Saturday, January 30, 2010

Temukan Diet Ideal


Lagi-lagi soal diet.

Dari jaman saya masih SD sampai saya sudah punya krucil dua anak, tema DIET rasanya tidak pernah luntur dari peradaban.

Seumur-umur saya nggak pernah tertarik dengan tema ini. Nggak pernah minat membaca apalagi mengikuti dan mempelajari ilmu diet. Karena badan usia SD saya justru kerempeng. Mulai gemuk saat masa puber di usia hampir lulus SMP. Tapi saya masih nggak merasa gemuk (waa.. ngeselin kan?). Hingga di usia SMU, ketika seorang teman nyeletuk "Nggak kaya kamu, gendut".. wealah...

Tapi saya ga acuh juga lah.. Bisa jadi dia sirik (hehehe...membela diri). Tapi kok dia cowok? Masa iya sirik sama saya yang notabene perempuan tulen??

Hingga akhirnya saya menikah dan memiliki dua anak. Ilmu DIET serasa jadi wajib buat dilirik. Terutama saat anak kedua sudah menginjak usia setahun lebih. Ketika kedua anak saya sudah berjalan, baru deh ngerasa keliatan badan gemuknya (namanya juga ibu-ibu hamil melahirkan dua kali menyusui ekslusif masing2 enam bulan. Kurang gemuk apa coba?) Hehehe... kalo gendong anak kan badannya ga keliatan, ngapain juga langsing? :))

Sebenarnya cuma biar keliatan keren aja, pas jalan sama anak-anak. Keliatan bugar dan serasi dengan suami saya yang konon hingga kini masih mungil dan makin mungil (piye tho bang?).

Ilmu-ilmu terapan diet, saya coba. Berhasil!!! Iya, turun sekilo dalam tiga hari, hari keempat naik lagi. Lho?? Jamu diet, lotion peluntur lemak, pil diet, baju pelangsing, makanan diet dan bla-bla yang sempat saya lirik demi menjadi bugar dan keren, rasanya nihil! Mulai dari harga 60 ribu perak, sampai 400 ribu, gagal total semua... Nyebelin banget, mengingat duit segitu bisa buat ngapa-ngapain.

Saya rasa pengetahuan dasar tentang diet saya yang salah.

jadi beginilah kesimpulan saya (yang akhirnya terbukti benar) :
Temukan masalah dasar mengapa kita menjadi gemuk, lalu atasi.
Inilah yang terpenting.



Berikut Daftar Masalah Kegemukan :

1. Suka mengemil (ternyata ini masalah utama. Hormon menyenangkan yang keluar setelah mengudap, rasanya sudah menjadi candu)

2. Genetis? (hati-hati dengan genetis. Bukan sekedar karena orang tua kita gemuk lantas otomatis kita langsung -pantas saja- menjadi gemuk. Genetis di sini lebih saya fokuskan pada : gen kebiasaan. So, kalo orang tua kita secara gen alias kebiasaan, suka memasak dan memakan makanan berkuah santan, maka biasanya kita meniru hingga menjadi kebiasaan -nggak bisa kalo nggak makan santan-. Dan di sinilah masalah dasar kita : kebiasaan/ perilaku terhadap makanan)

3. Obat-obatan (hati-hati dengan obat-obatan yang memicu kota mengkonsumsi makanan dengan kalori berlebih. Obat anti depresan, pil KB hormon dan sejenisnya, sudah pasti membuat badan cenderung meng-gemuk)

4. Kebiasaan Begadang (suka begadang atau kurang tidur membuat metabolisme tubuh melambat. Akhirnya proses mencerna dan pengolahan makanan menjadi energi juga melambat. Akibatnya, penumpukan sisa kalori menjadi lemak justru meningkat)

5. Melewatkan salah satu waktu makan; baik sarapan, lunch maupun dinner (melewatkan salah satu waktu makan hanya akan membuat gula darah tubuh kita turun drastis. akibatnya, ketika diisi makanan, langsung melonjak tajam. So, hati-hati gula darah. Saat salah satu waktu makan dilewatkan, kalori yang masuk memang berkurang, namun ingat, tubuh biasanya tetap akan meminta jatah yang kita potong di waktu lainnya. Bisa jadi makan berlebih di jam makan berikutnya, atau keinginan mengemil gula (akibat gula darah turun) yang justru berlebih

6. -Tentu saja- malas bergerak. Dampaknya, metabolisme lambat, dan proses pembentukan kalori menjadi cadangan alias lemak justru tinggi.


