Tuesday, June 15, 2010

Nikmatnya Rasa Sakit

Senin lalu (14 Juni 2010), pukul 7 pagi, saya begitu bersemangat (as ussual) membangunkan anak-anak dan mempersiapkan mereka utk berangkat sekolah.
Usai libur dua hari, tampaknya pompa semangat di Hari Senin harus lebih ditekan. Pameo Hate Monday memang racun, yang sadar atau tidak, menghipnotis orang untuk menjadikannya 'Hari Istimewa' bekerja (super repot dan ribet), layaknya Love Sunday sebagai Hari Istimewa berlibur.

Bisa ditebak, dua kurcaci saya itu begitu sulit dibangunkan. Merem-melek-menggeliat-merem lagi. Biar tidak senewen, saya nyanyikan lagu kencang-kencang supaya mereka terbangun dan tersadar dari mimpi akhir pekannya. Dan tentu saja dengan nada fals supaya mereka lebih terusik (pada dasarnya suara saya memang fals).

Ada sahutan mezo-sopran. Artinya Afra sudah bangun. Bersamaan dengan itu, saya tengah bersiap mengeluarkan tas mereka dari dalam lemari besar di ruang tengah sebagai tempat penyimpan segala rupa tas.
Namun tak dinyana...

"Dugh...buk... kreekkk...blek"

Sang pintu lemari kayu yang big dan keras itu menghantam kepala saya. Sisinya tepat mengenai pelipis, entah dimana persisnya, yang jelas suakitnya bukan main.
Rasanya kesal dengan si pintu lemari. Andai dia bukan barang berat, mungkin sudah saya lemparkan ke lantai sebagai upaya pelepasan rasa sakit yang tak terkira. Namun demi mengingat berat dan kerasnya, dengan perlahan saya sandarkan kembali pintu itu.

Ya, pintu lemari itu memang tidak sempat jatuh ke lantai. Pintu lemari setinggi 2,5 meter itu terhenti di kepala saya.

Saya sempat terdiam sambil memegang si pintu. Sempat terputar satu memori dengan rasa yang pernah akrab. Namun apa dan kapan ya?

Tak lama saya berbaring di kasur menahan nyeri yang luar biasa. Mata merah dan berair, pelipis yang senut-senut, serta badan yang rasanya remuk redam.

Sesaat saya teringat peristiwa delapan tahun silam. Kala itu juga pagi hari, pukul 6.30. Bedanya adalah pagi bagian semarang (bukan jakarta) dan TKP-nya di luar, di jalan raya, bukan di dalam rumah. Bukan pintu lemari, tapi kecelakaan (motor) tunggal. Di tengah basahnya gerimis. Demi menghindari sebuah motor yang berbalik arah dari sisi kiri ke sisi kanan arah sebaliknya, rem mendadak saya membuat kami berdua (saya dan si tornado) terjungkal ke sisi kanan. Syukurnya tidak ada kendaraan dalam jarak dekat dari sisi kanan. Si motor 'tersangka' segera melarikan motornya, sementara saya yang sempat mati rasa ditolong oleh seorang yang lain yang juga mengendarai motor.

Saya ingat, kala itu di tengah nyeri, saya berusaha pulang menempuh jarak sepuluh kilometer, dengan kondisi stang motor yang bengkok. Tanpa kacamata minus yang pecah terbelah (tak bisa lagi dipakai), dan kaca helm full protect yang hancur berantakan. Dahsyatnya accident pagi itu. *Pesan : jangan sayang membeli helm full protect kualitas baik (SNI). Saya tidak bisa membayangkan jika sedang pakai helm abal-abal.

Tiba di rumah, di tengah kepanikan ibu dan bapak, singkatnya saya segera diistirahatkan.
Pertolongan pertama : minyak tawon! Oleh ibu, si minyak dibalurkan ke sekujur tubuh sisi kanan, mulai kepala (yang berlumur darah), pipi, lengan, dan kaki (alhamdulillah....pakaian panjang saya cukup 'bermanfaat' sebagai perisai).

