijinkan untuk sesekali jalan-jalan. Meski hanya akhir pekan yang bisa dipilih, lumayan untuk menghindari si bosan. Akhir pekan dipilih, agar Alif bisa ditinggal bersama ayahnya, hingga saya tak perlu repot membawanya. Paling-paling meninggalkan ASI perah dalam botol susu Alif. Lumayan kan, membujang sebentar? Hehe.........

Tapi ternyata, salah besar. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari status dan “hoby” baru saya sebagai ibu. Sepanjang jalan, saya hanya terpikir Alif. Terbayang wajahnya, teringat rengekannya, dan kangen ketawanya. Bagaimana mau jalan-jalan, kalau saya selalu melihat jam dan ingin segera pulang? Ternyata selalu lebih menyenangkan menjadi ibu, daripada membujang kembali. Kembalilah saya ke rumah, tanpa membawa kesan apa-apa selain “Saya kangen sekali pada Alif”.

Mungkin saja saya salah mengenali kebosanan saya kali ini. Mungkin saja. Barangkali saya bukan sedang bosan dengan urusan kerumahtanggaan, plus urusan-urusan Alif. Hanya saja, mungkin saya yang kurang kreatif menyusun dan mengerjakan semua agenda-agenda kerumahtanggan. Akibatnya rutinitas jadi membosankan. Ah ya, kreativitas. Saya butuh kreativitas. Bukankah dengan menjadi ibu kita harus lebih kreatif?

Berkelanalah pikiran saya mencari sesuatu yang kreatif itu. Mulai dari agenda kerumahtanggaan yang itu-itu saja. Tidak susah ternyata. Saya hanya maju mundurkan waktu untuk mengatur kembali agenda. Kalau biasanya mencuci pakaian setiap habis subuh, diganti seusai sarapan. Kalau memandikan Alif sebelum saya mandi, gantian saya mandi duluan baru memandikannya. Jadwal tidur siang saya pun diganti dengan tidur malam agak awal. Beres. Beberapa hari, sudah terasa perbedaannya. Terasa menjadi manusia baru. Saya juga mulai memasukkan agenda-agenda belajar Bahasa Arab, menghafal AlQur'an, di sela-sela bermain dengan Alif. Ternyata menemani Alif bisa sambil di-sambi kok. Bosan menunggui Alif menyusu (yang makin hari makin lama), saya membaca Quran, atau majalah, buku, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Alif sudah kenyang saja rasanya. Tidak banyak yang dirubah, tapi Alhamdulillah, sudah cukup menjadi peringatan bagi si bosan untuk datang.

Saat Alif istirahat, saya membuka layar komputer. Saya mulai menulis kembali. Salah satu hobi yang terkatung-katung sejak menjadi ibu. Dan satu lagi, berhubung ada internet yang bisa dimanfaatkan, internet pun menjadi sasaran mencari kreativitas... Ternyata dari internet ini saya bertemu dengan banyak teman, sesama ibu muda. Banyak pula ilmu-ilmu baru. Pokoknya, meski sibuk mengurus rumah tangga, ilmu tetep kudu nambah, biar otak tidak beku. Hhehe.......