Berikut Kesimpulan Solusinya :

1. Makan ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Sepertiga lambung kita untuk makanan, sepertiganya untuk air, dan sisanya untuk udara, agar pencernaan tetap sehat. Kalau tidak lapar, sebaiknya nggak usah nyari-nyari makanan :)

2. Kaji dan evaluasi kebiasaan keluarga yang tidak sehat untuk diwariskan pada diri sendiri dan keluarga kecil kita.

3. Jangan mudah mengkonsumsi obat. Sebaiknya gunakan pendekatan alamiah tubuh : istirahat, makan cukup dan kaya nutrisi, serta olah raga agar badan tidak mudah drop (daya tahan tubuh menurun = mudah sakit).

4. Tidur dan bangun pada jam yang -diusahakan- sama, agar badan juga 'lebih menghargai' kita karena kita disiplin 'memperlakukan mereka'. Disiplin. Jam tidur dan lamanya orang tidur berbeda-beda, sesuai kebutuhan. Namun yang jelas, tetap butuh istirahat. Biasanya kita sendiri lah yang paling tahu, berapa lama dan kapan waktu yang cocok buat kita tidur, lalu terapkan.

5. Disiplin dengan waktu makan. Upayakan demikian, karena dampaknya bukan hanya masalah gemuk, tapi juga kesehatan tubuh keseluruhan dalam jangka panjang.

6. Banyak bergerak. Belum bisa olah raga rutin, biasakan perbanyak aktivitas fisik. Pilih tangga ketimbang lift, parkir mobil atau motor lebih jauh, ambil minum atau buat minum sendiri alih-alih meminta OB, menyapu, mengepel, dan lain-lain.

*bukan untuk mengkritik kebiasaan dan tubuh orang dan diri sendiri :)*

Topik ini mungkin akan berlanjut lebih detil...

CMIIW yahh..

Tuesday, January 26, 2010

Who Am I?


Kenapa identitas sebegitu pentingnya?

karena identitas adalah 'kode' untuk menggambarkan siapa kita. Identitas adalah cermin siapa kita. Identitas juga sebuah 'stempel' akan jati diri.

Pencarian identitas bukanlah sesuatu yang mudah. Pemberian label identitas juga bukan sesuatu yang gampang. Karena identitas, berarti identik dengan kompensasi sosial, selalu berkaitan relatif terhadap seseorang atau sesuatu, di luar kita. Oleh karena itu, pencarian identitas adalah perjuangan.

Ketika lahir dulu, saya tidak kesulitan dengan sebuah identitas. Karena kemampuan untuk itu, saya belum punya.
Ketika sekolah TK-SD-SMP-SMA hingga kuliah, identitas itu pun melekat dengan mudah. Walau status diri bisa berganti atau bertambah tiap tahun, tiap semester.

Di masa menjadi mahasiswi,
"Saya sekretaris Rohis fakultas, Bu.."
"Saya Ketua Himpunan Mahasiswa, Mbak.."
"Saya pengurus FLP Semarang, Pak.."
"Saya Anggota Muda Perhumas, Mas.."
Simple. Dan identitas saya selalu banyak (lebih dari satu). Namun yang jelas, identitas saya yang utama adalah : Mahasiswa Komunikasi. Ketika emblem2 sekretaris, ketua himpunan, pengurus, atau anggota muda dicabut seketika, identitas saya sebagai mahasiswa masih erat melekat, selama pita tambang toga belum dipindah; dari kiri ke kanan.

Secara identitas, saya aman.
(Tidak mungkin identitas utama saya 'sekedar' anaknya Pak Ini dan Bu Itu, atau kakaknya si Ini dan adeknya si Itu).

Namun ketika jubah wisuda berwarna hitam legam itu dikenakan (yang penantiannya sebegitu hebohnya dengan perjuangan ujian yang mati-matian secara waktu dan perdebatan dengan tiga orang dosen), saya merasa mulai 'krisis' identitas. Walau masih ada identitas lain yang melekat, namun saya tidak bisa menggunakannya sebagai 'identitas utama'. Mengapa? Yang jelas kala itu saya belum tahu jawabannya.

Akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan IT. Saya punya identitas baru, yang bisa saya gunakan sebagai identitas utama. "Saya Corporate Secretary, Om..".

Lalu saya menikah. Dan langsung memutuskan keluar dari sang company.
Identitas utama saya pun baru : as a wife. "Saya istrinya, Kang...".

Saya ingat sekali, betapa bangganya, ketika pada akhirnya saya dipanggil "Bu.." di supermarket ketika sedang belanja. Dan kala itu saya tengah hamil 6 bulan (semenjak jadi istri hingga hamil 5 bulan, masih dipanggil "Mbak", dan panggilan itu membuat saya tertekan "Masa iya, saya nggak ada pantes2nya jadi istri orang?"). Saya bangga dengan status sekaligus 'panggilan' baru saya : "Bu.."

Ketika melahirkan dua anak, Alif dan Afra, panggilan "Bu" tentu saja sangat amat biasa di telinga saya. Ya jelas lah, masa bawa dua anak gini masih dipanggil "Mbak" juga?
Tapi ketika Afra sudah berusia hampir dua tahun, tiba-tiba seseorang menyapa saya,"Mbak, tantenya ya? Ibunya yang mana, anak2nya lucu,". Mendadak saya krisis identitas. Hehehe.. norak. Saking noraknya, saya langsung ke kamar mandi dan berkaca; "I'm still young" kekekek..

Dan ketika berat badan saya menyusut, dan makin sering bepergian sendiri, maka saya pun disangka 'masih embak-embak'. bahkan ketika bulan madu ke Bali bersama suami di jelang anniversary kelima, kami disangka pengantin baru yang baru bulan madu. Maka saya jawab kepada sang tour-guide, "Bulan madu kelima Mbak.. ".

Kacaunya, saat mendaftar di RT setempat ketika baru pindah. Pak RT bilang, "Pengantin baru ya, KK-nya belum bikin dong?". Suami pun menjawab "Sudah dua anak pak, paling besar empat tahun".

Maka, krisis identitas itu makin parah terjadi. Ketika sesekali masih ada yang memanggil saya dengan panggilan "Bu", saya tertekan kembali. Kening saya berkerut, bibir mencerucut : Badan saya ga langsing lagi ya? Muka saya sudah nggak muda lagi ya? Perut saya gendut ya? (aduh maaf yah ibu-ibu, saya tidak bermaksud 'menghina' status kita secara fisik sebagai ibu-ibu kok, ini mah saya nya aja yang minder).

Empat tahun menjadi seorang ibu, bekerja sebagai konsultan, masih aktif di organisasi, masih merintis marketing online, ternyata tidak membuat saya berhenti mencari identitas. Mengapa? Tak puas rasanya. "Ibu", "Istri", "Temannya dia", "Budhenya, tantenya, kenalannya si anu", "Redaktur di ini", "Konsultan di itu", "Bisnis online di anu".. masih 'belum stabil'. Karena semua 'gelar' itu bisa tercabut satu per satu, ataupun seketika. Who knows..? Lalu identitas saya?

Maka proses pencarian identitas itu masih saya lakukan. Kok sepertinya identitas saya sedemikian banyak tapi tidak ada yang membuat saya 'berhenti' mencari?

Dan saya bertemu pada sebuah identitas yang tak akan berubah, apapun cuacanya.
Bahwa saya adalah : apa yang saya pikir dan lakukan.

Maka saya pun merasa bahwa selain menjadi ibu, istri dan bla bla di atas, saya adalah :

- penulis, karena saya rutin menulis di tabloid yang saya kelola (termasuk menulis blog ini), dan membuat artikel atau cerpen untuk majalah

- pengamat, karena saya suka mengamati berbagai hal dan mengkaji kalau memungkinkan (lalu dijadikan tulisan)

- producer, karena saya masih di belakang layar untuk membuat dokumentasi foto-foto anak-anak dan keluarga

- event organizer, karena saya merancang acara-acara ultah anak-anak (tiap tahun), ultah suami, ultah pernikahan, ultah saya sendiri, dll