Tak lama setelahnya, saya tiba-tiba terbang ke alam lain. Saya tidak sadarkan diri. .... untungnya sudah di rumah.
Kala terbangun, yang saya rasakan adalah perasaan damai... sangat damai.... padahal darah segar masih menetes di pelipis, dan badan senut-senut tidak keruan. Saat itu juga saya bersyukur... entah darimana rasa nyaman itu.
Padahal latar belakangnya aroma minyak tawon :D

Saya teringat di masa itu adalah saat sibuk2nya saya menjalani aktivitas kemahasiswaan. Begitu overnya. Dan mungkin kecelakaan itu-lah rem-nya. Masih terngiang bagaimana ketika tiba di rumah, dengan sisa tenaga saya menceritakan kronologis kecelakaan, kakak sulung saya dengan begitu hebohnya bilang "Mending kamu tabrak aja tuh motor, jadi kamunya gak jatuh separah ini!". Benar memang. Tapi mungkin saya tidak bisa tidur nyenyak (pingsan dengan sukses) setelahnya. sebagaimana yang baru saja saya lalui. Saya bersyukur tidak melakukan opsi tersebut, dan bersyukur atas jalanan yang tengah sepi (mungkin karena tengah hujan).

Seminggu penuh saya total istirahat, sampai bengkak itu surut, luka parut itu mengering, dan senut-senut itu berkurang. Saya nikmati seminggu itu sebagai waktu istirahat. Waktu berpikir tentang pilihan aktivitas, dan waktu untuk lebih merasai 'masa jeda'. Kita boleh berusaha, namun Tuhan penentu segalanya. Entah mengapa rasa sakit itu begitu nikmat.

Dan kecelakaan pintu lemari tadi mengingatkan saya pada hari kecelakaan di pagi gerimis silam itu. Segera tersadar, lalu secara mantap saya memilih untuk menikmatinya. Saya bersyukur karena pintu lemari itu tidak menimpa anak atau suami saya, dan bersykur bahwa pintu yang jatuh adalah pintu lemari, bukan pintu rumah yang lebih tinggi dan lebih berat. Saya juga teringat, sebulan yang baru lalu adalah hari-hari yang luar biasa sibuk dan berat, dengan segala macam urusan dan kegiatan. Mungkin 'saatnya utk beristirahat' telah tiba. Badan saya mulai demam, energi mulai surut, dan mata terasa berat.
Setelah anak-anak diambil alih suami, segala persiapan dan urusan sekolahnya, saya pun tak sadarkan diri. Tak sadar, namun dalam kedamaian dan mimpi yang indah :)
Seharian itu saya 'bebas tugas', ditemani aroma minyak tawon. Nikmat :D

*pesan : jangan lupa sediakan minyak tawon sebagai pertolongan pertama pada luka baru! Mantap!


*terkadang kita perlu ditegur dengan keras, hanya untuk membuat kita 'sekedar beristirahat'*
- jangan lupa istirahat yaa.... sebelum kita 'dipaksa' beristirahat :)

Thursday, February 4, 2010

Tertarik, Kagum, juga Penasaran


Saya sebenarnya termasuk orang yang gampang tertarik pada orang lain.
Karena, tiap orang itu unik. Tiap orang itu eksis. Dan tiap orang itu punya posisi di jagat Bima Sakti ini.

Makanya, saya selalu tertarik.

Walau... saya sangat tidak mudah kagum pada orang lain. Karena tiap orang punya kemampuan masing-masing, punya modal masing-masing, punya keinginan masing-masing, dan punya tujuan masing-masing.

Makanya, saya tak mudah kagum pada orang.

Namun kalo kemudian saya tertarik pada satu sosok, lalu kagum, lantas penasaran hingga kini, maka cuma dia-lah orangnya.