- konsultan, karena selain memang sebagai konsultan PR, saya juga tempat teman-teman berkonsultasi mengenai segala rupa internet (karena suami saya programmer)

- penerjemah, karena anak-anak sering menanyakan arti ini itu di buku maupun film kepada saya

- manager keuangan, karena ngurusin uang kantor dan uang rumah tangga. Pusingnya minta ampun, kecuali akhir bulan (masa menghabiskan anggaran, kalau ada sisa)

- HRD management, karena di rumah ada tiga pekerja, yang semua urusan tetek bengeknya saya yang mengurusnya

- public figure, karena tiap ada yang menanyakan nama saya pada satpam kompleks, atau tetangga-tetangga kompleks, atau orang tua murid di sekolah anak-anak, atau orang-orang di kantor yang seruangan, teman-teman kuliah sejurusan seangkatan, keluarga besar saya sampai sepupu2, Pak RT dan Bu RT, semua mengenal saya. Percayalah..

Bahkan saya juga seorang pembantu rumah tangga, yang selalu siap membantu di kala ayah, Alif ataupun Afra membutuhkan bantuan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dll, apalagi ketika para asisten sedang off.

Ternyata saya nyaman dengan identitas yang saya ciptakan sendiri :)

So, saya ciptakan identitas Saya sendiri dari apa yang Saya pikirkan dan lakukan, tanpa terjebak pada label yang orang lain berikan pada saya. Karena label orang lain adalah apa yang mereka pikir dan inginkan atas saya, bukanlah diri kita sesungguhnya :)

CMIIW yach...

Friday, January 22, 2010

My Stylish Corby's Review..

That's my review about My Corby...

Di awal peluncuran hape qwerty ini, saya langsung jatuh hati. Dasarnya ga pernah nonton tipi atau liat iklan koran/majalah, saya menemukan corby di Mal Taman Anggrek melalui flyer-nya. Wiihhh... gue banget dah ni hape.

"Must have item nih Yah.." said to my husband.
"Hape kamu kurang apa sih.." he answered with 'smiley'.

Iya sih... kalo cuma soal per-hape-an, Nokia Express Music 5800 (hasil kerja proyek) saya juga masih jauuuuhh lebih keren ketimbang ni Corby. Warnanya black n red, memory 8GB, touch screen.. pokoknya sdh cukup keren lah buat ukuran saya. Tapi, mengingat saya butuh 1 handphone lagi untuk proyek kerja yg lain, dalam hati saya berjanji : this corby, as soon as possible, i'll get it!

Alahmdulillah... tak lama kemunculannya, saya bisa membeli Samsung Corby TXT dari sisa-sisa uang keringat.. (bau tau uangnya)
seharga Rp.1.485.000 . hehe..

Cara belinya yg ga keren : di Plaza Kalibata, jelang maghrib, pas beli pastel goreng seharga Rp.4000,-. Iseng bertanya pada counter hape di depan Giant "Mas, punya Corby ga?"

At least, puasss make corby ini. Dengan harga banderol segitu, kualifikasinya cukup okeh.

What Color is your life? And i chose this ones : Black and white (habis yg ready cuma white and yellow sih) two white and one black alias dapet 3 chasing, yaitu 2 putih -yang satunya ada buble2nya, dan wana hitamnya satu.

Corby stylish banget.. enteng, genggamannya enak...sletheph!
Buat fast message, buat FB-an, buat nggaya..hehehe.. okeh! Lumayan buat second hape, apalagi 3rd mobile phone.. (tapi ga usah banyak2 lah, ngapain juga punya hape banyak2, susah ngasih makannya).

Tapi pastikan ini sebelum Anda pilih corby :
1. perempuan. cos i think corby is a girls/women style. cowok ga macho banget deh megang ini.
2. berjari lentik. walau qwerty, namun tuts keypads nya mungil2.. jadi yang berjari chubby, ribet juga ngetik pake corby.
3. ga usah pota-poto banyak2 (walau kualitas kamera 2.0MP-nya cukup okeh. soalna ga ada kabel data. susye mau unggah poto -walau ada bluetooth)
4. jangan buat nyimpen film. hehehe (coz free memory-nya cuma 1GB microSD)

My Corby is My Color!