Untuk seorang pria (ya, ternyata dia pria.. fiuhh..), tinggi badannya rata-rata saja. Tidak terlalu tinggi. Namun tegap. Proporsional, atletis, dan juga lincah.

Gaya rambutnya unik, lurus, tebal ala punk (tapi nggak nge-punk). Saya nggak tau warna asli rambutnya memang seperti itu, atau tidak. Abu-abu keperakan.
Ilmu beladirinya jangan ditanya. Luar biasa. Itu yang membuat saya kagum. Saya hampir nggak pernah lihat dia kalah di arena pertarungan. Kalau melihat dia bertanding, jantung rasanya berhenti berdetak, badan ikut tegang, tak acap dahi mengkerut, dan alis naik turun. Tapi dia 'selalu' menang memang. Great!

Pakaian ala prajuritnya membuat komplit penampilan yang keren, tangguh, macho dan.. lah segalanya serba pas.

Walau terlihat begitu jantan, dia penyuka novel. Ini yang membuat saya makin suka pada sosoknya. Di sela latihan atau melatih murid-muridnya bela diri, membaca novel adalah kesibukannya.
Keras, namun pengertian. Tangguh, namun romantis. Konyol, cerdik, tapi juga kaya wawasan dan mendalam secara emosional.

Dia punya tugas yang berat dalam melatih dan membina timnya. Menurut saya, tim-nya adalah tim yang paling kompleks dan paling berat ditangani, karena begitu beragam kepribadian dan keahlian.

Sosok yang komplit. Saya tertarik, saya kagum, dan masih penasaran hingga detik ini.

Mata Sharingan implantasi dari temannya si-"crying baby", pedang ayahnya, si-White Fang, Chidori, Rasengan (dg satu tangan)... kepekaan hatinya, kekuatan fisiknya, juga ketajaman otaknya... hhh... saya speechless... Dia bukan paling hebat, tapi paling menarik!

Tapi saya memang masih penasaran... Bagaimana wajahnya??
Karena wajahnya selalu tertutup masker. Walau masker, ikat kepala Konoha, dan slayer mata satunya, memang membuatnya tampak makin keren,.......
Tapi bagaimana wajahnya??

Saya masih penasaran..

Jangankan saya sih, murid-muridnya; Sasuke (yang kemudian 'digantikan' oleh Sai), Sakura dan Naruto pun, tak pernah tahu bagaimana wajah sensei-nya ini.

Ah, peduli amat..
Kakashi Sensei.. teruskan perjuanganmu.
Suatu ketika, semoga penasaranku terjawab.
Mashashi Kishimoto...please... (awas ya, tokoh yang ini nggak boleh mati, Naruto juga! arigato!)


Nb: photonya emang ga nyambung...wkwkwk...

Tuesday, February 2, 2010

Borobudur : Ajiibbb !!



Bangunan megah yang luar biasaa...

Konon bangunan candi ini dibangun di abad VIII pada Dinasti Syailendra.

Kabarnya pula, candi ini dibangun dengan tatanan sekitar dua juta batu di antara aliran Kali Elo dan Progo dengan total volume bangunan mencapai 55.000 meter persegi.


Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, dan kabarnya, sempat tertimbun abu letusan Gunung Merapi pada tahun 950 Masehi.
Pada tahun 1991 UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia yang wajib dilestarikan dan termaktub dalam World Heritage List Nomor 592. Keren kann??

Seingat memori, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Borobudur, candi megah yang menjadi candi favorit saya di antara beribu candi peninggalan sejarah di Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi 'utuh' yang penggambaran sejarahnya masih terasa 'utuh' pula.

Terakhir kali mengunjungi Borobudur di Bulan Oktober 2009 yang lalu, saya betah berlama-lama berada di areal candi, yang sayangnya saya datang di waktu sunset. Sehingga kesempatan untuk menjajaki candi tinggal sedikit waktu. Kawasan candi ditutup pukul 17.00 atau pukul 5 sore. Menyaksikan kemegahan candi ini, terasa betul bagaimana 'keajaiban' itu memang ada. Masa di mana teknologi dan insinyur belum ada, namun bangunan dengan arsitektur dan relief yang relatif berkualitas tinggi ini sudah 'mampu' berdiri. Megah, kokoh, menakjubkan. Walau beberapa patung pertapa atau arca Budha sebanyak 504 buah, sudah tak utuh (tinggal leher dan badannya saja, hidungnya cowel, atau tanggannya tinggal setengah siku), namun bangunan candi ini masih terasa indah dan luar biasa.

Ketika meraba batu berbentuk stupa itu.., rasanya.. luar biasa.. kokoh! Undakan tangga yang curam, nuansanya penuh misteri dan tantangan (tak terbayang untuk mendakinya setiap hari). Puncak-puncak stupa 'kecil' yang mengelilingi stupa tertinggi yang paling megah itu.. menularkan emosi ketakjuban dan penuh memori yang entah tersimpan di stupa bagian mana dan di masa yang mana.
Ajaib.. Subhanallah...

Terhitung sejak februari 2010, harga tiket masuk candi mengalamai kenaikan. Harga tiket untuk wisatawan nusantara (wisnus) kategori umum pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp12.500 menjadi Rp15 ribu/orang. Sedangkan hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional naik dari Rp15 ribu menjadi Rp17.500/orang.
Harga tiket untuk wisnus kategori anak-anak dan pelajar secara rombongan dengan jumlah minimal 20 orang, pada hari Senin hingga Jumat naik dari Rp7.500 menjadi Rp10 ribu/orang. Sementara hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional dikenakan Rp11 ribu/orang. Ia mengatakan, harga tiket wisnus umum pada musim liburan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Rp25 ribu/orang dan wisnus anak-anak atau pelajar Rp12.500/orang.

Untuk harga tiket wisatawan mancanegara (wisman) umum, naik dari 13 dolar AS menjadi 15 dolar AS/orang dan wisman anak-anak atau pelajar naik dari tujuh dolar AS menjadi 8 dolar AS/orang. Harga ini dengan asumsi kurs 1 dollar senilai Rp 10.000,-.
Bagi yang membawa kamera, maka dikenakan bea kamera (sayangnya saya lupa berapa besarnya. kalau tidak Rp. 5000,- ya Rp 1000,-).

Para pengunjung pun sekarang diwajibkan melewati
metal detector sebelum memasuki areal candi. Bayangkan saja wisata candi, wisata abad lampau, tapi ada metal detectornya. Nggak nyambung sih, tapi mau bagaimana lagi. Hehehe..

Terhitung sejak Februari 2010 pula, para pengunjung dilarang mengenakan celana pendek, rok mini atau sepatu high heels (sebenernya buat
high heels, bener juga, masa iya 'mendaki' candi pake high heels sih.. hebat dong.. kekekek...). Untuk celana atau rok mini, dimaksudkan dalam rangka menghormati candi dan sejarah (karena nilai leluhur dan religinya). Padahal kalau 'mendaki' menggunakan rok mini, ribet juga sih...

Karena bersama anak-anak, agak ribet juga mau menjelajahi setiap senti bagian candi. Apalagi mendakinya saja sudah cukup melelahkan. Namun kunjungan kali itu cukup memuaskan.

Satu hal yang masih mengundang rasa penasaran dan belum kesampaian, adalah menyaksikan pentas kesenian tradisional Dayakan/Topeng Hitam, Kubro Siswo, Soreng, dan Jathilan yang rutin diselenggarakan di area candi, juga pentas Sendratari Ramayana yang kesohor itu.
Kapan yaa...(ada yang mau menemani??)


(informasi tambahan; dari berbagai sumber)